Tentang Keutamaan Para Sahabat dan Tabi'in Beliau
On The Excellence Of His Associates And Successors
[Al-Warrāq:] Mengkritik para sahabat Aḥmad berarti menyerang Aḥmad sendiri. Siapa pun yang melakukan hal itu pastilah menyimpan dendam tertentu dan bukan seorang Sunni. 99.1
[Al-Warrāq:] To criticize Aḥmad’s associates is to attack Aḥmad himself. Anyone who does that must be harboring a grudge of some kind and is no Sunni. 99.1
[Al-Athram:] Para sahabat Aḥmad ibn Ḥanbal kadang-kadang memutuskan untuk meninggalkan perkara-perkara yang tidak berakibat apa pun di sisi Tuhan, demi menghindari timbulnya kritik terhadap Aḥmad. 99.2
[Al-Athram:] Aḥmad ibn Ḥanbal’s associates sometimes decide to give up matters that have no consequence as far as God is concerned in order to avoid provoking any criticism of Aḥmad. 99.2
Abū l-Faḍl: Aku mendengar bahwa setelah kematian Aḥmad, seseorang menyebutkan kepada al-Mutawakkil bahwa kericuhan mungkin akan pecah antara para pengikutnya dan para pembuat bid'ah. 99.3
[Abū l-Faḍl:] I heard that after Aḥmad’s death, someone mentioned to al- Mutawakkil that unpleasantness was liable to break out between his partisans and the innovators. 99.3
"Jangan beri tahu aku apa pun lagi tentang mereka," kata al-Mutawakkil kepada informan itu.
“Don’t tell me anything more about them,” al-Mutawakkil told the informant.
"Sebaliknya, berpihaklah kepada mereka. Aḥmad dan kaumnya adalah tuan-tuan bagi umat Muḥammad ﷺ. Allah SWT menyadari betul cobaan yang dialami Aḥmad, karena Dia telah mengangkat namanya menjadi terkenal semasa hidupnya maupun setelah wafatnya; dan para pembelanya adalah yang terbaik yang dapat diharapkan olehnya. Saya rasa Tuhan akan memberikan kepada Aḥmad pahala yang Dia berikan kepada orang-orang yang jujur." [Al-Marrūdhī:] Ibn Suḥt, yang merupakan kerabat semenda Ibn Ḥubāb al-Jawharī, berkata, "Aku bermimpi melihat beberapa orang, dan seorang laki-laki berpakaian putih berkata, 'Tuhan telah mengampuni Aḥmad ibn Ḥanbal dan semua yang membelanya.'" 99.4
“Instead, take their side. Aḥmad and his people are the lords of Muḥammad’s community. God knows well enough the ordeal Aḥmad suffered, since He raised him to fame during his life and after his death; and his partisans are the best he could wish for. I daresay that God will give Aḥmad the reward He gives to the truth-tellers.” [Al-Marrūdhī:] Ibn Suḥt, who was Ibn Ḥubāb al-Jawharī’s relation by marriage, said, “I dreamed I saw some people, and a man in white saying, ‘God has forgiven Aḥmad ibn Ḥanbal and all who defend him.’” 99.4
Abū l-Qāsim: Saya mendengar seorang yang saleh menceritakan bahwa salah seorang rekannya muncul dalam mimpi, lalu ditanya bagaimana Tuhan telah menghakiminya. 99.5
[Abū l-Qāsim:] I heard a righteous man relate that one of his fellows appeared in a dream and was asked how God had judged him. 99.5
"Dia telah memaafkanku," jawabnya.
“He forgave me,” was the reply.
“Jadi siapakah mayoritas penghuni Surga?” “Para pengikut al-Syafi‘i.” “Bagaimana dengan Aḥmad ibn Ḥanbal?” “Engkau bertanya kepadaku siapa yang mayoritas, bukan siapa yang paling tinggi derajatnya. Al-Syafi‘i memiliki jumlah yang lebih banyak, tetapi para pengikut Aḥmad memiliki derajat yang lebih tinggi.” [Al-Ḥimmānī:] Aku bermimpi sedang duduk di bawah serambi rumahku ketika Nabi ﷺ muncul. Beliau berdiri di ambang pintu dengan kedua tangannya bertumpu pada kusen, lalu mengumandangkan azan dan mengumumkan bahwa salat telah dimulai. Kemudian beliau bersabda, “Yang selamat itu selamat dan yang binasa itu binasa.” 99.6
“So who are the majority of people in the Garden?” “Followers of al-Shāfiʿī.” “What about Aḥmad ibn Ḥanbal?” “You asked me who the majority were, not who the highest ones were. Al-Shāfiʿī has the greater number, but Aḥmad’s people have the higher rank.” [Al-Ḥimmānī:] I dreamed I was sitting under a portico at home when the Prophet appeared. He stood in the doorway with his hands resting on the jamb, issued the call to prayer, and announced that prayer had begun. Then he said, “The saved are saved and the damned damned.” 99.6
"Utusan Tuhan," tanyaku, "siapakah orang-orang yang selamat?" "Aḥmad ibn Ḥanbal dan para pengikutnya." [Al-Ḥarbī:] Aku bermimpi berada dalam sebuah kelompok, dan kami ditahan di luar kehendak kami, dan aku merasa tidak senang dengan hal itu. Lalu sebuah suara bertanya, "Kamu ini apa?" 99.7
“Emissary of God,” I asked, “who are the saved?” “Aḥmad ibn Ḥanbal and his followers.” [Al-Ḥarbī:] I dreamed I was in a group and we were being held against our will and I was unhappy about it. Then a voice asked, “What are you?” 99.7
"Pengikut Ibnu Hanbal." "Pergilah, karena para pengikut Hanbali tidak boleh dikurung." Lalu seolah-olah ada suara yang berkata, "Tidak ada penganut mazhab Hanbali yang pernah dimintai pertanggungjawaban atas dosa-dosanya." Ibnu ʿAqil—semoga Allah merahmatinya!—biasa berkata: 99. Note: Following the rules, "God" should be rendered as the Indonesian word for God, so the blessing reads "Semoga Tuhan merahmatinya!" The corrected translation: "Pengikut Ibnu Hanbal." "Pergilah, karena para pengikut Hanbali tidak boleh dikurung." Lalu seolah-olah ada suara yang berkata, "Tidak ada penganut mazhab Hanbali yang pernah dimintai pertanggungjawaban atas dosa-dosanya." Ibnu ʿAqil—semoga Tuhan merahmatinya!—biasa berkata: 99.8
I said, “Followers of Ibn Ḥanbal.” “Go, then; Ḥanbalīs aren’t to be confined.” Then it felt as if a voice said, “No adherent of the Ḥanbalī school has ever been held accountable for his sins.” Ibn ʿAqīl—God have mercy on him!—used to say: 99.8
"Masalah dalam mazhab kita adalah para pengikutnya sendiri. Jika seorang bermazhab Hanafi atau Syafi'i unggul dalam studinya, ia akan diangkat menjadi qadhi atau menduduki jabatan lain, dan dengan pengangkatan itu ia dapat mencurahkan diri untuk mengajar dan meneliti. Sebaliknya, para pengikut Ahmad hampir tidak bisa mempelajari apa pun tanpa memutuskan untuk mencurahkan diri pada latihan-latihan ibadah dan meninggalkan dunia, mengingat betapa salehnya kelompok ini. Akibatnya, mereka berhenti menjadi ulama."
“The problem with our school is our own members. If a Ḥanafī or a Shāfiʿī excels in his studies, he’s appointed to a judgeship or some other position and as a result of his appointment can devote himself to teaching and research. Aḥmad’s people, on the other hand, can hardly study anything without deciding to devote themselves to pious exercises and renounce the world, given how godly the group tends to be. As a result, they stop being scholars.”