Bagaimana Jenazahnya Dimandikan dan Dikafani
How His Body Was Washed And Shrouded
[Ṣāliḥ:] Ketika ayah saya wafat, jalan-jalan dipenuhi para pelayat. Saya menyampaikan pesan bahwa saya akan mengeluarkan jenazahnya setelah shalat Ashar selesai. 81.1
[Ṣāliḥ:] When my father died the streets filled with mourners. I sent word that I would bring his body out when the afternoon prayer was over. 81.1
Ibnu Ṭāhir mengirimkan kepada kami kepala pelayan istananya, Muẓaffar, dengan beberapa gulungan kain, wewangian, dan sebuah pesan: "Sang amir menyampaikan salamnya dan berkata, 'Aku melakukan apa yang akan dilakukan Amirul Mukminin seandainya beliau ada di sini.'" Aku berkata, "Balaslah salamnya dan katakan kepadanya bahwa selama Aḥmad masih hidup, ia dibebaskan dari melakukan apa pun yang ia benci. Aku tidak akan membebankan sesuatu yang dibencinya kepadanya sekarang setelah ia wafat." "Bungkuslah dia dengan kain ini," jawabnya, "dan letakkan sesuatu yang lain di atasnya." Aku mengulangi apa yang telah kukatakan.
Ibn Ṭāhir sent us his chamberlain Muẓaffar with bundles of cloth, perfumes, and a message: “The emir conveys his greetings and says, ‘I am doing what the Commander of the Faithful would do if he were here.’” I said, “Return the greeting and tell him that while Aḥmad was alive, he was exempt from doing anything he detested. I’m not going to inflict anything detestable on him now that he’s dead.” “Wrap him in this cloth,” he replied, “and put something else over it.” I repeated what I had said.
Budak perempuan ayahku pernah memintal kain sepanjang sepuluh hasta yang nilainya dua puluh delapan dirham, yang akan dibuat menjadi dua helai baju. Darinya kami memotong dua helai kain untuk membungkusnya.
My father’s slave woman had spun a ten-cubit length of cloth worth twenty-eight dirhams to be used to make two shirts. From it we cut two strips to wrap him in.
Mengambil sehelai lagi dari Fūrān, kami memiliki tiga lapis kain untuk membungkus jenazah.478 Kami membeli wewangian (hanuth) itu sendiri. Seorang kenalan kami yang merupakan seorang peracik parfum bertanya apakah ia boleh mengirimkan sebagian miliknya, tetapi saya tidak mengizinkannya.
Taking another strip from Fūrān, we had three layers of cloth to wrap the body.478 We bought the aromatics ourselves. An associate of ours who was a perfumer asked if he could send us some of his but I wouldn’t let him.
Sementara itu, seseorang telah mengambil sebuah guci milik kami dan menuangkan air ke dalamnya. Aku menyuruh mereka untuk memberitahu Fūrān agar membeli kantong air dan mengisi guci yang biasa dipakai ayahku untuk minum, karena dia tidak pernah mengambil apa pun dari rumah-rumah kami.
Meanwhile, someone had taken a jar of ours and poured water into it. I told them to tell Fūrān to buy a waterskin and fill the jar my father used to drink from, since he would never take anything from our houses.
Ketika jenazah telah dimandikan, kami membungkusnya dengan kain kafan, sementara sekitar seratus anggota kabilah Bani Hasyim menyaksikan. Begitu kami mengangkat jenazah ke atas usungan, mereka mulai mencium dahinya.
When the body had been washed we wrapped it in the shrouds with some hundred members of the clan of Hāshim looking on. As soon as we got the body onto the bier they began kissing him on the forehead.
[Al-Marrūdhī:] Ketika saya bersiap memandikannya, cukup banyak kerabat dari suku Hāshim yang datang hingga memenuhi rumah. Maka kami membawanya ke dalam kamar-kamarnya, menurunkan tirai pintu, dan menutupinya dengan kain selama kami bekerja. Tidak ada orang luar yang hadir pada saat memandikan jenazah. Setelah itu selesai, kami bersiap mengafaninya, tetapi orang-orang Hāshim menyingkirkan kami sambil menangis, mendorong anak-anak mereka ke depan jenazah, dan menciumnya. Akhirnya kami dapat mengangkatnya ke atas keranda dan mengikatnya pada keranda itu dengan potongan kain serban. Ibn Ṭāhir telah mengirimkan beberapa kain kafan, tetapi saya mengembalikannya. Pamannya berkata kepada utusan itu, "Dia bahkan tidak membiarkan budakku mengipasinya." Orang lain berkata, "Dia meminta agar dikafani dengan pakaiannya sendiri." 81.2
[Al-Marrūdhī:] As I was preparing to wash him, enough tribesmen of Hāshim arrived to fill the house. So we took him into his set of rooms, let down the door curtain, and covered him with a cloth while we worked. No outsiders were present for the washing of the corpse. When that was done, we prepared to shroud him, but the Hāshimīs pushed us aside, weeping, pushing their children forward over the body, and kissing it. Finally we got him onto the bier and bound him to it using strips of turban cloth. Ibn Ṭāhir had sent some shrouds but I sent them back. His uncle told the messenger, “He wouldn’t even let my slave fan him.” Someone else said, “He asked to be shrouded in his own clothes.” 81.2
Akhirnya kami mengkafaninya dengan sehelai kain Marawī yang dulu ingin ia jadikan pakaian. Kami menambahkan sehelai lagi kepadanya, lalu membungkusnya dengan tiga lapis kain.
In the end we shrouded him in a piece of Marawī fabric that he had been planning to make some clothes from. We added another piece to it and so wrapped him in three layers of cloth.