Sahabat-sahabat utama beliau dan para pengikut mereka dari masa beliau hingga masa kita sekarang
His Most Prominent Associates And Their Successors From His Time To Our Own
Jumlah sahabat Aḥmad, serta para ulama dan orang-orang saleh yang, selama tahun-tahun yang telah berlalu antara wafatnya dan zaman kita, telah mengikuti jalannya, terlalu banyak untuk dihitung. Di sini saya hanya akan menyebutkan yang paling terkemuka, disusun dalam sembilan generasi. Semoga Allah memberikan keberhasilan!542 100.1
The number of Aḥmad’s associates, and of those learned scholars and good men who, during the years that have elapsed between his death and our own time, have followed his path is too large to count. Here I will mention only the most prominent, arranged in nine generations. May God ensure success!542 100.1
Anggota Pilihan dari Generasi Pertama: Mereka yang Bergaul dengan Aḥmad dan Meriwayatkan Langsung darinya
Selected Members Of The First Generation: Those Who Associated With Aḥmad And Transmitted Directly From Him
Aḥmad ibn Muḥammad ibn al-Ḥajjāj, Abū Bakr al-Marrūdhī. Seorang yang wara' dan saleh. Ia sangat setia melayani Aḥmad, yang sering mengutusnya untuk berbagai keperluan. Aḥmad biasa berkata kepadanya: "Apa pun yang engkau katakan dianggap sama seperti aku yang mengatakannya sendiri." Aḥmad memperlakukan al-Marrūdhī dengan penghormatan khusus dan biasa memakan apa yang ia berikan.543
Aḥmad ibn Muḥammad ibn al-Ḥajjāj, Abū Bakr al-Marrūdhī. A scrupulous and righteous man. He was devoted to serving Aḥmad, who would send him out on errands. Aḥmad used to tell him: “Anything you say counts as if I said it myself.” He treated al-Marrūdhī with special consideration and would eat what he gave him.543
Setelah ia kembali dari Samarra, ia sering berkata, "Semoga God membalas kebaikan al-Marrūdhī!" Al-Marrūdhīlah yang memejamkan mata Aḥmad dan memandikannya setelah ia wafat. Ia juga meriwayatkan banyak hadis darinya serta pembahasan-pembahasannya mengenai persoalan fikih. 100.3
After he returned from Samarra, he would often say, “God reward al-Marrūdhī!” It was al-Marrūdhī who closed Aḥmad’s eyes and washed him after he died. He also transmitted many of his reports and discussions of legal issues. 100.3
Ketika Abū Bakr al-Marrūdhī berangkat menuju perbatasan, sekumpulan orang berjalan bersamanya hingga ke Samarra. Ia terus-menerus menyuruh mereka untuk kembali, tetapi mereka tidak mau. Jumlah orang banyak itu diperkirakan mencapai lima puluh ribu, tidak termasuk mereka yang berbalik sebelum sampai di Samarra.
When Abū Bakr al-Marrūdhī left for the frontier, a crowd of people marched with him as far as Samarra. He kept telling them to turn back but they wouldn’t. The size of the crowd was estimated at fifty thousand, not counting the ones who turned back before reaching Samarra.
"Bersyukurlah kepada Tuhan," kata seseorang kepadanya, "karena begitu banyak orang yang mengagumimu." Ia pun menangis tersedu, lalu berkata, "Bukan aku yang mereka kagumi, melainkan Aḥmad ibn Ḥanbal." [Al-ʿAbbās ibn Naṣr:] Aku pergi berdoa di makam al-Marrūdhī dan melihat beberapa orang tua di sana. Salah seorang dari mereka berkata kepada yang lain, "Si Fulan tidur di sini semalam dan terbangun dalam keadaan ketakutan. Aku bertanya kepadanya apa yang terjadi, dan ia berkata, 'Aku bermimpi melihat Aḥmad ibn Ḥanbal sedang berkendara. Aku bertanya kepadanya ke mana kami akan pergi, dan ia menjawab, "Menuju Pohon Ṭūbā untuk menyusul Abū Bakr al-Marrūdhī."'" Al-Marrūdhī wafat pada tanggal 6 Jumādā I 275 H [16 September 888 M] dan dimakamkan di dekat makam Aḥmad. Salat jenazahnya dipimpin oleh Hārūn ibn al-ʿAbbās al-Hāshimī.
“Be grateful to God,” someone said to him, “that so many people admire you.” He burst into tears then said, “It’s not me they admire, it’s Aḥmad ibn Ḥanbal.” [Al-ʿAbbās ibn Naṣr:] I went to pray at al-Marrūdhī’s grave and saw some old men there. One of them was telling another, “So-and-So slept here last night and woke up scared. I asked him what happened, and he said, ‘I dreamed I saw Aḥmad ibn Ḥanbal riding along. I asked him where we were going, and he said, “To the Tree of Ṭūbā to catch up with Abū Bakr al-Marrūdhī.”’” Al-Marrūdhī died the sixth of Jumādā I 275 [September 16, 888] and was buried near Aḥmad’s grave. His funeral prayer was led by Hārūn ibn al-ʿAbbās al-Hāshimī.
Anggota Pilihan dari Generasi Kedua
Selected Members Of The Second Generation
Aḥmad ibn Muḥammad ibn Hārūn Abū Bakr al-Khallāl. Ia mencurahkan dirinya untuk mengumpulkan ilmu yang diriwayatkan oleh Aḥmad ibn Ḥanbal. Dengan melakukan perjalanan untuk tujuan itu, ia mendokumentasikan ajaran-ajaran Aḥmad baik melalui sanad yang sedikit perantaranya maupun yang banyak perantaranya,544 dan menyusun sejumlah karya, termasuk kitab Jāmiʿ-nya yang berjumlah sekitar dua ratus kurasah. Tidak ada seorang pun dari sahabat-sahabat Aḥmad yang lain mencapai sesuatu dalam skala sebesar itu. Majelis ilmunya berada di masjid al-Mahdī. Ia wafat sebelum shalat Jumat pada tanggal tiga Rabīʿ I 311 H [20 Juni 923 M]. 100.22
Aḥmad ibn Muḥammad ibn Hārūn Abū Bakr al-Khallāl. Dedicated himself to collecting the knowledge transmitted by Aḥmad ibn Ḥanbal. Traveling for that purpose, he documented Aḥmad’s teachings both with few intermediaries and with many intermediaries,544 and compiled a number of works, including his Compendium in some two hundred quires. None of Aḥmad’s other associates accomplished anything on that scale. His study circle was in the mosque of al-Mahdī. He died before the Friday prayer on the third of Rabīʿ I 311 [June 20, 923]. 100.22
Al-Ḥasan ibn ʿAlī ibn Khalaf, Abū Muḥammad al-Barbahārī. Menggabungkan ilmu dan zuhud. Ia adalah sahabat al-Marrūdhī dan Sahl al-Tustarī. Ia menolak tujuh puluh ribu dirham yang ditinggalkan ayahnya karena keraguan yang ia miliki mengenai kehalalannya. Ia sangat keras dalam mengecam para pelaku bid'ah, yang pada akhirnya berhasil membuat penguasa menentangnya. Ia pindah dari Gerbang Muḥawwal, tempat ia tinggal sebelumnya, ke Sisi Timur, di mana saudari perempuan Tūzūn menyembunyikannya di rumahnya. Setelah ia berada di sana selama satu bulan, ia wafat karena pendarahan.545 Wanita itu menyuruh pelayannya mencari seseorang untuk memandikan jenazahnya, lalu ia mengunci semua pintu agar tidak ada yang mengetahui bahwa jenazah berada di sana. Orang yang memandikan jenazah datang, memandikan jenazah, dan berdiri shalat sendirian di hadapan jenazah. Tiba-tiba wanita itu mendongak dan melihat rumah itu penuh dengan laki-laki berpakaian hijau dan putih. Ia memanggil pelayannya dan bertanya, "Apakah kamu yang membiarkan mereka masuk?" 100.23
Al-Ḥasan ibn ʿAlī ibn Khalaf, Abū Muḥammad al-Barbahārī. Combined learning and renunciation. Was an associate of al-Marrūdhī and Sahl al-Tustarī. He renounced seventy thousand dirhams left him by his father on account of misgivings he had about its permissibility. He was severe in his denunciations of innovators, who eventually managed to turn the authorities against him. He moved from Muḥawwal Gate, where he had been staying, to the East Side, where Tūzūn’s sister hid him in her house. After he had been there a month, he died of a hemorrhage.545 The woman sent her servant to find someone to wash his corpse, then locked all the doors so no one would know the body was there. The corpse-washer arrived, washed the corpse, and stood praying alone over the body. Suddenly the woman looked up and saw that the house was full of men dressed in green and white. Summoning the servant, she asked, “Did you let them in?” 100.23
Anggota Terpilih dari Generasi Ketiga
Selected Members Of The Third Generation
ʿAbd al-ʿAzīz ibn Jaʿfar ibn Aḥmad, Abū Bakr, murid al-Khallāl. Ia meriwayatkan hadis dengan mengutip Muḥammad ibn ʿUthmān ibn Abī Shaybah, Mūsā ibn Hārūn, Qāsim al-Muṭarriz, dan Abū l-Qāsim al-Baghawī, di antara banyak lainnya. Ia adalah penulis beberapa kitab himpunan yang besar dan disusun dengan baik. Ia wafat pada bulan Syawal 363 H [Juni–Juli 974 M]. 100.35
ʿAbd al-ʿAzīz ibn Jaʿfar ibn Aḥmad, Abū Bakr, the Disciple of al-Khallāl. Recited Hadith citing Muḥammad ibn ʿUthmān ibn Abī Shaybah, Mūsā ibn Hārūn, Qāsim al- Muṭarriz, and Abū l-Qāsim al-Baghawī, among many others. He is the author of several large and well-executed compilations. He died in Shawwāl 363 [June–July 974]. 100.35
[Abū Yaʿlā:] Saya pernah mendengar bahwa ʿAbd al-ʿAzīz ibn Jaʿfar, ketika sedang sakit parah, berkata, "Aku akan bersama kalian sampai hari Jumat." Orang-orang di sekitarnya berharap ia segera sembuh, tetapi ia menjawab: "Aku mendengar Abū Bakr al-Khallāl berkata bahwa ia mendengar Abū Bakr al-Marrūdhī berkata, 'Aḥmad ibn Ḥanbal hidup tujuh puluh delapan tahun, wafat pada hari Jumat, dan dimakamkan setelah salat.' Abū Bakr al-Marrūdhī sendiri hidup tujuh puluh delapan tahun, wafat pada hari Jumat, dan dimakamkan setelah salat. Abū Bakr al-Khallāl juga hidup tujuh puluh delapan tahun, wafat pada hari Jumat, dan dimakamkan setelah salat. Kini aku berusia tujuh puluh delapan tahun, dan aku akan bersama kalian sampai hari Jumat." Ketika hari Jumat tiba, ia pun wafat. Ia dimakamkan setelah salat.
[Abū Yaʿlā:] I have heard that during his final illness, ʿAbd al-ʿAzīz ibn Jaʿfar said, “I’ll be here with you until Friday.” Those around him wished him a speedy recovery, but he replied: “I heard Abū Bakr al-Khallāl say that he heard Abū Bakr al-Marrūdhī say, ‘Aḥmad ibn Ḥanbal lived seventy-eight years, died on a Friday, and was buried after the ritual prayer.’ Abū Bakr al-Marrūdhī himself lived seventy-eight years, died on a Friday, and was buried after the ritual prayer. And Abū Bakr al-Khallāl lived seventy-eight years, died on a Friday, and was buried after the ritual prayer. Now I’m seventy-eight, and I’ll be here with you until Friday.” When Friday came he died. He was buried after the ritual prayer.
ʿUbayd Allāh bin Muḥammad bin Muḥammad bin Ḥamdān, Abū ʿAbd Allāh Ibnu Baṭṭah al-ʿUkbarī. Ia meriwayatkan hadis dari al-Baghawī, Ibnu Ṣāʿid, dan banyak lainnya. Ia melakukan perjalanan jauh untuk mencari hadis. Ia dianugerahi bagian ilmu dan ketakwaan yang melimpah. 100.37
ʿUbayd Allāh ibn Muḥammad ibn Muḥammad ibn Ḥamdān, Abū ʿAbd Allāh ibn Baṭṭah al-ʿUkbarī. Heard reports from al-Baghawī, Ibn Ṣāʿid, and many others. He traveled extensively in search of Hadith. He was gifted with a generous share of learning and piety. 100.37
Anggota Pilihan dari Generasi Keempat
Selected Members Of The Fourth Generation
Muḥammad ibn ʿAlī ibn al-Fatḥ, Abū Ṭālib al-ʿUshārī. Seorang perawi yang sangat produktif dan seorang yang memiliki perasaan religius yang melimpah. 100.43
Muḥammad ibn ʿAlī ibn al-Fatḥ, Abū Ṭālib al-ʿUshārī. A prolific transmitter and a man of abundant religious feeling. 100.43
Saya mendengar guru saya ʿAbd al-Wahhāb al-Ḥāfiẓ berkata, “Abū Ṭālib al-ʿUshārī pernah keluar pada suatu hari kerusuhan ketika tidak seorang pun merasa aman. Ia dihadang oleh seorang Turk yang bertanya kepadanya, ‘Apa yang kau berikan kepadaku?’ “‘Tidak ada,’ jawabnya.
I heard my teacher ʿAbd al-Wahhāb al-Ḥāfiẓ say, “Abū Ṭālib al-ʿUshārī once went out on a day of unrest when no one was safe. He was accosted by a Turk who asked him, ‘What have you got to give me?’ “‘Nothing,’ he said.
“Orang Turki itu pergi, tetapi Abū Ṭālib memanggilnya kembali. ‘Saya harus memberitahumu,’ katanya, ‘bahwa modal dagang kami adalah kejujuran. Ini dua dirham—ambillah!’ Orang Turki itu bukan hanya tidak mengganggunya, tetapi juga mencari tahu di mana ia tinggal dan memberikan perlindungan kepada seluruh lingkungan itu sebagai bentuk penghargaan atas kejujurannya.”
“The Turk walked off but Abū Ṭālib called him back. ‘I have to tell you,’ he said, ‘that our stock in trade is being honest. I have two dirhams—take them!’ “The Turk not only left him unmolested but found out where he lived and extended protection to the whole neighborhood in appreciation of his honesty.”
Dari Generasi Kelima
From The Fifth Generation
Hakim Abū Yaʿlā Muḥammad ibn al-Ḥusayn ibn Muḥammad ibn Khalaf ibn al-Farrāʾ. Ia banyak mendengar hadis, dan mempelajari penalaran fikih bersama Abū ʿAbd Allāh ibn Ḥāmid. Kepadanya sampai ilmu tentang jalan (mazhab) Aḥmad pada generasinya. Ia menulis banyak karya tentang kaidah-kaidah ushul fikih dan penerapan hukum atas kasus-kasus tertentu. Ia memiliki banyak murid. Ia adalah seorang yang berakhlak dan berintegritas, dan cermat dalam persoalan hukum. Ia menjabat sebagai hakim dan mendiktekan hadis di masjid al-Manṣūr dari kursi yang dahulu ditempati oleh putra Ibn Ḥanbal, ʿAbd Allāh. Kerumunan besar menghadiri majelisnya, dan tiga orang—Abū Muḥammad ibn Jābir, Abū Manṣūr ibn al-Anbārī, dan Abū ʿAlī l-Baradānī—bertugas sebagai perawi ulang (muballigh) darinya.548 Ia wafat pada malam Ahad di antara dua salat malam dan dimakamkan pada hari Senin, tanggal sembilan belas Ramadan 458 H [14 Agustus 1066 M]. Begitu banyak orang yang menghadiri pemakamannya hingga cukup banyak di antara mereka yang pingsan karena panas dan harus berbuka puasa. 100.44
The judge Abū Yaʿlā Muḥammad ibn al-Ḥusayn ibn Muḥammad ibn Khalaf ibn al- Farrāʾ. Heard much Hadith, and studied legal reasoning with Abū ʿAbd Allāh ibn Ḥāmid. To him passed the knowledge of Aḥmad’s way in his generation. He authored numerous compilations on the principles of jurisprudence and on particular applications of the law. He had many students. He was a man of propriety and integrity, and discerning in matters of law. He served as a judge and dictated Hadith in the mosque of al-Manṣūr from the chair formerly occupied by Ibn Ḥanbal’s son ʿAbd Allāh. Vast crowds attended his sessions, and three men—Abū Muḥammad ibn Jābir, Abū Manṣūr ibn al-Anbāri, and Abū ʿAlī l-Baradānī—worked as his repeaters.548 He died on Sunday night between the two night prayers and was buried on Monday, the nineteenth of Ramadan 458 [August 14, 1066]. So many people attended his funeral that a good number succumbed to the heat and had to break their fast. 100.44
Anggota Terpilih dari Generasi Keenam
Selected Members Of The Sixth Generation
Abū Jaʿfar ʿAbd al-Khāliq ibn ʿĪsā al-Hāshimī. Ia banyak mendengar hadis dari Abū l-Qāsim ibn Bishrān, Abū Muḥammad al-Khallāl, Abū Isḥāq al-Barmakī, al-ʿUshārī, Ibn al-Mudhhib, dan lainnya, serta mempelajari fikih bersama Hakim Abū Yaʿlā. Ia seorang ahli fikih dan penyusun kitab, serta orang yang saleh dan mampu menahan diri. Ia mendapat pengesahan dari Hakim Abū Yaʿlā dan pernah menjadi saksi-notaris bagi Abū ʿAbd Allāh al-Dāmaghānī, tetapi berhenti menjalankan tugas itu sebelum wafat. Ia mengajar di sebuah masjid di Gang Penjual Kain dekat Gerbang Basra dan di masjid al-Manṣūr, kemudian pindah ke Sisi Timur, tempat ia mengajar di sebuah masjid yang berseberangan dengan istana khalifah. Pada tahun 466 H, setelah banjir Kanal Muʿallā, ia pindah ke Gerbang Lengkung, menetap di Jalan Dīwān di al-Ruṣāfah, dan mengajar di masjid di sana serta di masjid al-Mahdī. Ia juga mengadakan majelis-majelis tempat berlangsung diskusi-diskusi spekulatif. 100.46
Abū Jaʿfar ʿAbd al-Khāliq ibn ʿĪsā l-Hāshimī. Heard much Hadith from Abū l-Qāsim ibn Bishrān, Abū Muḥammad al-Khallāl, Abū Isḥāq al-Barmakī, al-ʿUshārī, Ibn al- Mudhhib, and others, and studied jurisprudence with Judge Abū Yaʿlā. He was a jurisprudent and compiler, and a pious and self-restrained man. He was certified by Judge Abū Yaʿlā and served Abū ʿAbd Allāh al-Dāmaghānī as a notary-witness but stopped before he died. He taught at a mosque in the Ragdealer’s Alley near the Basra Gate and at the mosque of al-Manṣūr, then moved to the East Side, where he taught at a mosque across from the caliphal palace. In ’66, after the flooding of the Muʿallā Canal, he moved to the Archway Gate, settling in Dīwān Street in al-Ruṣāfah and teaching in the mosque there as well as the mosque of al-Mahdī. He also convened sessions where speculative discussions took place. 100.46
Ketika Qadhi Abū Yaʿlā sedang berbaring di ranjang kematiannya, ia meminta ʿAbd al-Khāliq untuk memandikan jenazahnya. Kemudian, ketika Khalifah al-Qāʾim bi-Amr Allāh sedang berbaring di ranjang kematiannya, ia pun mengajukan permintaan yang sama. ʿAbd al-Khāliq melaksanakan permintaan itu, tetapi tidak mengambil apa pun dari istana. Ia diberitahu bahwa khalifah telah mewariskan kepadanya berbagai pemberian, namun ia menolak untuk mengambil apa pun. Akhirnya mereka menawarkan kepadanya baju khalifah, dengan alasan bahwa ia dapat memperoleh keberkahan darinya. Sebagai jawaban, ia mengambil kain sarungnya sendiri, mengeringkan jenazah dengan kain itu, dan berkata, "Sekarang aku telah mendapatkan keberkahan khalifah." Setelah itu ia dipanggil oleh al-Muqtadī untuk segera mengucapkan sumpah setia. ʿAbd al-Khāliq mengucapkan sumpahnya seorang diri.47
When Judge Abū Yaʿlā was on his deathbed he asked ʿAbd al-Khāliq to wash his corpse. Later, when the Caliph al-Qāʾim bi-Amr Allāh was on his deathbed, he made the same request. ʿAbd al-Khāliq did as he was asked but took nothing from the palace. He was told that the caliph had made him numerous bequests, but he refused to take anything. Finally they offered him the caliph’s shirt, saying he could gain a blessing from it. In response, he took his own waist-cloth, dried the body with it, and said, “Now I’ve got the caliph’s blessing.” He was then summoned by al-Muqtadī to offer the oath of allegiance on the spot. ʿAbd al-Khāliq tendered his oath alone.549 100.47
Anggota Terpilih dari Generasi Ketujuh
Selected Members Of The Seventh Generation
Muḥammad ibn Abī Ṭāhir ibn ʿAbd al-Bāqī ibn Muḥammad ibn ʿAbd Allāh ibn Muḥammad ibn ʿAbd al-Raḥmān ibn al-Rabīʿ ibn Thābit ibn Wahb ibn Mashjaʿah ibn al-Ḥārith ibn ʿAbd Allāh ibn Kaʿb ibn Mālik al-Anṣārī (salah seorang dari tiga orang Anshar yang tertinggal).552 Lahir pada bulan Safar tahun '42 [Juni–Juli 1050] di al-Karkh. Ia biasa berkata, "Ketika aku dilahirkan, ayahku mendatangkan seorang ahli nujum, dan ibuku mendatangkan ahli nujum yang lain. Mereka membuat ramalan bintang untukku dan sepakat bahwa aku hanya akan hidup selama lima puluh dua tahun. Namun, lihatlah, aku kini sudah memasuki dekade kesepuluh!" 100.60
Muḥammad ibn Abī Ṭāhir ibn ʿAbd al-Bāqī ibn Muḥammad ibn ʿAbd Allāh ibn Muḥammad ibn ʿAbd al-Raḥmān ibn al-Rabīʿ ibn Thābit ibn Wahb ibn Mashjaʿah ibn al-Ḥārith ibn ʿAbd Allāh ibn Kaʿb ibn Mālik al-Anṣārī (one of the three Helpers who stayed behind).552 Born in Safar of ’42 [June–July 1050] in al-Karkh. He used to say, “When I was born my father brought in one astrologer and my mother brought in another. They took my horoscope and agreed that I would live for fifty-two years. But here I am in my tenth decade!” 100.60
Dia adalah orang terakhir yang meriwayatkan Hadis dengan sanad dari Abū Isḥāq al-Barmakī, Abū l-Ṭayyib al-Ṭabarī, Abū Ṭālib al-ʿUshārī, Abū l-Ḥasan al-Bāqillānī, Abū Muḥammad al-Jawharī, dan yang lainnya. Ia biasa berkata, "Aku menghafal Al-Qur'an pada usia tujuh tahun, dan tidak ada cabang ilmu yang belum aku pelajari, baik seluruhnya maupun sebagian. Aku tidak merasa pernah menyia-nyiakan satu jam pun dari hidupku dengan kesibukan yang melalaikan atau hiburan yang sia-sia." Ia unik dalam penguasaannya terhadap ilmu matematika dan perhitungan waris. Aku mengunjunginya ketika ia berusia sembilan puluh tiga tahun, dan ia tidak kehilangan satu pun dari kemampuan inderawinya maupun akalnya. Ia wafat sebelum tengah hari pada hari Rabu, tanggal dua Rajab 535 H [11–12 Februari 1141 M], dan dimakamkan di dekat Bisyr al-Ḥāfī. Tiga hari terakhir dari hidupnya ia habiskan tanpa henti membaca Al-Qur'an.
He is the last to have transmitted Hadith citing Abū Isḥāq al-Barmakī, Abū l- Ṭayyib al-Ṭabarī, Abū Ṭālib al-ʿUshārī, Abū l-Ḥasan al-Bāqillānī, Abū Muḥammad al- Jawharī, and others. He used to say, “I memorized the Qurʾan at the age of seven, and there’s no branch of learning I haven’t studied, either completely or in part. I don’t think I’ve wasted a single hour of my life with distractions or diversions.” He was unique in his mastery of mathematics and inheritance calculation. I went to see him when he was ninety-three, and he hadn’t lost any of his faculties. He died before noon on Wednesday, the second of Rajab 535 [February 11–12, 1141], and was buried near Bishr al-Ḥāfī. He spent the last three days of his life tirelessly reciting the Qurʾan.
Tokoh-Tokoh Pilihan dari Generasi Kedelapan
Selected Figures From The Eighth Generation
Abū l-Barakāt ʿAbd al-Wahhāb ibn al-Mubārak al-Anmāṭī. Di antara para guru hadis yang pernah saya jumpai, beliau adalah yang paling banyak mendengar riwayat dan paling banyak menyalin, meskipun beliau telah menghafal hadis-hadis tersebut. Saya tidak pernah memiliki guru yang lebih sabar dalam membetulkan bacaan kami, atau yang lebih mudah tersentuh hingga menangis, meskipun beliau dikenal dengan keceriaannya dan sambutan hangat yang beliau berikan. Beliau lahir pada bulan Rajab tahun 462 H [April–Mei 1070 M] dan wafat pada bulan Muharram tahun 538 H.
Abū l-Barakāt ʿAbd al-Wahhāb ibn al-Mubārak al-Anmāṭī . Of all the Hadith teachers I have seen, he had heard the most reports and copied the most despite knowing them by heart. I never had a teacher who corrected our reading more patiently, or one more likely to be moved to tears despite his customary cheerfulness and the warm welcome he extended. He was born in Rajab ’62 [April–May 1070] and died in Muḥarram 538
[Juli–Agustus 1143]. Ia dimakamkan di al-Shūnīziyyah. 100.63
[July–August 1143]. He is buried in al-Shūnīziyyah. 100.63
Abū Bakr Aḥmad ibn Muḥammad ibn Aḥmad al-Dīnawarī. Beliau belajar fikih dengan Abū l-Khaṭṭāb al-Kalwadhānī dan unggul di dalamnya. Beliau juga melampaui rekan-rekannya dalam berdebat, sampai-sampai Asʿad al-Mīhanī berkata tentangnya, "Abū Bakr al-Dīnawarī tidak pernah melihat sebuah argumen yang tidak bisa ia lubangi." Setiap kali orang-orang saleh disebut, beliau akan luruh dan menangis, seraya berkata, "Para ulama memiliki kedudukan di sisi Tuhan, dan mungkin …"553 Aku mulai menghadiri majelisnya setelah wafatnya guruku Abū l-Ḥasan al-Zāghūnī, dan terus bersamanya selama kurang lebih empat tahun. Suatu ketika beliau pernah membacakan kepadaku: 100.64
Abū Bakr Aḥmad ibn Muḥammad ibn Aḥmad al-Dīnawarī. Studied jurisprudence with Abū l-Khaṭṭāb al-Kalwadhānī and excelled in it. He also outdid his fellows in disputation to the point that Asʿad al-Mīhanī said of him, “Abū Bakr al-Dīnawarī never saw an argument he couldn’t poke a hole in.” Whenever the righteous were mentioned, he would break down and weep, saying “Learned men have some standing with God, and perhaps …”553 I began attending his lectures after the death of my teacher Abū l-Ḥasan al-Zāghūnī and continued with him for some four years. He once recited to me: 100.64
Hal-hal yang dibutuhkan oleh seorang ulama ada enam.
The things a scholar needs are six.
Berikut daftarnya dalam bentuk syair.
Here’s a list of them in rhyme.
Tokoh-Tokoh Pilihan dari Generasi Kesembilan
Selected Figures From The Ninth Generation
Abū Ḥakīm Ibrāhīm ibn Dīnār al-Nahrawānī. Bertemu dengan Abū l-Khaṭṭāb al-Kalwādhānī dan guru-guru lainnya. Belajar fikih, terlibat dalam perdebatan ilmiah, dan banyak mendengar Hadis.
Abū Ḥakīm Ibrāhīm ibn Dīnār al-Nahrawānī. Met Abū l-Khaṭṭāb al-Kalwādhānī and other teachers. Studied jurisprudence, engaged in disputation, and heard much Hadith.
Dia sangat piawai dalam menghitung warisan. Ia adalah seorang yang berilmu dan mengamalkan apa yang ia ketahui. Ia gemar berpuasa dan beribadah, dan ia sangat rendah hati, lebih memilih untuk diabaikan. Kesabaran dan sikapnya yang merendahkan diri menjadi terkenal; bahkan, aku belum pernah melihat seorang pun yang seperti dia dalam hal itu. Ia wafat pada hari Selasa, tanggal dua puluh tiga Jumādā al-Ākhirah 556 H [19–20 Juni 1161 M], dan dimakamkan pada pagi hari Rabu di dekat Bisyr al-Ḥāfī. 100.71
He was deft at calculating inheritances. He was a learned man who put what he knew into effect. He was given to fasting and worship, and he was extremely humble, preferring to be ignored. His forbearance and self-deprecation became proverbial; indeed I never saw anyone like him in that respect. He died Tuesday, the twenty-third of Jumādā II 556 [June 19–20, 1161], and was buried on Wednesday morning near Bishr al-Ḥāfī. 100.71
Seandainya kami menyebutkan seluruh tokoh di setiap generasi, atau menulis biografi lengkap para tokoh yang telah kami sebutkan, kitab ini tentu akan jauh lebih panjang. Oleh karena itu, kami hanya membatasi diri pada penyebutan tokoh-tokoh yang paling menonjol di setiap generasi, serta menyampaikan beberapa kata tentang bagaimana sosok mereka. Kami bersyukur kepada Tuhan dan hanya kepada-Nya kami memohon pertolongan. 100.72
If we had mentioned all the figures in each generation, or written complete biographies of the men we have listed, the book would have grown much longer. We have therefore confined ourself to mentioning only the most prominent figures in each generation and saying a few words about the sort of people they were. We give God our thanks and to Him direct our pleas for help. 100.72
Demikianlah berakhirnya kitab ini. Kami senantiasa memuji Tuhan, dan memohon kepada-Nya agar memberikan berkah dan keselamatan kepada Muhammad ﷺ, Nabi yang ummi557 dan sebaik-baik makhluk-Nya, serta kepada keluarga dan para Sahabatnya.
Here ends the book. We give praise to God always, and ask Him to bless and save Muḥammad, the unlettered557 Prophet and the best of His creation, and his family and Companions.