Penerimaan Beliau oleh Para Tetua Setelah Pembebasannya, dan Doa Mereka untuknya
His Reception By The Elders After His Release, And Their Prayers For Him
[Muhannaʾ ibn Yaḥyā:] Saya melihat Yaʿqūb ibn Ibrāhīm ibn Saʿd al-Zuhrī mencium dahi dan wajah Aḥmad setelah ia dibebaskan dari penjara. Saya juga melihat Sulaymān ibn Dāwūd al-Hāshimī mencium kepala dan dahinya. 70.1
[Muhannaʾ ibn Yaḥyā:] I saw Yaʿqūb ibn Ibrāhīm ibn Saʿd al-Zuhrī kissing Aḥmad on the forehead and the face after he was released from jail. I also saw Sulaymān ibn Dāwūd al-Hāshimī kissing his head and forehead. 70.1
[Al-Jarawī:] Saya berkata kepada al-Ḥārith ibn Miskīn: “Orang itu”—yakni Aḥmad ibn Ḥanbal—“sedang dicambuk. Ayo, kita pergi menemuinya.” 70.2
[Al-Jarawī:] I said to al-Ḥārith ibn Miskīn: “That man”—meaning Aḥmad ibn Ḥanbal—“is being flogged. Come on: let’s go to him.” 70.2
Kami tiba tepat ketika dia sedang dicambuk. Kemudian dia menceritakan kepada kami, "Setelah mereka memukulku, aku terjatuh dan aku mendengar orang itu"—yakni Ibnu Abī Du'ād—"berkata, 'Wahai Amirul Mukminin, dia telah sesat, dan akan menyesatkan orang lain.'" Al-Ḥārith berkata: "Yūsuf ibn ʿUmar ibn Yazīd menceritakan kepadaku, dengan mengutip Mālik ibn Anas, bahwa al-Zuhrī telah difitnah secara jahat kepada penguasa lalu dicambuk. Ketika diberitahukan kepadanya bahwa al-Zuhrī telah mengalami inkuisisi terbuka dengan kitab-kitabnya digantungkan di lehernya, Mālik berkata, 'Saʿīd ibn al-Musayyab dicambuk, dan rambut serta jenggotnya dicukur habis. Abū l-Zinād dan Muḥammad ibn al-Munkadir juga dicambuk.
We arrived just as he was being flogged. Later he told us, “After they beat me I fell down and I heard that one”—meaning Ibn Abī Duʾād—“saying, ‘Commander of the Faithful, he’s gone astray, and will lead others astray.’” Al-Ḥārith remarked: “Yūsuf ibn ʿUmar ibn Yazīd told me, citing Mālik ibn Anas, that al-Zuhrī was maliciously denounced to the authorities and then flogged. When he was told that al-Zuhrī had been subjected to a public inquisition with his books hanging around his neck, Mālik said, ‘Saʿīd ibn al-Musayyab was flogged, and had his hair and beard shaved off. Abū l-Zinād and Muḥammad ibn al-Munkadir were also flogged.
"Umar ibn 'Abd al-'Aziz pernah berkata, "Janganlah iri kepada siapa pun yang belum menderita demi Islam." Dan Malik bahkan tidak menyebut dirinya sendiri." Ahmad terkesan dengan apa yang disampaikan al-Harith kepadanya.
ʿUmar ibn ʿAbd al-ʿAzīz once said, “Do not envy anyone who hasn’t suffered for Islam.”’ And Mālik didn’t even mention himself.” Aḥmad was impressed with what al-Ḥārith told him.
[Penulis:] Manusia selalu menanggung ujian demi Tuhan.
[The author:] People have always suffered through ordeals for the sake of God.
Banyak nabi yang dibunuh; dan di antara umat-umat terdahulu, banyak orang saleh yang dibunuh atau dibakar, dan sebagian dari mereka digergaji menjadi dua tanpa meninggalkan keimanan mereka. Seandainya bukan karena ketidaksukaan saya pada kepanjangan dan kecenderungan saya pada keringkasan, niscaya saya akan memaparkan riwayat-riwayat yang ada dalam pikiran saya, beserta sanad-sanadnya. 70.3
Many prophets were killed; and among the ancient nations, many good people were killed or immolated, with some of them being sawed in half without renouncing their faith. If not for my aversion to prolixity and my preference for brevity, I would list the reports I have in mind, along with their chains of transmission. 70.3
Nabi ﷺ diracun, begitu pula Abū Bakr. ʿUmar, ʿUthmān, dan ʿAlī dibunuh. Al-Ḥasan diracun, dan al-Ḥusayn, Ibn al-Zubayr, al-Ḍaḥḥāk ibn Qays, dan al-Nuʿmān ibn Bashīr dibunuh. Khubayb ibn ʿAdī disalib. Al-Ḥajjāj mengeksekusi ʿAbd al-Raḥmān ibn Abī Laylā, ʿAbd Allāh ibn Ghālib al-Ḥuddānī, Saʿīd ibn Jubayr, Abū l-Bakhtarī l-Ṭāʾī, Kumayl ibn Ziyād, dan Ḥuṭayṭ al-Zayyāt. Ia juga menyalib Māhān al-Ḥanafī, dan sebelumnya Ibn al-Zubayr.
The Prophet, God bless and keep him, was poisoned, as was Abū Bakr. ʿUmar, ʿUthmān, and ʿAlī were assassinated. Al-Ḥasan was poisoned, and al-Ḥusayn, Ibn al- Zubayr, al-Ḍaḥḥāk ibn Qays, and al-Nuʿmān ibn Bashīr were assassinated. Khubayb ibn ʿAdī was crucified. Al-Ḥajjāj executed ʿAbd al-Raḥmān ibn Abī Laylā, ʿAbd Allāh ibn Ghālib al-Ḥuddānī, Saʿīd ibn Jubayr, Abū l-Bakhtarī l-Ṭāʾī, Kumayl ibn Ziyād, and Ḥuṭayṭ al-Zayyāt. He also crucified Māhān al-Ḥanafī, and before him Ibn al-Zubayr.
Dan al-Wāthiq membunuh dan menyalib Aḥmad ibn Naṣr al-Khuzāʿī. 70.4
And al-Wāthiq killed and crucified Aḥmad ibn Naṣr al-Khuzāʿī. 70.4
Di antara para ulama besar yang pernah dicambuk adalah ʿAbd al-Raḥmān ibn Abī Laylā, yang didera empat ratus kali cambukan lalu dieksekusi oleh Ibn al-Ḥajjāj. 70.5
Among the great scholars who were flogged is ʿAbd al-Raḥmān ibn Abī Laylā, who was struck four hundred lashes and then executed by Ibn al-Ḥajjāj. 70.5
Yang lain adalah Saʿīd ibn al-Musayyab, yang dicambuk seratus kali oleh ʿAbd al-Malik ibn Marwān karena menolak membaiat al-Walīd di Madinah. Atas perintah ʿAbd al-Malik, ia dicambuk, disiram air pada hari yang dingin, dan dipakaikan jubah dari wol.407
Another is Saʿīd ibn al-Musayyab, who was struck one hundred lashes by ʿAbd al- Malik ibn Marwān for refusing to swear allegiance to al-Walīd in Medina. At ʿAbd al- Malik’s orders, he was flogged, drenched with water on a cold day, and dressed in a woolen cloak.407
Yang lain adalah Khubayb ibn ʿAbd Allāh ibn al-Zubayr, yang didera seratus kali cambukan oleh ʿUmar ibn ʿAbd al-ʿAzīz atas perintah al-Walīd, hanya karena meriwayatkan sebuah hadis di mana Nabi ﷺ bersabda, "Apabila keturunan Abū l-ʿĀṣ mencapai tiga puluh orang, mereka akan menjadikan hamba-hamba Allah sebagai milik mereka sendiri, dan bergiliran menjarah harta-Nya." Setiap kali ʿUmar diberi tahu, "Bergembiralah!", ia menjawab, "Bagaimana aku bisa bergembira sementara Khubayb menghalangi jalanku?"408
Another is Khubayb ibn ʿAbd Allāh ibn al-Zubayr, who was struck a hundred lashes by ʿUmar ibn ʿAbd al-ʿAzīz at the command of al-Walīd, all for reciting a Hadith where the Prophet—God bless and keep him—says, “When the descendants of Abū l-ʿĀṣ reach thirty in number, they will make God’s servants their own, and take turns plundering His treasury.” Whenever ʿUmar was told, “Rejoice!” he would reply, “How can I rejoice with Khubayb blocking my way?”408
Di antara mereka juga terdapat Abū l-Zinād, yang dicambuk oleh Bani Umayyah; Abū ʿAmr ibn al-ʿAlāʾ, yang dipukul lima ratus kali cambukan oleh Bani Umayyah; Rabiʿat al-Raʾy, yang dicambuk oleh Bani Umayyah; ʿAṭiyyah al-ʿAwfī, yang dipukul empat ratus kali cambukan oleh al-Ḥajjāj; Yazīd al-Ḍabbī, yang dipukul empat ratus kali cambukan oleh al-Ḥajjāj; Thābit al-Bunānī, yang dicambuk oleh Ibn al-Jārūd, wakil Ibn Ziyād; ʿAbd Allāh ibn ʿAwn, yang dipukul tujuh puluh kali cambukan oleh Bilāl ibn Abī Burdah; Mālik ibn Anas, yang dipukul tujuh puluh kali cambukan oleh al-Manṣūr karena mengatakan bahwa orang yang bersumpah di bawah paksaan tidak terikat oleh sumpahnya; serta Abū l-Sawwār al-ʿAdawī dan ʿUqbah ibn ʿAbd al-Ghāfir, yang keduanya dicambuk. 70.6
Others include Abū l-Zinād, who was flogged by the Umayyads; Abū ʿAmr ibn al- ʿAlāʾ, struck five hundred lashes by the Umayyads; Rabiʿat al-Raʾy, flogged by the Umayyads; ʿAṭiyyah al-ʿAwfī, struck four hundred lashes by al-Ḥajjāj; Yazīd al- Ḍabbī, struck four hundred lashes by al-Ḥajjāj; Thābit al-Bunānī, flogged by Ibn al- Jārūd, the deputy of Ibn Ziyād; ʿAbd Allāh ibn ʿAwn, struck seventy lashes by Bilāl ibn Abī Burdah; Mālik ibn Anas, struck seventy lashes by al-Manṣūr for saying that a person who swears an oath under compulsion is not bound by it; and Abū l-Sawwār al- ʿAdawī and ʿUqbah ibn ʿAbd al-Ghāfir, who were both flogged. 70.6
Oleh karena itu, Aḥmad ibn Ḥanbal memiliki daftar guru-guru utama yang sangat mengagumkan.409
Aḥmad ibn Ḥanbal thus had a formidable list of exemplars.409
Lebih Lanjut tentang Pembebasannya terhadap Al-Mu'tasim dan Orang-orang Lain yang Hadir dari Tanggung Jawab atas Cambukan Terhadapnya
More On His Exempting Al-muʿtaṣim And The Others Present From Liability For Flogging Him
[Ṣāliḥ:] Saya mendengar ayah saya berkata, “Aku membebaskan orang yang sudah meninggal itu dari tanggung jawab atas pukulan yang pernah ia berikan kepadaku.” Lalu ia berkata, “Aku baru saja membaca firman {Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya ada pada Allah}, dan aku menelaah maknanya. Aku meriwayatkan dari Hāshim ibn Qāsim, yang meriwayatkan dari al-Mubārak ibn Faḍālah, yang meriwayatkan dari seseorang yang mendengar al-Ḥasan berkata, ‘Pada Hari Kiamat, semua umat akan datang merangkak di hadapan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia. Kemudian hanya mereka yang Tuhan berutang pahala kepadanya yang akan dipanggil untuk bangkit.’” 70.7
[Ṣāliḥ:] I heard my father say, “I exempt that dead man410 from liability for flogging me.” Then he said, “I just came across the verse «Whoever pardons and amends will find his reward with God»411 and looked into what it means. I cite Hāshim ibn Qāsim, who cites al-Mubārak ibn Faḍālah, who cites someone who heard al-Ḥasan say, ‘On the Day of Resurrection, all the nations will come crawling before God, mighty and glorious. Then only those to whom God owes a reward will be called upon to rise.’ 70.7
"Beliau berkata: ‘Yang akan bangkit hanyalah mereka yang memaafkan orang lain.’ “Maka aku memutuskan untuk membebaskan almarhum dari tanggung jawab atas cambukan yang dideranya padaku.” Kemudian beliau menambahkan, “Aku lebih suka Tuhan tidak menyiksa siapa pun karena diriku.” [Aḥmad ibn Sinān:] Aku mendengar bahwa Aḥmad ibn Ḥanbal memaafkan al-Muʿtaṣim pada hari ia mengalahkan Bābak, atau pada hari ia merebut Amorium. Beliau berkata, “Aku membebaskannya dari segala tanggung jawab atas cambukan yang dideranya padaku.” 70.8
“He said: ‘The only ones to rise will be those who forgave others.’ “So I decided to exempt the deceased from liability for flogging me.” Then he added, “I’d rather not have God torment anyone for my sake.” [Aḥmad ibn Sinān:] I heard that Aḥmad ibn Ḥanbal forgave al-Muʿtaṣim the day he defeated Bābak, or the day he captured Amorium. He said, “I exempt him from any liability for flogging me.” 70.8
[Aḥmad:] Al-Wāthiq mengirim pesan kepada saya meminta agar saya memaafkan al-Muʿtaṣim karena telah mencambuk saya. Saya menjawab, "Saya sudah memaafkannya begitu saya keluar dari istana, karena sabda Nabi ﷺ: 'Tidak ada yang akan bangkit pada Hari Kiamat kecuali orang-orang yang memaafkan.'" 70.9
[Aḥmad:] Al-Wāthiq sent me a message asking me to forgive al-Muʿtaṣim for flogging me. I responded, “I forgave him the moment I left the palace because of what the Prophet said: ‘None will rise on Resurrection Day except those who forgive.’” 70.9
[Aḥmad:] Isḥāq ibn Ibrāhīm bertanya apakah saya akan membebaskan Abū Isḥāq [al-Muʿtaṣim] dari tanggung jawab. Saya katakan bahwa saya sudah melakukannya. Saya teringat pada hadis yang berbunyi: "Pada Hari Kiamat akan terdengar seruan: 'Janganlah bangkit kecuali mereka yang telah memaafkan!'" Saya juga teringat apa yang dikatakan al-Shaʿbī, "Maafkanlah sekali, maka engkau akan diberi pahala dua kali." 70.10
Lebih Lanjut tentang Efek Hukuman Cambuk
More On The Effects Of The Flogging
[Ṣāliḥ:] Seorang pria yang biasa merawat korban cambuk datang untuk merawat ayahku.413 "Aku pernah melihat orang-orang yang telah dicambuk seribu kali," katanya kepada kami, "tetapi tidak ada yang separah ini.
[Ṣāliḥ:] A man who treated flogging victims came to look after my father.413 “I’ve seen people who’d been struck a thousand lashes,” he told us, “but nothing as bad as this.
"Mereka memukulnya dari depan maupun dari belakang." 70.15
They struck him from the front as well as behind.” 70.15
Kemudian dia mengambil sebuah alat dan memeriksa beberapa luka. "Tidak ada yang menembus apa pun," katanya.
Then he took an instrument and probed some of the wounds. “They didn’t puncture anything,” he said.
Dia mulai datang secara rutin untuk mengobati ayah saya. Beberapa pukulan telah mengenai wajahnya, dan ia sempat dibiarkan tergeletak tertelungkup untuk beberapa waktu. Pada suatu saat, orang itu berkata, "Ada sesuatu yang ingin saya angkat." Ia mengeluarkan sepotong logam dan menggunakannya untuk menyibakkan daging sambil memotong sebagian darinya dengan pisau. Ayah saya menahan semuanya, memuji Tuhan sepanjang waktu, dan akhirnya sembuh. Ia terus merasakan sakit di bagian-bagian tertentu, dan bekas luka tampak di punggungnya hingga hari ia meninggal.
He began to come regularly to treat my father. Some of the blows had struck him in the face, and he had been left lying face down for some time. At one point the man said, “There’s something I want to remove.” He took out a piece of metal and used it to fold back the flesh while cutting some of it away with a knife. My father bore it all, praising God the whole time, and eventually recovered. He continued to feel pain in certain places, and the scars were visible on his back until the day he died.
Aku mendengarnya berkata, “Demi Tuhan, aku telah memberikan segala yang aku mampu. Aku takut, dan yang kuinginkan hanyalah keluar darinya dengan impas, tidak menang dan tidak kalah.” [Abū Ḥātim:] Aku pergi menemui Aḥmad ibn Ḥanbal kira-kira tiga tahun setelah beliau dicambuk. 70.16
I heard him say, “By God, I have given all I could. I was afraid, and all I wished for was to come out of it even, not winning or losing.” [Abū Ḥātim:] I went to see Aḥmad ibn Ḥanbal three or so years after he was flogged. 70.16
"Apakah kamu masih merasakan sakit?" tanyaku kepadanya.
“Do you still feel any pain?” I asked him.
Ia meletakkan tangan kanannya di atas siku kirinya dan berkata, "Di sini," seolah-olah ingin mengatakan bahwa sikunya pernah terkilir dan masih terasa sakit.