Perbuatan-perbuatan Hajinya
His Performances Of The Pilgrimage
ʿAbd Allāh: Ayahku pernah berhaji lima kali: tiga kali dengan berjalan kaki dan dua kali dengan menunggang kendaraan. Pada sebagian haji tersebut, ia hanya menghabiskan dua puluh dirham. 59.1
[ʿAbd Allāh:] My father made five pilgrimages: three on foot and two riding. On some of them he spent only twenty dirhams. 59.1
[Ṣāliḥ:] Aku mendengar ayahku berkata, "Aku telah berhaji lima kali, tiga di antaranya dengan berjalan kaki. Pada salah satunya, aku hanya menghabiskan tiga puluh dirham." 59.2
[Ṣāliḥ:] I heard my father say, “I made five pilgrimages, three of them on foot. On one of them I spent only thirty dirhams.” 59.2
[Al-Marrūdhī:] Aḥmad pernah berkata kepadaku, "Ada orang-orang yang bisa sampai dari Mekah ke Baghdad hanya dengan empat belas dirham." 59.3
[Al-Marrūdhī:] Aḥmad once said to me, “Some people can make it from Mecca back to Baghdad on only fourteen dirhams.” 59.3
"Seperti siapa?" tanyaku.
“Like who?” I asked.
"Saya." [ʿAbd Allāh:] Di ruang antara di rumah kami ada sebuah bangku. Ketika ayah saya kedatangan tamu yang ingin ia ajak bicara secara pribadi, ia akan menawarkan tempat duduk di bangku itu. Kepada tamu lain, ia berdiri di ambang pintu dengan kedua tangannya memegang tiang pintu dan berbicara dari sana. Suatu hari seorang laki-laki datang ke rumah dan berkata, "Sampaikan kepada ayahmu bahwa ini Abū Ibrāhīm si Pengelana." 59.4
“Me.” [ʿAbd Allāh:] In the anteroom of our house was a bench. When my father had a visitor he wanted to sit with privately, he would offer him a seat on the bench. With other callers, he would stand in the doorway with his hands on the doorposts and talk from there. One day a man came to the house and said, “Tell your father it’s Abū Ibrāhīm the Wanderer.” 59.4
Keduanya duduk di bangku.
The two of them sat down on the bench.
"Sampaikan salam kepada seorang Muslim yang hebat," kata ayahku kepadaku (atau "salah seorang Muslim terbaik"). Maka aku pun mengucapkan salam. Lalu ayahku berkata, "Ceritakanlah kepada kami, wahai Abū Ibrāhīm." "Aku pernah melewati suatu tempat bernama Fulan," katanya, "dekat biara di sana, ketika aku menjadi begitu sakit sehingga tidak sanggup berjalan. Aku ingat berpikir bahwa seandainya aku lebih dekat ke biara, salah seorang rahib mungkin dapat mengobatiku. Tiba-tiba seekor singa besar muncul, mendekatiku, dan membawaku dengan lembut di atas punggungnya hingga kami sampai di biara, dan di sana singa itu menurunkanku. Ketika para rahib melihatku datang di atas punggung seekor singa, keempat ratus dari mereka semuanya memeluk Islam."
“Say hello to a great Muslim,” my father told me (or “one of the best of the Muslims”). So I said hello. Then my father said, “Talk to us, Abū Ibrāhīm.” “I was passing through Such-and-Such a place,” he said, “near the monastery there, when I got too sick to walk. I remember thinking that if I were closer to the monastery one of the monks might treat me. Suddenly a great lion appeared, walked up to me, and carried me along gently on its back until we reached the monastery, where it let me down. When the monks saw me arrive on the back of a lion, all four hundred of them embraced Islam.
“Sekarang kamu bicara padaku, Abū ʿAbd Allāh!” “Empat atau lima malam sebelum haji,” kata ayahku, “aku bermimpi bertemu Nabi ﷺ. Beliau bersabda, ‘Aḥmad, berhajilah.’ Lalu aku terbangun. Setiap kali bersiap untuk bepergian, aku memasukkan roti remuk ke dalam kantong. Maka aku pun melakukan hal itu.
“Now you talk to me, Abū ʿAbd Allāh!” “Four or five nights before the pilgrimage,” said my father, “I dreamed of the Prophet, God bless and keep him. He said, ‘Aḥmad, make the pilgrimage.’ Then I woke up. Whenever I prepare to travel, I put some crumbled bread in a bag. So I did that.
Keesokan paginya, saya berangkat menuju Kufah, dan tiba di sana pada hari yang sama, menjelang sore. Di masjid Jumat, saya bertemu seorang pemuda tampan yang harum. Saya mengucapkan salam kepadanya, lalu mengucapkan "Allahu Akbar" untuk memulai salat. Setelah selesai, saya bertanya kepadanya apakah masih ada orang yang berangkat untuk berziarah. Ia menyuruh saya menunggu sampai salah seorang saudaranya datang. Ketika saudaranya datang, ternyata ia berada dalam keadaan yang sama seperti saya. Sambil berjalan, ia bertanya kepada pemuda itu apakah kami akan diangkut. Note: The rule about not writing "Allah" applies to the word for God in the original text, so the phrase "God is great" in the takbir is translated as "Allahu Akbar"; this is the standard Indonesian form of the Arabic phrase rather than the English word "God."308
The next morning, I started for Kufa, and got there later the same day. In the Friday mosque, I met a handsome young man with a pleasant scent. I greeted him and then said ‘God is great’ to begin my prayer. When I finished I asked him whether anyone was still leaving for the pilgrimage. He told me to wait until one of his brethren came along. When he came, he turned out to be a man in the same situation as I was. As we walked along, he asked the young man if we would be carried.308
“‘Jika Aḥmad ibn Ḥanbal bersama kita,’ kata pemuda itu, ‘maka kita akan melakukannya.’ Pada saat itu aku menyadari bahwa dia adalah al-Khaḍir. Kemudian aku bertanya kepada orang yang bersamaku apakah dia ingin makan sesuatu.”
“‘If Aḥmad ibn Ḥanbal is with us,’ said the young man, ‘then we will.’ “At that moment I realized that he was al-Khaḍir. Then I asked the man with me if he wanted something to eat.
“‘Silakan makan makananmu,’ katanya, ‘dan aku akan makan makananku.’ Setiap kali kami makan, pemuda itu menghilang lalu kembali ketika kami selesai. Tiga hari kemudian kami sudah berada di Mekah.”309
“‘Go ahead and eat your sort of food,’ he said, ‘and I’ll eat mine.’ “Whenever we ate, the young man would disappear then return when we were done. Three days later we were in Mecca.”309