1.3 Tafsir dan Ta'wil
1.3 Tafseer And Ta’weel
Kata tafsir dan ta'wil dianggap sebagai sinonim oleh generasi awal kaum Muslimin; namun, pada abad-abad setelah masa tabi'in dan murid-murid mereka (abad ke-9 dan ke-10 M/abad ke-3 dan ke-4 H), istilah ta'wil memperoleh makna baru dengan implikasi baru yang berbahaya. Oleh karena itu, kita perlu meninjau kedua istilah ini dalam konteks asalnya, serta penggunaannya kemudian.
The words tafseer and ta’weel were considered synonyms by the early generations of Muslims; however, in the centuries following the era of the taabi‘oon and their students (9th and 10th centuries CE/3rd and 4th centuries AH), the term ta’weel took on a new meaning with new and dangerous implications. Consequently, it is necessary for us to look at these terms in their original context, as well as their later usage.
Kata tafsir, yang berasal dari kata kerja fassara, secara harfiah berarti penjelasan atau uraian, sebagaimana dalam firman-Nya,
The word tafseer, which comes from the verb fassara, literally means an explanation or an exposition, as in the verse,
“Dan setiap perumpamaan yang mereka datangkan, Kami datangkan kepadamu kebenaran dan penjelasan yang lebih baik (tafseeran).” 55
“For any parable they bring, I will bring you the truth and a better explanation (tafseeran).” 55
Namun, dalam ilmu-ilmu Al-Qur'an, istilah ini didefinisikan sebagai cabang ilmu yang dengannya Al-Qur'an dipahami, makna-maknanya dijelaskan, serta hukum-hukum dan hikmah-hikmahnya digali.56
However, in Qur’aanic sciences, this term is defined as a branch of knowledge by which the Qur’aan is understood, its meanings explained, and its points of law and wisdom derived.56
Di sisi lain, kata ta’wīl, yang berasal dari kata kerja awwala, secara harfiah berarti penafsiran. Ketika kata ta’wīl digunakan dalam konteks perintah, maknanya adalah pelaksanaan atau penerapannya, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah, yang berkata: “Rasulullah ﷺ biasa melaksanakan (yata’awwalu) Al-Qur’an dengan mengucapkan dalam rukū‘ dan sujud [ketika shalat]:
On the other hand, the word ta’weel, which comes from the verb awwala, literally means interpretation. When the word ta’weel is used in the context of a command, it means its execution or implementation, as in the hadeeth reported by ‘Aa’ishah in which she said, “Allaah’s Messenger (r) used to implement (yata’awwal) the Qur’aan by saying in rukoo‘ (bowing) and sujood (prostration) [during salaah],
"Mahasuci Engkau, ya Allah, Tuhan kami, dan segala puji bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku." 57
‘Glory be to You, O Allaah, our Lord, and Praised are You. O Allaah, forgive me’.” 57
Dia merujuk pada pelaksanaan Nabi ﷺ terhadap perintah Allah dalam ayat tersebut,
She was referring to the Prophet’s execution of Allaah’s command in the verse,
"Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat." 58
“Glorify Your Lord and ask His forgiveness, for verily, He is OftForgiving.” 58
Ketika ta'wīl digunakan dalam kaitannya dengan berita atau informasi, ia merujuk pada terjadinya hal yang diberitakan itu, sebagaimana dalam firman-Nya,
When ta’weel is used in reference to news or information, it refers to its occurrence, as in the verse,
"Sesungguhnya Kami telah mendatangkan kepada mereka sebuah Kitab yang Kami jelaskan dengan ilmu secara terperinci, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Apakah mereka hanya menunggu terwujudnya (ta'wilnya) (apa yang ada dalam Kitab itu)?" 59
“Verily, I have brought them a book of knowledge—and explained it in detail—a guide and a mercy for the Believers. Are they only waiting for the occurrence (ta’weelahu) (of what is in the Book)?” 59
Artinya, Allah mengolok-olok orang-orang yang tidak menerima wahyu dengan bertanya kepada mereka apakah mereka dengan bodohnya menunggu terjadinya hari kiamat dan tanda-tandanya, Hari Penghisaban, Surga, dan Neraka, ketika saat itu sudah terlambat.
That is, Allaah ridicules those who do not accept revelation by asking them if they are foolishly awaiting the occurrence of the final hour and its signs, the Judgment, Paradise, and the Hellfire, when it will be too late.
Namun, ketika kata ta’wīl digunakan dalam kaitannya dengan ucapan yang tercatat, maka maknanya adalah penjelasan atau penafsirannya, sebagaimana dalam firman-Nya:
However, when the word ta’weel is used in reference to recorded speech, it refers to its explanation or interpretation, as in the verse:
"Dialah yang telah menurunkan Kitab kepadamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab, dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabih darinya untuk mencari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya (ta'weelahu)." (QS. Ali 'Imran: 7)
“It is He who revealed the Book to you. In it are clear verses which are the essence of the Book and others which are obscure. As for those whose hearts are twisted, they follow what is obscure seeking to sow discord and searching for its interpretation (ta’weelahu).” 60
Oleh karena itu, para ulama tafsir terdahulu menggunakan kata tafsir dan ta'wil secara bergantian. Misalnya, Ibnu Jarir at-Tabari dalam tafsirnya biasanya mengawali setiap bagian dengan ungkapan, "Pendapat mengenai ta'wil (penjelasan) firman Yang Maha Tinggi."61
Hence, the early scholars of tafseer used the words tafseer and ta’weel interchangeably. For example, Ibn Jareer at-Tabaree, in his tafseer, commonly introduced each section with the phrase, “The opinion concerning the ta’weel (explanation) of the statement of the Exalted.”61
Pada abad-abad berikutnya, ketika penjelasan-penjelasan yang menyimpang dan bid'ah bermunculan, istilah ta'weel digunakan oleh para ulama pada masa itu untuk membenarkan penjelasan-penjelasan tersebut dan memberinya kesan keabsahan. Mereka mendefinisikan ta'weel sebagai pengalihan suatu ungkapan dari makna lahirnya kepada salah satu makna lain yang mungkin, karena adanya konteks;62 yaitu, penafsiran suatu nash dengan makna selain makna lahirnya, karena alasan apa pun yang dianggap relevan oleh seorang ulama. Misalnya, para ulama pada masa ini yang berada di bawah pengaruh Mu‘tazilah (kaum Rasionalis) menafsirkan secara lain kata 'tangan' dalam ayat berikut, yang merujuk pada baiat yang diambil dari para sahabat:
In later centuries, when deviant and heretical explanations abounded, the term ta’weel was used by the scholars of that time to justify them and give them an air of legitimacy. They defined ta’weel as the shifting of an expression from its obvious meaning to one of its likely meanings due to its context;62 that is, the interpretation of a passage by other than its obvious meaning for whatever reason a scholar considered relevant. For example, scholars of this period under Mu‘tazilee (Rationalist) influence explained away the word ‘hand’ in the following verse, which refers to an oath taken by the sahaabah:
"Tangan Allah di atas tangan mereka." 63
“Allaah’s hand is above their hands.” 63
Mereka menafsirkannya sebagai pertolongan dan dukungan Allah, dengan alasan sederhana bahwa, sebagaimana kata mereka, Allah mustahil memiliki tangan. Ta'wil ini didasarkan pada premis keliru bahwa penisbatan tangan kepada Allah secara otomatis berarti menggambarkan-Nya dalam wujud manusia. Namun, sebagaimana menyebut Allah sebagai Yang Maha Hidup (al-Hayy) tidak sama sekali menjadikan-Nya menyerupai manusia, karena hidup-Nya sama sekali tidak seperti hidup kita, menyebut tangan Allah sebagai tangan yang sebenarnya juga tidak menjadikan-Nya menyerupai manusia, sebab tangan-Nya sama sekali tidak seperti tangan kita. Perlu dicatat, akan tetapi, bahwa penetapan Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa Allah memiliki tangan yang sebenarnya tidak berarti bahwa mereka memahami tangan-Nya sebagai anggota tubuh.64
They interpreted it as being Allaah’s help and support for the simple reason that, as they put it, Allaah could not possibly have a hand. This ‘ta’weel’ was based on the false premise that the attribution of a hand to Allaah automatically implied concep-tualizing Him in human form. However, in the same way that referring to Allaah as a living being (al-Hayy) does not in any way make Him humanlike, because His life is in no way like our life, referring to Allaah’s hand as a real hand does not make Him humanlike, for his hand is in no way like our hands. It should be noted, however, that the affirmation by Ahl as-Sunnah wa al-Jamaa‘ah that Allaah has a real hand does not mean that they understand His hand to be a body part.64
55 Surah Al-Furqaan (25):33.
55 Soorah al-Furqaan (25):33.
56 Al-Itqaan fee ‘Uloom al-Qur’aan, jilid 2, hlm. 174.
56 Al-Itqaan fee ‘Uloom al-Qur’aan, vol. 2, p. 174.
Diriwayatkan oleh al-Bukhaari (Sahih Al-Bukhari, jilid 1, hlm. 434, no. 781) dan Muslim (Sahih Muslim, jilid 1, hlm. 255-6, no. 981).
57 Collected by al-Bukhaaree (Sahih Al-Bukhari, vol. 1, p. 434, no. 781) and Muslim (Sahih Muslim, vol. 1, pp. 255-6, no. 981).
Surah an-Nasr (110):3.
58 Soorah an-Nasr (110):3.
Surah al-A'raf (7):52-53.
59 Soorah al-A‘raaf (7):52-3.
Surah Āli ‘Imrān (3):7
60 Soorah Aal ‘Imraan (3):7.
Lamahaat fee ‘Uloom al-Qur’aan, hlm. 123-4.
61 Lamahaat fee ‘Uloom al-Qur’aan, pp.123-4.
62 Mabaahith fee ‘Uloom al-Qur’aan, hlm. 326
62 Mabaahith fee ‘Uloom al-Qur’aan, p. 326
Surah al-Fat-h (48):10
63 Soorah al-Fat-h (48):10.
64 Lihat Syarh al-‘Aqeedah at-Thahaawiyyah, karya Abul-‘Izz al-Hanafee, hlm. 220: “Namun, sifat-sifat ini [yaitu, tangan, mata, dan wajah Allah] tidak boleh dikatakan sebagai anggota, bagian tubuh, alat, atau komponen esensial, karena Allah Maha Esa, Yang tidak membutuhkan siapa pun tetapi dibutuhkan oleh segala sesuatu. Dia tidak dapat dibayangkan tersusun dari bagian-bagian, sedangkan ‘anggota’ dan ‘organ’ membawa konotasi keterbagian.”
64 See Sharh al‘Aqeedah at-Tahaaweeyah, by Abul-‘Izz al-Hanafee, p. 220: “However, it may not be said about these attributes [i.e., the hands, eyes and face of Allaah] that they are organs, limbs, instruments or essential components, because Allaah is the Unique, the One Who needs no one but is needed by all. He can not be conceived of as being composed of components, whereas ‘limbs’ and ‘organs’ carry the connotation of divisibility.”