4 Al-Qur'an: Kitab yang Unik
4 The Qur’aan: The Unique Book
Kata "Qur'aan", yang merupakan kata benda verbal (mashdar), memiliki makna yang sama dengan "qiraa'ah", karena keduanya berasal dari kata kerja "qara'a" yang berarti "membaca". Artinya, Qur'aan secara harfiah bermakna "bacaan" atau "bacaan yang dibaca".27 Namun, istilah "Qur'aan" secara historis digunakan secara khusus untuk merujuk kepada kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Istilah "Qur'aan" disebutkan di berbagai tempat dalam kitab ini sebagai rujukan kepada dirinya sendiri. Misalnya:
The word “Qur’aan,” a verbal noun, is equivalent in meaning to “qiraa’ah,” as both come from the verb “qara’a” which means “to read.” That is, Qur’aan literally means “a reading or reciting.” 27 However, the term “Qur’aan” has been historically used specifically to refer to the book which was revealed to Prophet Muhammad (ﷺ). The term “Qur’aan” is mentioned in a number of places throughout the book in reference to itself. For example:
"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberi petunjuk kepada (manusia) jalan yang paling lurus." 28
“Verily, this Qur’aan guides (humanity) to that which is most just.” 28
Nama Qur'aan digunakan untuk merujuk kepada Qur'aan secara keseluruhan, sebagaimana dalam ayat yang telah dikutip sebelumnya; serta kepada setiap ayat atau kelompok ayat, sebagaimana dalam ayat berikut:
The name Qur’aan is used to refer to both the Qur’aan as a whole, as in the previously quoted verse; as well as to each verse or group of verses, as in the following verse:
"Dan apabila Al-Qur'an dibacakan, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat." 29
“And if the Qur’aan is recited, you should listen to it and be silent, that you may receive mercy.” 29
Kitab ini juga disebut dengan nama-nama lain; misalnya, Al-Furqaan (Pembeda):
The Book has also been referred to by other names; for example, the Furqaan (The Distinction):
"Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam." 30
“Blessed is He who revealed the Furqaan to His slave in order that he may be a warner to all the worlds.” 30
dan Dzikir, (Pengingat):
and the Thikr, (The Reminder):
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. 31
“Verily, I revealed the Thikr and verily I will preserve it.” 31
Al-Qur'an dapat didefinisikan sebagai firman Allah yang diturunkan dalam bahasa Arab dalam bentuk berirama kepada Nabi Muhammad ﷺ. Bacaannya digunakan dalam ibadah, dan surat terkecilnya memiliki sifat yang mukjizat.
The Qur’aan could be defined as Allaah’s words which were revealed in Arabic in a rhythmical form to Prophet Muhammad (r). Its recitation is used in acts of worship and its smallest chapter (soorah) is of a miraculous nature.
Pernyataan-pernyataan Nabi ﷺ yang diilhami secara ilahi dan dicatat oleh para pengikutnya umumnya disebut hadis. Sebagai contoh, seorang sahabat Nabi ﷺ, ‘Umar ibn al-Khattaab, melaporkan bahwa beliau ﷺ pernah bersabda,
The Prophet’s divinely inspired statements which were recorded by his followers are generally referred to as hadeeths. For example, the Prophet’s companion (sahaabee), ‘Umar ibn al-Khattaab, reported that he once said,
"Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya." 32
“Verily, deeds are (judged) by their intentions.” 32
Namun, dalam beberapa sabdanya, Nabi ﷺ menisbatkan apa yang beliau katakan kepada Allah; misalnya, sahabat lain, Abu Hurairah, meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,
However, in some of his statements, the Prophet (r) attributed what he said to Allaah; for example, another sahaabee, Aboo Hurayrah, reported that the Prophet (r) said,
"Allah Yang Maha Tinggi berfirman, 'Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Maka jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku dalam suatu kelompok, Aku akan mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik.'" 33
“Allaah, Most High, says, ‘I am as My slave thinks of Me and I am with him when he remembers me. So if he remembers Me to himself, I will remember him to Myself and if he remembers Me in a group, I will remember him in a better group.’ ” 33
Untuk membedakan jenis hadis ini dari jenis sebelumnya, hadis ini disebut hadis qudsi (hadis suci), sedangkan yang sebelumnya disebut hadis nabawi (hadis kenabian).
In order to distinguish this type of hadeeth from the previous type, it is referred to as hadeeth qudsee (sacred hadeeth) and the former referred to as hadeeth nabawee (prophetic hadeeth).
Al-Qur'an, bagaimanapun, tidaklah sama dengan hadis qudsi karena beberapa alasan. Pertama, Al-Qur'an berasal dari Allah baik lafaz maupun maknanya, sedangkan pada hadis qudsi, maknanya berasal dari Allah tetapi lafaznya adalah dari Nabi ﷺ. Kedua, Allah menantang orang-orang Arab dan manusia secara umum untuk mendatangkan bahkan satu surah yang setara dengan salah satu surah Al-Qur'an, dan ketidakmampuan mereka untuk melakukannya membuktikan sifat mukjizatnya. Hal ini tidak berlaku pada hadis qudsi. Ketiga, bacaan Al-Qur'an digunakan dalam salat dan itu sendiri dianggap sebagai bentuk ibadah. Nabi ﷺ bersabda,
The Qur’aan, however, is not the same as hadeeth qudsee for a number of reasons. First, the Qur’aan is from Allaah both in its wording and in its meaning, while in the case of hadeeth qudsee, its meaning is from Allaah but its wording was the Prophet’s (ﷺ). Second, Allaah challenged the Arabs and mankind in general to produce even a chapter equivalent to one of the Qur’aan’s chapters, and their inability to do so proves its miraculous nature. This is not so in the case of hadeeth qudsee. Third, the recitation of the Qur’aan is used in salaah and is itself considered a form of worship. The Prophet (r) said,
"Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, Yang Maha Tinggi, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan (yang dicatat untuknya), dan setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat nilainya. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Laam Mim itu satu huruf, tetapi aku mengatakan bahwa Alif adalah satu huruf, Laam adalah satu huruf, dan Mim adalah satu huruf." 34
“Whoever reads a letter from the book of Allaah, the Most High, will get a good deed (recorded for him), and each good deed is worth ten times its value. I am not only saying that Alif Laam Meem is a letter, but I am also saying that Alif is a letter, Laam is a letter, and Meem is a letter.” 34
Namun, membaca hadits qudsi tidak memiliki salah satu pun dari sifat-sifat tersebut.35
However, the recitation of hadeeth qudsee carries none of these properties.35
27 Arabic-English Lexicon, vol. 2, hlm. 2502.
27 Arabic-English Lexicon, vol. 2, p. 2502.
Surah al-Isra’ (17):9
28 Soorah al-Israa’ (17):9.
Surah al-A‘raaf (7):204.
29 Soorah al-A‘raaf (7):204.
Surah Al-Furqan (25):1
30 Soorah al-Furqaan (25):1
Surah al-Hijr (15):9.
31 Soorah al-Hijr (15):9.
32 Diriwayatkan oleh al-Bukhaari (Sahih Al-Bukhari, jilid 1, hlm. 1, no. 1) dan Muslim (Sahih Muslim, jilid 3, hlm. 1056, no. 4692).
32 Collected by al-Bukhaaree (Sahih Al-Bukhari, vol. 1, p. 1, no. 1) and Muslim (Sahih Muslim, vol. 3, p. 1056, no. 4692).
33 Diriwayatkan oleh al-Bukhaaree (Sahih Al-Bukhari, jilid 9, hlm. 369-70, no. 502) dan Muslim (Sahih Muslim, jilid 4, hlm. 1408, no. 6471).
33 Collected by al-Bukhaaree (Sahih Al-Bukhari, vol. 9, pp. 369-70, no. 502) and Muslim (Sahih Muslim, vol. 4, p. 1408, no. 6471).
34 Diriwayatkan oleh Ibnu Mas‘ūd dan dikumpulkan oleh at-Tirmidzī dan Aḥmad. Lihat catatan kaki 154, hlm. 75.
34 Reported by Ibn Mas‘ood and collected by at-Tirmithee and Ahmad. See footnote 154, p.75.
35 Lihat Principles of Islamic Jurisprudence, hlm. 15, dan Qawaa'id at-Tahdeeth min Funoon Mustalih al-Hadeeth, hlm. 56.
35 See Principles of Islamic Jurisprudence, p. 15, and Qawaa’id at-Tahdeeth min Funoon Mustalih al-Hadeeth, p. 56.