4.8 Mukjizat Numerik Al-Qur'an
4.8 The Numerical Miracle of the Qur’aan
Proponen paling terkenal dari gagasan ini adalah Rashad Khalifa, seorang ahli biokimia Mesir yang menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Menurut Dr. Khalifa, terdapat kode numerik yang ajaib dalam Al-Qur'an yang didasarkan pada "ayat pertamanya" (BismillahirRahmaanir-Raheem), yang terdiri dari 19 huruf. Kode ajaib ini konon dirujuk dalam ayat 30 surah ke-74 (al-Muddath-thir) yang berbunyi "Di atasnya ada sembilan belas." Berdasarkan dua premis ini, Dr. Rashad mengklaim telah menemukan pola matematika yang rumit yang melibatkan angka 19 dan kelipatannya di seluruh Al-Qur'an, dan terutama dalam apa yang ia sebut huruf-huruf pembuka Al-Qur'an yang mendahului 29 surah (Alif, Laam, Meem, dan seterusnya). Dari penemuan ini, Dr. Khalifa menyimpulkan bahwa kerumitan pola kode matematika ini dalam sebuah karya sastra sebesar Al-Qur'an jauh melampaui kemampuan manusia, dan bahwa hanya pola inilah mukjizat Al-Qur'an yang sebenarnya, yang membuktikan asal-usulnya yang ilahi.80 Ia selanjutnya menyimpulkan bahwa 19 dan kelipatannya merupakan kunci penafsiran Al-Qur'an dan Islam yang benar, dan alasan angka 19 dipilih adalah karena 19 bermakna "Tuhan itu Esa," yang merupakan pesan Al-Qur'an.81
The most famous proponent of this idea was Rashad Khalifa, an Egyptian biochemist educated in the United States. According to Dr. Khalifa, there is a miraculous numerical code to the Qur’aan based on its “first” verse (BismillahirRahmaanir-Raheem), which consists of 19 letters. This miraculous code is supposedly referred to in verse 30 of Chapter 74 (al-Muddath-thir) which states “Over it are 19.” Based on these two premises, Dr. Rashad claims to have discovered an intricate mathematical pattern involving 19 and its multiples throughout the Qur’aan and especially in what he calls the Qur’aanic initials which precede 29 chapters (Alif, Laam, Meem, etc.). From this discovery, Dr. Khalifa concludes that the complexity of this mathematical code’s pattern in a literary work of the Qur’aan’s size is far beyond human capabilities, and that it alone constitutes the only real miracle of the Qur’aan which proves its divine origin.80 He further concludes that 19 and its multiples represent the key to the correct interpretation of the Qur’aan and Islam, and the reason why 19 was chosen is that 19 means “God is One,” which is the message of the Qur’aan.81
Banyak Muslim pada awalnya menyambut teori-teori Khalifa dengan antusiasme yang tidak kritis.
Many Muslims at first received Khalifa’s theories with uncritical enthusiasm.
Namun ketika para kritikus yang lebih teliti mulai memeriksa angka-angkanya, mereka menemukan banyak ketidaksesuaian dan beberapa pemalsuan yang nyata dalam datanya. Klaimnya didasarkan pada jumlah kemunculan huruf atau kata tertentu dalam suatu surah atau kelompok surah. Ditemukan bahwa terkadang ia memperlakukan hamzah seperti alif, dan terkadang tidak, tergantung pada jumlah yang ia butuhkan dalam suatu surah untuk membenarkan teorinya. Terkadang ia menghitung huruf yang tidak ada, terkadang ia gagal menghitung huruf yang ada, terkadang ia menganggap dua kata sebagai satu, terkadang ia menambahkan pada teks Al-Qur'an dan terkadang ia menghapus darinya, semuanya demi membuat jumlah huruf dan kata sesuai dengan teorinya. Selain itu, jumlah hurufnya berubah seiring waktu, tergantung pada apakah ia ingin menetapkan pola untuk suatu surah secara tersendiri atau sebagai bagian dari kelompok surah. Ketika dihadapkan pada inkonsistensi dalam datanya, ia mulai mengklaim bahwa ayat-ayat tertentu telah dimasukkan ke dalam Al-Qur'an padahal tidak seharusnya ada di sana. Setelah pernyataan kekafiran yang jelas ini, ia melanjutkan dengan mengklaim mengetahui tanggal pasti Hari Kiamat, dan akhirnya mengklaim kenabian untuk dirinya sendiri. Ia menarik sekelompok pengikut di Tucson, Arizona, tetapi kariernya
However, when more rigorous critics began checking his numbers, they found numerous discrepancies and some outright fabrications in his data. His claims were based on the number of times a given letter or word occurs in a given soorah or group of soorahs. It was discovered that he would sometimes treat hamzahs like alifs and sometimes he wouldn’t, depending on the totals he needed in a given soorah to confirm his theory. Sometimes he counted letters that weren’t there, sometimes he failed to count existing letters, sometimes he counted two words as one, sometimes he added to the Qur’aanic text and sometimes he deleted from it, all for the purpose of making the letter and word counts conform to his theory. On top of that, his letter counts changed over time, depending on whether he wanted to establish a pattern for a soorah by itself or as part of a group of soorahs. When confronted with inconsistencies in his data, he began claiming that certain verses had been inserted into the Qur’aan that did not belong there. After this clear statement of disbelief he went on to claim knowledge of the exact date of the Day of Judgment and eventually claimed prophethood for himself. He attracted a group of followers in Tucson, Arizona, but his career
79 The Qur'an and Modern Science: Correlation Studies, hlm. 31.
79 The Qur’an and Modern Science: Correlation Studies, p.31.
Lihat presentasi Rashad Khalifa atas teorinya dalam artikel "Problem of 19," Impact International, 13-26 Nov., 1981, hlm. 14-15.
80 See Rashad Khalifa’s presentation of his theory in the article “Problem of 19,” Impact International, 13-26 Nov., 1981, pp.14-15.
81 Quran: Visual Presentation of The Miracle, pp.70-73, 243.
81 Quran: Visual Presentation of The Miracle, pp.70-73, 243.
Catatan: Perhitungan ini didasarkan pada sistem numerologi Abjad, di mana huruf-huruf alfabet Arab diberi nilai numerik, sebuah sistem yang dipinjam dari sistem mistik Yahudi yang dikenal sebagai Kabbalah.
Note: This calculation is based on the Abjad system of numerology in which the letters of the Arabic alphabet are given numerical values, a system borrowed from the Jewish mystical system known as Kabbalah.
Lihat Mission to America, hlm. 137-168. Bantahan rinci terhadap teori ini dapat ditemukan dalam buku saya, The Quran’s Numerical Miracle: Hoax and Heresy.
82 See Mission to America, pp. 137-168. A detailed refutation of this theory can be found in my book, The Quran’s Numerical Miracle: Hoax and Heresy.