9.5 Tajwid (Pembacaan Al-Qur'an yang Benar)
9.5 Tajweed (proper Qur’aanic Recitation)
Sejak awal fase terakhir kenabian, penekanan besar diletakkan pada pembacaan Al-Qur'an. Nama "Qur'an" sendiri berarti "bacaan" atau "pembacaan," dan ayat pertama Al-Qur'an yang diturunkan adalah,
From the beginning of the final phase of prophethood, great stress was placed on the recitation of the Qur’aan. The very name “Qur’aan” means a “reading” or “recitation,” and the first verse of the Qur’aan to be revealed was,
"Bacalah, dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan." 34
“Recite, In the name of your Lord Who created.” 34
Nabi (ﷺ) sendiri menganjurkan para sahabatnya untuk membaca Al-Qur’an sebanyak yang mereka mampu. Ibnu Mas‘ud meriwayatkan bahwa Nabi (ﷺ) pernah bersabda,
The Prophet (ﷺ) himself urged his companions to recite as much of the Qur’aan as they could. Ibn Mas‘ood reported that the Prophet (ﷺ) once said,
"Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat." 35
“Whoever reads a single letter from Allaah’s book will receive a blessing and each blessing is worth ten times its value.” 35
Abu Umamah melaporkan bahwa beliau bersabda,
Aboo Umaamah reported that he said,
"Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya pada Hari Kiamat nanti ia akan datang sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya (yakni orang-orang yang sering membacanya)." 36
“Recite the Qur’aan, for verily on the Day of Resurrection it will act as an intercessor for its companions (those who read it often).” 36
Sebenarnya, Rasulullah ﷺ menganjurkan kita untuk membaca seluruh Al-Qur'an sekali dalam sebulan. 'Abdullah bin 'Amr meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ menyuruhnya membaca seluruh Al-Qur'an dalam sebulan, ia berkata, "Sesungguhnya aku masih kuat untuk melakukan lebih dari itu." Maka Nabi ﷺ menyuruhnya membacanya dalam sepuluh hari, tetapi ia tetap bersikeras bahwa ia bisa melakukan lebih baik, sehingga Nabi ﷺ menyuruhnya membacanya dalam tidak kurang dari tujuh hari.37 Nabi ﷺ juga memperingatkan kita agar berhati-hati jangan sampai melupakan apa yang telah kita hafal dari Al-Qur'an. Beliau bersabda,
In fact, the Messenger of Allaah (ﷺ) encouraged us to read all of it once per month. ‘Abdullaah ibn ‘Amr reported that when Allaah’s Messenger (ﷺ) told him to read the whole Qur’aan in a month, he said, “Verily I have strength to do more.” The Prophet (ﷺ) then told him to do it in ten days, but he still insisted that he could do better, so the Prophet (ﷺ) told him to read it in no less than seven days.37 The Prophet (ﷺ) also warned us to beware of forgetting what we have memorized of the Qur’aan. He said,
"Rutinlah membaca Al-Qur'an. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ﷺ berada di tangan-Nya, Al-Qur'an itu akan lebih cepat lepas (dari hafalan) daripada unta yang lepas dari tambatannya." 38
“Be regular in your reading of the Qur’aan. For by the One in whose hand lies the soul of Muhammad, it will run away more quickly than a camel from its restraining cord.” 38
Oleh karena itu, sejak awal masa Islam dalam bentuk akhirnya, perhatian besar telah diberikan pada pembacaan Al-Qur'an. Upaya dilakukan agar Al-Qur'an dibaca sedekat mungkin dengan cara ia diturunkan. Para ulama yang mengkhususkan diri dalam qira'at Al-Qur'an menyusun kaidah-kaidah bacaan berdasarkan riwayat-riwayat bacaan yang sahih yang telah mereka pelajari. Kaidah-kaidah ini, pada kenyataannya, membentuk ilmu dasar fonetik bahasa Arab, yang menguraikan cara pengucapan yang benar untuk huruf-huruf alfabet Arab, kata-kata tertentu, dan kalimat. Ilmu yang berkembang dari perhatian terhadap pembacaan Al-Qur'an yang benar ini dikenal sebagai ilmu tajwid. Tajwid didefinisikan sebagai pengucapan setiap bunyi bahasa Arab dengan benar dan jelas, serta pelafalan setiap konsonan, vokal, kata, dan kalimat sesuai dengan standar bahasa Arab yang digunakan pada generasi Nabi ﷺ. Para ulama juga menegaskan bahwa hal ini harus dilakukan tanpa hiasan yang berlebihan dan gaya yang tidak wajar. Namun, seseorang hendaknya membaca Al-Qur'an dengan suara alami yang sebaik mungkin, berdasarkan anjuran Nabi ﷺ,
Consequently, from the early days of Islaam in its final form, great care has been paid to the recitation of the Qur’aan. Care was taken to see that the Qur’aan was recited as closely to the way it was revealed as possible. Scholars who specialized in the recitation of the Qur’aan formulated rules of recitation based on the authentic recitations which they had learned. These rules, in fact, formed the basic science of Arabic phonetics, outlining the correct method of pronunciation for the letters of the Arabic alphabet, individual words, and sentences. The science which evolved out of this concern over the correct recitation of the Qur’aan came to be known as the science of tajweed. Tajweed was defined as the articulation of each Arabic sound correctly and distinctly and the pronunciation of each consonant, vowel, word, and sentence according to the standard of Arabic spoken by the Prophet’s generation. The scholars also insisted that this should take place without excessive embellishment and unnatural mannerisms. However, one should recite the Qur’aan in the best natural voice possible, based upon the Prophet’s recommendation,
"Hiasilah Al-Qur'an dengan suara kalian." 39
“Beautify the Qur’aan with your voices.” 39
Perlu dicatat, namun, bahwa meskipun seni membaca (tilawah) Al-Qur'an sangat ditekankan, hal itu bukanlah tujuan yang dicari untuk dirinya sendiri. Membaca hanyalah sarana, sebuah wahana yang dengannya seseorang dapat menyerap pesan sehingga dapat melaksanakan apa pun yang dituntut oleh pesan tersebut. Secara umum, membaca dengan lisan lebih utama daripada sekadar membaca dengan mata, karena di dalamnya turut melibatkan organ bicara dan indera pendengaran, yang semuanya membantu memperkuat pesan tersebut ketika pembacaan dilakukan dengan sadar dan tidak secara ritualistik.
It should be noted, however, that in spite of the great emphasis laid on the art of recitation, it is not a goal to be sought in itself. Recitation is only a means, a vehicle by which one may absorb the message so as to implement whatever the message entails. Recitation is, generally speaking, superior to mere reading with the eyes because it also involves the organ of speech and sense of hearing, all of which serve to reinforce the message when recitation is done consciously and not ritual-istically.
33 Al-Itqaan, jilid 1, hlm. 214.
33 Al-Itqaan, vol. 1, p. 214.
Surah al-‘Alaq (96):1.
34 Soorah al-‘Alaq (96):1.
35 Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, jilid
35 Collected by at-Tirmithee and authenticated by al-Albaanee in Saheeh Sunan at-Tirmithee, vol.
3, hlm. 9, no. 2327. Lihat catatan kaki 94.
3, p. 9, no. 2327. See footnote 94.
Diriwayatkan oleh Muslim (Sahih Muslim, jilid 2, hal. 385, no. 1757).
36 Collected by Muslim (Sahih Muslim, vol. 2, p. 385, no. 1757).
Diriwayatkan oleh al-Bukhaari (Sahih Al-Bukhari, jilid 6, hlm. 516-7, no. 572) dan Muslim (Sahih Muslim, jilid 2, hlm. 563, no. 2588).
37 Collected by al-Bukhaaree (Sahih Al-Bukhari, vol. 6, pp.516-7, no. 572) and Muslim (Sahih Muslim, vol. 2, p. 563, no. 2588).
Diriwayatkan oleh al-Bukhaari (Sahih Al-Bukhari, jilid 6, hlm. 505-6, no. 552) dan Muslim (Sahih Muslim, jilid 1, hlm. 379, no. 1725).
38 Collected by al-Bukhaaree (Sahih Al-Bukhari, vol. 6, pp. 505-6, no. 552) and Muslim (Sahih Muslim, vol. 1, p. 379, no. 1725).
Diriwayatkan oleh Abu Dawud (Sunan Abu Dawud, jilid 1, hlm. 384, no. 1463), Ibnu Majah, Ahmad, ad-Darimi dan Ibnu Hibban, dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud, jilid 1, hlm. 275, no. 1303.
39 Collected by Aboo Daawood (Sunan Abu Dawud, vol. 1, p. 384, no. 1463), Ibn Maajah, Ahmad, ad-Daarimee and Ibn Hibbaan, and authenticated by al-Albaanee in Saheeh Sunan Abee Daawood, vol. 1, p. 275, no. 1303.