9.2 Pentingnya Tujuh Bentuk
9.2 Significance Of The Seven Forms
Turunnya Al-Qur'an dalam tujuh dialek yang berbeda memudahkan pembacaan dan penghafalannya bagi berbagai suku. Misalnya, frasa "'alayhim" (atas mereka) dibaca oleh sebagian orang sebagai "'alayhumoo," kata "siraat" (jalan, jembatan) dibaca oleh sebagian orang sebagai "siraat" dan oleh yang lain sebagai "ziraat," dan kata "mu'min" (orang beriman) juga dibaca sebagai "moomin." Akibatnya, lebih banyak pengikut Nabi ﷺ yang mampu menghafal bagian-bagian besar Al-Qur'an ketika Nabi ﷺ masih hidup. Karena mayoritas bangsa Arab tidak dapat membaca maupun menulis, dan sebagian besar Al-Qur'an dijaga selama masa hidup Nabi ﷺ melalui hafalan, setiap faktor yang memudahkan penghafalannya sangatlah penting. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa turunnya Al-Qur'an dalam tujuh bentuk memainkan peran vital dalam penjagaan Al-Qur'an yang sesungguhnya. Perlu juga dicatat bahwa selama pengumpulan Al-Qur'an setelah wafatnya Nabi ﷺ, satu-satunya cara untuk memverifikasi kebenaran tulisan Al-Qur'an yang telah dibuat selama masa hidup Nabi ﷺ adalah dengan membandingkannya dengan apa yang telah dihafal. Maka, semakin banyak orang yang mampu menghafalnya, semakin akurat Al-Qur'an dapat dikumpulkan dan diverifikasi. Dengan demikian, kemudahan dalam menghafal juga memainkan peran kunci dalam pengumpulan Al-Qur'an yang akurat.
The revelation of the Qur’aan in seven different dialects made its recitation and memorization much easier for the various tribes. For example, the phrase, “ ‘alayhim” (on them), was read by some as “ ‘alayhumoo,” and the word “ siraat” (path, bridge), was read by some as “ siraat” and by others as “ ziraat,” and the word “mu’min” (believer) was also read as “moomin.” As a result, a greater number of the Prophet’s followers were able to memorize large portions of the Qur’aan while the Prophet (ﷺ) was still alive. Since the majority of the Arabs could neither read nor write and most of the Qur’aan was preserved during the Prophet’s lifetime by memorization, any factor which eased its memorization was of great importance. Hence, it could be said that the revelation of the Qur’aan in seven forms played a vital role in the actual preservation of the Qur’aan. It should also be noted that during the compilation of the Qur’aan after the Prophet’s death, the only means of verifying the correctness of what had been written of the Qur’aan during the Prophet’s lifetime was by comparing it with what had been memorized. Hence, the more people who were able to memorize it, the more accurately it could be compiled and verified. Consequently, the ease in memorization also played a key role in the accurate compilation of the Qur’aan.
Di banyak tempat dalam Al-Qur'an, Allah menantang orang-orang Arab pada masa itu untuk mendatangkan satu surah yang serupa, bahkan dengan surah yang paling pendek sekalipun. Ketidakmampuan untuk menandingi gaya bahasa Al-Qur'an merupakan mukjizat yang membuktikan bahwa Al-Qur'an pastilah berasal dari Allah. Mukjizat ini menjadi semakin nyata ketika tidak seorang pun dari ketujuh suku besar mampu menandinginya bahkan dalam dialek mereka sendiri, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat mengklaim bahwa menandinginya sulit karena tidak ditulis dalam dialek mereka.
In many places in the Qur’aan, Allaah challenged the Arabs of that time to produce a chapter similar to even its smallest chapter. The inability to imitate the Qur’aan’s style was a miracle which proved that the Qur’aan had to be from Allaah. This miracle became even more obvious when none of the seven major tribes could imitate it even in their own dialects, as no one could claim that it was difficult to imitate due to it not being in their own dialect