9.3 Dialek Quraisy
9.3 The Dialect Of Quraysh
Al-Qur'an terus dibaca menurut tujuh bentuk hingga pertengahan masa pemerintahan Khalifah 'Utsman, ketika muncul kebingungan di beberapa provinsi terpencil mengenai pembacaan Al-Qur'an. Beberapa kabilah Arab mulai membanggakan keunggulan bacaan mereka, dan persaingan pun mulai berkembang. Pada saat yang sama, sebagian kaum Muslimin yang baru juga mulai mencampuradukkan berbagai bentuk bacaan karena ketidaktahuan. Khalifah 'Utsman memutuskan untuk membuat mushaf resmi Al-Qur'an menurut dialek Quraisy dan mengirimkannya bersama para qari Al-Qur'an ke pusat-pusat utama Islam. Keputusan ini disetujui oleh seluruh sahabat, dan semua mushaf tidak resmi dimusnahkan. Setelah mushaf-mushaf resmi itu didistribusikan, seluruh dialek lainnya ditinggalkan dan Al-Qur'an mulai dibaca hanya dalam satu dialek. Dengan demikian, Al-Qur'an yang tersedia di seluruh dunia saat ini ditulis dan dibaca hanya menurut dialek Quraisy.29
The Qur’aan continued to be read according to the seven forms until midway through Caliph ‘Uthmaan’s rule, when some confusion arose in other outlying provinces concerning the Qur’aan’s recitation. Some Arabic tribes had begun to boast about the superiority of their readings and a rivalry began to develop. At the same time, some new Muslims also began mixing the various forms out of ignorance. Caliph ‘Uthmaan decided to make official copies of the Qur’aan according to the dialect of Quraysh and send them along with Qur’aanic reciters to the major centers of Islaam. This decision was approved by all of the sahaabah, and all unofficial copies of the Qur’aan were destroyed. Following the distribution of the official copies, all the other dialects were dropped and the Qur’aan began to be read in only one dialect. Thus, the Qur’aan which is available throughout the world today is written and recited only according to the dialect of the Quraysh.29
Penghentian enam bentuk bacaan lainnya sama sekali tidak berarti hilangnya sedikit pun bagian dari Al-Qur'an. Para sahabat diberi pilihan oleh Nabi ﷺ untuk membaca Al-Qur'an dengan salah satu dari tujuh dialek yang mereka kehendaki, karena maknanya sama dan variasinya bersinonim; dan merekalah yang secara bulat sepakat untuk menghentikan penggunaan enam dialek lainnya. Keputusan semacam itu tidak mungkin disepakati secara bulat jika di dalamnya terkandung hilangnya walau sebagian kecil pun dari Al-Qur'an. Dengan demikian, Al-Qur'an menurut dialek Quraisy tidak diragukan lagi merupakan kumpulan yang sempurna dan lengkap dari firman Allah yang diwahyukan kepada nabi dan rasul-Nya yang terakhir, Muhammad ﷺ.
The discontinuance of the other six forms does not in any way represent a loss of any part of the Qur’aan. The sahaabah were given the option by the Prophet (ﷺ) to recite the Qur’aan in any of the seven dialects they wished because the meaning was the same and the variations were synonymous; and it is they who unanimously decided to discontinue the use of the other six. Such a decision could not have been unanimously approved if it in any way entailed the loss of even the smallest part of the Qur’aan. Thus, the Qur’aan according to the Qurayshee dialect is, without doubt, a perfect and complete compilation of Allaah’s revealed word to the last of His prophets and messengers, Muhammad (ﷺ).
29 Ini adalah pendapat sekelompok ulama. Yang lain berpendapat bahwa sebagian aspek dari berbagai dialek telah terjaga dalam qira'at-qira'at yang beragam, namun hanya yang dapat diselaraskan dengan Mushaf 'Utsmaniy. Mereka mengatakan bahwa para sahabat menulis Mushaf 'Utsmaniy sedemikian rupa sehingga memaksimalkan jumlah ahruf yang sesuai dengannya. As-Suyuthiy, Ibnu Hajar, dan Ibnu al-Jazariy semuanya mendukung pendapat kedua dan menisbatkannya kepada mayoritas ulama. Lihat al-Itqaan, jilid 1, hlm.
29 This is the opinion of a group of scholars. Others maintain that some aspects of the different dialects have been preserved in the varying qiraa’aat, but only those which are reconcilable with the ‘Uthmaanee Mus-haf. They say the sahaabah wrote the ‘Uthmaanee Mus-haf in such a way as to maximize the number of ahruf compatible with it. As-Suyootee, Ibn Hajar and Ibn al-Jazaree all supported the second opinion and attributed it to the majority of scholars. See al-Itqaan, vol. 1, p.
142, dan Ma‘ al-Masaahif, hlm. 34.
142, and Ma‘ al-Masaahif, p. 34.