5.3 Wahyu Tidak Langsung
5.3 Indirect Revelation
Sebagian besar wahyu Allah disampaikan kepada para nabi melalui malaikat wahyu, Jibril. Kitab wahyu yang terakhir, al-Qur'an, sebagian besar diturunkan dengan cara ini. Bentuk wahyu ini sampai kepada Nabi ﷺ dalam dua cara: baik dalam bentuk suara yang bergema seperti dentang lonceng, atau dalam bentuk ucapan langsung dari malaikat.
The vast majority of Allaah’s revelation was conveyed to the prophets by way of the angel of revelation, Jibreel. The final book of revelation, the Qur’aan, was revealed in this way for the most part. This form of revelation reached the Prophet (ﷺ) in two ways: either in the form of the reverbrating sound like the gong of a bell, or in the form of the direct speech of the angel.
Dalam kasus pertama, malaikat tetap dalam keadaan spiritual dan Nabi ﷺ
In the first case, the angel remained in a spiritual state and the Prophet (r)
dituntut untuk meningkatkan kondisi spiritualnya hingga mencapai keadaan yang layak untuk menerima wahyu. Metode ini sangat berat bagi Nabi (ﷺ). Selama proses tersebut, suara malaikat menyerupai dentingan lonceng besar yang keras. Sahabat al-Haarith ibn Hisyaam pernah bertanya kepada Nabi (ﷺ) tentang bagaimana wahyu datang kepadanya. Nabi (ﷺ) menjawab,
was required to raise spiritually to a suitable state in which to receive the revelation. This method was extremely taxing on the Prophet (ﷺ). During it the voice of the angel resembled the loud ringing of a giant bell. The sahaabee alHaarith ibn Hishaam once asked the Prophet (ﷺ) to describe how the revelation came to him. The Prophet (ﷺ) replied,
"Terkadang wahyu datang kepadaku seperti dentang lonceng—inilah bentuk yang paling berat bagiku—lalu dentangnya berhenti dan aku telah memahami apa yang (malaikat) itu sampaikan." 20
“Sometimes it comes to me like the ringing of a bell—this is the most severe form for me—then the ringing ceases and I have understood what (the angel) said.” 20
‘Aisyah menggambarkan intensitas keadaan ini sebagai berikut: “Aku pernah melihat beliau ﷺ ketika wahyu turun kepadanya pada suatu hari yang sangat dingin, namun ketika wahyu itu berhenti, dahinya bercucuran keringat.”21
‘Aa’ishah described the intensity of this form as follows: “I have seen him when revelation (wahy) descended upon him on an extremely cold day, yet when it stopped his forehead would be dripping with sweat.”21
Metode kedua jauh lebih ringan bagi Nabi ﷺ untuk dijalani dibandingkan metode pertama.
The second method was much easier for the Prophet (ﷺ) to bear than the first.
Dalam keadaan ini, malaikat akan meninggalkan alam ruhani, lalu menampakkan diri kepada Nabi ﷺ.
In this case, the angel would leave the spiritual world, appear to the Prophet (ﷺ)
dalam wujud manusia dan menyampaikan wahyu melalui medium ucapan manusia. Nabi (ﷺ) menggambarkan wujud ini kepada al-Haarith ibn Hishaam sebagai berikut:
in human form and pass on the revelation in the medium of human speech. The Prophet (ﷺ) described this form to al-Haarith ibn Hishaam as follows:
"Kadang-kadang malaikat datang kepadaku dalam wujud seorang laki-laki dan berbicara kepadaku, dan aku memahami seluruh yang ia katakan." 22
“Occasionally the angel appears before me in the form of a man and speaks to me, and I grasp all that he says.” 22
Sahih Al-Bukhari, jilid 1, hlm. 2, no. 2.
20 Sahih Al-Bukhari, vol. 1, p. 2, no. 2.
21 Ibid.
21 Ibid.
Ibid.
22 Ibid.