14.3 Jadal (Debat)
14.3 The Jadal (debate)
Keinginan untuk diyakinkan oleh argumen-argumen yang logis adalah bagian dari fitrah manusia.
The desire to be convinced by logical arguments is a part of human nature.
Manusia, secara umum, senang berdebat dan beradu argumen bahkan tentang hal-hal yang pengetahuan mereka yang terbatas tidak dapat memastikan benar atau salahnya. Allah mengisyaratkan watak ini dalam Al-Qur'an, dengan firman-Nya,
Human beings, generally speaking, like to argue and debate even about things which their limited knowledge cannot verify to be correct or incorrect. Allaah alluded to this nature in the Qur’aan, saying,
"Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah!" 40
“Certainly, the human being is the most argumen-tative creature!” 40
Oleh karena itu, Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk berdebat dengan kaum musyrikin, tetapi hanya dengan cara yang lembut yang dapat menggerakkan hati mereka:
Consequently, Allaah ordered the Prophet (r) to enter into debates with the pagans, but only in a gentle way which might move their hearts:
"Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik." 41
“Call to the path of your Lord with wisdom and good admonishment and debate with them in the best way.” 41
Beliau juga membolehkan kaum Muslimin untuk berdiskusi dengan kaum Nasrani dan Yahudi guna menampakkan kebenaran.
He also allowed Muslims to have discussions with the Christians and Jews in order to bring the truth to light:
"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang lebih baik." 42
“Only debate in the best manner with the people who follow revealed books.” 42
Karena Al-Qur'an ditujukan kepada manusia, maka wajar apabila aspek tabiat manusia ini diperhatikan ketika topik-topik disajikan. Oleh sebab itu, banyak contoh debat (jadal) dapat ditemukan di seluruh Al-Qur'an. Namun, argumen-argumen yang dikemukakan dalam Al-Qur'an sangat sederhana dan mudah dipahami, karena argumen tersebut selalu bertumpu, dengan satu dan lain cara, pada fakta-fakta yang dapat diamati untuk membuktikan hal-hal yang tidak dapat diamati.
Since the Qur’aan addresses man, it is only natural that this aspect of human nature be taken into account when topics are presented. Hence, numerous examples of debate (jadal) can be found throughout the Qur’aan. However, the arguments raised in the Qur’aan are very simple and easily understood, as they always rely in one way or another on observable facts to prove the unobservable.
Berikut ini beberapa jenis argumen yang terdapat dalam Al-Qur’an:
The following are a few types of arguments found in the Qur’aan:
1. Keserasian dalam penciptaan menunjukkan adanya satu Pencipta:
1. Harmony in creation implies a single creator:
"Seandainya di langit dan bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, niscaya keduanya akan binasa." 43
“If there were in the (heavens and earth) gods beside Allaah, they would be ruined.” 43
Jika tidak, tentu akan terjadi kekacauan, kecuali jika mereka semua bersepakat atau tunduk pada keputusan salah satu di antara mereka. Kesepakatan maupun ketundukan keduanya mengandung ketidakmampuan dan kelemahan, dan itu tidak layak dimiliki oleh pencipta yang sejati. Bahkan, gambaran tentang kelemahan semacam itu menurunkan derajat Pencipta alam semesta ke tingkat keluarga manusia yang saling bertengkar, sebagaimana bangsa Yunani, Romawi, Hindu, Mesir, dan lainnya membayangkan tuhan-tuhan mereka.
be chaos unless they all agreed or they submitted to the decision of one of them. Agreement or submission both imply an inability and weakness which no true creator should possess. In fact, such descriptions of weakness reduce the Creator of the universe to the status of a squabbling family of human beings in the way that the Greeks, Romans, Hindus, and Egyptians, etc., imagined their gods to be
2. Proses penciptaan mengandung kemungkinan penciptaan kembali (kebangkitan):
2. The process of creation implies the possibility of re-creation (resurrection):
"Apakah manusia mengira dirinya akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban? Bukankah dia dahulunya hanyalah setetes mani yang dipancarkan?44 Kemudian ia menjadi segumpal darah beku seperti lintah, lalu Allah menciptakan dan menyempurnakan bentuknya? Dan darinya Dia menjadikan dua jenis, laki-laki dan perempuan? Bukankah Dzat yang berbuat demikian mampu menghidupkan orang-orang yang telah mati?"45
“Does the human being think that he will be left without responsibility? Was he not first a mere drop of ejaculated sperm?44 Then he became a leech-like clot which Allaah gave form and balance? And from it He made the sexes, male and female? Is not the One who did this able to give life to the dead?” 45
Jika seseorang merenungkan bagaimana manusia diciptakan secara menakjubkan dan dibentuk dari asal-usul yang begitu hina, seharusnya tidak sulit untuk membayangkan penciptaan kembali dan kebangkitan manusia. Sebab, menciptakan kembali sesuatu selalu lebih mudah daripada penciptaan awalnya, sebagaimana Allah telah menyatakannya secara tegas.
If one reflects on how humans are wondrously created and molded from such lowly origins, there should be no difficulty in conceiving the re-creation and resurrection of humanity. For the re-creation of a thing is always easier than its initial creation, as Allaah explicitly stated
"Dan Dialah Yang memulai penciptaan, kemudian Dia akan mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya." (Ar-Rum: 27)
“And He is the One Who originates the creation, then He will reproduce it, and it is easier for Him.” 46
40 Surah al-Kahf (18):54. Ayat tersebut juga dapat diterjemahkan, "Sungguh, manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah dibandingkan dengan segala sesuatu."
40 Soorah al-Kahf (18):54. The verse could also be translated, “Certainly, humanity is more than anything argumentative.”
Surah an-Nahl (16):125
41 Soorah an-Nahl (16):125.
Surah al-‘Ankabut (29):46.
42 Soorah al-‘Ankaboot (29):46.
Surah al-Anbiyā' (21):22.
43 Soorah al-Ambiyaa’ (21):22.
44 Kata *manee* biasanya diterjemahkan sebagai air mani, tetapi juga dapat merujuk pada cairan wanita.
44 The word manee is usually translated as sperm, but it can refer to the fluid of the female as well.
Lihat Sahih Muslim, jilid 1, hlm. 181-2, no. 614.
See Sahih Muslim, vol. 1, pp. 181-2, no. 614.
Surah Al-Qiyamah (75): 36-40 is the Qur'an passage. I need the English text of those verses to translate; the message contains only the reference, not the verses themselves. Please paste the English text and I'll translate it into Indonesian.
45 Soorah al-Qiyaamah (75):36-40.
46 Surah ar-Rum (30):27.
46 Soorah ar-Room (30):27.