14.1 Al-Matsal
14.1 The Mathal
Meskipun istilah *mathal* umumnya diterjemahkan sebagai perumpamaan atau metafora, dalam konteks Al-Qur'an istilah ini mencakup pula peribahasa, bahkan ideal. Oleh karena itu, menurut ilmu-ilmu keislaman, definisi *mathal* adalah suatu ungkapan sastra yang ringkas namun mengesankan dan menggugah, yang di dalamnya sebuah gagasan disampaikan, apa pun bentuk susunannya. *Mathal* dalam Al-Qur'an hadir dalam tiga bentuk dasar, yaitu *mathal musharrahah* (yang dinyatakan secara jelas), *mathal kaminah* (yang tersembunyi), dan *mathal mursalah* (yang tidak berbentuk khusus).11
Although the term mathal is commonly translated as simile or metaphor, in the context of the Qur’aan it includes proverbs, and even ideals. Hence, the definition of a mathal according to the Islaamic sciences is a concise but impressive and moving literary passage in which an idea is expressed, regardless of its construction. The mathal in the Qur’aan comes in three basic forms, the musarrah mathal (stated), the kaamin mathal (hidden), and the mursal mathal (formless).11
1. Mathal Musarrah (Dinyatakan)
1. The Mathal Musarrah (Stated)
Bentuk ini, sebagaimana namanya, mengandung perbandingan yang jelas dan banyak digunakan dalam Al-Qur'an.12 Contoh-contohnya dapat ditemukan dalam perumpamaan dan metafora api dan air yang digunakan untuk merujuk kepada orang-orang munafik yang berpura-pura memeluk Islam:
This form, as the name implies, contains an obvious comparison and is widely used in the Qur’aan.12 Such examples may be found in the fire and water similes and metaphors used in reference to the hypocrites who feign Islaam:
"Perumpamaan mereka seperti orang yang menyalakan api; maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan gulita, sehingga mereka tidak dapat melihat (apa pun). Mereka tuli, bisu, dan buta; maka mereka tidak akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti hujan lebat dari langit yang disertai gelap gulita, guruh, dan kilat; mereka menyumbat telinga dengan jari-jari mereka karena petir, takut akan kematian. Padahal Allah meliputi orang-orang kafir. Kilat itu hampir-hampir menyambar penglihatan mereka; setiap kali kilat itu menerangi mereka, mereka berjalan di bawah sinarnya, dan apabila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." 13
“They are like one who kindles a fire; then when it lights up what is around him, Allaah takes away his light and leaves him in total darkness in which he cannot see (anything). They are deaf, dumb, and blind; hence, they will never return to the path. Or like a dark rain cloud, thundering and flashing lightning in the sky, (during which) they stick their fingers in their ears from the thunderclap, fearing death. But Allaah surrounds the disbelievers. The lightning almost snatches away their sight, but every time it lights up (the area) for them, they walk, and when it becomes dark, they stand still. If Allaah had willed, He could have taken away their hearing and sight, for certainly Allaah is able to do all things.” 13
Api digunakan dalam bagian ini karena sifatnya yang memancarkan cahaya, dan air digunakan karena kemampuannya menghidupkan kembali bumi. Api dan air benar-benar merepresentasikan unsur-unsur tersebut.
Fire is used in this passage due to its quality of light, and water is used due to its ability to bring earth back to life. Fire and water really represent the elements.
Wahyu diturunkan dari langit untuk menerangi hati manusia dan menghidupkannya. Dalam ayat-ayat ini, Allah menggunakan api dan air untuk menjelaskan pengaruh wahyu terhadap mereka yang berpura-pura menjadi Muslim. Orang-orang munafik yang masuk Islam agar memperoleh keuntungan materi seperti seseorang yang menyalakan api untuk memperoleh kehangatan dan cahayanya. Namun, masuknya mereka ke dalam Islam tidak memberi pengaruh yang menerangi hati mereka; demikian pula, Allah menghilangkan sifat cahaya dari api itu sehingga hanya tersisa sifat panasnya. Karena itu, mereka berada dalam kegelapan total, buta, tidak mampu melihat kebenaran. Orang-orang munafik juga seperti seseorang yang berada di tengah hujan badai, takut mati karena kilatan petirnya dan berusaha menghindari gemuruh guntur yang memekakkan. Alih-alih hidup secara rohani ketika firman Allah diturunkan kepada mereka, orang-orang munafik justru berusaha menutup telinga dari perintah dan larangan-Nya yang bagaikan guntur, karena mereka takut bahwa tunduk kepadanya berarti kematian jiwa dan ego mereka.
Revelation was sent down from the heavens to enlighten human hearts and bring them to life. In these verses, Allaah uses fire and water to explain the effect of revelation on those who pretend to be Muslims. The hypocrites who enter Islaam so as to benefit from it materially are like someone who lights a fire in order to benefit from its warmth and light. However, their entrance into Islaam has no enlightening effect on their hearts; likewise, Allaah removes the quality of light from the fire leaving only its quality of heat. Hence, they are in total darkness, blind, unable to see the truth. The hypocrites are also like someone in a rainstorm fearing death from its flashes of lightning and trying to avoid its mind-shattering thunderclap. Instead of coming to life spiritually when God’s word is revealed to them, the hypocrites try to block out its thundering commands and prohibitions, fearing that submission to them would mean the death of their souls and egos.
Perumpamaan lain yang melibatkan api dan air dapat ditemukan dalam ayat berikut mengenai kebenaran dan kebatilan.
Another mathal involving fire and water can be found in the following verse concerning truth and falsehood.
"Dia menurunkan air dari langit, lalu mengalirlah air itu di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau perkakas, ada pula buih seperti itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan antara yang benar dan yang batil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak berguna, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia akan tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan." 14
“He sends down water from the skies which flows in valleys according to their capacities, and the flood carries swelling froth on its surface; there is a similar froth in the (ore) which they heat in the fire in order to make ornaments or implements. In this way, Allaah makes a comparison between truth and falsehood. For the froth is thrown away and disappears, while that which is beneficial to man remains on earth. In this way, Allaah makes parables.” 14
Sekali lagi, wahyu, yang diturunkan untuk menghidupkan hati, diumpamakan seperti air yang turun untuk menghidupkan bumi dengan tumbuh-tumbuhan. Hati manusia adalah lembah-lembah kiasan dengan ukuran yang beragam, dan banjir wahyu mengalir ke dalamnya sesuai dengan ukuran masing-masing. Sebagaimana banjir yang sesungguhnya membawa buih dan kotoran bumi dalam arusnya, demikian pula petunjuk dan ilmu mengalir ke atas hati untuk menghanyutkan keinginan-keinginan yang rendah. Hati kemudian diumpamakan seperti berbagai jenis bijih logam, seperti emas, perak, besi, tembaga, dan lainnya, yang dimurnikan oleh panasnya api. Kotoran akan naik ke permukaan dalam bentuk buih dan kerak, yang kemudian dibuang, sehingga logam yang murni tertinggal. Demikian pula, ketika hati orang-orang beriman terkena panas dan cahaya wahyu, keinginan-keinginan jahat akan terbuang dan hati pun menjadi suci.
Once again, revelation, which is sent down to bring hearts to life, is likened to water coming down to bring the earth to life with plants. Human hearts are the metaphorical valleys of varying sizes in which the flood of revelation flows accordingly. As the physical flood carries the froth and scum of the earth in its currents, so guidance and knowledge flow upon the hearts to wash away base desires. Hearts are then likened to different types of ore, such as gold, silver, iron, copper, etc., which are purified by the heat of the fire. Impurities rise to the surface in the form of froth and scum which are discarded, leaving the pure metal behind. Likewise, when the hearts of believers are exposed to the heat and light of revelation, evil desires are cast off and the hearts are purified.
Dalam kedua contoh yang disebutkan di atas, perbandingan antara api dengan wahyu dan air dengan wahyu tampak jelas. Preposisi pembanding "like" serta kata-kata "perbandingan, perumpamaan, permisalan" semuanya disebutkan, sehingga tidak ada keraguan mengenai maksud dari kedua nash tersebut.
In both of the examples given above, the comparison between both fire and revelation and water and revelation is obvious. The comparative preposition “like” and the words “comparison, parable, simile” are all mentioned, leaving no doubt as to the intent of the passages.
2. Mathal Kaamin (Tersembunyi)
2. The Mathal Kaamin (Hidden)
Dalam bentuk ini, unsur-unsur perbandingan tidak digunakan.15 Namun, jenis matsal ini menyampaikan cita-cita Islam yang dengan mudah diterima oleh fitrah manusia, karena makna-makna mendalam dan mengesankan yang terkandung di dalamnya. Misalnya, konsep jalan tengah di antara dua ekstrem diungkapkan dengan indah dalam banyak ayat Al-Qur'an. Dalam hal berinfak, Allah memuji orang-orang yang
In this form, the terms of comparison are not used.15 However, this type of mathal conveys Islaamic ideals readily acceptable to natural human instincts due to the deep and impressive meanings which they imply. For example, the concept of the middle road between the two extremes is beautifully expressed in many verses of the Qur’aan. In the case of spending, Allaah praises those
"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian." 16
“Who are neither extravagant nor stingy when they spend; but between that is a just stand.” 16
Dan dalam hal salat, Allah memberi nasihat:
And in the case of salaah, Allaah advises:
"Janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalatmu, dan janganlah pula melirihkannya, tetapi carilah jalan tengah di antara keduanya." 17
“Do not be loud voiced nor extremely soft in your salaah, but seek a path between them.” 17
Contoh lain dari ungkapan yang indah dapat ditemukan dalam konsep bahwa mendengar tidak sama dengan melihat. Di Barat, versi yang lebih ekstrem dari konsep ini sering dikutip sebagai, "Melihat itu percaya." Namun, hidup ini terlalu penuh dengan contoh-contoh di mana kita percaya pada sesuatu tanpa melihatnya (kemagnetan, pikiran, angin, dan lain-lain) sehingga ungkapan itu tidak akurat. Prinsip dalam Islam adalah bahwa melihat sesuatu menghasilkan keyakinan yang lebih kuat daripada sekadar mendengar tentangnya. Oleh karena itu, ketika Nabi Ibrahim ﷺ meminta kepada Allah agar diperlihatkan bagaimana Dia menghidupkan orang mati, Allah berfirman,
Another example of beautiful expression may be found in the concept that hearing is not like seeing. In the West, a more extreme version of this concept is often quoted as, “Seeing is believing.” However, life is too full of instances where we believe in things without seeing them (magnetism, the mind, wind, etc.) for that saying to be accurate. The Islaamic precept is that seeing a thing produces a stronger belief than merely hearing about it. Hence, when Prophet Ibraaheem requested that Allaah show him how He brings life to the dead, Allaah said,
"Apakah engkau tidak beriman?" Ibrahim menjawab, "Tentu saja (aku beriman), tetapi (melihat) akan menenangkan hatiku." 18
“Do you not believe?” He replied, “Of course (I believe), but (seeing) would put my heart at rest.” 18
3. Mathal Mursal (Tanpa Bentuk)
3. The Mathal Mursal (Formless)
Bentuk ini mencakup ayat-ayat pendek yang menyampaikan pelajaran, dan banyak di antaranya telah menjadi peribahasa. Seperti mathal kaamin, bentuk ini tidak memiliki ungkapan-ungkapan atau perumpamaan secara eksplisit; namun, perbandingan dapat dibuat atau tersirat.19 Ayat-ayat berikut dengan jelas menggambarkan jenis mathal ini:
This form covers short verses which convey lessons, many of which have become proverbs. Like the mathal kaamin, it has none of the expressions or similes; however, comparisons may be made or implied.19 The following verses clearly illustrate this type of mathal:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu." 20
“Perhaps you may dislike something which is good for you.” 20
"Apakah balasan bagi kebaikan selain kebaikan?" 21
“Is the reward for good anything but good?” 21
"Yang buruk dan yang baik tidak sama." 22
“The foul and the wholesome are not equal.” 22
"Betapa seringnya sekelompok kecil mengalahkan kelompok yang lebih besar dengan izin Allah." 23
“How often a small group has defeated a larger group by Allaah’s permission.” 23
"Kalian mengira mereka bersatu, padahal hati mereka tercerai-berai." 24
“You think they are united, but their hearts are scattered.” 24
Manfaat yang diperoleh dari penggunaan mathal dalam Al-Qur'an sangat banyak.25 Konsep-konsep yang abstrak disajikan dalam bentuk yang konkret agar lebih mudah dipahami dan diingat. Konsep-konsep yang mungkin cukup sulit dipahami secara teoretis menjadi cepat dan mudah dimengerti ketika disampaikan dalam istilah pengalaman manusia sehari-hari atau proses-proses di alam. Misalnya, gagasan bahwa orang yang memberi harta karena riya' tidak memperoleh pahala disampaikan secara konkret melalui perumpamaan berikut:
The benefits gained from the use of the mathal in the Qur’aan are numerous.25 Intangible concepts are presented in a tangible format in order for them to be more easily grasped and retained. Concepts which may be quite difficult to grasp on a theoretical basis become quickly and easily comprehensible when put in the terms of everyday human experiences or processes in nature. For example, the idea that one who gives money for show gains no reward is tangibly brought across by the following simile:
"Mereka itu seperti batu licin yang tertutupi sedikit tanah, lalu ditimpa hujan lebat sehingga menyisakannya tandus. Mereka tidak mampu berbuat apa-apa dengan (harta) yang telah mereka usahakan." 26
“They are like a rock covered with some earth which is struck by a rainstorm, leaving it bare. They are unable to do anything with (the wealth) they have earned.” 26
Terkadang mathal digunakan untuk mendorong orang melakukan amal-amal saleh tertentu dengan membandingkannya dengan sesuatu yang disukai oleh fitrah manusia. Contoh fungsi ini dapat ditemukan dalam firman-Nya:
Sometimes the mathal is used to encourage people to do certain righteous acts by comparing them to something which is appealing to human nature. An example of this function may be found in the verse:
"Orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki." 27
“Those who spend their wealth in Allaah’s path are like a corn seed which sprouts seven ears, each ear containing one hundred seeds. Allaah multiplies (the gifts) of whomsoever He wishes.” 27
Di waktu lain, mathal digunakan untuk mencegah praktik-praktik buruk tertentu dengan membandingkannya dengan hal-hal yang menjijikkan. Misalnya, Allah berfirman tentang ghibah:
At other times, the mathal is used to discourage certain evil practices by comparing them to distasteful things. For example, Allaah said the following concerning backbiting:
"Janganlah kalian saling menggunjing. Apakah salah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian merasa jijik terhadapnya..." 28
“Do not backbite each other. Would anyone of you wish to eat the flesh of his dead brother? You detest it...” 28
Rasa jijik yang kita semua rasakan ketika membayangkan memakan daging saudara kita yang telah meninggal semestinya juga kita rasakan ketika mendengar fitnah atau ghibah.
The revulsion we all feel at the thought of eating the flesh of our dead brother should be felt when we hear slander or backbiting.
Mathal juga dapat digunakan untuk memuji sebagian jenis manusia atau mencela dan merendahkan sebagian yang lain, dengan tujuan menetapkan standar perilaku yang dapat diterima. Ungkapan kiasan umumnya lebih menyentuh dan lebih efektif sebagai sarana komunikasi dibandingkan perintah langsung dan penjelasan yang terperinci. Oleh karena itu, Allah telah banyak menggunakannya dalam Al-Qur'an:
The mathal may also be used to praise certain types of individuals or disgrace and debase others in order to set up certain standards of acceptable behavior. Figurative speech is generally a more moving and effective method of communica-tion than direct commands and detailed explanations. Hence, Allaah has used them frequently in the Qur’aan:
"Sungguh, Kami telah membuat bermacam-macam perumpamaan (matsal) dalam Al-Qur'an ini untuk manusia agar mereka mengambil pelajaran." (Az-Zumar: 27)
“Certainly I have made all kinds of parables (mathal) in the Qur’aan for mankind that perhaps they would reflect.” 29
Terdapat pula banyak contoh dalam sabda-sabda Nabi ﷺ di mana beliau menggunakan matsal untuk menyampaikan pesan beliau. 30
There are also numerous examples in the statements of the Prophet (r) where he relied on the mathal to get his message across. 30
11 Mabaahith fee ‘Uloom al-Qur’aan, hal. 293.
11 Mabaahith fee ‘Uloom al-Qur’aan, p. 293.
12 Al-Itqaan, jilid 4, hlm. 39.
12 Al-Itqaan, vol.4, p. 39.
13 Surah al-Baqarah (2):17-20.
13 Soorah al-Baqarah (2):17-20.
Surah ar-Ra‘d (13):17
14 Soorah ar-Ra‘d (13):17.
15 Al-Itqaan, vol.4, hlm. 41.
15 Al-Itqaan, vol.4, p. 41.
16 Surah al-Furqaan (25):67.
16 Soorah al-Furqaan (25):67.
Surah Al-Isra' (17):110.
17 Soorah al-Israa’ (17):110.
18 Surah al-Baqarah (2):260.
18 Soorah al-Baqarah (2):260.
19 Al-Itqaan, jilid 4, hlm. 43.
19 Al-Itqaan, vol. 4, p. 43.
20 Surah Al-Baqarah (2):216.
20 Soorah al-Baqarah (2):216.
Surah ar-Rahmaan (55):60.
21 Soorah ar-Rahmaan (55):60.
Surah al-Mā'idah (5):100.
22 Soorah al-Maa’idah (5):100.
Surah al-Baqarah (2):249.
23 Soorah al-Baqarah (2):249.
Surah al-Hashr (59):14.
24 Soorah al-Hashr (59):14.
25 Lihat Mabaahith fee ‘Uloom al-Qur’aan, hlm. 297-9.
25 See Mabaahith fee ‘Uloom al-Qur’aan, pp. 297-9.
26 Surah al-Baqarah (2):264.
26 Soorah al-Baqarah (2):264.
27 Surah al-Baqarah (2):261.
27 Soorah al-Baqarah (2):261.
Surah Al-Hujurat (49):12
28 Soorah al-Hujuraat (49):12.
29 Surah az-Zumar (39):27.
29 Soorah az-Zumar (39):27.
30 Jumlahnya terlalu banyak untuk didaftar, namun sebagai contoh kecil, lihatlah perumpamaan tentang orang-orang yang menaati batas-batas yang ditetapkan Allah dan mereka yang tidak menaatinya, seperti orang-orang yang berada di dek atas dan dek bawah sebuah kapal (Sahih Al-Bukhari, jilid 3, hlm. 406, no. 673). Lihat pula Sahih Al-Bukhari, jilid 1, hlm. 278, no.
30 They are too numerous to begin to list, but just as a tiny sample, refer to the simile of the people who observe the limits set by Allaah and those who don’t as people on the upper and lower decks of a ship (Sahih Al-Bukhari, vol. 3, p. 406, no. 673). See also Sahih Al-Bukhari, vol. 1, p. 278, no.
468, untuk perumpamaan orang-orang beriman seperti sebuah bangunan yang bata-batanya saling menguatkan satu sama lain.
468, for a simile of the believers as a structure whose bricks support each other.