2.2 Tafsir Bid-Diraayah
2.2 Tafseer Bid-diraayah
1. Tafsir Fakhrud-Deen ar-Raazee, Mafaateeh al-Ghayb
1. Tafseer Fakhrud-Deen ar-Raazee, Mafaateeh al-Ghayb
Fakhrud-Deen ibn ‘Alee ar-Raazee (1150-1210 M/544-606 H) adalah seorang ulama mazhab Syafi‘i yang unggul dalam ilmu nahwu serta filsafat.
Fakhrud-Deen ibn ‘Alee ar-Raazee (1150-1210 CE/544-606 AH) was a Shaafi‘ee scholar who excelled in the grammatical sciences as well as philosophy.
Tafsirnya dicetak dalam delapan jilid besar; namun, para sezamannya menyebutkan bahwa Fakhrud-Din tidak menyelesaikan tafsirnya. Ada yang berpendapat bahwa karya tersebut diselesaikan oleh muridnya, Shams ad-Din Ahmad ibn al-Khaleel al-Khuwayyee.126 Tafsir Ar-Raazee cukup populer di kalangan ulama karena pembahasannya yang luas mengenai berbagai topik dari beragam cabang ilmu. Tafsir ini dikenal karena perhatiannya pada hubungan antara ayat-ayat dan surat-surat. Namun, sebagian besar isinya menyerupai ensiklopedia ilmu-ilmu alam. Penulisnya mendalami matematika dan ilmu alam serta menilai pendapat para astronom dan filsuf dengan menggunakan istilah-istilah mereka. Berbagai argumen kaum Mu‘tazilah disebutkan dan dibantah secara ringan, dan pandangan berbagai mazhab fiqih dijelaskan setiap kali muncul ayat yang mengandung persoalan hukum. Akan tetapi, dalam persoalan hukum ia selalu condong kepada mazhabnya, yaitu mazhab Syafi‘i. Ar-Raazee juga membahas persoalan-persoalan gramatika bahasa Arab, tetapi dalam porsi yang jauh lebih sedikit dibandingkan pembahasannya tentang ilmu-ilmu alam.127
His tafseer is printed in eight large volumes; however, his contemporaries mentioned that Fakhrud-Deen did not complete his tafseer. It has been suggested that the work was completed by his disciple, Shams ad-Deen Ahmad ibn alKhaleel al-Khuwayyee.126 Ar-Raazee’s tafseer is quite popular among scholars due to its extensive treatment of various topics from a wide range of sciences. This tafseer is noted for its concentration on the relationship between verses and chapters. However, the tafseer is, for the most part, like an encyclopedia of natural sciences. The author delves into mathematics and natural sciences and evaluates the opinions of astronomers and philosophers using their terminology. The various arguments of the Mu‘tazilah are mentioned and mildly refuted and the positions of the various fiqh math-habs are explained whenever verses containing legal issues appear. However, he always favors his school, the Shaafi‘ee math-hab on legal issues. Ar-Raazee also discussed grammatical issues, but to a much lesser extent than his discussions of natural sciences.127
2. Tafsir al-Qurthubi, Jami' Ahkam al-Qur'an wa al-Mubayyin li Ma Tadammanahu min as-Sunnah wa Ay al-Furqan
2. Tafseer al-Qurtubee, Jaami‘ Ahkaam al-Qur’aan wa al-Mubayyin li Maa Tadammana min as-Sunnah wa Aay al-Furqaan
Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi (wafat 1273 M/671 H) lahir di Cordoba, di wilayah yang kini menjadi Spanyol. Ia memulai studinya di sana dan ikut serta dalam jihad melawan orang-orang Kristen, dan dalam perjalanan itu ia tertangkap, namun berhasil melarikan diri. Akhirnya ia pergi ke timur, menetap di Mesir, dan wafat di sana. Ia paling terkenal dengan tafsirnya, tetapi ia juga dikenal dengan kitabnya tentang kehidupan akhirat, at-Tadzkirah bi Ahwal al-Mawta wa Ahwal al-Akhirah, serta sebuah kitab tentang zuhud, yaitu meredam ambisi duniawi demi berfokus pada keberhasilan di akhirat.129
Aboo ‘Abdillaah Muhammad ibn Ahmad al-Ansaaree al-Qurtubee (d. 1273 CE/671 AH) was born in Cordoba in what is now Spain. He started his studies there and participated in jihaad against the Christians, in the course of which he was captured, but he managed to escape.128 He eventually travelled to the east, settling in Egypt, where he died. He is most famous for his tafseer, but he is also noted for his book on the afterlife, at-Tathkirah bi Ahwaal al-Mawtaa wa Ahwaal al-Aakhirah and a book on zuhd, the downplaying of worldly ambitions in order to concentrate on success in the hereafter.129
Tafsirnya dimulai dengan pendahuluan sekitar tujuh puluh halaman tentang keutamaan Al-Qur'an, adab-adab membacanya, dan metodologi tafsir yang benar. Tafsirnya dicirikan dengan penekanan yang besar pada masalah-masalah fikih, namun sama sekali tidak terbatas pada hal itu. Karya al-Qurthubi dapat dimasukkan dalam kategori at-tafsir bid-dirayah, karena fikih secara hakikatnya melibatkan penyimpulan dari nash-nash. Namun, ia menyertakan hadits-hadits yang relevan dengan setiap ayat, serta penjelasan dari para sahabat, tabi'in, dan ulama besar, meskipun biasanya tanpa sanad. Ketika menukil sebuah hadits, ia menyebutkan kitab tempat hadits tersebut dapat ditemukan atau penulis yang menyebutkannya. Setelah menyajikan teks sebuah ayat, ia akan menyatakan jumlah masalah yang berkaitan dengannya yang akan ia bahas. Biasanya ia memulai dengan penjelasan kosakata ayat, dengan mengutip satu atau dua baris syair untuk menjelaskan makna kata-kata yang sulit. Ia juga menyebutkan qira'at-qira'at yang berbeda beserta para qari'nya. Dalam membahas masalah-masalah fikih, ia menyebutkan pendapat-pendapat utama beserta dalilnya, lalu mengevaluasinya. Umumnya ia mendukung pendapat mazhab Maliki, meskipun tidak selalu. Ia juga membantah kelompok-kelompok menyimpang seperti Syi'ah, Mu'tazilah, dan Qadariyah, namun dengan adab keilmuan. Tafsirnya dianggap sebagai salah satu karya monumental di bidang ini, dan tidak dapat diabaikan bagi masalah-masalah fikih dalam Al-Qur'an.130
His tafseer starts with an introduction of some seventy pages on the virtues of the Qur’aan, the etiquettes of its recitation and the proper methodology of tafseer. The tafseer is characterized by a heavy emphasis on fiqh issues, but it is by no means limited to that. One may consider al-Qurtubee’s work in the category of attafseer bid-diraayah because fiqh by its nature involves deductions from the texts. However, he includes the hadeeths relevant to each verse, as well as explanations of the sahaabah, taabi‘oon and major scholars, although usually stripped of the isnaad. When quoting a hadeeth, he cites the book where it may be found or the author who mentioned it. After presenting the text of a verse, he will state the number of issues relating to it that he plans to discuss. He usually starts with an explanation of the vocabulary of the verse, quoting a line or two of poetry to illustrate the definition of any difficult words. He also mentions variant recitations and their reciters. In discussing fiqh issues, he mentions the major opinions along with their evidence, then evaluates them. He generally supports the Maalikee position, although not always. He also refutes deviant sects like the Shee‘ah, the Mu‘tazilah, and the Qadareeyah, but he does so with scholarly etiquette. His tafseer is considered one of the monumental works in this field, and is indispensable for the fiqh issues of the Qur’aan.130
3. Tafsir al-Baidhawi, Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta'wil
3. Tafseer al-Baydaawee, Anwaar at-Tanzeel wa Asraar at-Ta’weel
Naasirud-Deen, ‘Abdullaah ibn ‘Alee al-Baydaawee (w. 1291 M/691 H) adalah seorang ulama Persia dari mazhab Syafi‘i dan diangkat sebagai hakim agung di Syiraz. Tafsirnya merupakan ringkasan dari al-Kasysyaaf karya az-Zamakhsyari, dengan sebagian besar filsafat Mu‘tazilah dihapuskan. Namun, ia sesekali juga terbawa dalam penjelasan-penjelasan az-Zamakhsyari. Ia juga mengikuti kebiasaan az-Zamakhsyari dalam menyebutkan di akhir setiap surah hadis-hadis lemah dan palsu yang memuji keutamaan membaca surah tersebut. Al-Baydaawi mengambil sebagian materinya dari Mafaatiihul-Ghaib karya ar-Raazi dan Tafsir ar-Raaghib al-Isfahaani, serta menyertakan riwayat-riwayat dari para sahabat dan tabi‘in. Karena itu, ia tidak membiarkan satu ayat pun tentang keajaiban ciptaan tanpa menguraikan teori dan fakta ilmu-ilmu alam. Ia juga menyebutkan qiraat Al-Qur’an, tetapi tidak membatasi dirinya hanya pada yang sahih. Meskipun demikian, tafsir ini cukup bebas dari israiliyat. Bahasanya pun sangat halus dan indah. Para ulama Islam sepanjang masa telah memandang tafsir ini dengan penuh penghormatan, dan banyak syarah serta versi beranotasi darinya telah disusun.131
Naasirud-Deen, ‘Abdullaah ibn ‘Alee al-Baydaawee (d. 1291 CE/691 AH) was a Persian scholar of the Shaafi‘ee math-hab and was appointed chief judge of Shiraaz. His tafseer was an abridgement of al-Kash-shaaf by az-Zamakhsharee, with most of the Mu‘tazilee philosophy deleted. However, he does occasionally get caught up in az-Zamakhsharee’s explanations. He has also followed azZamakhsharee’s practice of mentioning at the end of every chapter weak and fabricated hadeeths extolling the virtues of reading that chapter. Al-Baydaawee draws some of his material from Mafaateeh al-Ghayb of ar-Raazee and Tafseer ar-Raaghib al-Isfahaanee and includes narrations from the sahaabah and the taabi‘oon. Hence, he does not leave any verse about the wonders of creation without expounding on the theories and facts of natural sciences. He also mentions Qur’aanic recitations, but does not limit himself to the authentic ones. Nevertheless, the tafseer is quite free from Israa’eeleeyaat. Its language is also very polished and elegant. Islaamic scholars throughout the ages have held this tafseer in high esteem, and many commentaries on it and annotated versions of it have been produced.131
‘Abdullaah ibn Mahmood an-Nasafee (wafat 1302 M/701 H) adalah seorang ulama Hanafi yang sangat terkenal. Ia menulis banyak kitab tentang ushul fiqh dan syarah atas karya-karya terdahulu. Tafsirnya merupakan ringkasan dari tafsir al-Baydhawi, dengan menghapus hadis-hadis palsu tentang keutamaan setiap surah. Dalam pembahasannya tentang berbagai qira'ah, ia membatasi diri pada tujuh qira'ah yang sahih dan menisbatkan setiap qira'ah kepada perawinya. An-Nasafee membahas berbagai persoalan hukum yang berkaitan dengan ayat-ayat dengan menjelaskan dalil-dalil setiap mazhab, membantahnya, dan membela pendapat mazhabnya sendiri, yaitu mazhab Hanafi. Pembahasan masalah-masalah nahwu umumnya sangat singkat. Secara keseluruhan, tafsir ini berukuran sedang dan gayanya ringkas serta jelas.132
‘Abdullaah ibn Mahmood an-Nasafee (d. 1302 CE/701 AH) was a Hanafee scholar of wide renown. He wrote numerous books on usool al-fiqh and commentaries on earlier works. His tafseer was an abridgement of alBaydaawee’s tafseer in which he deleted the fabricated hadeeths on the virtues of each chapter. In his discussions of the various recitations, he limits himself to the authentic seven and attributes each to its reciter. An-Nasafee debated the various legal issues connected with verses by explaining the arguments of each math-hab, refuting them and supporting the positions of his own math-hab, the Hanafee school. Discussions of grammatical issues are mostly very brief. On the whole, the tafseer is medium-sized and its style is brief and clear.132
4. Tafsir al-Khazin, Lubab at-Ta'wil fi Ma'ani at-Tanzil
4. Tafseer al-Khaazin, Lubaab at-Ta’weel fee Ma‘aani at-Tanzeel
‘Alee ibn Khaleel ash-Shayhee (1279-1340 M/678-740 H) dikenal dengan julukan “al-Khaazin” (penjaga gudang) karena ia pernah bertugas mengurus gudang buku di Damaskus. Ulama bermazhab Syafi‘i ini lahir dan dibesarkan di Baghdaad, tetapi sebagian besar studinya ia jalani di Damaskus. Ia menulis sejumlah besar kitab dalam berbagai bidang, seperti kitab sepuluh jilid berjudul Maqbool al-Manqool, yang di dalamnya ia menghimpun hadis-hadis yang terdapat dalam Musnad asy-Syaafi‘ee dan Ahmad, enam kitab induk, Muwatta’ Maalik, dan Sunan ad-Daaraqutnee. Tafsirnya merupakan versi ringkas dari tafsir al-Baghawee dengan tambahan dari tafsir-tafsir sebelumnya. Ia menyebutkan banyak kisah-kisah Israiliyat tanpa menilainya. Al-Khaazin juga menulis secara luas tentang peperangan yang terjadi pada masa Nabi ﷺ setiap kali disebutkan dalam ayat-ayat. Tafsirnya juga membahas persoalan hukum secara sangat rinci, kadang menyentuh bidang yang sama sekali tidak berkaitan dengan tafsir. Ada pula penekanan besar dalam tafsir ini pada pelajaran dan nasihat rohani, mencerminkan kecenderungan sufistik al-Khaazin. Tafsir ini terdiri dari tujuh jilid berukuran sedang, beredar luas, dan sangat disukai terutama oleh mereka yang gemar kisah-kisah; namun, tafsir ini membutuhkan revisi kritis sebelum dapat dijadikan rujukan yang andal bagi para ulama.133
‘Alee ibn Khaleel ash-Shayhee (1279-1340 CE/678-740 AH) was known by the nickname of “ al-Khaazin” (the warehouseman) because he used to be in charge of a book warehouse in Damascus. This Shaafi‘ee scholar was born and raised in Baghdaad, but did the greater part of his studies in Damascus. He wrote a vast number of books on a variety of topics, such as the ten-volume work called Maqbool al-Manqool, in which he gathered the hadeeths found in the Musnads of ash-Shaafi‘ee and Ahmad, the six major books, the Muwatta’ of Maalik, and the Sunan of ad-Daaraqutnee. His tafseer is a condensed version of al-Baghawee’s tafseer with additions from earlier tafseers. He mentions many Biblical tales (Israa’eeleeyaat) without evaluating them. Al-Khaazin also wrote extensively on the battles which took place during the Prophet’s era wherever mention was made of them in the verses. His tafseer also deals with legal issues in great detail, sometimes touching on areas not related to tafseer at all. There is also great emphasis in the tafseer on spiritual lessons and advice, a reflection of alKhaazin’s Soofee leanings. The tafseer is in seven medium-sized volumes and is in wide circulation and is particularly liked by those who enjoy stories; however, the tafseer needs critical revision before being used as a reliable reference for scholars.133
5. Tafsir Abu Hayyan, al-Bahr al-Muhit
5. Tafseer Abee Hayyaan, al-Bahr al-Muheet
Muhammad bin Yoosuf bin Hayyaan al-Andaloosee (1256-1344 M/654-745 H), yang lebih dikenal dengan nama Abu Hayyaan, adalah seorang ulama di bidang qira'at dan syair, serta seorang ahli dalam bidang nahwu. Pada masa awal hidupnya, ia menganut mazhab Zhahiriyah, tetapi kemudian beralih ke mazhab Syafi'i. Ia belajar di berbagai madrasah di seluruh Afrika Utara dan akhirnya menetap di Mesir. Tafsir ini terdiri dari delapan jilid besar dan banyak digunakan oleh para ulama sebagai rujukan penting mengenai konstruksi gramatikal dalam Al-Qur'an. Abu Hayyaan menyebutkan secara rinci perbedaan pendapat di antara para ahli nahwu dan sebagian besar tafsirnya disusun dari sudut pandang gramatikal, sehingga lebih menyerupai kitab nahwu daripada kitab tafsir Al-Qur'an. Namun, ia juga mengembangkan aspek-aspek tafsir lainnya, seperti masalah fikih, qira'at, balaghah Al-Qur'an, dan riwayat dari para ulama salaf. Di banyak tempat, ia juga membantah banyak argumen filosofis az-Zamakhsyari, serta pendapat-pendapat nahwunya.134
Muhammad ibn Yoosuf ibn Hayyaan al-Andaloosee (1256-1344 CE/654-745AH), more commonly known by the name Aboo Hayyaan, was a scholar in the field of recitations and poetry and was a master in the field of grammar. In his early years, he belonged to the Thaahiree school of law, but later left it for the Shaafi‘ee school. He studied in schools throughout North Africa and eventually settled in Egypt. This tafseer is in eight large volumes and is widely used by scholars as an important reference work on grammatical constructions in the Qur’aan. Aboo Hayyaan mentions in detail the differences among grammarians and makes most of his tafseer from a grammatical point of view, so much so that it bears a closer resemblance to a grammar book than it does to a tafseer of the Qur’aan. However, he does develop the other areas of tafseer, such as fiqh issues, recitations, Qur’aanic eloquence, and narrations from early orthodox scholars. In numerous places, he also refutes many of az-Zamakhsharee’s philosophical arguments, as well as his grammatical positions.134
6. Tafsir an-Naysaburi, Gharaib al-Qur'an wa Raghaib al-Furqan
6. Tafseer an-Naysaabooree, Gharaa’ib al-Qur’aan wa Raghaa’ib al-Furqaan
Nizhamuddin ibn al-Hasan an-Naisabuuri (w. 1328 M/728 H), yang berjuluk an-Nizhaam al-A‘raj, lahir di Qum, tetapi tumbuh besar di Naisabur, tempat ia menjadi seorang ulama sastra, ahli tata bahasa Arab (nahwu), dan qari Al-Qur'an yang termasyhur.
Nithaamud-Deen ibn al-Hasan an-Naysaabooree (d.1328 CE/728 AH), nicknamed an-Nithaam al-A‘raj, was born in Qum, but grew up in Nishapur, where he became a famous literary scholar, grammarian, and Qur’aan reciter.
An-Naysaabooree menulis tafsirnya dengan cara meringkas secara kritis tafsir ar-Raazee, dengan menambahkan materi dari al-Kash-shaaf dan tafsir-tafsir lainnya, serta tafsir para sahabat dan tabi‘in. Format yang digunakan dalam tafsirnya cukup unik di antara kitab-kitab tafsir. Setelah menyebutkan ayat, ia menyebutkan berbagai qira'at, dengan cermat menisbatkannya kepada salah satu dari sepuluh qari' besar. Kemudian ia menyebutkan kemungkinan tempat-tempat waqaf (berhenti) dan menjelaskan makna-makna yang dihasilkan dari ayat tersebut. Setelah itu, ia membahas hubungan antar ayat dan memulai tafsir dengan menjelaskan makna gramatikal ayat-ayat tersebut. Lalu ia menyebutkan masalah-masalah fikih dan pendapat-pendapat berbagai argumen filosofis dan teologis, sambil dengan tegas membela posisi ortodoks Ahlus Sunnah. Ayat-ayat tentang keajaiban penciptaan dibahas dari sudut pandang ilmu-ilmu alam. Karena kecenderungan kesufiannya yang kuat, ia menggali implikasi spiritual dan pencerahan pribadinya di akhir tafsir setiap ayat. Tafsir ini saat ini dicetak di margin salah satu edisi Tafsir at-Tabari dan banyak dibaca oleh para ulama.135
An-Naysaabooree wrote his tafseer by critically condensing ar-Raazee’s tafseer, adding additional material from al-Kash-shaaf and other tafseers, as well as tafseers of the sahaabah and taabi‘oon. The format used in his tafseer is quite unique among tafseers. After mentioning the verse, he mentions the various recitations, carefully attributing them to one of the ten major reciters. Then he mentions the possible places where pauses may take place and explains the resulting meanings of the verse. After that, he discusses the relationship between verses and begins the tafseer by explaining the grammatical meaning of the verses. He then mentions the fiqh issues and the opinions of the various philosophical and theological arguments, firmly defending the orthodox position of Ahl as-Sunnah. Verses concerning the wonders of creation are discussed from the viewpoint of natural sciences. Due to the author’s strong Soofee leanings, he delves into the spiritual implications and his personal enlightenment at the end of each verse’s tafseer. This tafseer is presently printed in the margin of one edition of Tafseer at-Tabaree and is widely read by scholars.135
7. Tafsir al-Jalalayn
7. Tafseer al-Jalaalayn
Tafsir ini adalah karya dua ulama, yang keduanya bergelar "Jalaalud-Deen" (Keagungan Agama): Jalaal ad-Deen as-Suyootee (1445-1505 M), penulis ad-Durr al-Manthoor, dan Jalaalud-Deen al-Mahallee (1389-1460 M/791-864 H). Yang pertama telah dibahas sebelumnya, jadi kita hanya akan membahas yang kedua. Namanya adalah Muhammad bin Ibraaheem al-Mahallee dan tempat kelahirannya adalah Mesir. Ia menjadi seorang ulama besar dalam mazhab Syafi'i dan menolak jabatan hakim agung, lebih memilih mengajar fiqih di sekolah-sekolah setempat dan berdagang. Ia menulis sejumlah kitab yang sederhana dan ringkas dalam berbagai bidang yang menjadi sangat populer. Ia memulai tafsirnya dari Surah al-Kahf (18) dan berakhir pada Surah an-Naas (114). Kemudian ia menafsirkan surah pertama, al-Faatihah; namun, ia wafat sebelum menyelesaikan sisanya. As-Suyootee kemudian memulai dari Surah al-Baqarah (2) dan berakhir pada Surah al-Israa' (17), yang merupakan sedikit kurang dari separuh Al-Qur'an. Ia mengikuti format al-Mahallee. Makna dasar ayat-ayat dijelaskan dan pendapat yang paling kuat disebutkan. Penjelasan gramatikal hanya digunakan jika benar-benar diperlukan. Beberapa rujukan juga dibuat pada qiraat yang lebih terkenal. Hanya ada sedikit bidang di mana kedua penulis berbeda pendapat. Salah satunya berkaitan dengan ar-rooh (ruh), yang oleh al-Mahallee dijelaskan dalam Surah Shaad (38) sebagai jasad atau zat halus yang menghidupkan manusia ketika ditiupkan kepadanya. As-Suyootee sependapat dengannya dalam tafsirnya sendiri atas Surah al-Hijr (15), tetapi dalam tafsirnya atas ayat 85 Surah al-Israa'...
This tafseer is the product of two scholars, both of whom had the title, “Jalaalud-Deen” (Glory of the Religion): Jalaal ad-Deen as-Suyootee (1445-1505 CE), author of ad-Durr al-Manthoor, and Jalaalud-Deen al-Mahallee (1389-1460 CE/791-864 AH). The former was discussed previously, so we will only concern ourselves with the latter. His name was Muhammad ibn Ibraaheem al-Mahallee and his birthplace was Egypt. He became a great scholar of the Shaafi‘ee mathhab and refused the post of the chief judge, preferring to teach fiqh in the local schools and engage in trade. He wrote a number of simple and concise books in various fields which became very popular. He began his tafseer starting with Soorah al-Kahf (18) and ending with Soorah an-Naas (114). He then did the tafseer of the first soorah, al-Faatihah; however, he died before completing the rest. As-Suyootee then began from Soorah al-Baqarah (2) and ended with Soorah al-Israa’ (17), which is a little less than one half of the Qur’aan. He followed alMahallee’s format. The basic meanings of the verses are explained and the most probable opinions are mentioned. Grammatical explanations are only relied on where absolutely necessary. Some reference is also made to the more famous recitations. There are very few areas where the two authors differed. One of them concerns the rooh (soul), which al-Mahallee explains in Soorah Saad (38) as a subtle body or substance that brings man to life when it is blown into him. AsSuyootee agrees with him in his own tafseer of Soorah al-Hijr (15), but in his tafseer of verse 85 of Soorah al-Israa’:
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit.'" (QS. Al-Isra: 85)
“And they ask you about the rooh. Say: ‘The rooh is by my Lord’s command,’ for you have been only given a little amount of knowledge,” 136
as-Suyūthī menyelisihi al-Maḥallī. Ia menulis bahwa ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa hakikat ruh adalah pengetahuan khusus milik Allah; oleh karena itu, lebih baik tidak berusaha mendefinisikannya. Meskipun tafsir ini ringkas (hanya satu jilid), tafsir ini tanpa diragukan lagi merupakan karya yang sangat berharga dan termasuk di antara tafsir yang paling populer.
as-Suyootee contradicts al-Mahallee. He wrote that this verse clearly indicates that the reality of the rooh is the exclusive knowledge of Allaah; hence, it would be better not to try to define it. In spite of this tafseer’s brevity (one volume), it is without a doubt a very valuable work and it is among the most popular tafseers.
Banyak edisi telah dicetak, dan banyak syarah telah ditulis atasnya, yang paling terkenal adalah Haasheyah al-Jamal dan Haasheyah as-Saawee.137
Numerous editions have been printed, and many commentaries have been written on it, the most famous being Haasheyah al-Jamal and Haasheyah as-Saawee.137
8. Tafsir al-Khatib asy-Syirbini, As-Siraj al-Munir
8. Tafseer al-Khateeb ash-Shirbeenee, As-Siraaj al-Muneer
Muhammad ibn Muhammad asy-Syirbini (wafat 1569 M/1569 H) adalah seorang ulama Mesir dari mazhab fikih Syafi‘i. Ia paling dikenal dengan gelar "al-Khatib." Tafsirnya merupakan ringkasan padat dari tafsir-tafsir sebelumnya dan banyak memuat kutipan dari Tafsir ar-Razi. Ia menghindari pendapat-pendapat yang saling bertentangan, dan hanya memilih yang paling sesuai atau paling kuat di antara mereka.
Muhammad ibn Muhammad ash-Shirbeenee (d. 1569 CE/1569 AH) was an Egyptian scholar of the Shaafi‘ee school of legal thought. He was most commonly known by the title, “al-Khateeb.” His tafseer is a concise abridgement of earlier tafseers and is filled with many quotes from Tafseer ar-Raazee. He avoids conflicting opinions, choosing only the most suitable or likely among them.
Penjelasan gramatikal hanya diberikan bila diperlukan dan, sesekali, bacaan dari tujuh qira'at yang terkenal disebutkan. Ia juga hanya menyebutkan hadis-hadis yang shahih atau hasan, serta mengkritik beberapa mufassir terdahulu, seperti az-Zamakhsyari dan al-Baydhawi, karena penggunaan hadis-hadis palsu oleh mereka. Asy-Syirbini memperhatikan dengan baik berbagai ayat yang bermasalah serta hubungan antarayat. Adapun masalah-masalah fikih, ia hanya menyinggungnya sesekali dan secara ringkas. Namun, pengarang sering menyebutkan kisah-kisah aneh dan riwayat-riwayat Israiliyyat yang paling ganjil tanpa memberikan komentar atas keakuratannya.138
Grammatical breakdowns are only given where necessary and, occasionally, recitations from the famous seven mentioned. Also, he only mentions reliable hadeeths (saheeh or hasan) and criticizes some of the earlier mufassirs, like azZamakhsharee and al-Baydaawee, for their use of fabricated hadeeths. AshShirbeenee took care to note various problematic verses and the relationship between verses. As for legal issues, he only mentions them occasionally and in concise terms. However, the author often mentions weird stories and the strangest of Israa’eeleeyaat without making any comment on their accuracy.138
9. Tafsir Abis-Sa‘ud, Irsyad al-‘Aql as-Salim ila Mazaya al-Kitab al-Karim
9. Tafseer Abis-Sa‘ood, Irshaad al-‘Aql as-Saleem ilaa Mazaayaa al-Kitaab alKareem
Abus-Sa‘ood Muhammad ibn Mustafaa al-‘Imaadee (1489-1574 M/894-982 H) lahir di sebuah desa dekat Konstantinopel dan menjadi seorang ulama mazhab Hanafi. Ia mengajar di banyak madrasah Islam di Turki dan diangkat sebagai hakim di sejumlah kota, termasuk Konstantinopel sendiri. Kemudian, ia diangkat sebagai mufti dan tetap menjabat selama lebih dari tiga puluh tahun.139 Tafsirnya didasarkan pada al-Kasysyaaf dan tafsir al-Baydaawee, kecuali bahwa ia menghindari banyak kekeliruan keduanya. Namun, ia terjatuh dalam perangkap menyebutkan hadis-hadis palsu mengenai keutamaan setiap surah. Penulis mencurahkan banyak upaya untuk menjelaskan kefasihan dan susunan ajaib dari ungkapan-ungkapan Al-Qur'an. Ia hanya menyebutkan variasi bacaan apabila hal itu semakin menjelaskan ayat-ayat tersebut.
Abus-Sa‘ood Muhammad ibn Mustafaa al-‘Imaadee (1489-1574 CE/894-982 AH) was born in a village near Constantinople and became a scholar of the Hanafee school. He taught in many Turkish Islaamic schools and was appointed judge in a number of cities, including Constantinople itself. Later, he was appointed a muftee and remained one for over thirty years.139 His tafseer was based on al-Kash-shaaf and that of al-Baydaawee, except that he avoided many of their pitfalls. He did, however, fall into the trap of mentioning fabricated hadeeths concerning the merits of each soorah. The author spends a great deal of effort explaining the eloquence and miraculous construction of Qur’aanic expressions. He only mentions variant recitations where they further explain the verses.
Israa'iliyyat sangat sedikit disebutkan, dan berbagai pendapat hukum mengenai masalah-masalah fikih hanya dicantumkan sesekali. Ia terkadang menyebutkan berbagai makna gramatikal dari ayat-ayat, lalu memilih yang paling tepat setelah mengemukakan dalil yang mendukungnya. Tafsir ini telah dicetak ulang berkali-kali dalam lima jilid berukuran sedang, dan cukup populer di kalangan ulama karena kejelasan serta keindahannya.140
Very few Israa’eeleeyaat are mentioned and the various legal opinions on legal issues are listed only occasionally. He sometimes mentions the various grammatical meanings of verses and chooses the most appropriate after producing proof to that effect. The tafseer has been reprinted in five medium-sized volumes numerous times and is quite popular among scholars due to its clarity and beauty.140
10. Tafsir al-Alusi, Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-'Azim wa as-Sab' al-Mathani
10. Tafseer al-Aaloosee, Rooh al-Ma‘aanee fee Tafseer al-Qur’aan al-Atheem wa as-Sab‘ al-Mathaanee
As-Sayyid Mahmood Afandee al-Aaloosee141 (1802-1853 CE/1217-1269 AH) adalah salah seorang ulama Syafi‘iyyah terbesar di ‘Iraaq. Beliau diangkat sebagai mufti Baghdaad dan sangat memahami pendapat-pendapat hukum dari berbagai mazhab. Bahkan, beliau sering mengikuti pendapat Abu Haneefah dalam banyak masalah. Penulis telah menghimpun dalam tafsirnya pendapat dan riwayat para ulama terdahulu serta penjelasan para ulama belakangan dengan penuh kehati-hatian dan kejujuran. Setiap pernyataan disandarkan kepada pengucapnya, dan pendapat-pendapat yang saling bertentangan ditimbang tanpa keberpihakan. Al-Aaloosee sering membantah penafsiran-penafsiran yang menyimpang dan penjelasan-penjelasan sesat dari kaum Mu‘tazilah dan Syi‘ah. Beliau juga menyebutkan teori-teori ilmiah yang berkaitan dengan ayat-ayat tentang penciptaan dan mengkritik teori-teori yang menurut beliau tidak tepat atau tidak mungkin. Masalah-masalah nahwu dan hukum dibahas secara panjang lebar di sepanjang tafsirnya tanpa keberpihakan. Al-Aaloosee mengkritik keras Isra’iliyyat dan bahkan kadang-kadang mengolok-oloknya. Beliau juga menyebutkan qira'at-qira'at yang berbeda, namun tidak membatasi dirinya hanya pada yang sahih. Banyak kutipan dari literatur klasik digunakan untuk mendukung argumen-argumen nahwunya, dan biasanya beliau menutup tafsirnya dengan menyebutkan implikasi-implikasi spiritualnya.
As-Sayyid Mahmood Afandee al-Aaloosee141 (1802-1853 CE/1217-1269 AH) was among the greatest Shaafi‘ee scholars of ‘Iraaq. He was appointed muftee of Baghdaad and was very familiar with the legal positions of the various math-habs. In fact, he often followed the opinions of Aboo Haneefah on many issues. The author has compiled in his tafseer the opinions and narrations of the early scholars and the explanations of latter-day scholars with great care and honesty. All statements are attributed to their authors, and their conflicting opinions are weighed without any bias. Al-Aaloosee often times refutes the unorthodox interpretations and heretical explanations of the Mu‘tazilees and the Shee‘ah. He also mentions the scientific theories relating to the verses on creation and criticizes those he considers inaccurate or unlikely. Grammatical and legal issues are discussed at great length through the tafseer without bias. Al-Aaloosee severely criticizes the Israa’eeleeyaat and even ridicules them occasionally. He also mentions the variant recitations, but does not restrict himself to the authentic ones. Many quotes from classical literature are used to support his grammatical arguments, and he usually closes off his tafseer by mentioning the spiritual implications.
Rooh al-Ma‘aanee adalah ensiklopedia tafsir virtual, di mana sebagian besar dari apa yang telah ditulis tentang tafsir telah dihimpun dan disajikan secara kritis. Meskipun penulisnya kadang terlalu menekankan bidang-bidang teknis yang tidak langsung berkaitan dengan tafsir, pendekatannya selalu seimbang dan tidak memihak.142
Rooh al-Ma‘aanee is a virtual tafseer encyclopedia, in which most of what has been written on tafseer has been gathered and critically presented. Despite the author’s occasional overemphasis on technical areas not directly related to tafseer, his approach is always balanced and unbiased.142
126 Lihat Shorter Encyclopaedia of Islam, hal. 470.
126 See Shorter Encyclopaedia of Islam, p. 470.
127 Lihat at-Tafseer wal-Mufassiroon, jilid 1, hlm. 298-304.
127 See at-Tafseer wal-Mufassiroon, vol. 1, pp. 298-304.
Lihat al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan, jilid 10, hlm. 175-6.
128 See al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan, vol. 10, pp. 175-6.
129 Lihat Syadzaraat adz-Dzahab, jilid 5, hlm. 335, dan al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan, jilid 1, kata pengantar penerbit.
129 See Shatharaat ath-Thahab, vol. 5, p. 335, and al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan, vol. 1, publisher’s preface.
130 Lihat al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan, jilid 1, hlm. 6-7, Pendahuluan Penulis, dan al-Mabaahith fee ‘Uloom al-Qur’aan, hlm. 391.
130 See al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan, vol.1, pp. 6-7, Author’s Introduction, and al Mabaahith fee ‘Uloom al-Qur’aan, p. 391.
131 Lihat at-Tafseer wal-Mufassiroon, jilid 1, hlm. 304-11
131 See at-Tafseer wal-Mufassiroon, vol. 1, pp. 304-11
132 Lihat at-Tafseer wal-Mufassiroon, jilid 1, hlm. 311-17.
132 See at-Tafseer wal-Mufassiroon, vol. 1, pp. 311-17.
133 Lihat at-Tafseer wal-Mufassiroon, jilid 1, hlm. 318-24.
133 See at-Tafseer wal-Mufassiroon, vol. 1, pp. 318-24.
134 Ibid., jilid 1, hlm. 325-9.
134 Ibid., vol. 1, pp. 325-9.
135 Lihat at-Tafseer wal-Mufassiroon, jilid 1, hlm. 329-40
135 See at-Tafseer wal-Mufassiroon, vol. 1, pp. 329-40
136 Surah Al-Isra’ (17):85. 137 Lihat at-Tafseer wal-Mufassiroon, jilid 1, hlm. 341-5.
136 Soorah al-Israa’ (17):85. 137 See at-Tafseer wal-Mufassiroon, vol. 1, pp. 341-5.
138 Lihat at-Tafsīr wal-Mufassirūn, jilid 1, hlm. 346-52.
138 See at-Tafseer wal-Mufassiroon, vol. 1, pp. 346-52.
Sebenarnya, beliau kemungkinan adalah ulama yang paling berpengaruh dalam sejarah Kekaisaran Utsmani. Lihat The Venture of Islaam, jilid 3, The Gunpowder Empires, hlm. 110-11.
139 In fact, he was probably the single most influential scholar in the history of the Ottoman empire. See The Venture of Islaam, vol. 3, The Gunpowder Empires, pp. 110-11.
140 Lihat at-Tafsir wal-Mufassirun, jilid 1, hlm. 353-60.
140 See at-Tafseer wal-Mufassiroon, vol. 1, pp. 353-60.
141 Aaloos adalah nama sebuah pulau di Sungai Eufrat. Nenek moyangnya pernah menghuni sebuah desa di pulau tersebut.
141 Aaloos is the name of an island in the Euphrates River. His foreparents inhabited a village on it.
142 Lihat di -Tafseer wal-Mufassiroon, jilid 1, hlm. 360-70.
142 See at -Tafseer wal-Mufassiroon, vol. 1, pp. 360-70.