11.1 Ciri-Ciri Wahyu Makkiyah
11.1 The Features Of Makkan Revelations
Wahyu-wahyu Makkiyyah didefinisikan sebagai semua ayat dan surat Al-Qur'an yang dibawa oleh Jibril kepada Nabi ﷺ sebelum Hijrah (622 M).
Makkan revelations are defined as all verses and chapters of the Qur’aan which were brought by Jibreel to the Prophet (ﷺ) before the Hijrah (622 CE).
Ini mencakup ayat-ayat yang diturunkan di Thaif, serta ayat-ayat yang diturunkan di wilayah lain di luar Makkah.1 Wahyu-wahyu ini merupakan tahap pertama gerakan Islam, yang di dalamnya dasar-dasarnya ditetapkan.
This includes verses which were revealed in Taa’if, as well as those revealed in other areas outside of Makkah.1 These revelations represent the first stage of the Islaamic movement, in which its fundamentals were established.
1. Tauhid (Keesaan Allah):
1. Tawheed (The Oneness of Allaah):
Ketika Islam pertama kali disampaikan kepada penduduk Makkah, mereka berada dalam keadaan kafir. Sebagian besar dari mereka beriman kepada Allah, tetapi mereka telah menempatkan banyak perantara antara diri mereka dan Allah. Mereka membuat berhala-berhala untuk mewakili perantara-perantara ini dan menyembah mereka sebagai pengganti Allah. Maka, wahyu-wahyu awal mengajarkan kepada manusia tentang keesaan Allah dan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu.
When Islaam was first presented to the people of Makkah, they were in a state of disbelief. Most of them believed in Allaah, but they had put many intermediaries between themselves and Allaah. They made idols to represent these intermediaries and worshipped them instead of Allaah. Thus, the early revelations taught the people about Allaah’s unity and power over all things.
Mereka memberitahu orang-orang bahwa Allah tidak memiliki orang tua, keturunan, ataupun sekutu yang berbagi kekuasaan dengan-Nya. Mereka juga menunjukkan bahwa berhala tidak dapat mendatangkan kebaikan maupun menolak keburukan. Mereka mempertanyakan logika menyembah sesuatu yang bahkan tidak dapat melihat atau mendengar.
They told the people that Allaah was without parents, offspring or any partner who shared His powers. They also pointed out that idols could neither bring good nor hold back evil. They questioned the logic of worshipping things which could not even see or hear.
2. Salat (Shalat Formal):
2. Salaah (Formal Prayer):
Setelah ayat-ayat pertama wahyu turun, yang memberitahukan Nabi ﷺ bahwa beliau telah dipilih untuk menjadi nabi, Allah mengutus Jibril untuk mengajarkan kepada beliau tata cara salat yang benar. Hal ini diperlukan karena tata cara salat yang benar tidak dapat dicapai melalui penalaran logis. Oleh karena itu, bahkan Nabi ﷺ sendiri harus diajarkan cara beribadah kepada Allah yang benar. Karena besarnya peran salat dalam menumbuhkan kesadaran seseorang akan Tuhannya, ayat-ayat awal menyeru Nabi ﷺ dan para pengikut awal beliau untuk melaksanakan salat secara rutin.2
After the first verses of revelation came informing the Prophet (r) that he had been chosen for prophethood, Allaah sent Jibreel to teach him the correct method of prayer. This was necessary because the correct method of prayer could not be arrived at by logical reasoning. Therefore, even the Prophet (ﷺ) himself had to be taught the correct method of worshipping Allaah. Due to the great importance of salaah in nurturing a person’s consciousness of his Lord, the early verses called upon the Prophet (r) and his early band of followers to make their salaah regularly.2
Karena orang-orang Makkah terbiasa menyembah berhala dengan keyakinan bahwa tuhan-tuhan buatan tangan mereka sendiri itu akan menyampaikan doa-doa mereka kepada Allah, ayat-ayat awal juga ditujukan untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Ayat-ayat tersebut mengajarkan bahwa baik salat maupun doa (du‘aa) hanya boleh ditujukan kepada dan untuk Allah, karena Dialah satu-satunya yang dapat mengabulkannya.
Since the Makkans were in the habit of worshipping idols in the belief that these home made gods would carry their prayers to Allaah for them, the early verses were also aimed at clarifying this misconception. The verses taught that both salaah and du‘aa (supplication) should only be made for and to Allaah, as He is the only one who can answer them.
Perhatian besar diberikan pada salat karena hubungannya dengan tauhid. Salat yang murni kepada Allah merupakan perwujudan tauhid dalam praktik.
Great stress was placed on salaah because of its relationship to tawheed. Pure salaah to Allaah represents tawheed in practice.
3. Yang Gaib:
3. The Unseen:
Karena manusia tidak mungkin mengetahui tentang alam gaib dengan cara apa pun, ayat-ayat awal mengajarkan kepada mereka tentang keajaiban, rahasia, dan kengerian alam tersebut. Ayat-ayat itu menggambarkan surga beserta kenikmatannya agar orang-orang beriman terdorong untuk terus berbuat kebaikan. Ayat-ayat itu juga menggambarkan neraka Jahannam beserta siksaannya agar orang-orang beriman terdorong untuk berusaha menjauhi perbuatan buruk. Gambaran tentang api neraka dan penghuninya juga menenteramkan hati orang-orang beriman bahwa mereka yang berbuat zalim dalam kehidupan ini tidak akan luput dari hukuman Allah. Gambaran semacam itu juga bertujuan menakut-nakuti orang-orang kafir agar mereka meninjau kembali pendiriannya sebelum terlambat. Sebagian ayat juga menyanggah orang-orang yang tidak dapat menerima kebangkitan dengan memberikan contoh dari alam, seperti hujan yang turun ke bumi yang mati lalu menghidupkannya kembali.
Since there was no way that human beings could possibly come to know about the unseen world, the early verses taught them about its wonders, its mysteries, and its horrors. The verses described paradise and its pleasures in order to encourage the believers to continue to do good deeds. They also described the Hellfire and its torments in order to encourage the believers to strive to avoid evil deeds. Descriptions of the Fire and its inhabitants also reassured the believers that those who do wrong in this life will not escape Allaah’s punishment. Such descriptions were also aimed at scaring the disbelievers into reconsidering their position before it became too late. Some of the verses also reasoned with those who could not accept the resurrection by giving them examples from nature, such as rain falling on dead earth bringing it back to life.
Orang lain menunjukkan secara logis bahwa menghidupkan kembali makhluk hidup akan lebih mudah daripada menciptakannya, meskipun semuanya sama saja bagi Allah.
Others pointed out logically that the recreation of life would be easier than its creation, although it is all the same to Allaah
4. Keberadaan Allah:
4. Allaah’s Existence:
Ada sebagian orang di antara penduduk Makkah yang ragu terhadap keberadaan Allah. Oleh karena itu, beberapa ayat awal memaparkan argumen logis yang membuktikan keberadaan Allah. Terkadang bukti diambil dari alam dan makhluk-makhluk yang lazim dikenal di masyarakat tersebut. Allah bertanya kepada orang-orang Makkah,
There were some individuals among the Makkans who were in doubt about Allaah’s very existence. Thus, some of the early verses presented logical arguments proving Allaah’s existence. Sometimes proofs were taken from nature and the creatures common to that society. Allaah asked the Makkans,
"Maka tidakkah mereka memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan, dan langit bagaimana ia ditinggikan, dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan, dan bumi bagaimana ia dihamparkan?" 3
“Why don’t they look at the camels and how they were created, and the sky and how it was raised, and the mountains and how they are firmly fixed and the earth and how it was spread out?” 3
Di waktu lain, logika lurus digunakan. Allah bertanya kepada mereka apakah mereka diciptakan dari ketiadaan atau apakah mereka menciptakan diri mereka sendiri:
At other times straight logic was used. Allaah asked them if they were created from nothing or if they created themselves:
“Apakah mereka diciptakan dari ketiadaan, ataukah mereka sendiri yang menjadi pencipta?” 4
“Were they created from nothing, or were they themselves the creators?” 4
Ayat ini sangat menakjubkan dalam keringkasan tantangannya. Hanya ada tiga kemungkinan jawaban atas pertanyaan tentang sumber penciptaan. Ayat tersebut hanya menyebutkan dua, dan membiarkan yang ketiga tidak disebutkan karena sudah jelas. Ayat itu tidak repot-repot membantah dua kemungkinan tersebut karena keduanya begitu jelas salahnya. Sesuatu yang tidak ada tidak memiliki kekuatan untuk mewujudkan apa pun menjadi ada.
This verse is amazing in the conciseness of its challenge. There are only three possible answers to the question of the source of creation. The verse mentions only two and leaves the third unstated due to its obviousness. It doesn’t bother to disprove these two possibilities because they are so obviously false. Something which doesn’t exist doesn’t have the power to bring anything into existence.
Demikian pula, setiap orang tahu bahwa ada suatu masa ketika dia belum ada, sehingga kita tidak mungkin telah menciptakan diri kita sendiri. Bahkan jika ada yang berpendapat bahwa mereka berasal dari orang tua mereka, dan orang tua mereka berasal dari orang tua mereka, dan seterusnya, rantai sebab-akibat itu pada akhirnya harus berujung pada satu sebab yang keberadaannya tidak bergantung pada apa pun. Dengan demikian, Allah, Sang Pencipta, harus diterima agar keberadaan kita menjadi masuk akal. Bahkan, salah seorang penduduk Makkah, Jubayr ibn Mut‘im, meriwayatkan bahwa ia mendengar Nabi ﷺ membaca ayat ini dalam salatnya, dan hal itu membuatnya merasa seakan-akan hatinya hendak terbang, yang kemudian menyebabkannya menerima Islam.5
Likewise, everyone knows there was a time when he or she didn’t exist, so we can’t have created ourselves. Even if some were to argue that they came from their parents and that their parents came from their parents and so on, the chain of causes must eventually decrease to one whose existence doesn’t depend on anything. Thus, Allaah, the Creator, has to be accepted for our existence to make sense. In fact, one of the people of Makkah, Jubayr ibn Mut‘im reported that he heard the Prophet (r) reciting this passage in his salaah, and it made him feel that his heart was going to fly, which caused him to eventually accept Islaam.5
5. Tantangan:
5. Challenges:
Untuk membuktikan kepada orang-orang Quraisy bahwa Al-Qur'an berasal dari Allah dan bahwa Muhammad ﷺ adalah nabi Allah, beberapa ayat Makkiyah menantang orang-orang Arab untuk menandingi Al-Qur'an. Banyak surah dimulai dengan huruf-huruf tunggal seperti "Alif, Laam, Miim," "Shaad," atau "Nuun," untuk menantang orang-orang Makkah dengan huruf-huruf alfabet yang sama yang mereka gunakan dalam pidato dan syair indah mereka. Allah menurunkan Al-Qur'an dengan huruf-huruf yang sama, namun mereka tidak mampu menandinginya. Karena orang-orang Arab tidak mampu menghasilkan satu surah pun, bahkan yang terpendek sekalipun, sifat mukjizat Al-Qur'an dan asal-usulnya yang ilahi terbukti dengan jelas bagi orang-orang pada masa itu. Namun, banyak dari mereka lebih memilih memandang Al-Qur'an sebagai sihir, dan Nabi ﷺ sebagai seorang penyihir ulung.
In order to prove to the Quraysh that the Qur’aan was from Allaah and that Muhammad (ﷺ) was a prophet of Allaah, some of the Makkan verses challenged the Arabs to imitate the Qur’aan. Many of the chapters began with individual letters like “Alif, Laam and Meem,” “Saad,” or “Noon” in order to tease the Makkans with the same letters of the alphabet with which they made their flowery speeches and poetry. Allaah revealed the Qur’aan with the same letters, but they just could not imitate it. Since the Arabs were unable to produce a chapter like even the smallest chapter of Qur’aan, the miraculous nature of the Qur’aan and its divine origin were clearly proven to the people at that time. However, many of them preferred to look at the Qur’aan as a magical spell, and the Prophet (r) as a master magician
6. Orang-Orang Terdahulu:
6. The People of Old:
Ayat-ayat Makkiyah sering menyebutkan contoh-contoh sejarah tentang peradaban-peradaban terdahulu, seperti kaum 'Aad dan kaum Thamud. Mereka disebutkan untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang menolak risalah Islam. Ayat-ayat tersebut berbicara tentang keajaiban peradaban-peradaban kuno. Ayat-ayat itu menceritakan banyaknya nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada umat-umat peradaban tersebut. Kemudian diceritakan bagaimana mereka mendurhakai Allah dan mengingkari nikmat-nikmat-Nya, dan bagaimana azab Allah menimpa mereka sementara mereka sama sekali tidak memedulikan apa yang akan menimpa diri mereka jika mereka membuat Allah murka. Contoh-contoh ini cukup dikenal oleh bangsa Arab karena reruntuhan peradaban-peradaban tersebut masih dapat terlihat. Sebagai contoh, makam-makam batu di Madā'in Ṣāliḥ, yang dikaitkan dengan kaum Thamud, kaum Nabi Ṣāliḥ, berada tepat di jalur perdagangan menuju Syam.
The Makkan verses often mentioned historical examples of earlier civilizations, like the ‘Aad and the Thamood. They were mentioned in order to warn those who had rejected the message of Islaam. The verses spoke about the wonders of the ancient civilizations. They recounted the many blessing which Allaah had bestowed on the peoples of those civilizations. Then they told how the people disobeyed Allaah and denied His blessings, and how Allaah’s punishment caught them while they were totally unconcerned of what could become of them if they displeased Allaah. These examples were quite familiar to the Arabs because the ruins of such civilizations could still be seen. For example, the stone tombs of Madaa’in Saalih, associated with the Thamood, the people of Prophet Saalih, were directly on the trade route to Syria.
7. Iman:
7. Eemaan:
Sangat sedikit hukum yang diturunkan dalam ayat-ayat Makkah. Sebaliknya, ayat-ayat tersebut lebih memusatkan perhatian pada prinsip-prinsip yang akan membangun iman (eemaan) kaum Muslimin awal. Ayat-ayat ini berbicara tentang pentingnya takut kepada Allah dan menyadari kehadiran-Nya serta pengetahuan-Nya atas segala sesuatu. Ayat-ayat tersebut sering kali berisi nasihat tentang sabar, tekun, jujur, dan dapat dipercaya, guna membentuk karakter moral dan spiritual kaum Muslimin awal, yang saat itu berada dalam kelompok minoritas dan di bawah tekanan berat dari masyarakat Makkah.
Very few laws were revealed in the Makkan verses. Instead, the verses concentrated on principles which would build the eemaan (faith) of the early Muslims. These verses spoke of the importance of fearing Allaah and being aware of His presence and knowledge of all things. They were often filled with advice about being patient, perseverant, truthful and trustworthy, in order to build the moral and spiritual character of the early Muslims, who were in a minority and under great pressure from Makkan society
8. Ayat-Ayat Pendek:
8. Short Verses:
Surah-surah Makkiyah umumnya memiliki ayat-ayat yang pendek, sajak yang menarik, dan irama yang sangat kuat. Ciri-ciri ini dimaksudkan untuk menarik perhatian para pendengar yang pada dasarnya menentang risalah Islam. Ayat-ayatnya harus pendek karena para pendengar tidak akan bersedia mendengarkan pernyataan yang panjang dan berbelit-belit.
The Makkan soorahs usually had short verses, catchy rhymes, and a very strong rhythm. These qualities were meant to catch the attention of listeners who were basically opposed to the message of Islaam. The verses had to be short because the audience would not be willing to listen to long, drawn-out statements.
Begitu mereka mendengar sebagian dari Al-Qur'an, mereka menyumbat telinga dengan jari dan berpaling. Dengan demikian, ayat-ayat itu sering harus langsung menghantam sasarannya. Ayat-ayat tersebut sering menyerupai syair-syair para peramal dan tukang tenung, namun maknanya sangat jelas, sedangkan syair-syair para peramal kebanyakan samar dan tidak jelas. Sebagai contoh, peramal Zabraa memperingatkan kaumnya tentang suatu bencana yang akan segera menimpa mereka dengan kata-kata berikut:
As soon as they heard any of the Qur’aan, they would stick their fingers in their ears and turn away. Thus, the verses often had to strike home immediately. They often resembled the chants of the oracles and fortunetellers, but their meanings were very clear, whereas the oracles’ chants were mostly obscure and vague. For example, the oracle Zabraa warned her people about a disaster that would soon strike them in the following words:
Demi angin yang berhembus silih berganti,
By the fluttering wind,
Dan malam yang datang menyelimuti;
And the falling night;
Demi waktu duha yang bercahaya,
By the shining morn,
Dan bintang yang menembus;
And the piercing star;
Demi awan yang sarat dengan hujan,
By the rain-laden clouds,
Sesungguhnya pepohonan di lembah itu benar-benar menipu,
Verily, the trees of the valley are really deceptive,
Dan gigi-gigi bergemeletuk hingga terpilin.
And teeth gnash until twisted.
Sesungguhnya bebatuan gunung itu memperingatkan tentang duka cita,
Verily, the boulders of the mountain warn of mourning,
Yang tidak akan pernah bisa kamu lepaskan diri darinya.
That you won’t find any escape from.
Peramal Zabraa.
The fortuneteller Zabraa.
Al-Itqaan, jilid 1, hlm. 23.
1 Al-Itqaan, vol. 1, p. 23.
2 Lihat Q.S. 23:1-11; 70:34-5; 73:2; 73:20; 74:38-43
2 Cf. 23:1-11; 70:34-5; 73:2; 73:20; 74:38-43
Surah Al-Ghasyiyah (88):17-20.
3 Soorah al-Ghaashiyah (88):17-20.
4 Surah at-Tur (52):35.
4 Soorah at-Toor (52):35.
Sahih Al-Bukhari, jilid 6, hlm. 357-8, no. 377. Lihat juga komentar Ibnu Hajar dalam Fat-h al-Baaree, jilid 8, hlm. 469.
5 Sahih Al-Bukhari, vol. 6, pp. 357-8, no. 377. See also Ibn Hajar’s comments in Fat-h al-Baaree, vol. 8, p. 469.