14.4 Kisah (Qissah)
14.4 The Qissah (narrative)
Setiap orang senang mendengar informasi yang disampaikan dalam bentuk cerita. Pikiran manusia tampaknya merasa santai dan nyaman dalam suasana psikologis yang diciptakan oleh narasi. Akibatnya, cerita dan para penulisnya selalu dihormati oleh masyarakat di seluruh dunia. Tidak jarang, kritik sosial menemukan khalayak terluasnya melalui sarana cerita. Misalnya, dalam *David Copperfield*, Charles Dickens menyerang eksploitasi anak-anak oleh masyarakat Victoria; demikian pula, dalam *1984*, George Orwell mengomentari campur tangan negara dalam kehidupan warganya. Kisah tentang orang-orang dan peradaban masa lalu sangat menarik karena bagi orang masa kini kisah-kisah itu merupakan misteri. Oleh sebab itu, Al-Qur'an dalam sejumlah kesempatan menggunakan format narasi (*qissah*) untuk menyampaikan pesannya kepada manusia dengan cara yang menarik. Kisah-kisah Qur'ani juga berfungsi menenangkan Nabi (ﷺ) dan para pengikutnya bahwa kebenaran pada akhirnya akan mengalahkan kebatilan, dan kisah-kisah itu terus berfungsi demikian bagi orang-orang beriman hari ini. Namun perlu dicatat bahwa meskipun banyak narasi yang paling populer dikarang oleh penulisnya, kisah-kisah Qur'ani semuanya benar. Kisah-kisah itu tidak dikarang oleh Allah untuk menyampaikan pesan-Nya, melainkan benar-benar merupakan contoh historis yang nyata dari pesan tersebut. Fakta ini ditegaskan dalam Al-Qur'an pada banyak ayat oleh Allah, yang menyebut diri-Nya sebagai perwujudan Kebenaran: