10.2 Metode Penafsiran
10.2 Method Of Interpretation
Ayat-ayat tersebut bisa bersifat umum atau khusus, dan sebab turunnya (asbabun nuzul) bisa menguatkan makna umum ayat atau makna khususnya, atau bisa juga membatasi (mentakhsis) maknanya.
The verses may be general or specific and the reason for revelation may either confirm the general implications of the verses or their specific implication, or it may qualify them.
1. Pada kasus pertama, di mana sebab turunnya ayat menguatkan makna umum dari ayat tersebut, ayat harus ditafsirkan sesuai dengan makna umumnya. Misalnya, Anas bin Malik meriwayatkan bahwa orang-orang Yahudi biasa mengeluarkan perempuan mereka dari rumah ketika mereka haid. Mereka tidak makan, minum, atau duduk bersama mereka di dalam rumah. Ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang hal itu, Allah menurunkan ayat,
1. In the first case where the reason for revelation confirms the general implication of the verse, the verse should be interpreted according to its general meaning. For example, Anas ibn Maalik reported that the Jews used to remove their women from their houses when they menstruated. They would not eat, drink, or sit with them in their houses. When the Messenger of Allaah (ﷺ) was asked about it, Allaah revealed the verse,
“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: ‘Haid itu adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu, jauhilah diri kalian dari wanita di waktu haid, dan janganlah kalian mendekati mereka (untuk bersetubuh) sebelum mereka suci. Apabila mereka telah bersuci, maka campurilah mereka sebagaimana Allah telah perintahkan kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.’” 53
“They ask you about menstruation. Say: ‘It is a harm, so keep away (sexually) from women during menses. And do not approach them (sexually) until they have become purified. But if they have cleaned themselves, you may approach them (sexually) in the way that Allaah has ordered you. Verily, Allaah loves those who repent often and cleanse themselves.’ ” 53
Kemudian Nabi Allah ﷺ bersabda,
Then the Prophet of Allaah (ﷺ) said,
"Duduklah bersama mereka di rumah kalian, dan kalian boleh melakukan apa saja dengan mereka kecuali bersetubuh." 54
“Sit with them in your houses, and you may do everything with them except intercourse.” 54
Makna umum dari ayat yang menyatakan bahwa wanita yang sedang haid tidak boleh didekati secara seksual dikuatkan oleh peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat tersebut.
The general meaning of the verse that menstruating women should not be approached sexually is confirmed by events surrounding its revelation.
2. Pada kasus kedua, ketika makna khusus dari suatu ayat dikuatkan oleh sebab turunnya (asbabun nuzul), maka ayat tersebut ditafsirkan sesuai dengan makna khususnya. Misalnya, 'Urwah meriwayatkan bahwa Abu Bakr ash-Shiddiq membebaskan enam atau tujuh budak, yang semuanya disiksa karena keimanan mereka kepada Allah: Bilal, 'Amir bin Fuhairah, an-Nahdiyyah dan putrinya, Ummu 'Isa, dan seorang budak perempuan dari kabilah Naw'il; dan turunlah ayat-ayat berikut tentang dirinya:
2. In the second case, where specific implications of the verse are confirmed by the reason for the revelation, the verse should be interpreted according to its specific meaning. For example, ‘Urwah reported that Aboo Bakr as-Siddeeq set free six or seven slaves, all of whom were being tortured because of their belief in Allaah: Bilaal, ‘Aamir ibn Fuhayrah, an-Nahdeeyah and her daughter, Umm ‘Eesaa, and a slave girl of the Naw’il clan; and the following verses were revealed about him:
"Tetapi (Api Neraka) akan dihindarkan dari orang yang paling bertakwa, yaitu orang yang menginfakkan hartanya untuk membersihkan dirinya dan tidak mengharapkan balasan kebaikan dari siapa pun, melainkan hanya mencari wajah Tuhannya Yang Mahatinggi, dan kelak ia pasti akan merasa puas." 55
“But (the Hell Fire) will be avoided by the most God-fearing, he who gives his wealth for self-purification and does not seek a favor as a reward from anyone, but only seeks the face of his Lord Most High, and he will soon be pleased.” 55
Kata "yang paling bertakwa" dalam ayat tersebut merupakan bentuk superlatif, dan bentuk ini menunjuk pada seseorang yang tertentu, bukan pada suatu generalisasi. Karena itu, ayat-ayat ini semestinya dipahami sebagai merujuk kepada Aboo Bakr asSiddeeq, meskipun pelajaran umum dapat dipetik dari teladan besarnya dalam pengorbanan diri.
The wording of the verse mentions “the most God-fearing,” which is a superlative. This is a wording that indicates someone specific, rather than a generality. Thus, these verses should be understood to refer to Aboo Bakr asSiddeeq, although a general lesson can be learned from his great example of selflessness.
3. Namun, pada kasus ketiga, yaitu ketika sebab turunnya ayat bersifat khusus tetapi lafaznya bersifat umum, ayat tersebut ditafsirkan secara umum sehingga mencakup semua keadaan yang serupa dengan peristiwa khusus yang melatarbelakangi turunnya ayat itu. Misalnya, al-Musayyib meriwayatkan bahwa ketika Aboo Taalib berada di ambang kematian, Nabi Allah ﷺ datang menjenguknya, sementara Aboo Jahl dan ‘Abdullaah ibn Abee Umayyah berada bersamanya. Nabi ﷺ bersabda, “Wahai Paman, ucapkanlah, ‘Tiada tuhan selain Allah,’ dan aku akan membelamu dengannya di hadapan Allah.” Lalu Aboo Jahl dan ‘Abdullaah berkata, “Wahai Aboo Taalib, apakah engkau akan berpaling dari agama ‘Abdul-Muttalib?” Mereka terus mengatakan hal itu kepadanya hingga akhirnya ia mengatakan bahwa ia mengikuti agama ‘Abdul-Muttalib. Nabi ﷺ bersabda, “Aku akan memohonkan ampunan untukmu selama aku belum dilarang melakukannya.” Kemudian turunlah ayat berikut:
3. However, in the third instance where the reason for revelation is specific and verse is revealed with general implications, the verse should be interpreted in a general way so as to include all circumstances similar to the specific events surrounding the verse’s revelation. For example, al-Musayyib reported that when Aboo Taalib was on his deathbed, the Prophet of Allaah (ﷺ) came to visit him while Aboo Jahl and ‘Abdullaah ibn Abee Umayyah were with him. The Prophet (r) said, “O Uncle, say, ‘There is no god but Allaah,’ and I will defend you with it before Allaah.” Then Aboo Jahl and ‘Abdullaah said, “O Aboo Taalib, will you turn away from the creed of ‘Abdul-Muttalib?” They kept on telling him that until he said that he was following the creed of ‘Abdul-Muttalib. The Prophet (ﷺ) said, “I will seek forgiveness for you as long as I am not forbidden to do so.” Then the following verse was revealed:
"Tidaklah pantas bagi Nabi ﷺ dan orang-orang yang beriman untuk memohonkan ampunan bagi orang-orang musyrik, sekalipun mereka itu kaum kerabat, setelah jelas bagi mereka bahwa mereka adalah penghuni neraka." 56
“It is not fitting for the Prophet (r) and those who believe to seek forgiveness for the pagans, even if they were close relatives, after it has become clear to them that (their relatives) are dwellers of the Fire.” 56
Karena itu, ayat yang melarang memohonkan ampunan berlaku bagi seluruh kaum Muslimin dalam kasus ketika orang tua atau kerabat mereka telah meninggal dalam keadaan kafir, meskipun ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abu Thalib sebelum kematiannya.
Hence, the verse prohibiting prayers seeking forgiveness applies to all Muslims in cases where their parents or relatives have died in a state of disbelief, even though it was revealed in reference to Aboo Taalib before his death.
Prinsip panduan yang harus diikuti ketika menafsirkan atau menerapkan ayat-ayat Al-Qur'an adalah bahwa pelajaran terletak pada makna umum dari kata-katanya, bukan semata-mata pada sebab-sebab khusus ketika ayat itu diturunkan. Namun, pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat tersebut menempatkan makna umum ayat dalam konteks yang tepat dan mencegah penyimpangan. Misalnya, Yoosuf ibn Maahak meriwayatkan bahwa ketika Marwaan menjadi gubernur Al-Hijaaz, Khalifah Mu‘aawiyah menginginkan agar putranya, Yazeed, menjadi khalifah setelahnya, lalu ia menulis surat kepada Marwaan. Marwaan kemudian mengumpulkan penduduk Madinah dan berpidato di hadapan mereka, mengajak mereka untuk mengucapkan baiat kepada Yazeed ibn Mu‘aawiyah sebagai khalifah sepeninggal ayahnya. Ketika ia menambahkan bahwa hal itu merupakan sunnah (jalan) Abu Bakr dan ‘Umar, ‘Abdurrahmaan ibn Abee Bakr menjawab bahwa itu adalah sunnah Heraclius dan Kaisar. Marwaan lalu memerintahkan agar ‘Abdurrahmaan ditangkap, tetapi ‘Abdurrahmaan masuk ke rumah ‘Aa’ishah dan para prajurit tidak mampu menangkapnya.
The guiding principle to be followed when interpreting or applying the verses of the Qur’aan is that the lesson lies in the general meaning of the words and not simply in the special circumstances in which they were revealed. However, knowledge of the events surrounding the revelations puts the general meaning of the verses in proper context and prevents deviation. For example, Yoosuf ibn Maahak reported that when Marwaan was governor of al-Hijaaz, Caliph Mu‘aawiyah desired that his son Yazeed be caliph after him, so he wrote to Marwaan. Marwaan then gathered the people of Madeenah and addressed them, inviting them to take an oath of allegiance to Yazeed ibn Mu‘aawiyah as caliph after his father. When he added that it was the sunnah (way) of Aboo Bakr and ‘Umar, ‘Abdur-Rahmaan ibn Abee Bakr answered that it was the sunnah of Heraclius and Caesar. Marwaan then ordered that he be seized, so ‘AbdurRahmaan entered ‘Aa’ishah’s house and the soldiers were unable to arrest him.
Marwan kemudian berkata, "Sesungguhnya, dialah orang yang tentangnya ayat ini diturunkan,
Marwaan then said, “Surely, he is the one about whom this verse was revealed,
"Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya: “Uff” 57 bagi kalian berdua.” 58
‘And the one who said to his parents: “Uff” 57 to both of you.’ ” 58
Ketika kabar tentang apa yang dia katakan sampai kepada ‘Aa’ishah, dia berkata, “Marwaan telah berdusta.
When the news of what he said reached ‘Aa’ishah, she said, “Marwaan has lied.
Demi Allah, ayat itu bukan tentang dia, dan jika aku mau menyebutkan orang yang diturunkan ayat itu tentangnya, tentu aku bisa melakukannya.59
By Allaah, it was not about him, and if I wished to name the one about whom it was revealed, I could do so.”59
53 Surah al-Baqarah (2):222.
53 Soorah al-Baqarah (2):222.
54 Diriwayatkan oleh Muslim (Sahih Muslim, jilid 1, hlm. 175-6, no. 592), Abu Dawud (Sunan Abu Dawud, jilid 1, hlm. 64, no. 258), at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah.
54 Collected by Muslim (Sahih Muslim, vol. 1, pp. 175-6, no. 592), Aboo Daawood (Sunan Abu Dawud, vol. 1, p. 64, no. 258), at-Tirmithee, and Ibn Maajah.
Surah al-Lail (92):17-21. Pernyataan ‘Urwah dikumpulkan oleh Ibnu Abee Haatim. At-Thabaree menyebutkan dua riwayat penguat, keduanya mursal. Tafseer at-Thabaree, jilid 12, hlm. 260.
55 Soorah al-Layl (92):17-21. ‘Urwah’s statement was collected by Ibn Abee Haatim. At-Tabaree quotes two supporting narrations, both of them mursal. Tafseer at-Tabaree, vol. 12, p. 260.
56 Surah at-Taubah (9):113. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (Sahih Al-Bukhari, jilid
56 Soorah at-Tawbah (9):113. The incident was collected by al-Bukhaaree (Sahih Al-Bukhari, vol.
(HR. Al-Bukhari, Sahih Al-Bukhari, jilid 6, hlm. 158, no. 197) dan Muslim (Sahih Muslim, jilid 1, hlm. 18, no. 36).
6, p. 158, no. 197) and Muslim (Sahih Muslim, vol. 1, p. 18, no. 36).
57 Ungkapan kemarahan atau ketidaksenangan.
57 An expression of anger or displeasure.
58 Surah al-Ahqaf (46):17. Sisa ayat ini berbunyi, "'Apakah kamu menakut-nakuti aku bahwa aku akan dikeluarkan (dari kubur) padahal generasi-generasi sebelumku telah berlalu?' Dan keduanya memohon pertolongan kepada Allah (dan berkata), 'Celakalah kamu! Berimanlah, sesungguhnya janji Allah adalah benar.'"
58 Soorah al-Ahqaaf (46):17. The rest of the verse reads, “ ‘Do you threaten me that I will be brought forth (again) when generations before me have passed away?’ And the two of them cry out to Allaah for help (and say), ‘Woe to you! Believe! Verily the promise of A
59 Kumpulan riwayat yang dihimpun oleh al-Bukhaari (Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 338-9, no.
59 A combination of narrations collected by al-Bukhaaree (Sahih Al-Bukhari, vol. 6, p. 338-9, no.
352) dan an-Nasā'ī.
352) and an-Nasaa’ee.
60 Lihat al-Qur’aan al-Kareem (CD Bahasa Arab) di bawah ma‘loomaat—maktabah al-Qur’aan.
60 See al-Qur’aan al-Kareem (Arabic CD) under ma‘loomaat—maktabah al-Qur’aan.