4.3 Tantangan
4.3 The Challenge
Al-Qur'an tidak hanya unik dalam cara menyajikan materi pembahasannya, tetapi juga unik karena ia sendiri merupakan mukjizat. Yang dimaksud dengan "mukjizat" adalah terjadinya suatu peristiwa luar biasa yang bersifat supranatural dan tidak dapat ditiru oleh manusia. Telah tercatat bahwa Nabi Muhammad ﷺ menantang bangsa Arab untuk menghasilkan karya sastra yang setara dengan Al-Qur'an, namun mereka tidak mampu melakukannya meskipun terkenal dengan kefasihan dan kemampuan sastra mereka. Tantangan untuk menyusun yang serupa dengan Al-Qur'an itu disampaikan kepada bangsa Arab dan seluruh umat manusia dalam tiga tahap:
The Qur’aan is not only unique in the way in which it presents it subject matter, but it is also unique in that it is a miracle itself. By the term “miracle,” we mean the performance of a supernatural or extraordinary event which cannot be duplicated by humans. It has been documented that Prophet Muhammad (ﷺ) challenged the Arabs to produce a literary work of a similar caliber as the Qur’aan, but they were unable to do so in spite of their well-known eloquence and literary powers. The challenge to reproduce the Qur’aan was presented to the Arabs and mankind in three stages:
1. Seluruh Al-Qur'an:
1. The Whole Qur’aan:
Dalam Al-Qur'an, Allah memerintahkan Nabi (ﷺ) untuk menantang seluruh makhluk agar membuat sebuah kitab yang setara dengan Al-Qur'an,
In the Qur’aan, Allaah commanded the Prophet (ﷺ) to challenge all of creation to create a book of the stature of the Qur’aan,
Katakanlah: "Sungguh, jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur'an ini, mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka membantu sebagian yang lain." 44
“Say: ‘If all mankind and the jinn would come together to produce the like of this Qur’aan, they could not produce its like even though they exerted all their strength in aiding one another.’ ” 44
2. Sepuluh Surah:
2. Ten Soorahs:
Selanjutnya, Allah memudahkan tantangan tersebut dengan meminta mereka yang mengingkari asal-usul ilahinya untuk meniru bahkan sepuluh surah dari Al-Qur'an:
Next, Allaah made the challenge ostensibly easier by asking those who denied its divine origin to imitate even ten soorahs of the Qur’aan:
Atau apakah mereka mengatakan bahwa dia telah mengada-adakannya? Katakanlah, "Datangkanlah sepuluh surat semisal dengannya yang dibuat-buat, dan panggillah siapa saja yang dapat kalian panggil selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar." 45
“Or do they say that he has invented it? Say (to them), ‘Bring ten invented soorahs like it, and call (for help) on whomever you can beside Allaah, if you are truthful.’ ” 45
Tantangan terakhir adalah menghasilkan walau hanya satu surah yang setara dengan apa yang ada dalam Al-Qur'an, yang surah terpendeknya, Al-Kautsar, hanya terdiri dari tiga ayat.
This final challenge was to produce even a single soorah to match what is in the Qur’aan, whose shortest soorah, al-Kawthar, consists of only three verses:
"Dan jika kalian ragu terhadap apa yang telah Aku turunkan kepada hamba-Ku, maka datangkanlah satu surah semisalnya, dan panggillah saksi-saksi kalian selain Allah jika kalian orang-orang yang benar." 46
“And if you all are in doubt about what I have revealed to My servant, bring a single soorah like it, and call your witnesses besides Allaah if you are truthful.” 46
Tantangan-tantangan ini bukanlah sekadar kata-kata kosong yang tidak ada seorang pun peduli untuk membantahnya. Seruan Nabi Muhammad ﷺ kepada tauhid, penghapusan penyembahan berhala dalam segala bentuknya, dan persamaan antara budak dan tuan mereka mengancam seluruh kerangka sosial-ekonomi masyarakat Makkah pada umumnya, dan kedudukan suku Quraisy yang berkuasa, dari mana Nabi ﷺ berasal, pada khususnya. Makkah, pusat perdagangan Arab sekaligus pusat spiritualnya, sangat ingin menghentikan penyebaran Islam. Namun, yang harus dilakukan para penentang Nabi ﷺ untuk menghancurkan gerakan ini hanyalah membuat satu surah saja seperti salah satu surah yang dibacakan Nabi ﷺ dan para pengikutnya kepada orang-orang. Sejumlah orator dan penyair Quraisy mencoba meniru Al-Qur'an, tetapi mereka gagal. Mereka kemudian menempuh jalan dengan menawarkan kepadanya harta yang sangat banyak, kedudukan sebagai raja atas mereka, dan wanita-wanita mereka yang paling mulia dan paling cantik, sebagai imbalan atas janjinya untuk berhenti mengajak orang kepada Islam. Beliau menjawab mereka dengan membacakan tiga belas ayat pertama Surah Fussilat, hingga mereka meminta beliau berhenti.47 Quraisy juga menempuh cara menyiksa budak-budak dan kerabat mereka yang telah memeluk Islam, dalam usaha sia-sia untuk membuat mereka kembali kepada kemusyrikan. Kemudian mereka mengorganisir boikot ekonomi terhadap Nabi ﷺ, para pengikutnya, dan anggota kabilah beliau, Bani Hasyim, dalam upaya membuat mereka kelaparan hingga tunduk. Namun, bahkan rencana ini pun akhirnya gagal. Terakhir, mereka merencanakan untuk membunuh beliau di rumahnya dengan mengirimkan pemuda-pemuda bersenjata dari setiap kabilah Quraisy, agar tanggung jawab atas pembunuhannya ditanggung bersama oleh semua kabilah, sehingga pembalasan dendam oleh kabilah Nabi ﷺ menjadi mustahil.
These challenges were not just empty words with no one caring to prove them wrong. Prophet Muhammad’s (r) call to monotheism, to the abolition of idolatry in all its forms, and to the equality of slaves and their masters threatened the whole socio-economic framework of Makkan society in general, and the position of the ruling Qurayshee tribe from which the Prophet (r) came in particular. Makkah, the trading center of Arabia, as well as its spiritual center, desperately wanted to stop the spread of Islaam. Yet all that the Prophet’s opponents had to do to crush the movement was to make up a single soorah like any one of those which the Prophet (r) and his followers were reciting to the people. A number of Qurayshee orators and poets tried to imitate the Qur’aan, but they failed. They then resorted to offering him vast amounts of wealth, the position of king over them, and the most noble and beautiful of their women in exchange for his promise to stop inviting people to Islaam. He responded to them by reciting the first thirteen verses of Soorah Fussilat, until they asked him to stop.47 The Quraysh also resorted to torturing their slaves and relatives who had embraced Islaam in a vain attempt to cause them to revert to paganism. Later they organized an economic boycott against the Prophet (r), his followers and the members of his clan, Banoo Haashim, in an attempt to starve them into submission. But even this plan eventually failed. Finally, they plotted to kill him in his home by sending armed young men from each of the clans of Quraysh in order that the guilt of his murder be shared by all the clans, making revenge by the Prophet’s clan impossible
Namun, Allah memungkinkan Nabi ﷺ dan para pengikutnya untuk meninggalkan Makkah dan bergabung dengan sekelompok orang baru yang masuk Islam di antara suku-suku di sebuah kota di utara yang bernama Yathrib. Islam menyebar dengan cepat ke seluruh klan di Yathrib, dan dalam waktu setahun kaum Muslim menjadi mayoritas di kota tersebut. Nabi Muhammad ﷺ kemudian diangkat menjadi pemimpin, dan nama kota itu diubah menjadi Madinah. Selama delapan tahun berikutnya, klan-klan di Makkah dan wilayah-wilayah sekitarnya melancarkan serangkaian kampanye pertempuran yang gagal melawan negara Muslim yang baru tumbuh di Madinah, yang berakhir dengan invasi kaum Muslim ke Makkah itu sendiri.
However, Allaah enabled the Prophet (r) and his followers to flee Makkah and join a new band of converts who had arisen among the tribes of a city to the north called Yathrib. Islaam spread rapidly through the clans of Yathrib, and within a year Muslims became the city’s majority. Prophet Muhammad (r) was then made the ruler, and the name of the city was changed to Madeenah. Over the next eight years, the clans of Makkah and its neighboring lands mounted a series of unsuccessful battle campaigns against the emerging Muslim state in Madeenah, which ended with the Muslim invasion of Makkah itself.
Semua pertumpahan darah ini sebenarnya bisa dihindari seandainya orang-orang Quraisy dan sekutu-sekutu mereka mampu menghasilkan sekadar tiga baris syair atau prosa indah yang menyerupai surah terpendek dari Al-Qur'an. Oleh karena itu, tidak ada keraguan tentang keunikan gaya sastra Al-Qur'an yang tak tertandingi, tentang mukjizat rima-nya, dan keajaiban irama-nya.
All of this bloodshed could have been avoided if only the Quraysh and their allies had been able to produce a mere three lines of poetry or flowing prose similar to the shortest soorah of the Qur’aan. Hence, there can be no doubt about the inimitability of the Qur’aan’s literary style, about the miracle of its rhyme and the marvel of its rhythm.
Telah disarankan bahwa kemukjizatan Al-Qur'an tidak selalu bersifat unik, karena penyair-penyair Inggris besar seperti Shakespeare, Chaucer, atau penyair besar dalam bahasa apa pun, cenderung memiliki gaya yang sangat khas yang membedakan mereka dari para sezaman mereka. Namun, jika misalnya seorang penyair terkemuka masa kini mempelajari tulisan-tulisan Shakespeare secara mendalam lalu menulis sebuah soneta dengan gaya Shakespeare di atas kertas dan tinta yang tampak tua, kemudian mengklaim telah menemukan puisi Shakespeare yang hilang, dunia sastra kemungkinan besar akan menerima klaim tersebut, bahkan setelah penelitian yang cermat. Dengan demikian, bahkan penyair terhebat pun dapat ditiru, betapa pun uniknya gaya mereka, sebagaimana para pelukis terkenal juga telah ditiru.48
It has been suggested that the inimitability of the Qur’aan is not necessarily unique, for great English poets like Shakespeare, Chaucer, or great poets in any language tend to have distinctly unique styles which set them apart from their contemporaries. However, if, for example, some leading poet of today were to make an in-depth study of Shakespeare’s writings and write a sonnet in Shakespeare’s style in old ink and on old paper, then claim that he had discovered a lost poem of Shakespeare’s, the literary world would probably accept this claim, even after careful study. Thus, even the greatest of poets could be imitated, no matter how unique his style was, just as the famous painters have been imitated.48
Al-Qur'an, bagaimanapun, berada jauh di atas tingkat ini, karena upaya-upaya untuk memalsukan surah-surah telah dilakukan sepanjang zaman, namun tidak ada yang mampu bertahan setelah diteliti secara cermat. Dan, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dorongan untuk menandingi Al-Qur'an lebih kuat pada masa turunnya wahyu, ketika kemampuan sastra berada pada puncaknya, dibandingkan masa-masa lain, namun tidak ada satu pun upaya yang berhasil.
The Qur’aan, however, is way above this level, as attempts to forge chapters have been made throughout the ages, yet none has withstood close scrutiny. And, as was mentioned before, the incentive to imitate the Qur’aan was more intense during the time of its revelation when literary skills were at their peak than at any other time, yet there was no successful attempt.
Surah al-Isra’ (17):88
44 Soorah al-Israa’ (17):88.
45 Surah Hud (11):13
45 Soorah Hood (11):13.
Surah al-Baqarah (2):23
46 Soorah al-Baqarah (2):23
Diriwayatkan oleh al-Haakim, al-Bayhaqee, Aboo Ya‘laa dan Ibn Hishaam, dan dinyatakan hasan oleh Ibraaheem al-‘Alee dalam Saheeh as-Seerah an-Nabaweeyah, hlm. 64.
47 Collected by al-Haakim, al-Bayhaqee, Aboo Ya‘laa and Ibn Hishaam, and declared hasan by Ibraaheem al-‘Alee in Saheeh as-Seerah an-Nabaweeyah, p.64.
48 Bahkan, sebagian sarjana Inggris menganggap banyak karya yang dinisbatkan kepada Shakespeare sebenarnya ditulis oleh sezamannya, Christopher Marlowe.
48 In fact, some English scholars consider much of what has been attributed to Shakespeare to have been written by his contemporary, Christopher Marlowe.