4.1 Tema Utama
4.1 The Main Theme
Al-Qur'an tidak hanya unik di antara kitab-kitab masa kini dalam asal-usul dan kemurniannya, tetapi juga unik dalam cara ia menyajikan materinya. Ia bukan kitab dalam pengertian yang biasa, yang di dalamnya terdapat pendahuluan, penjelasan tentang pokok bahasan, lalu kesimpulan. Ia juga tidak terbatas hanya pada penyajian peristiwa sejarah, persoalan filsafat, fakta ilmiah, atau hukum-hukum sosial, meskipun semua itu dapat ditemukan terjalin di dalamnya tanpa adanya kaitan dan hubungan yang tampak.
Not only is the Qur’aan unique among books today in its origin and purity, but it is also unique in the way it presents its subject matter. It is not a book in the usual sense of the word wherein there is an introduction, explanation of the subject, followed by a conclusion. Neither is it restricted to only a presentation of historical events, problems of philosophy, facts of science or social laws, though all may be found woven together in it without any apparent connection and links.
Topik-topik diperkenalkan tanpa latar belakang informasi, peristiwa-peristiwa sejarah tidak disajikan secara kronologis, topik-topik baru kadang muncul di tengah topik lain tanpa alasan yang jelas, dan pembicara serta orang yang diajak bicara berganti arah tanpa peringatan sedikit pun.
Subjects are introduced without background information, historical events are not presented in chronological order, new topics sometimes crop up in the middle of another for no apparent reason, and the speaker and those spoken to change direction without the slightest forewarning.
Pembaca yang tidak menyadari keunikan Al-Qur'an sering kali bingung ketika mendapati bahwa Al-Qur'an bertentangan dengan pemahamannya tentang sebuah kitab pada umumnya, dan kitab "keagamaan" pada khususnya. Karena itu, Al-Qur'an mungkin tampak tidak teratur dan serampangan baginya. Namun, bagi mereka yang memahami pokok bahasan, tujuan, dan tema sentralnya, Al-Qur'an justru sebaliknya. Pokok bahasan Al-Qur'an pada hakikatnya adalah manusia: manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan Penciptanya, Allah; manusia dalam hubungannya dengan dirinya sendiri; dan manusia dalam hubungannya dengan seluruh ciptaan lainnya. Tujuan dan sasaran wahyu adalah mengajak manusia kepada cara yang benar dalam berhubungan dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri, dan dengan ciptaan. Oleh karena itu, tema utama yang mengalir di seluruh Al-Qur'an adalah bahwa hanya Allah yang berhak disembah, dan karenanya manusia harus tunduk kepada hukum-hukum Allah dalam kehidupan pribadinya serta dalam hubungannya dengan seluruh ciptaan. Atau, dengan kata lain, tema utamanya adalah seruan untuk beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh sebagaimana ditetapkan oleh Allah.
The reader who is unaware of the Qur’aan’s uniqueness is often puzzled when he finds it contrary to his understanding of a book in general and a “religious” book in particular. Hence, the Qur’aan may seem disorganized and haphazard to him. However, to those who understand its subject matter, aim and its central theme, the Qur’aan is exactly the opposite. The subject matter of the Qur’aan is essentially man: man in relation to his Lord and Creator, Allaah; man in relation to himself; and man in relation to the rest of creation. The aim and object of the revelations is to invite man to the right way of dealing with his Lord, with himself, and with creation. Hence, the main theme that runs throughout the Qur’aan is that God alone deserves worship and, thus, man should submit to God’s laws in his personal life and in his relationships with creation in general. Or, in other words, the main theme is a call to the belief in Allaah and the doing of righteous deeds as defined by Allaah.
Jika pembaca mengingat fakta-fakta dasar ini, ia akan mendapati bahwa, dari awal hingga akhir, topik-topik Al-Qur'an semuanya terkait erat dengan tema utamanya, dan keseluruhan kitab ini merupakan argumentasi yang tersusun baik dan padu bagi temanya. Al-Qur'an senantiasa mengarahkan perhatian pada satu tujuan yang sama, baik ketika menguraikan penciptaan manusia dan alam semesta maupun peristiwa-peristiwa dari sejarah manusia. Karena tujuan Al-Qur'an adalah membimbing manusia, ia hanya menyatakan atau membahas sesuatu sejauh relevan dengan tujuan tersebut, dan meninggalkan perincian yang tidak perlu dan tidak berkaitan. Al-Qur'an juga mengulang-ulang tema utamanya dalam penyajian setiap topik baru.
If the reader keeps these basic facts in mind, he will find that, from beginning to end, the Qur’aan’s topics are all closely connected to its main theme and that the whole book is a well-reasoned and cohesive argument for its theme. The Qur’aan keeps the same object in view, whether it is describing the creation of man and the universe or events from human history. Since the aim of the Qur’aan is to guide man, it states or discusses things only to the extent relevant to this aim and leaves out unnecessary and irrelevant details. It also repeats its main theme over and over again in the presentation of each new topic.
Dalam kata pengantar salah satu terjemahan orientalis terbaik atas Al-Qur'an, sang penerjemah, Arthur John Arberry, menulis: "Ada sebuah perbendaharaan tema-tema yang sudah dikenal yang mengalir di seluruh Al-Qur'an; setiap surah menguraikan atau mengisyaratkan satu atau lebih—sering kali banyak—dari tema-tema ini. Dengan menggunakan bahasa musik, setiap surah adalah sebuah rapsodi yang tersusun dari leitmotiv utuh atau fragmentaris; analogi ini diperkuat oleh alur irama wacana yang bervariasi secara halus."39
In the preface of one of the best orientalist translations of the Qur’aan, the translator, Arthur John Arberry, writes: “There is a repertory of familiar themes running through the whole Koran; each Sura36 elaborates or adumbrates37 one or more—often many—of these. Using the language of music, each Sura is a rhapsody composed of whole or fragmentary leitmotivs; 38 the analogy is reinforced by the subtly varied rhythmical flow of the discourse.”39
Empat prinsip berikut hendaknya diingat oleh pembaca baru Al-Qur'an jika ia ingin menghindari kebingungan dan disorientasi yang tidak perlu:
The following four principles should be kept in mind by the new reader of the Qur’aan if he or she is to avoid unnecessary confusion and disorientation:
1. Buku ini adalah satu-satunya buku sejenisnya di dunia.
1. The book is the only one of its type in the world.
2. Gaya bahasanya cukup berbeda dari semua buku lainnya.
2. Its literary style is quite different from all other books.
3. Tema-nya unik.
3. Its theme is unique.
4. Prasangka atau anggapan yang sudah terbentuk sebelumnya tentang sebuah kitab hanya akan menjadi penghalang dalam memahami Al-Qur'an.40
4.Preconceived notions of a book are only a hindrance to the understanding of the Qur’aan.40
Surah ke-36
36 Qur’aanic chapter.
Tampakkan secara samar atau dalam garis besar.
37 Indicate faintly or in outline.
38 Fitur yang Berulang
38 Recurring features.
39 The Koran Interpreted, hlm. 28.
39 The Koran Interpreted, p. 28.
40 Keempat pernyataan ini dikutip dari Abu’l A‘la Maududi dalam The Meaning of the Qur’aan, jilid
40 These four statements are quoted from Abu’l A‘la Maududi in The Meaning of the Qur’aan, vol.
1, hlm. 7.
1, p. 7.