Tafsir Dua Kitab
2 Books Of Tafseer
Buku-buku tafsir telah dibagi menjadi dua kategori umum berdasarkan penekanan para penulisnya dalam penjelasan mereka. Tafsir dari mereka yang membatasi penjelasannya pada penyampaian apa yang dijelaskan dalam Al-Qur'an atau disebutkan oleh Nabi ﷺ, para sahabatnya, dan murid-murid mereka disebut tafsir bir-riwayah atau tafsir bil-ma'thur (tafsir berdasarkan riwayat). Para penulis tafsir semacam itu juga menghindari penafsiran tanpa dasar dan penjelasan yang tidak perlu, serta selalu menerima riwayat yang sahih. Hal ini bukan berarti bahwa tafsir semacam itu sepenuhnya bebas dari pertimbangan dan pendapat pribadi, sebab setiap tafsir, mau tidak mau, pasti mencerminkan pendapat orang yang menyusunnya. Namun dalam hal ini, pendapat pribadi diminimalkan.
The books of tafseer have been divided into two general categories according to the emphasis of their authors in their explanations. The tafseers of those who restricted their expla-nations to transmitting what was explained in the Qur’aan or stated by the Prophet (r), his companions, and their students were referred to as tafseer bir-riwaayah or tafseer bil-ma’thoor (tafseer according to transmission). The authors of such tafseers also avoided unfounded interpretations and unnecessary expla-nations and always accepted authentic narrations. This is not to say that such tafseers are totally free of personal judgment and opinion, for any tafseer, of necessity, must reflect the opinion of the individual who compiles it. But in this case, personal opinion was kept to a minimum.
Sebaliknya, tafsir-tafsir yang para penulisnya sering bersandar pada pendapat pribadi untuk penjelasan, penafsiran, dan istinbath disebut tafsir bil-diraayah atau tafsir bir-ra'y (tafsir menurut pendapat). Pada sebagian tafsir jenis ini, penjelasan yang berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ, para sahabat, dan para tabi'in disebutkan sebelum penafsiran pribadi, dan istinbath atau pendapatnya sejalan dengan penjelasan riwayat, kaidah-kaidah nahwu, dan makna-makna leksikal. Sementara pada yang lain, terdapat pengabaian sebagian atau bahkan seluruhnya terhadap penjelasan riwayat, kaidah-kaidah nahwu, dan makna-makna kata. Tafsir jenis pertama dapat diterima, sedangkan yang didasarkan sebagian besar atau sepenuhnya pada pendapat tanpa dasar dianggap sesat atau mendekati kesesatan.
On the other hand, those tafseers in which the authors often relied on their personal opinions for explanations, inter-pretations and deductions were called tafseer bid-diraayah or tafseer bir-ra’y (tafseer according to opinion). In some of these types of tafseers, narrated explanations from the Prophet (r), the sahaabah,and their students (taabi‘oon) are mentioned prior to personal interpretation, and the deductions or opinions are in agreement with narrated explanations, grammatical rules, and lexical meanings, while in others there is a partial or even total disregard for narrated explanations, grammatical rules, and word meanings. Tafseers of the first type are acceptable, while those based mostly or solely on unfounded opinion are considered heretical or bordering on heresy.
Allah dan Nabi-Nya (r) telah secara tegas melarang penafsiran Al-Qur'an yang tidak berdasar. Misalnya, hal itu dilarang dalam firman-Nya,
Allaah and His Prophet (r) have expressly forbidden unfounded explanations of the Qur’aan. For example, it was forbidden in the verse,
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui." 111
“And do not pursue that of which you have no knowledge.” 111
Nabi ﷺ juga mencela pengungkapan opini tanpa ilmu dalam urusan agama, dengan bersabda,
The Prophet (r) also condemned expression of uninformed opinion in religious matters, saying,
“Allah tidak akan mencabut ilmu setelah Dia memberikannya kepadamu dengan mencabutnya (dari kalian). Akan tetapi, Dia akan mencabutnya dari (generasi-generasi berikutnya) dengan mengambil (nyawa) para ulama bersama ilmu mereka, hingga yang tersisa hanyalah orang-orang bodoh. Mereka akan ditanya tentang fatwa-fatwa agama, lalu mereka akan mengeluarkan fatwa berdasarkan pendapat mereka sendiri, sehingga menyesatkan orang lain dan mereka pun tersesat.”112
“Allaah won’t remove knowledge after giving it to you by removing it (from you). Rather he will remove it from (later generations) by taking (the souls of) the scholars along with their knowledge, until only ignorant people remain. They will be asked for religious verdicts, so they will issue verdicts based on their opinions, leading others astray and going astray themselves.”112
Oleh karena itu, secara umum dapat dikatakan bahwa riwayat dari Nabi ﷺ, para sahabat, dan para tabi‘in lebih utama daripada tafsir yang didasarkan pada pendapat. Namun jika riwayat-riwayat tersebut tidak sahih, maka tafsir semacam itu justru bisa lebih buruk daripada sebagian tafsir yang didasarkan pada pendapat.
Therefore, it could be generally said that narrations from the Prophet (r), the sahaabah, and the taabi‘oon are superior to those based on opinion. But if the narrations are not authentic, such tafseers may then be actually worse than some of those based on opinion.
Berikut ini adalah uraian singkat tentang beberapa tafsir yang paling terkenal beserta para penulisnya.
A brief description of some of the most famous tafseers and their authors follows.
Surah al-Isra’ (17):36.
111 Soorah al-Israa’ (17):36.
112 Sahih Al-Bukhari, jilid 9, hlm. 305-6, no. 410.
112 Sahih Al-Bukhari, vol. 9, pp. 305-6, no. 410.