6.3 Makna Wahyu yang Diturunkan Secara Bertahap
6.3 The Significance Of Segmented Revelation
Ada sejumlah alasan mengapa wahyu kedua diturunkan secara bertahap, tidak sekaligus seperti yang terjadi pada kitab-kitab wahyu sebelumnya.
There are a number of reasons why the second revelation took place in segments rather than all at once, as happened with the former books of revelation.
Berikut ini hanyalah ringkasan dari alasan-alasan yang paling jelas:
The following are only a summary of the most obvious reasons:
1. Menenangkan Hati Nabi ﷺ
1. Steadying the Prophet’s Heart
Nabi (ﷺ) menghadapi banyak ujian dari musuh-musuhnya di kalangan kaum musyrikin dan Yahudi. Mereka menuduhnya pendusta dan penipu, serta berusaha dengan segala cara untuk mematahkan semangatnya. Setiap kali tekanan dari para penentangnya mencapai puncaknya dan hampir tidak tertahankan, Allah menurunkan ayat-ayat tertentu untuk menghibur Nabi (ﷺ). Sebagai contoh:
The Prophet (ﷺ) was faced with many trials at the hands of his enemies among the idolaters and the Jews. They called him a liar and a fake and tried every possible way to break his spirit. Whenever the pressure of his opponents reached its peak and became virtually unbearable, Allaah would reveal certain verses to comfort the Prophet (ﷺ). For example:
Dan orang-orang yang kafir berkata, "Mengapa Al-Qur'an tidak diturunkan kepadanya sekaligus?" Demikianlah, agar Kami meneguhkan hatimu dengannya; dan Kami telah menyusunnya secara tertib dan teratur. 47
“And those who disbelieve say, ‘Why is the Qur’aan not revealed to him all at once?’ But it is like that in order that we may steady your heart with it; and We have arranged its component parts in an orderly, consistent manner.” 47
Allah juga akan memberinya keteguhan hati dengan mengingatkannya pada ujian-ujian para nabi terdahulu dan bagaimana mereka akhirnya diberi kemenangan. Misalnya,
Allaah would also give him confidence by reminding him of the trials of the former prophets and how they were eventually given success. For example,
"Sesungguhnya para nabi sebelum kalian pun didustakan, tetapi mereka bersabar meskipun dituduh berdusta dan meskipun disakiti, hingga datang pertolongan Kami kepada mereka." 48
“Verily, the prophets before you were called liars, but they were patient in spite of being accused of lies and in spite of the harm which befell them until My aid came to them.” 48
Di waktu lain Allah benar-benar menjanjikan pertolongan dan kemenangan kepadanya:
At other times Allaah would actually promise him help and victory:
"Dan Allah akan menolongmu dengan pertolongan yang besar." 49
“And Allaah will help you with a great victory.” 49
Atau Allah akan memberitahukan kepadanya kegagalan musuh-musuhnya:
Or Allaah would inform him of the failure of his enemies:
Katakanlah kepada orang-orang yang kafir, "Kalian pasti akan dikalahkan dan dikumpulkan ke dalam Neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal." 50
“Tell those who disbelieve, ‘You will be defeated and gathered in Hell, a terrible place of rest.’ ” 50
Demikian pula, sebagian ayat Al-Qur'an diturunkan pada berbagai tahap dalam perjalanan dakwahnya, secara khusus untuk menghibur Nabi ﷺ serta memberinya keteguhan dan keyakinan agar ia dapat menunaikan kewajibannya dalam menyebarkan agama Islam.
Thus, certain segments of the Qur’aan were revealed at various point in his mission specifically to comfort the Prophet (ﷺ) and give him steadfastness and confidence in order to fulfill his obligation of propagating Islaam.
2. Kelembutan terhadap Nabi (ﷺ)
2. Gentleness With the Prophet (ﷺ)
Turunnya wahyu merupakan beban yang sangat berat, yang biasanya membuat Nabi ﷺ lelah dan lemas. 'Aisyah melaporkan bahwa suatu hari yang sangat dingin, ia melihat beliau ketika wahyu datang dan kemudian pergi meninggalkannya. Dan meskipun cuaca dingin, keningnya bercucuran keringat.51 Bahkan Allah sendiri menyebut Al-Qur'an sebagai sesuatu yang berat dan membebani:
The descent of revelation was a great burden which usually left the Prophet (ﷺ) drained and weak. ‘Aa’ishah reported that once, on an extremely cold day, she saw him when revelation came and left him. And, in spite of the cold weather, his forehead was dripping with sweat.51 Even Allaah Himself referred to the Qur’aan as being weighty and burdensome:
"Sesungguhnya Aku akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat." 52
“Verily, I will cast on you a heavy set of words.” 52
Dan, untuk menegaskan keagungan, kekuatan, dan bobot firman Allah, Allah membuat perumpamaan berikut:
And, in order to emphasize the greatness, power and weight of the word of God, Allaah set forth the following metaphor:
"Seandainya Kami menurunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, niscaya engkau akan melihatnya tunduk dan hancur berkeping-keping karena takut kepada Allah." 53
“If I were to have revealed this Qur’aan to a mountain, you would have seen it humbly crumble into pieces out of fear of Allaah.” 53
Demikianlah, wahyu firman terakhir Allah sekaligus akan terlalu berat bagi Nabi (ﷺ) untuk dipikul. Wahyu semacam itu akan menempatkan beliau di bawah tekanan yang sangat ekstrem. Oleh karena itu, wahyu tersebut dipecah menjadi bagian-bagian yang dapat dipikul dan diturunkan secara bertahap. Dengan cara ini, Nabi (ﷺ) hanya akan terbebani dalam waktu-waktu yang singkat, dan misi beliau tidak akan terhambat oleh masa pemulihan yang panjang. Dengan demikian, metode wahyu yang terbagi-bagi mencerminkan cara lembut Allah dalam memperlakukan utusan terakhir-Nya, mengingat keagungan dan kemuliaan risalah terakhir.
Thus, the revelation of the final word of Allaah in one stroke would have been too much for the Prophet (ﷺ) to bear. Such a revelation would have placed him under the most extreme pressure. It was, therefore, broken down into bearable segments and revealed gradually. In this way the Prophet (ﷺ) would only be burdened for short periods of time and his mission would not be hampered by long periods of recovery. Thus, the segmented method of revelation represents the gentle manner in which Allaah dealt with His last messenger due to the might and glory of the final message.
3. Gradasi dalam Penetapan Hukum
3. Gradation in Legislation
Metode yang digunakan Al-Qur'an dalam menyampaikan prinsip-prinsip Islam adalah metode bertahap. Tidak semua prinsip diwajibkan di awal atau sekaligus pada satu tahap. Surah-surah awal Al-Qur'an bertujuan mengatasi masalah utama yang menghadang ibadah kepada Allah dan keesaan-Nya: syirik. 54 Keyakinan akan keagungan dan keesaan Allah harus dibangun, dan tuhan-tuhan palsu dari makhluk harus disingkirkan. Maka, surah-surah awal berpusat pada tauhid55 dan rukun iman lainnya yang utama, yaitu keimanan kepada Hari Kebangkitan dan Hari Penghisaban.56 Baru setelah dua belas tahun membangun keimanan, shalat diwajibkan, yaitu pada saat Isra' Mi'raj Nabi ﷺ ke langit.57 Satu tahun sebelum hijrah, ayat-ayat Al-Qur'an mulai menekankan shalat sebagai kewajiban bagi orang-orang beriman. Baru dua tahun setelah hijrah, ayat-ayat Al-Qur'an beralih kepada puasa dan zakat, serta mewajibkannya bagi kaum Muslimin.58 Akhirnya, pada tahun keenam setelah hijrah, ayat-ayat Al-Qur'an menurunkan kewajiban haji bagi siapa saja yang mampu melaksanakannya.59
The method by which the Qur’aan was used to present the principles of Islaam was a gradual method. All of the principles were not enjoined in the beginning or all at once during any stage. The early soorahs of the Qur’aan were aimed at treating the main problem which confronted the worship of Allaah and His unity: shirk. 54 Belief in Allaah’s supremacy and unity had to be built and the false gods of creation had to be removed. Thus, the early soorahs concentrated on tawheed55 and the other major pillar of eemaan, 56 belief in the Resurrection and Judgment. It was not until after twelve years of building eemaan that salaah was made compulsory, during the Prophet’s Ascent (mi‘raaj) to the heavens.57 One year before the Hijrah, the Qur’aanic verses began to stress salaah as a requirement for the believers. It was not until two years after the Hijrah that the Qur’aanic verses turned to sawm and zakaah and enjoined them on Muslims.58 Finally, in the sixth year after the Hijrah, the verses of the Qur’aan revealed hajj as an obligation for whoever is able to perform it.59
'Aisyah menyebutkan bahwa hal pertama yang diturunkan dari Al-Qur'an berkaitan dengan Surga dan Neraka, dan baru setelah beberapa waktu berlalu, persoalan tentang perbuatan halal dan haram dibahas. Ia berkata, "Seandainya yang pertama kali diturunkan adalah, 'Jangan minum khamar,' atau, 'Jangan berzina,' niscaya mereka akan berkata, 'Kami tidak akan pernah meninggalkannya.'"60
‘Aa’ishah mentioned that the first thing to be revealed of the Qur’aan dealt with Heaven and Hell and that it was only after some time that issues of legal and illegal acts were dealt with. She said, “If the first thing to be revealed had been, ‘Don’t drink liquor,’ or ‘Don’t commit adultery and fornication,’ they would have said, ‘We will never give [it] up.’ ”60
Jika Al-Qur'an diturunkan sekaligus, tentu tidak mungkin hukum-hukumnya ditetapkan secara bertahap. Metode ini sangat penting bagi generasi pertama kaum Muslimin yang kelak akan menegakkan Islam di muka bumi.
If the Qur’aan had been revealed all at once, it would not have been possible to establish the laws in a gradual fashion. This method was particularly important for the first generation of Muslims who would later establish Islaam in the earth.
Hal ini perlu bagi mereka untuk memiliki pemahaman yang jelas tentang prinsip-prinsip Islam, karena generasi Muslim berikutnya akan bergantung pada penafsiran dan pengamalan Islam yang mereka wariskan.
It was necessary for them to have a clear understanding of the principles of Islaam because the later generations of Muslims would depend on their interpretation and practice of Islaam.
4. Memfasilitasi Pelestarian Al-Qur'an
4. Facilitating the Preservation of the Qur’aan
Karena mayoritas pengikut Nabi tidak dapat membaca dan menulis, cara utama untuk menjaga Al-Qur'an adalah dengan menghafalnya. Maka, seandainya seluruh Al-Qur'an diturunkan sekaligus, mereka tidak akan mampu menghafal semuanya karena panjangnya.
Since the majority of the Prophet’s followers were unable to read or write, the main method of preserving the Qur’aan became that of memorization. So, if the whole Qur’aan had been revealed at once, they would have been unable to memorize all of it due to its length.
Bahkan mereka yang mampu menulis pun tidak akan dapat mencatat semuanya, karena langkanya bahan-bahan tulis pada masa itu. Dengan demikian, turunnya Al-Qur'an secara bertahap membuat para sahabat lebih mudah menghafal seluruh Al-Qur'an dan mengajarkannya satu sama lain. ‘Umar ibn al-Khattaab diriwayatkan pernah berkata, "Pelajarilah Al-Qur'an lima ayat demi lima ayat, karena sesungguhnya Jibril turun membawa Al-Qur'an kepada Nabi ﷺ lima ayat demi lima ayat." 61 Hal ini juga memudahkan para penulis wahyu Nabi ﷺ untuk mencatat seluruh Al-Qur'an selama masa hidup beliau.
Even the few who were able to write would have been unable to record all of it, due to the scarcity of writing materials at the time. Thus, the revelation of the Qur’aan in sections made it easier for the companions to memorize the whole Qur’aan and teach it to each other. ‘Umar ibn al-Khattaab was reported to have said, “Learn the Qur’aan five verses at a time, for verily, Jibreel used to descend with the Qur’aan for the Prophet (r) five at a time.” 61 This also made it easier for the scribes of the Prophet (r) to record all of the Qur’aan during his lifetime.
Pelestarian Al-Qur'an pada masa awal ini sangat penting untuk menjaga kemurnian ajaran Islam, karena perubahan pada kitab-kitab wahyu sebelumnya justru yang menyebabkan para pengikutnya tersesat. Penurunan Al-Qur'an secara bertahap juga memberi mereka kesempatan yang lebih besar untuk merenungkan makna ayat-ayatnya. Hal ini pada gilirannya membuat mereka bertanya kepada Nabi ﷺ untuk memperjelas beberapa hal atau memastikan penafsiran tertentu. Dengan demikian, generasi ini mampu memperoleh pemahaman yang benar-benar mendalam terhadap Al-Qur'an. Hal ini sangat penting, karena penerapan praktis mereka terhadap prinsip-prinsip Al-Qur'an menjadi panduan bagi generasi Muslim berikutnya dan terus menjadi panduan hingga hari ini. Pemahaman seperti itu tidak akan mungkin dicapai seandainya Al-Qur'an diturunkan sekaligus.
This early preservation of Qur’aan was critical to maintaining the purity of the teachings of Islaam, as it was the alterations in earlier books of revelation which led their followers astray. The gradual revelation of the Qur’aan also gave them a greater opportunity to contemplate the meanings of the verses. This, in turn, caused them to question the Prophet (r) in order to clarify certain points or verify certain interpretations. Thus, this generation was able to gain a truly deep understanding of the Qur’aan. This was of great importance, because their practical implementation of the principles of the Qur’aan became a guide to later generations of Muslims and continues to be one to this day. Such an understanding would not have been possible had the Qur’aan been revealed all at once.
5. Menghadapi Masalah Ketika Masalah Itu Muncul
5. Dealing With Problems as They Arose
Seringkali ayat-ayat Al-Qur'an diturunkan untuk membahas secara khusus permasalahan yang dihadapi Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Terkadang orang-orang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hal-hal yang beliau tidak ketahui, lalu Allah menurunkan jawabannya. Misalnya, diriwayatkan bahwa kisah tentang Dzulqarnain diturunkan karena orang-orang Yahudi bertanya kepada Nabi ﷺ tentang dirinya, sebagai ujian atas kenabian beliau. Allah berfirman:
Often the verses of the Qur’aan would be revealed to deal specifically with problems which faced the Prophet (ﷺ) and his companions. Sometimes people would ask the Prophet (ﷺ) questions about which he had no knowledge, and Allaah would reveal the answer. For example, it was reported that the story about Thul-Qarnayn was revealed because the Jews asked the Prophet (ﷺ) about him, as a test of his prophethood. Allaah revealed:
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang Dzulqarnain. Katakanlah, 'Aku akan membacakan kepadamu suatu kisah tentangnya.'" 62
“And they ask you about Thul-Qarnayn. Tell them, ‘I will read to you a report.’ ” 62
Di waktu lain, ayat-ayat diturunkan untuk mengoreksi kesalahan yang dilakukan oleh Nabi ﷺ sendiri. Contohnya terdapat dalam Surah at-Taubah, di mana Allah berfirman kepada Nabi ﷺ,
At other times, verses would be revealed to correct an error made by the Prophet (ﷺ) himself. An example of this is in Soorah at-Tawbah, in which Allaah told the Prophet (ﷺ),
"Semoga Allah mengampunimu. 63 Mengapa engkau memberi izin kepada mereka untuk tinggal di rumah sebelum jelas bagimu siapa yang berkata benar dan engkau mengetahui siapa para pendusta?" 64
“May Allaah pardon you. 63 Why did you grant them permission to stay at home before it became obvious to you who was speaking the truth and you came to know who were the liars?” 64
Mujahid berkata bahwa ayat ini turun tentang sebagian orang yang memberi nasihat kepada orang lain, "Mintalah kepada Rasulullah ﷺ agar membebaskan kalian (dari ikut serta dalam ekspedisi ke Tabuk). Jika beliau mengizinkan, tinggallah di rumah, dan jika beliau tidak mengizinkan, tinggallah di rumah (juga)." Ibnu Katsir berkata, "Yang Mahatinggi berfirman, 'Engkau tidak seharusnya memberi izin kepada siapa pun dari mereka untuk tetap tinggal, agar engkau dapat mengetahui siapa yang benar dalam penampakan ketaatannya kepadamu dan siapa yang berdusta. Sebab, mereka sudah teguh dalam niat untuk tetap tinggal.'"65
Mujaahid said the verse was revealed about some people who advised others, “Ask the Messenger of Allaah (ﷺ) to excuse you (from participating in the expedition to Tabook). If he gives you permission, stay home, and if he doesn’t permit you, stay home, (anyway).” Ibn Katheer said “The Most High is saying, ‘You shouldn’t have given permission to any of them to stay behind so you could have known who was truthful in his display of obedience to you and who was lying. For they were firm in their intention to stay behind.’ ”65
Ayat-ayat juga diturunkan untuk memperbaiki sikap-sikap yang keliru dan tersebar luas di kalangan kaum Muslimin pada masa itu. Contoh dari wahyu semacam itu adalah peristiwa Perang Hunayn. Kaum Muslimin keluar untuk berperang melawan orang-orang kafir dengan perasaan yakin akan meraih kemenangan, karena jumlah mereka berkali-kali lipat melebihi jumlah musuh. Musuh menyergap mereka dan membuat mereka berbalik arah dan melarikan diri dalam kekalahan. Namun, setelah pelajaran awal itu, Allah memberi mereka kemenangan atas musuh dalam pertempuran yang sama. Kemudian Dia menurunkan ayat berikut:
Verses were also revealed to correct wrong attitudes which were widespread among the Muslims of that time. An example of such a revelation is the case of the Battle of Hunayn. Muslims had left to do battle with the disbelievers feeling that they were sure to be victorious, since their numbers exceeded that of the enemy many times over. The enemy ambushed them and caused them to turn on their heels and flee in defeat. However, after that initial lesson, Allaah gave them success over the enemy in the same battle. Then, He revealed the following verse:
"Dan (ingatlah) pada hari Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak membuat kalian bangga, tetapi jumlah itu sama sekali tidak memberi manfaat kepada kalian, dan bumi terasa sempit bagimu walaupun ia luas, lalu kalian berbalik mundur." 66
“And on the day of Hunayn, when your large numbers pleased you, they did not benefit you at all, and the earth became narrow in spite of its vastness, then you turned around in retreat.” 66
Dengan menangani berbagai peristiwa pada masa itu ketika peristiwa tersebut terjadi, Al-Qur'an dapat menjangkau orang-orang yang terlibat secara lebih langsung. Koreksi yang diberikan segera setelah kesalahan terjadi cenderung memiliki dampak yang lebih besar daripada nasihat umum yang diberikan jauh sebelum atau sesudahnya. Seandainya Al-Qur'an diturunkan sekaligus, tentu tidak mungkin menangani masalah-masalah ini dan yang serupa dengannya dalam konteksnya.
By dealing with the various incidents at the time that they occurred, the Qur’aan was able to reach those involved more directly. Corrections made immediately after errors take place tend to have a greater impact than general advice given long before or after. If the Qur’aan had been revealed all at once, it would not have been possible to treat these and similar problems within their context.
6. Petunjuk tentang Sumber Al-Qur'an
6. An Indication of the Qur’aan’s Source
Pewahyuan Al-Qur'an secara bertahap selama dua puluh tiga tahun merupakan bukti jelas bahwa ia adalah firman Allah semata, dan bukan firman Nabi Muhammad ﷺ atau makhluk lainnya. Hal itu dibuktikan oleh kesatuan dan konsistensi gaya ungkapannya dari awal hingga akhir. Pokok bahasan dasarnya terjalin erat di seluruh seratus empat belas surahnya, dan seluruh surah tampak saling berkaitan bagaikan mutiara tak ternilai pada satu untai kalung. Rima dan irama mengalir tanpa hambatan di setiap ayat dalam kitab ini dengan gaya yang menyatu, meskipun terdapat variasi dalam pokok bahasan dan struktur kalimat. Bagaimana mungkin keselarasan seperti itu muncul, padahal Al-Qur'an tidak tersedia dalam bentuk lengkapnya sejak awal? Bagaimana mungkin keselarasan itu lahir, padahal ayat-ayat dan surah-surahnya sering membahas peristiwa yang terjadi pada berbagai tahapan dakwah? Dan bagaimana mungkin ia menjadi karya akal seorang manusia yang tidak dapat membaca maupun menulis, dan yang sebelum dimulainya misinya tidak pernah menunjukkan kemampuan khusus dalam menyusun kata?
The revelation of the Qur’aan in segments over twenty-three years is clear proof that it is Allaah’s word, alone, and not that of Prophet Muhammad (r) or any other member of creation. That is proven by the unity and consistency of expression from beginning to end. Its basic subject matter is intimately interwoven throughout its one hundred and fourteen chapters, and all of the chapters seem interconnected like priceless pearls on a single necklace. Its rhyme and rhythm flow unhindered through every verse in the book in a unified style, in spite of the variations in subject matter and sentence structure. How could such a consistency arise when the Qur’aan was not available in its complete form from the beginning? How could it arise when its verses and chapters often dealt with incidents occurring at various stages of the movement? How could it be the product of the mind of a man who could neither read or write, nor had he displayed any special ability to compose prior to the beginning of his mission?
Bahkan penulis-penulis terbesar pun memiliki variasi dalam gaya mereka, terutama dalam rentang waktu yang panjang. Oleh karena itu, fakta bahwa Al-Qur'an diturunkan secara bertahap selama dua puluh tiga tahun dengan jelas membuktikan bahwa asalnya bukan dari dunia ini.
Even the greatest of writers have variations in their styles, especially over long periods of time. Therefore, the fact that the Qur’aan was revealed in sections over a period of twenty-three years clearly proves that its origin was not of this world.
Sumbernya haruslah Tuhan semesta alam, Allah, Yang Maha Besar lagi Maha Mulia.
Its source had to be the Lord of the Worlds, Allaah, Most Great and Glorious.
Allah Sendiri telah menunjukkan fakta ini dalam Al-Qur'an, firman-Nya:
Allaah Himself pointed to this fact in the Qur’aan, saying,
"Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur'an? Seandainya ia datang dari selain Allah, niscaya mereka akan mendapati di dalamnya banyak pertentangan." 67
Won’t they contemplate the Qur’aan? If it had come from other than Allaah, they would have found in it many contradictions.” 67
Setiap kali Nabi (ﷺ) menerima wahyu baru, beliau memerintahkan para sahabatnya untuk meletakkannya setelah wahyu-wahyu sebelumnya atau sebelum wahyu-wahyu tersebut. Nabi (ﷺ) tidak tahu apa yang akan beliau hadapi di masa depan atau berapa lama beliau akan hidup. Kehidupan beliau dipenuhi dengan berbagai peristiwa yang tanpa diragukan lagi mengubah suasana hati dan cara beliau mengungkapkan diri. Namun, Al-Qur'an sama sekali tidak mencerminkan perbedaan-perbedaan ini. Al-Qur'an pastinya bukan produk dari Muhammad (ﷺ), sebagaimana sebagian orang ingin mengklaim, dan fakta itu dibuktikan oleh Al-Qur'an sendiri.
Whenever the Prophet (ﷺ) had a new revelation, he would tell his companions to put it after other earlier revelations or before them. The Prophet (r) had no idea what he was going to face in the future or how long he was going to live. His life was filled with a multitude of incidents which, without a doubt, altered his mood and his mode of expression. Yet, the Qur’aan in no way reflected these differences. The Qur’aan is definitely not the product of Muhammad (ﷺ), as some would like to claim, and that fact is proven by the Qur’aan itself.
47 Surah al-Furqaan (25):32.
47 Soorah al-Furqaan (25):32.
Surah al-An'am (6):34
48 Soorah al-An‘aam (6):34.
Surah al-Fath (48):3.
49 Soorah al-Fat-h (48):3.
Surah Ali 'Imran (3):12
50 Soorah Aal ‘Imraan (3):12.
51 Diriwayatkan oleh al-Bukhaaree (Sahih Al-Bukhari, jilid 1, hlm. 2, no. 2).
51 Collected by al-Bukhaaree (Sahih Al-Bukhari, vol.1, p. 2, no. 2).
52 Soorah al-Muzzammil (73):5.
52 Soorah al-Muzzammil (73):5.
53 Surah al-Hasyr (59):21.
53 Soorah al-Hashr (59):21.
54 Ibadah kepada selain Allah.
54 The worship of other than Allaah.
55 Keimanan terhadap keesaan Allah dan bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan yang benar yang berhak untuk disembah.
55 Belief in Allaah’s unity and that He is the only true deity deserving of worship.
Iman
56 Faith.
Lihat Sahih Muslim, jilid 1, hlm. 100-3, no. 309. Ibn Hisyam menyebutkan riwayat-riwayat tentang Nabi ﷺ
57 See Sahih Muslim, vol. 1, pp. 100-3, no. 309. Ibn Hishaam mentions reports of the Prophet (r)
dan para sahabatnya shalat sejak masa-masa awal periode Makkah meskipun belum diwajibkan, dan asy-Syafi'i menyatakan bahwa pada masa-masa awal shalat malam itu wajib, sebagaimana ditunjukkan oleh awal Surah Al-Muzzammil, tetapi bahwa ayat terakhir dari surah yang sama telah menghapus kewajiban tersebut. Lihat Fath al-Bari, jilid 1, hal. 554 dan Ar-Rahiq Al-Makhtum, hal. 78.
and his companions praying from the early days of the Makkan period although it was not yet obligatory, and ash-Shaafi‘ee stated that in the early days prayer at night was obligatory, as is indicated by the beginning of Soorah Muzammil, but that the final verse of the same soorah abrogated the obligation. See Fat-h al-Baaree, vol. 1, p. 554 and ar-Raheeq al-Makhtum, p. 78.
Zakat disebutkan dalam ayat-ayat Makkiyah (misalnya 30:38-9, 27:1-3, 31:4, 41:6-7), namun karena kaum Muslimin belum memiliki negara, pembayarannya diserahkan kepada masing-masing individu, dan tidak ada batasan maupun ketentuan mengenai besarnya zakat yang wajib atas setiap jenis harta. Lihat Fiqh az-Zakaah, jilid 1, hlm. 52-61. Lihat juga Zaad al-Ma‘aad, jilid 2, hlm. 30.
58 Zakaah was mentioned in Makkan verses (e.g., 30:38-9, 27:1-3, 31:4, 41:6-7), but as the Muslims were without a state, it was left to individuals to pay it, and there were no restrictions or qualifications as to the amount of zakaah required on each category of wealth. See Fiqh azZakaah, vol. 1, pp. 52-61. See also Zaad al-Ma‘aad, vol. 2, p. 30.
Lihat Nayl al-Awtaar, jilid 4, hlm. 337-8.
59 See Nayl al-Awtaar, vol. 4, pp. 337-8.
60 Sahih Al-Bukhari, jil. 6, hlm. 483-4, no. 515.
60 Sahih Al-Bukhari, vol. 6, pp. 483-4, no. 515.
Diriwayatkan oleh al-Bayhaqee dalam Shu‘ab al-Eemaan dan dikutip oleh as-Suyootee dalam al-Itqaan, jilid 1, hlm. 124-5. Namun, as-Suyootee mencatat bahwa telah ditetapkan secara sahih bahwa sebagian ayat diturunkan sepuluh ayat sekaligus, dan pada beberapa kesempatan hanya sebagian dari suatu ayat yang diturunkan.
61 Collected by al-Bayhaqee in Shu‘ab al-Eemaan and quoted by as-Suyootee in al-Itqaan, vol. 1, pp. 124-5. As-Suyootee notes, however, that it is authentically established that some passages were revealed ten verses at one time, and on some occasions only a part of a verse would be revealed.
Surah al-Kahf (18):83. Lihat Tafsir Ibn Katsir, jilid 3, hlm. 106.
62 Soorah al-Kahf (18):83. See Tafseer Ibn Katheer, vol. 3, p. 106.
63 Muhammad Asad menulis, "Semua ahli tafsir sepakat...bahwa ungkapan ini, meskipun disampaikan dalam bentuk doa, bermakna sebuah pernyataan—'Tuhan mengampunimu,' atau 'telah mengampunimu.'" (The Message of the Qur'an, hlm. 266.)
63 Muhammad Asad writes, “All the commentators agree...that this phrase, although expressed in the form of an invocation, has the meaning of a statement—‘God pardons thee,’ or ‘has pardoned thee.’ ” (The Message of the Qur’an, p. 266.)
64 Surah at-Tawbah (9):43
64 Soorah at-Tawbah (9):43.
Lihat Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, hlm. 375.
65 See Tafseer Ibn Katheer, vol. 2, p. 375.
Surah at-Taubah (9):25
66 Soorah at-Tawbah (9):25
67 Surah an-Nisa' (4):82.
67 Soorah an-Nisaa’ (4):82.