Pendahuluan
Introduction
Usool at-Tafseer (secara harfiah: Dasar-Dasar Penafsiran Al-Qur'an) pada dasarnya merujuk pada cabang-cabang ilmu yang diperlukan untuk memberikan penafsiran yang tepat terhadap teks-teks Al-Qur'an, seperti tata bahasa dan sintaksis Arab, sastra Arab, dan ilmu-ilmu Al-Qur'an (‘uloom al-Qur’aan). Pengetahuan tentang bidang-bidang ilmu modern, seperti ilmu-ilmu murni dan ilmu-ilmu sosial, juga diperlukan bagi seorang mufassir di era ini agar penjelasan Al-Qur'an tetap relevan dengan masyarakat manusia modern. Usool at-Tafseer membahas metodologi langkah demi langkah dalam menafsirkan Al-Qur'an untuk memastikan bahwa penafsiran tidak semata-mata hasil dari hawa nafsu dan angan-angan manusia. Subjek-subjek ini secara tradisional disebutkan dalam kitab-kitab usool al-fiqh (Dasar-Dasar Hukum Islam) dan dalam pendahuluan kitab-kitab tafsir klasik.
The title of this book, Usool at-Tafseer (lit. The Fundamental Principles of Qur’aanic Interpretation), essentially refers to the branches of knowledge which are necessary to provide an accurate interpretation of the Qur’aanic texts, such as Arabic grammar and syntax, Arabic literature and Qur’aanic sciences (‘uloom al-Qur’aan). Familiarity with modern fields of learning, like the pure sciences and social sciences, is also necessary for a commentator in this era to make the Qur’aanic explanations relevant to modern human society. Usool atTafseer addresses the actual step-by-step methodology of interpreting the Qur’aan to ensure that interpretations are not merely the result of human whims and fancies. These subjects were traditionally mentioned in the books of usool al-fiqh (The Fundamental Principles of Islaamic Law) and the introductions to the classical books of Tafseer.
Di antara karya awal yang paling terkenal dalam bidang Usul at-Tafsir adalah sebuah risalah berjudul Muqaddimah fee Usool at-Tafseer, 1
Among the most well known early works dedicated to the subject of Usool at-Tafseer is a treatise called Muqaddimah fee Usool at-Tafseer, 1
dilakukan oleh ulama besar abad ke-13 M, Ibnu Taimiyah.² Dari karya-karya belakangan, karya ulama India, ‘Abdul-Hamid al-Farahi, mungkin yang paling terkenal. Ia memberi judul karyanya at-Takmil fi Usul at-Ta'wil.³
done by the outstanding scholar of the 13th century CE, Ibn Taymeeyah.2 Of the latter day works, that of the Indian scholar, ‘Abdul-Hameed al-Faraahee, is perhaps the most notable. He entitled his work, at-Takmeel fee Usool at-Ta’weel. 3
Istilah yang lebih umum digunakan, ‘Ulūm al-Qur’ān, merujuk kepada seluruh bidang ilmu yang berfungsi untuk menjelaskan Al-Qur’ān atau yang diturunkan darinya. Termasuk di dalamnya ilmu tafsir (eksegesis), qirā’āt (cara-cara bacaan), ar-rasmul-‘Utsmānī (tulisan ‘Utsmānī), i‘jāz al-Qur’ān (aspek-aspek kemukjizatan Al-Qur’ān), asbāb an-nuzūl (sebab-sebab turunnya ayat), an-nāsikh wal-mansūkh (ayat-ayat yang menghapus dan yang dihapus), i‘rāb al-Qur’ān (tata bahasa Al-Qur’ān), gharīb al-Qur’ān (istilah-istilah asing dalam Al-Qur’ān), hukum-hukum agama, serta bahasa dan sastra Arab.4
The more commonly used term, ‘uloom al-Qur’aan, refers to all the fields of knowledge which serve to elucidate the Qur’aan or which are derived from it. Included among them are knowledge of tafseer (exegesis), qiraa’aat (recitations), ar-rasmul-‘Uthmaanee (the ‘Uthmaanic script), i‘jaaz al-Qur’aan (miraculous aspects of the Qur’aan), asbaab an-nuzool (reasons for revelation), an-naasikh wal-mansookh (abrogating and abrogated verses), i‘raab al-Qur’aan (Qur’aanic grammar), ghareeb al-Qur’aan (unusual Qur’aanic terms), religious rulings, and Arabic language and literature.4
Pada masa pembukuan ilmu, banyak kitab ditulis di berbagai bidang ‘ulūm al-Qur’ān. Perhatian pertama tertuju pada bidang tafsir, karena di dalamnya digunakan berbagai cabang ilmu-ilmu Al-Qur’an. Di antara para penulis awal pada abad ke-8 M adalah Syu‘bah ibn al-Hajjāj, Sufyān ibn ‘Uyaynah, dan Wakī‘ ibn al-Jarrāḥ. Tafsir mereka merupakan kumpulan pendapat para sahabat Nabi ﷺ dan para tabi‘in (murid-murid mereka). Setelah mereka datang Ibnu Jarīr aṭ-Ṭabarī (w. 310 H), yang tafsirnya dianggap yang paling besar, karena dialah yang pertama menganalisis berbagai pendapat dan memilih yang paling kuat; ia juga menganalisis susunan gramatikal dan menggali hukum-hukum dari ayat-ayat. Perhatian terhadap tafsir terus berlanjut hingga masa kini, dengan melahirkan beragam metodologi dalam menjelaskan Al-Qur’an.
During the era of book compilation, many books were written in the various areas of ‘uloom al-Qur’aan. Concern was first focused on the field of tafseer, since all the various Qur’aanic sciences are utilized in it. Among the early writers of the 8th century CE were Shu‘bah ibn al-Hajjaaj, Sufyaan ibn ‘Uyaynah and Wakee‘ ibn al-Jarraah. Their tafseers were collections of the opinions of the Prophet’s companions (sahaabah) and their students (taabi‘oon). They were followed by Ibn Jareer at-Tabaree (d. 310 AH), whose Tafseer is considered the greatest, as he was the first to analyze the opinions and choose the strongest; and he analyzed the grammatical constructions and deduced rulings from the verses. Concern for tafseer has continued until the present day, producing a large variety of methodologies for Qur’aanic elucidation.
Mengenai bidang-bidang lain dalam ‘Uluum al-Qur’aan, di antara para penulis terkemuka abad ke-9 adalah ‘Alee ibn al-Madeenee (guru Imaam al-Bukhaaree), yang menulis tentang Asbaab an-Nuzool, dan Aboo ‘Ubayd al-Qaasim ibn Salaam, yang menulis tentang naskh (penghapusan hukum). Ulama terkemuka abad ke-10 yang menulis tentang konstruksi-konstruksi tidak lazim dalam al-Qur’aan adalah Aboo Bakr as-Sijistaanee, sedangkan ulama abad ke-11, ‘Alee ibn Sa‘eed al-Hoofee, menghasilkan karya tentang konstruksi-konstruksi gramatikal secara umum. Pada abad ke-12, ulama terkemuka yang menulis tentang Mubhamaat al-Qur’aan (Keambiguan-keambiguan dalam al-Qur’aan) adalah Abul-Qaasim ‘AbdurRahmaan as-Sabeelee. Setelahnya datang Ibn ‘Abdis-Salaam, yang menulis tentang majaz al-Qur’aan (metafora dalam al-Qur’aan), dan ‘Alamud-Deen as-Sakhaawee, yang menulis tentang qira’aat (bacaan-bacaan) pada abad ke-13.
As for the other areas of ‘uloom al-Qur’aan, among the leading 9th centurywriters were ‘Alee ibn al-Madeenee (Imaam al-Bukhaaree’s teacher), who wrote on Asbaab an-Nuzool, and Aboo ‘Ubayd al-Qaasim ibn Salaam, who wrote on abrogation. The leading scholar of the 10th century to write on the unusual constructions of the Qur’aan was Aboo Bakr as-Sijistaanee, while the 11th century scholar, ‘Alee ibn Sa‘eed al-Hoofee, produced a work on its grammatical constructions in general. In the 12th century, the leading scholar to write on Mubhamaat al-Qur’aan (Qur’aanic Ambiguities) was Abul-Qaasim ‘AbdurRahmaan as-Sabeelee. He was followed by Ibn ‘Abdis-Salaam, who wrote on Qur’aanic metaphor (majaaz al-Qur’aan), and ‘Alamud-Deen as-Sakhaawee, who wrote on the recitations in the 13th century. 5
Para ulama yang menulis pada periode ini berupaya membahas secara menyeluruh topik-topik yang menjadi fokus mereka. Akibatnya, mereka yang menulis tentang gharib al-Qur'an, misalnya, akan menyebutkan setiap kata dalam Al-Qur'an yang asing atau memiliki makna yang samar; dan mereka yang menyusun karya tentang majaz akan menelusuri setiap jenis kata atau frasa dalam Al-Qur'an yang mengandung makna kiasan, dan seterusnya pada berbagai cabang ilmu-ilmu Al-Qur'an. Luasnya karya-karya tersebut membuat tidak mungkin bagi seorang individu pun untuk menguasai semua bidang, sekalipun ia menghabiskan seluruh hidupnya dan mengerahkan seluruh tenaganya. Akibatnya, para ulama berikutnya mendambakan lahirnya sebuah ilmu baru yang berfungsi seperti indeks atau daftar isi bagi semua bidang tersebut. Inilah bidang yang kemudian secara resmi dikenal sebagai 'Ulum al-Qur'an. Meskipun tidak ada catatan bahwa para ulama menulis atau berupaya menulis kompilasi semacam ini sebelum abad ke-10, gagasannya sudah terhimpun dalam pemikiran para ulama terkemuka generasi awal.
The scholars who wrote during this period sought to comprehensively cover the topics they focused on. Consequently, those who wrote on ghareeb alQur’aan, for example, would mention every single word in the Qur’aan which was strange or of ambiguous meaning; and those who compiled works on metaphors would investigate every type of word or phrase in the Qur’aan which had allegorical meanings, and so on in the various branches of Qur’aanic fields of learning. The vastness of the works made it impossible for any single individual to master all fields, even if he spent his whole life and utilized all his energy. As a result, later scholars longed for the evolution of a new science which would act like an index or directory for all these fields. This became the field officially known as ‘uloom al-Qur’aan. Although there is no record of any scholars writing or attempting to write a compilation of this type before the 10th century, it was collected in the intellects of the leading early scholars.
Karya khusus tentang ‘Ulūm al-Qur’ān pertama yang tercatat dalam indeks para penulis, Fihrist Ibn Nadīm, adalah karya abad ke-10 berjudul al-Hādī fī ‘Ulūm al-Qur’ān, karya Abū Bakr Muḥammad ibn Khalaf (w. 309 H). Karya ini ditulis dalam 47 jilid, namun tidak ada salinannya yang sampai kepada kita.⁸ Karya tertua berikutnya adalah al-Burhān fī Tafsīr al-Qur’ān⁹
The first specialized work on ‘uloom al-Qur’aan recorded in the index of authors, Fihrist Ibn Nadeem, is the 10th century work, al-Haadee fee ‘Uloom alQur’aan, by Aboo Bakr Muhammad ibn Khalaf (d. 309 AH). It was written in 47 volumes, however, no copies have reached us.8 The next oldest is al-Burhaan fee Tafseer al-Qur’aan 9
Oleh ‘Alee ibn Ibraaheem ibn Sa‘eed, yang lebih dikenal sebagai al-Hoofee (w. 330 H). Naskah asli kitab ini terdiri dari 30 jilid, dan 15 jilid di antaranya masih tersedia dalam bentuk manuskrip.10 Kitab ini bukan merupakan kompilasi yang sistematis tentang ilmu-ilmu ‘Uloom al-Qur’aan, melainkan mengikuti format tafsir, di mana penulis memperkenalkan berbagai cabang ‘Uloom al-Qur’aan bila relevan. Pada abad ke-12, Ibn al-Jawzee (w. 597 H) menulis dua kitab dalam bidang ini yang berjudul Funoon al-Afnaan fee ‘Uyoon ‘Uloom al-Qur’aan dan al-Mujtabaa fee ‘Uloom Tata‘allaq bil-Qur’aan. Kitab pertama telah dicetak. Kitab kedua masih berupa manuskrip di Daar al-Kutub al-Misreeyah di Mesir. Pada abad ke-13 lahir dua karya lagi, yaitu Jamaal al-Qurraa’ karya ‘Alamud-Deen as-Sakhaawee (w. 641 H), dan al-Murshid al-Wajeez fee maa Yata‘allaq bil-Qur’aan al-‘Azeez,11 karya Aboo Shaamah ‘Abdur-Rahmaan ibn Ismaa‘eel al-Maqdasee (w. 775 H).
by ‘Alee ibn Ibraaheem ibn Sa‘eed, better known as alHoofee (d. 330 AH). The original text was in 30 volumes, of which 15 are available in manuscript.10 The text is not a systematic compilation of the sciences of ‘uloom al-Qur’aan, but follows the tafseer format in which the author introduces the various branches of ‘uloom al-Qur’aan where relevant. In the 12th century, Ibn al-Jawzee (d. 597 AH) wrote two books in the field called Funoon al-Afnaan fee ‘Uyoon‘Uloom al-Qur’aan and al-Mujtabaa fee ‘Uloom Tata‘allaq bil-Qur’aan. The first has been printed. The second remains in manuscript at Daar al-Kutub al-Misreeyah in Egypt. The 13th century witnessed two more works, Jamaal al-Qurraa’ by ‘Alamud-Deen as-Sakhaawee (d. 641AH), and al-Murshid al-Wajeez fee maa Yata‘allaq bil-Qur’aan al-‘Azeez, 11 by Aboo Shaamah ‘Abdur-Rahmaan ibn Ismaa‘eel al-Maqdasee (d. 775 AH).
Badrud-Deen az-Zarkashee (w. 794 H) menulis karyanya yang klasik, berjudul al-Burhaan fee ‘Uloom al-Qur’aan, pada abad ke-14. Kitab ini telah diterbitkan.12 Ia kemudian diikuti pada abad ke-15 oleh Muhammad ibn Sulaymaan al-Kaafeejee (w. 873 H) dan Jalaalud-Deen al-Balqeenee, yang dalam kitabnya, Mawaaqi‘ al-‘Uloom min Mawaaqi‘ an-Nujoom, mengidentifikasi lima puluh jenis ilmu-ilmu Al-Qur'an yang berbeda. Pada abad yang sama, Jalaalud-Deen as-Suyootee (w. 911 H) menulis dua kitab di bidang ‘uloom al-Qur’aan. Kitab pertama, yang selesai pada tahun 872 H, ia beri judul at-Tahbeer fee ‘Uloom at-Tafseer. Kitab ini terdiri dari satu jilid tipis, namun menyinggung 102 bidang ilmu-ilmu Al-Qur'an yang berbeda. Kemudian ia menggabungkan dan meringkas bidang-bidang tersebut menjadi 80, yang selanjutnya ia uraikan dalam karyanya, Kitaab al-Itqaan fee ‘Uloom alQur’aan.13 Teks yang terakhir ini menjadi sumber rujukan baku dalam kajian ‘uloom al-Qur’aan bagi generasi ulama berikutnya.
Selama tiga abad berikutnya, bidang ‘ulūm al-Qur’ān hampir tidak mengalami perkembangan. Namun pada abad ke-20, gelombang baru penulisan dimulai dengan karya setebal 300 halaman karya Syaikh Thāhir al-Jazā’irī yang berjudul at-Tibyān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. 14 Pada pertengahan abad kedua puluh, sejumlah profesor di Universitas al-Azhar menulis kitab-kitab ringkas tentang ‘ulūm al-Qur’ān untuk fakultas masing-masing. Sebagian di antaranya kemudian diterbitkan. Di antara yang cukup terkenal adalah Minhāj al-Furqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān 15 yang ditulis untuk para mahasiswa Fakultas Da‘wah wal-Irsyād oleh Syaikh Muhammad ‘Alī Salāmah.16 Manāhil al-‘Irfān fī ‘Ulūm al-Qur’ān, 17 sebuah karya dua jilid setebal lebih dari 1000 halaman, ditulis oleh Syaikh Muhammad ‘Abdul-‘Azhīm az-Zarqānī, mantan dosen ‘ulūm al-Qur’ān dan ‘ulūm al-Hadīts di Fakultas Disiplin Keislaman (uṣūl ad-Dīn). Pada paruh akhir abad ke-20, sejumlah karya yang sangat baik di bidang ini ditulis oleh para dosen universitas, seperti Mabāhits fī ‘Ulūm al-Qur’ān karya Subhī aṣ-Ṣāliḥ, Mabāhits fī ‘Ulūm al-Qur’ān karya Mannā‘ al-Qaṭṭān, Madkhal ilā al-Qur’ān al-Karīm 18 karya Muhammad ‘Abdullāh Darāz, al-Madkhal li Dirāsah al-Qur’ān, 19 karya Muhammad Abū Syahbah, dan Lamaḥāt fī ‘Ulūm al-Qur’ān 20 karya Dr. Muhammad ibn Lutfī aṣ-Ṣabbāgh.
For the next three centuries the field of ‘uloom al-Qur’aan saw little development. However in the 20th century, a new flurry of writing began with Shaykh Taahir al-Jazaa’iree’s 300-page work entitled, at-Tibyaan fee ‘Uloom alQur’aan. 14 In the mid twentieth century, a number of professors at al-Azhar University wrote concise texts on the subject of ‘uloom al-Qur’aan for their respective colleges. Some of these were later published. Among the more notable is Minhaaj al-Furqaan fee ‘Uloom al-Qur’aan 15 written for students in the College of Da‘wah wal-Irshaad by Shaykh Muhammad ‘Alee Salaamah.16 Manaahil al-‘Irfaan fee ‘Uloom al-Qur’aan, 17 a two volume work of over 1000 pages was written by Shaykh Muhammad ‘Abdul-‘Atheem az-Zarqaanee, former lecturer of ‘uloom al-Qur’aan and ‘uloom al-Hadeeth in the College of Islaamic Disciplines (usool ad-Deen). In the latter part of the 20th century, a number of excellent works have been written in the field by university professors like Mabaahith fee ‘Uloom al-Qur’aan by Subhee as-Saalih, Mabaahith fee ‘Uloom al-Qur’aan by Mannaa‘ al-Qattaan, Madkhal ilaa al-Qur’aan al-Kareem 18 by Muhammad ‘Abdullaah Daraaz, al-Madkhal li Diraasah al-Qur’aan, 19 by Muhammad Aboo Shahbah, and Lamahaat fee ‘Uloom al-Qur’aan 20 by Dr. Muhammad ibn Lutfee as-Sabbaagh.
Kitab ini diterjemahkan oleh Dr. M. Abdul Haq Ansari untuk Universitas Islam Imaam Ibn Sa‘ood di Riyadh, dan kemudian dicetak ulang di Inggris oleh Al-Hidaayah Press dengan judul An Introduction to the Principles of Tafseer.
1 It was translated by Dr. M. Abdul Haq Ansari for Imaam Ibn Sa‘ood Islamic University in Riyadh and later reprinted in England by Al-Hidaayah Press under the title, An Introduction to the Principles of Tafseer.
Lahir 661 H/1262 M; wafat 728 H/1327 M.
2 Born 661 AH/1262 CE; died 728 AH/1327 CE.
Lamahaat fee ‘Uloom al-Qur’aan, hlm. 191-2.
3 Lamahaat fee ‘Uloom al-Qur’aan, pp. 191-2.
4 Manaahil al-'Irfaan fee 'Uloom al-Qur'aan, hlm. 16.
4 Manaahil al-‘Irfaan fee ‘Uloom al-Qur’aan, p. 16.
5 Manāhil al-‘Irfān fī ‘Ulūm al-Qur’ān, hlm. 24-25.
5 Manaahil al-‘Irfaan fee ‘Uloom al-Qur’aan, pp. 24-25.
6 Berkuasa 786–809 M. 7 Manaahil al-‘Irfaan fee ‘Uloom al-Qur’aan, hlm. 25.
6 Ruled 786-809 CE. 7 Manaahil al-‘Irfaan fee ‘Uloom al-Qur’aan, p. 25.
8 ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 6.
8 ‘Ulum al-Qur’an, p. 6.
9 Syaikh az-Zarqaanee keliru memberi judul kitab ini, al-Burhaan fee ‘Uloom al-Qur’aan, dalam kitabnya Manaahil al-‘Irfaan, jilid 1, hlm. 27-8. Lihat ensiklopedia indeks pengarang dan karya-karyanya, Kashf ath-Thunoon, jilid 1, hlm. 242, untuk rujukan judul yang benar dari karya al-Hoofee.
9 Shaykh az-Zarqaanee mistakenly entitled it, al-Burhaan fee ‘Uloom al-Qur’aan, in his book Manaahil al-‘Irfaan, vol. 1, p. 27-8. See the encyclopedic index of authors and their works, Kashf ath-Thunoon, vol. 1, p. 242, for reference to the correct title of al-Hoofee’s work.
Tersedia di Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, Mesir.
10 It is available in Daar al-Kutub al-Misreeyah, Egypt.
Diedit oleh Tayyaar Qoolaaj dan diterbitkan di Beirut oleh Daar Saadir, 1975.
11 Edited by Tayyaar Qoolaaj and published in Beirut by Daar Saadir, 1975.
12 Disunting oleh Muhammad Abul-Fadl Ibraaheem, diterbitkan di Mesir oleh Penerbit Ibraaheem ‘Eesaa alBaabee al-Halabee, cetakan kedua tahun 1972 (1391 H).
12 Edited by Muhammad Abul-Fadl Ibraaheem, published in Egypt by Ibraaheem ‘Eesaa alBaabee al-Halabee Press, 2nd edition in 1972 (1391 AH).
13 Manaahil al-‘Irfaan fee ‘Uloom al-Qur’aan, hlm. 27-30.
13 Manaahil al-‘Irfaan fee ‘Uloom al-Qur’aan, pp. 27-30.
14 Diterbitkan di Mesir oleh Percetakan al-Manaar pada tahun 1915 (1334 H) dengan judul at-Tibyaan li ba‘d alMabaahith al-Muta‘allaqah bil-Qur’aan.
14 Published in Egypt by al-Manaar Press in 1915 (1334 AH) under the title, at-Tibyaan li ba‘d alMabaahith al-Muta‘allaqah bil-Qur’aan.
15 Diterbitkan dengan judul, Jawaahir al-Bayaan fee ‘Uloom al-Qur’aan.
15 Published under the title, Jawaahir al-Bayaan fee ‘Uloom al-Qur’aan.
16 Manaahil al-‘Irfaan fee ‘Uloom al-Qur’aan, hlm. 31.
16 Manaahil al-‘Irfaan fee ‘Uloom al-Qur’aan, p. 31.
17 Diterbitkan di Mesir oleh Daar Ihyaa al-Kutub al-‘Arabeeyah, cet. ke-3, 1953.
17 Published in Egypt by Daar Ihyaa al-Kutub al-‘Arabeeyah, 3rd ed., 1953.
18 Diterbitkan di Beirut oleh Daar al-Qalam Press, 1971.
18 Published in Beirut by Daar al-Qalam Press, 1971.
19 Diterbitkan di Mesir pada tahun 1973.
19 Published in Egypt in 1973.
20 Diterbitkan di Beirut oleh al-Maktab al-Islaamee, cetakan ke-3, 1990.
20 Published in Beirut by al-Maktab al-Islaamee, 3rd ed., 1990.