5 Wahy: Wahyu Ilahi
5 Wahy: Divine Revelation
Istilah "wahy" dalam bahasa Arab berarti pemindahan informasi yang cepat dan/atau rahasia.¹ Istilah ini digunakan dalam Al-Qur'an sebagaimana orang Arab pada masa lampau menggunakannya untuk merujuk pada berbagai macam cara pemindahan informasi.
The term “wahy” in Arabic means a swift and or secretive transfer of information.1 It has been used in the Qur’aan as it was used by Arabs in the past to refer to a wide variety of methods by which the transfer of information has taken place.
1. Al-Qur'an terkadang menggunakan kata *wahy* untuk merujuk pada naluri hewan. Contoh penggunaan ini dapat dilihat pada kasus lebah yang disebutkan dalam ayat berikut:
1. The Qur’aan sometimes uses wahy to mean instinctual animal habits. An example of this use can be seen in the case of bees mentioned in the following verse:
"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia."" 2
“And your Lord inspired the bee by wahy (awhaa) to make its home in the mountains, trees, and what (men) build.” 2
Lebah secara naluriah membangun sarangnya di tempat-tempat yang sesuai dan mengikuti pola-pola tertentu sebagai akibat dari perintah-perintah ilahi yang tertulis secara tersembunyi di dalam sel-sel otaknya yang sangat kecil.
The bee instinctually builds its hives in appropriate places and according to particular patterns as a result of divine commands secretly written in the cells of its minute brain.
2. Kata wahy juga digunakan dalam Al-Qur'an untuk merujuk pada naluri alami manusia yang Allah tanamkan pada diri manusia. Misalnya, Allah menggunakannya dalam kaitannya dengan ibu Nabi Musa sebagai berikut:
2. Wahy is also used in the Qur’aan to mean natural human instincts that Allaah has placed in humans. For example, Allaah uses it in reference to Prophet Moosaa’s mother as follows:
Dan Kami mewahyukan kepada ibu Musa (awhaynaa) untuk menyusuinya.
“And I inspired Moosaa’s mother by wahy (awhaynaa) to suckle him.” 3
Naluri keibuan untuk menyusui anaknya merupakan hasil dari informasi yang telah dikomunikasikan kepada gen setiap perempuan dengan cara yang tidak diketahui oleh manusia.
The motherly instinct of suckling her child is a result of information which has been communicated to the genes of every female in a way unknown to man.
3. Dalam kelanjutan ayat sebelumnya, Allah merujuk pada aspek lain dari wahyu: ilham Allah kepada manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak bersifat naluriah.
3. In the completion of the previous verse, Allaah refers to another aspect of wahy: Allaah’s inspiration to humans to do actions which are not instinctive.
"Kemudian, apabila engkau khawatir terhadapnya, maka letakkanlah dia (di dalam peti) ke sungai, dan janganlah engkau takut dan janganlah bersedih."
“Then, when you fear for him, cast him into the river (in a basket), and don’t be afraid and don’t grieve.”
Ini kadang disebut intuisi; seseorang merasakan dorongan kuat bahwa suatu tindakan tertentu adalah hal yang benar untuk dilakukan, meskipun mungkin tidak ada bukti logis yang mendukungnya.
This is sometimes called intuition; a person gets a strong feeling that a certain action is the right thing to do, even though there may not be any logical evidence for it.
4. Namun, seseorang harus berhati-hati dalam membedakan sumber berbagai bisikan batin, karena setan juga memiliki kemampuan untuk memasukkan bisikan ke dalam hati manusia. Terkadang, Al-Qur’an menyebut bisikan dan dorongan setan sebagai *wahy*. Firman Allah berikut adalah contoh yang baik untuk jenis penggunaan ini:
4. One must be careful, to distinguish between the sources of various inner voices, however, because devils also have the ability to inspire suggestions in human hearts. Occasionally, the Qur’aan refers to the whispering and prodding of the devils as wahy. The following verse is a good example of this type of use:
"Dan sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada wali-walinya untuk membantah kamu." 4
“And verily the devils inspire their allies by wahy (yoohoona) to argue with you.” 4
Wahyu yang dengannya pikiran-pikiran setan dimasukkan ke dalam benak manusia juga disebut bisikan dalam Al-Qur'an, karena sifatnya yang rahasia dan sumbernya yang tersembunyi. Karena alasan yang sama pula, ia disebut "wahy".
The wahy by which devilish thoughts are inserted into the human minds is also referred to as whispering in the Qur’aan, due to its secretive nature and hidden source. For the same reasons it has been called “wahy.”
5. Terkadang kata *wahy* digunakan untuk makna komunikasi melalui isyarat yang cepat dan halus. Misalnya, Allah berfirman tentang Nabi Zakariya:
5. Sometimes wahy is used to mean communication by rapid, subtle gestures. For example, Allaah said about the Prophet Zakareeyaa,
“Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku suatu tanda.’ (Malaikat) berfirman, ‘Tanda bagimu ialah bahwa engkau tidak dapat berbicara dengan manusia selama tiga malam penuh.’ Lalu ia keluar dari mihrab menemui kaumnya, dan ia memberi isyarat (awhaa) kepada mereka agar bertasbih (kepada Allah) pada waktu pagi dan petang.” 5
“He said, ‘My Lord, appoint a sign for me.’ (The angel) said, ‘Your sign will be that for a full three nights you will not speak to people.’ Then he went out from the prayer niche to his people and gestured (awhaa) to them to praise (Allaah) in the morning and the evening.” 5
Yaitu, beliau mendorong mereka untuk lebih sering dan lebih sungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.
That is, he urged them to worship Allaah more often and more fervently.
6. Allah menggunakan istilah wahy untuk merujuk pada proses ketika Dia memberikan perintah kepada para malaikat-Nya, sebagaimana diilustrasikan dalam contoh berikut:
6. Allaah uses the term wahy to refer to the process by which He gives commands to his angels, as is illustrated in the following example:
"Ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: 'Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah orang-orang yang beriman.'" 6
“When your Lord inspired the angels by wahy (yoohee): ‘Verily, I am with you all, so strengthen those who believe.’ ” 6
Di tempat lain dalam Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi (ﷺ), komunikasi Allah dengan para malaikat-Nya disebut sebagai ucapan langsung. Berikut ini adalah contoh dari Al-Qur'an:
Elsewhere in the Qur’aan and hadeeths of the Prophet (r), Allaah’s communication with His angels is referred to as direct speech. The following verse is an example from the Qur’aan:
"Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.'" 7
“And when your Lord said to the angels, ‘Verily, I will put a khaleefah on earth.’ ” 7
Nabi (ﷺ) diriwayatkan telah bersabda,
The Prophet (ﷺ) was reported to have said,
“Ketika Allah Yang Mahatinggi menurunkan wahyu, penduduk langit mendengar langit bergetar dengan suara seperti gemerincing rantai yang diseret di atas batu yang licin. Mereka terkejut dan pingsan, dan mereka tetap dalam keadaan itu hingga Jibril datang kepada mereka. Ketika Jibril datang kepada mereka, rasa takut dihilangkan dari hati mereka. Mereka berkata, ‘Wahai Jibril! Apa yang dikatakan Tuhanmu?’ Ia menjawab, ‘Yang benar.’ Lalu mereka berkata, ‘Yang benar, yang benar.’ ” 8
“When Allaah, the Most High, speaks the revelation (wahy), the inhabitants of heaven hear the heavens tremble with a sound like the rattling of a chain across a smooth stone. They are stunned and faint, and they remain in that state until Jibreel comes to them. When Jibreel comes to them, the fear is removed from their hearts. They say, ‘O Jibreel! What did your Lord say?’ He says, ‘The truth.’ Then they say, ‘The truth, the truth.’ ” 8
Oleh karena itu, telah disimpulkan bahwa perintah Allah kepada para malaikat disampaikan dengan cara Allah berbicara langsung kepada mereka. Dari uraian di atas jelas bahwa kata wahy digunakan bukan hanya untuk makna proses pewahyuan, tetapi juga untuk makna wahyu itu sendiri.
Hence, it has been concluded that Allaah’s commands to the angels are transmitted by Allaah speaking directly to them. From the above it is clear that wahy is used to mean not only the process of revelation, but also the revelation itself.
7. Proses penurunan perintah Allah kepada Nabi-Nya ﷺ, serta wahyu itu sendiri, juga disebut dalam Al-Qur'an sebagai wahy. Contoh yang baik untuk penggunaan ini terdapat dalam ayat berikut:
7. The process of revelation of Allaah’s commands to His Prophet (r), as well as the revelation itself, is also referred to in the Qur’aan as wahy. A good example of this use is in the following verse:
"Dan dia [Nabi (ﷺ)] tidak berbicara menurut hawa nafsunya; sesungguhnya ucapannya itu adalah wahyu yang diwahyukan (yoohaa)." 9
“And he [the Prophet (ﷺ)] does not speak from his own desires; verily, it (his speech) is revelation (wahy) which was revealed (yoohaa).” 9
Dalam terminologi syariat, wahyu didefinisikan sebagai proses diwahyukannya firman Allah kepada salah seorang nabi-Nya. Kata ini juga digunakan untuk firman Allah itu sendiri yang telah diwahyukan kepada salah seorang nabi-Nya.
In the terminology of the Sharee‘ah, wahy is defined as the process by which Allaah’s word is revealed to one of His prophets. It is also used for the actual word of Allaah which has been revealed to one of His prophets.
1Lihat definisi Ibnu Faaris dan ar-Raaghib al-Isfahaanee yang dikutip dalam Lamahaat fee ‘Uloom al-Qur’aan, hlm. 43.
1See the definitions of Ibn Faaris and ar-Raaghib al-Isfahaanee quoted in Lamahaat fee ‘Uloom al-Qur’aan, p. 43.
Surah an-Nahl (16):68.
2Soorah an-Nahl (16):68.
Surah Al-Qasas (28):7
3 Soorah al-Qasas (28):7.
4 Surah al-An‘am (6):121.
4 Soorah al-An‘aam (6):121.
5 Surah Maryam (19):10-11.
5 Soorah Maryam (19):10-11.
6 Surah Al-Anfal (8):12
6 Soorah al-Anfaal (8):12.
Surah al-Baqarah (2):30
7 Soorah al-Baqarah (2):30.
8 Diriwayatkan oleh Ibnu Mas‘ud dan dihimpun oleh Abu Dawud (Sunan Abi Dawud, jilid 3, hlm. 1326, no. 4720), Ibnu Khuzaimah dan al-Baihaqi, serta dinilai sahih oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, jilid 3, hlm. 282-283, no. 1293. Hadits yang serupa diriwayatkan oleh an-Nawwas bin Sam‘an dan dihimpun oleh at-Thabarani.
8 Reported by Ibn Mas‘ood and collected by Aboo Daawood (Sunan Abu Dawud, vol. 3, p. 1326, no. 4720), Ibn Khuzaymah and al-Bayhaqee, and authenticated by al-Albaanee in Silsilah al-Ahaadeth as-Saheehah, vol. 3, pp. 282-3, no. 1293. A similar hadeeth was reported by anNawwaas ibn Sam‘aan and collected by at-Tabaraanee.
9 Surah an-Najm (53):3-4
9 Soorah an-Najm (53):3-4.