1.1 Kebutuhan Spiritual terhadap Kenabian
1.1 The Spiritual Necessity Of Prophethood
Di dalam diri kita semua terdapat dorongan gelisah untuk mencari pemenuhan spiritual. Ketika diabaikan, jiwa mengalami dahaga yang hebat, yang membuatnya mengejar satu fatamorgana demi satu fatamorgana, masing-masing menawarkan harapan sesaat akan sebuah oase sebelum datang kekecewaan lain. Inilah tragedi kondisi manusia ketika ia mencari ketenangan batin dari dunia luar, atau berusaha mengaktualisasikan diri melalui pengejaran jasmani, padahal ia diciptakan untuk melampaui semua itu demi tujuan yang lebih tinggi:
Within us all is a restless craving for spiritual fulfillment. When ignored, the spirit experiences intense thirsts which send it chasing one mirage after another, each offering it momentary hope of an oasis before yet another letdown. This is the tragedy of the human condition whenever it seeks inner peace from the outer world, or seeks to self-actualize through carnal pursuits, when it was created to transcend all that for a higher purpose:
ketulusan dalam beribadah kepada Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, {Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.}16
sincere devotion to God. Allah says in the Qur’an, “And I did not create the jinn and mankind except to worship Me.”16
Oleh karena itu, penghambaan kepada Allah, bukan sekadar pengakuan bawaan atas keberadaan-Nya, tidak hanya merupakan kewajiban tetapi juga kebutuhan mendasar manusia. Penghambaan itu diperlukan untuk memberi nutrisi bagi ruh kita, sebagaimana makanan dan oksigen diperlukan untuk memberi nutrisi bagi tubuh kita. Ia menyelaraskan kita dengan hakikat diri kita sebagai makhluk rohani yang berada dalam tubuh jasmani, bukan makhluk jasmani yang kebetulan memiliki dimensi rohani. Tentu saja, semua itu tidak mungkin terwujud tanpa Sang Pencipta berkomunikasi dengan kita melalui para nabi tentang bagaimana menjalin hubungan yang bermakna dengan-Nya. Tanpa komunikasi ini, kita tidak akan mampu mengenal dan mencintai-Nya pada tingkat yang lebih dalam, dan hanya melalui hidup untuk-Nyalah kita merasakan apa artinya benar-benar hidup. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ, "Perumpamaan orang yang mengingat Allah dan orang yang tidak mengingat Allah seperti orang yang hidup dan orang yang mati."17
Servitude to God, not just the inborn recognition of His existence, is therefore not only a duty but also a fundamental human need. It is necessary to nourish our spirit just as food and oxygen are necessary to nourish our body. It attunes us to our reality as spiritual beings in physical bodies, not physical beings that happen to enjoy a spiritual dimension. Of course, none of that is possible without the Creator communicating to us through prophets how to have a meaningful relationship with Him. Without this communication, we would be unable to know and love Him on deeper levels, and it is only through living for Him that we experience what it truly means to be alive. As the Prophet Muhammad صلى الله عليه وسلم once said, “The similitude of someone who is mindful of Allah and someone not mindful of Allah is that of the living and the dead.”17
Ketika Abraham Maslow merevisi hierarki kebutuhannya yang terkenal, ia menempatkan hasrat untuk melampaui diri (self-transcendence) sebagai motivator terbesar di atas semuanya, di atas aktualisasi diri (self-actualization).18
When Abraham Maslow amended his famous hierarchy of needs, he set the desire for self-transcendence as the greatest motivator of them all, above self-actualization.18
Namun, tanpa para nabi dan wahyu ilahi, wawasan tersebut pun tetap kurang memberikan petunjuk. Hal ini memungkinkan gagasan seperti monisme (menyatu dengan alam semesta) atau altruisme (tidak mementingkan diri sendiri) disalahpahami sebagai sama memuaskannya dengan pengabdian kepada Tuhan. Orang-orang yang altruistik sering melaporkan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi, dan itu memang diharapkan, karena tidak mementingkan diri sendiri pada hakikatnya merupakan tujuan yang lebih transenden daripada berpusat pada diri sendiri.
However, without the prophets and divine revelation, even that insight remains somewhat uninstructive. It allows for notions such as monism (being one with the universe) or altruism (being selfless) to be misperceived as equally fulfilling as devotion to God. Altruistic people often report higher life satisfaction, and that is expected since being selfless is, by definition, a more transcendent purpose than being self-centered.
Namun kebutuhan mendasar untuk melampaui diri sendiri tidak akan pernah sepenuhnya terpenuhi hanya dengan keterlibatan apa pun dalam tujuan yang lebih besar daripada diri seseorang (seperti melayani kemanusiaan). Ada ketenangan unik yang bergantung sepenuhnya pada pengabdian seseorang kepada Yang Maha Agung: Allah Yang Maha Kuasa. Melayani orang lain dapat menjadi bagian dari hal itu, tetapi tidak pernah dapat menggantikannya, sebagaimana firman Allah, "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram."19 Ibnu al-Qayyim (w. 1350), seorang teolog Muslim yang termasyhur, menulis, "Dalam hati terdapat kegelisahan yang tidak dapat ditenangkan oleh apa pun selain mendekatkan diri kepada Allah. Dan kesepian menyelimutinya yang tidak dapat dihilangkan oleh apa pun selain menikmati-Nya..."
But the essential need to self-transcend will never be fully satisfied by just any involvement in ends greater than oneself (such as serving the human collective). There is a unique tranquillity that hinges squarely on one’s devotion to the absolute greatest: the Almighty. Serving others can be part of that, but can never replace it, as Allah says, “Unquestionably, it is only by the remembrance of Allah that hearts are assured.”19 Ibn al-Qayyim (d. 1350), a renowned Muslim theologian, writes, In the heart, there exists an anxiousness that nothing can calm but drawing nearer to God. And a loneliness overcasts it that nothing can remove but enjoying His

dalam kesendirian. Dan ada kesedihan yang bersemayam di dalamnya yang tidak dapat dihilangkan oleh apa pun kecuali kegembiraan karena mengenal-Nya dan benar-benar mengabdikan diri kepada-Nya. Dan ada kegelisahan yang mengusik hatinya yang tidak dapat ditenangkan kecuali dengan memusatkan perhatian kepada-Nya dan berlari dari-Nya menuju kepada-Nya. Dan api penyesalan terus berkobar di dalamnya, dan tidak ada yang dapat memadamkannya kecuali menjadi ridha terhadap perintah-perintah-Nya, larangan-larangan-Nya, dan takdir-Nya, serta bersabar memegang semua itu hingga saat bertemu dengan-Nya. Dan di dalamnya terdapat tuntutan yang mendesak; ia tidak akan berhenti hingga hanya Dia yang menjadi tujuannya. Dan di dalamnya ada kebutuhan yang sangat mendesak; tidak ada yang akan memuaskannya selain mencintai-Nya, senantiasa mengingat-Nya, dan beribadah kepada-Nya dengan tulus. Dan seandainya seseorang diberi seluruh dunia ini beserta segala isinya, tetap saja kebutuhan itu tidak akan terpenuhi.20
company in private. And a sadness dwells within it that nothing can alleviate but the joy of knowing Him and genuinely devoting oneself to Him. And a worry unsettles it that nothing can reassure but focusing on Him and fleeing from Him to Him. And the flames of regret continue to flare inside it, and nothing can extinguish them but becoming content with His commands, prohibitions, and destiny, and patiently holding onto all that until the time one meets Him. And in it exists a pressing demand; it will not stop until He alone becomes its pursuit. And in it is a dire need; nothing will satisfy it except loving Him, constantly remembering Him, and being sincerely devout to Him. And if a person were given this entire world and all it contains, it would never fulfill that need.20
Oleh karena itu, untuk mencegah tragedi psikospiritual ini, dan agar dapat hidup untuk Tuhan Yang Maha Kuasa, kenabian adalah suatu keniscayaan eksistensial. Tuhan Yang Maha Penyayang, yang telah menganugerahkan kepada kita segala yang kita perlukan di planet ini untuk kehidupan dan segala yang menopangnya, juga telah menjamin melalui kenabian apa yang paling kita butuhkan: petunjuk menuju-Nya dan keridaan-Nya dalam kehidupan ini dan kehidupan akhirat.
Hence, to avert this psychospiritual tragedy, and to live for Almighty God, prophethood is an existential necessity. The same most compassionate God who afforded us all we need on this planet for life and what sustains it, has ensured for us through prophethood what we need most: guidance to Him and His pleasure in this life and the next.
16 Al-Qur'an 51:56, Terjemahan Saheeh International.
16 The Qur’an 51:56, Saheeh International Translation.
17 al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, 8:86 #6407; Muslim ibn al-Ḥajjāj al-Qushayrī, Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut: Dār Iḥyāʼ al-Kutub al-ʻArabīyah, 1955), 1:539 #779.
17 al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, 8:86 #6407; Muslim ibn al-Ḥajjāj al-Qushayrī, Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut: Dār Iḥyāʼ al-Kutub al-ʻArabīyah, 1955), 1:539 #779.
18 Lloyd Greene dan George Burke, "Beyond Self-Actualization," Journal of Health and Human Services Administration (2007): 116-128.
18 Lloyd Greene and George Burke, “Beyond Self-Actualization,” Journal of Health and Human Services Administration (2007): 116-128.
19 Al-Qur'an 13:28, Terjemahan Saheeh International.
19 The Qur’an 13:28, Saheeh International Translation.
20 Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Madarij al-Salikin Bayna Manazil Iyaka Na'budu wa Iyaka Nasta'in (Beirut: Dar al-Kutub al-'Arabi, 1996), 3:156.
20 Ibn Qayyim al-Jawzīyah, Madārij al-Sālikīn Bayna Manāzil Īyāka Na’budu wa Īyāka Nasta’īn (Beirut: Dār al-Kutub al-ʻArabī, 1996), 3:156.