5.28 Terjerumus ke dalam Kemaksiatan
5.28 The Plunge Into Immorality
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda bahwa akan muncul di masa depan "wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, berjalan dengan lenggak-lenggok yang menggoda, dengan sesuatu di atas kepala mereka yang menyerupai punuk unta, condong ke satu sisi. Mereka tidak akan masuk surga atau bahkan mencium wangi-wanginya, padahal wanginya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian."327
Abū Hurayrah narrates that the Prophet صلى الله عليه وسلم said that there will emerge in the future “women who are clothed yet naked, walking with an enticing gait, with something on their heads that looks like the humps of camels, leaning to one side. They will never enter Paradise or even smell its fragrance, although its fragrance can be detected from such and such a distance.”327
Bukankah luar biasa bahwa beliau tidak hanya meramalkan pakaian mereka yang provokatif, tetapi bahkan memprediksi model rambut perempuan? Nabi ﷺ juga menyatakan bahwa bahkan komunitas Muslim akan ikut serta dalam sebagian dari tren ini. "Akan ada pada akhir umatku laki-laki yang mengendarai kendaraan-kendaraan, yang pada hakikatnya adalah laki-laki semu; mereka akan menurunkan perempuan-perempuan mereka di pintu-pintu masjid, yang berpakaian namun telanjang. Di atas kepala mereka terdapat seperti punuk unta yang kurus."328 Meskipun hal ini juga terjadi di masa lalu, sebagaimana al-Nawawī menegaskan tentang masyarakat pada masanya, kini bahkan lebih mudah menemukan seorang Muslim laki-laki yang sangat peduli terhadap merek "kendaraan" yang ia kendarai dan "tenaga kudanya", namun tidak peduli terhadap perempuan-perempuannya dan pakaian mereka yang terbuka di tempat umum.
Is it not remarkable how he not only foretold their provocative dress, but even predicted women’s hairstyles? The Prophet also stated that even Muslim communities would participate in some of these trends. “There will be in the end of my nation men who ride chariots who are in reality pseudo-men; they will drop off their women, at the gates of the mosques, who are clothed and yet naked. Upon their heads will be the likes of a lean camel’s hump.”328 While this occurred in the past as well, as al-Nawawī asserts about his own premodern society, it is even less difficult now to find a Muslim man who is protective of what brand of “chariot” he rides and its “horse-power” but not protective of his women and their revealing attire in public.
‘Abdullāh ibn ‘Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ juga memprediksi akibat dari budaya populer yang sangat seksual; “Dan tidaklah perzinaan merajalela di tengah suatu kaum hingga mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali akan menyebar di tengah mereka wabah-wabah yang belum pernah ada pada generasi-generasi terdahulu mereka.”329 Hubungan antara permisivitas seksual dan penyakit menular seksual bukanlah hal yang dapat disangkal oleh siapa pun yang berakal sehat di zaman kita. Mungkin pengejaran tanpa kendali terhadap kepuasan seksual tanpa tanggung jawab juga berada di balik ramalan berikutnya; “Suatu hari nanti seorang wanita akan dibawa, perutnya dibelah, lalu apa yang ada dalam rahimnya akan diambil dan dibuang, karena takut akan memiliki anak.”330 Menurut sebuah survei luas yang diterbitkan dalam Jurnal Guttmacher Institute, “ketakutan akan perubahan hidup yang drastis” adalah alasan paling umum bagi aborsi saat ini, dengan lebih dari separuh responden menyebut menjadi ibu tunggal sebagai alasan dari ketakutan tersebut.331 Anggapan lain yang luar biasa dalam hadis ini adalah bahwa, suatu hari nanti, mengeluarkan janin dari rahim akan berisiko kecil bagi ibunya.
‘Abdullāh ibn ‘Umar narrated that the Messenger of Allah صلى الله عليه وسلم also predicted the consequences of a hypersexualized popular culture; “And fornication never becomes prevalent among a people, to the degree that they practice it openly, except that epidemics become rampant among them which had never before existed in their ancestors.”329 The link between sexual permissiveness and sexually transmitted diseases is not something any sensible person in our times can deny. Perhaps the unhinged pursuit of sexual gratification without liability is behind this next prophecy as well; “A woman will one day be taken and have her abdomen cut open, then what is inside her womb will be taken and discarded, out of fear of having children.”330 According to an extensive survey published in Guttmacher Institute Journal, the “fear of dramatic life changes” is by far the most common reason for abortions today, with more than half of those surveyed citing single motherhood as the reason for that fear.331 Another remarkable presumption in this hadith is that, one day, removing a fetus from the womb will be without much risk to the mother.
Hal ini baru memungkinkan dalam sejarah manusia belakangan ini, dan dahulu sangat berbahaya. Karena itu, operasi caesar biasanya tidak dilakukan dalam sejarah kecuali pada ibu yang sudah meninggal atau sekarat.
This has only been possible recently in human history and would have been extremely dangerous in the recent past. For this reason, a Caesarean section was usually not performed in history except on a dead or dying mother.
Akhirnya, ‘Abdullah bin ‘Amr meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Hari Kiamat tidak akan terjadi sampai manusia berhubungan intim di jalan-jalan sebagaimana keledai berhubungan intim." Aku bertanya, "Apakah itu benar-benar akan terjadi?" Beliau menjawab, "Ya, pasti akan terjadi."332 Meskipun hal ini disebutkan sebagai salah satu tanda-tanda terakhir sebelum Hari Kiamat, setelah peristiwa-peristiwa besar yang mengerikan, banyak budaya modern kita jelas sedang menuju tingkat tidak tahu malu seperti itu, jika tidak sudah mengalaminya.
Finally, ‘Abdullah ibn ‘Amr narrates that the Prophet صلى الله عليه وسلم said, “The Hour will not commence until people mate in the streets just as donkeys mate.” I asked, “Will that really happen?” He said, “Yes, it most certainly will happen.”332 Though this was stated as one of the last signs before the Day of Judgment, following major apocalyptic events, many of our modern cultures are clearly moving towards that degree of shamelessness, if not experiencing it already.
327 Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, 3:1680 #2128.
327 Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, 3:1680 #2128.
328 Ibn Ḥibbān, Ṣaḥīḥ Ibn Ḥibbān, 14:64 #5753; sanad yang ḥasan (dapat diterima) menurut al-Albānī dalam al-Silsilah al-Ṣaḥīḥah, 6:411 #2683.
328 Ibn Ḥibbān, Ṣaḥīḥ Ibn Ḥibbān, 14:64 #5753; a ḥasan (acceptable) chain according to al-Albānī in al-Silsilah al- Ṣaḥīḥah, 6:411 #2683.
Ibn Mājah, Sunan Ibn Mājah, 2:1332 #4019; sanad yang ḥasan (dapat diterima) menurut al-Albānī dalam catatan kakinya.
329 Ibn Mājah, Sunan Ibn Mājah, 2:1332 #4019; a ḥasan (acceptable) chain according to al-Albānī in the comments.
330 Abū Bakr ibn Abī Shaybah, Al-Muṣannaf (Riyadh: Maktabat al-Rushd, 2004), 7:469 #37297; dinyatakan sahih oleh ʻIṣām Mūsá Hādī dalam Kitāb Ṣaḥīḥ Ashrāṭ al-Sā‘ah (Amman:
330 Abū Bakr ibn Abī Shaybah, Al-Muṣannaf (Riyadh: Maktabat al-Rushd, 2004), 7:469 #37297; authenticated by ʻIṣām Mūsá Hādī in Kitāb Ṣaḥīḥ Ashrāṭ al-Sā‘ah (Amman:
al-Dār al-ʻUthmānīyah, 2003), 83.
al-Dār al-ʻUthmānīyah, 2003), 83.
331 Lawrence B. Finer, et al. "Reasons U.S. Women Have Abortions: Quantitative and Qualitative Perspectives," Perspectives on Sexual and Reproductive Health 37, no.
331 Lawrence B. Finer, et al. “Reasons U.S. Women Have Abortions: Quantitative and Qualitative Perspectives,” Perspectives on Sexual and Reproductive Health 37, no.
3 (2005): 110-118.
3 (2005): 110-118.
332 Ibn Ḥibbān, Ṣaḥīḥ Ibn Ḥibbān, 14:64 #5753; dinyatakan sahih oleh al-Albānī dalam catatan kaki.
332 Ibn Ḥibbān, Ṣaḥīḥ Ibn Ḥibbān, 14:64 #5753; authenticated by al-Albānī in the comments.