4.1 Tauhid yang Murni
4.1 Pure Monotheism
Katakanlah (wahai Muhammad), "Inilah jalanku; aku menyeru kepada Allah dengan landasan ilmu, aku dan orang-orang yang mengikutiku. Maha Suci Allah, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik."166
Say [O Muhammad], “This is my way; I invite to Allah with insight, I and those who follow me. And exalted is Allah; and I am not of those who associate others with Him.”166
Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah meminta orang untuk menyembahnya. Beliau bahkan tidak membolehkan orang menunjukkan penghormatan yang berlebihan kepadanya, selalu membuat pembedaan yang tegas antara sifat Ilahi dan kemanusiaan dirinya sendiri, serta melarang orang berdiri untuk menghormatinya ketika beliau masuk ke suatu ruangan (lihat Bab 2). Beliau ﷺ berkeberatan terhadap orang-orang yang dalam ucapan mereka secara tersirat menyamakan beliau dengan Allah,167 dan di saat-saat menjelang wafatnya beliau memperingatkan tentang perbuatan orang-orang terdahulu yang menjadikan makam para nabi mereka sebagai tempat pemujaan.168 Tidak ada landasan yang lebih utama dalam risalahnya selain menjaga pemahaman tauhid yang paling murni di dalam hati manusia dan menyingkirkan segala penghalang antara individu dengan hubungan langsung dan pribadi mereka dengan Tuhan.
The Prophet Muhammad صلى الله عليه وسلم never asked people to worship him. He did not even allow people to display excessive reverence to him, would always make a sharp distinction between the Divine and his own human nature, and would stop people from standing for him when he entered a room (see Chapter 2). He صلى الله عليه وسلم objected to people implicitly equating him and Allah in their statements,167 and warned on his deathbed about the actions of past people who had turned the graves of their prophets into shrines.168 There was no greater keystone of his message than protecting the purest understanding of monotheism in people’s hearts and removing any barrier between individuals and their direct and personal connection with God.
Leo Tolstoy (w. 1910) berasal dari keluarga bangsawan Rusia dan oleh sebagian orang disebut sebagai salah seorang novelis terbesar sepanjang masa. Banyak yang melaporkan betapa besar penghormatannya terhadap Islam, meskipun ia seorang Kristen, karena ia berpendapat bahwa Islam memuat unsur-unsur berharga yang ingin ia jadikan dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas.
Leo Tolstoy (d. 1910) hailed from an aristocratic Russian family and is described by some as one of the greatest novelists of all time. Many have reported his great respect for Islam, despite being a Christian, because he thought it contained valuable elements that he wanted to make accessible to a wider audience.
Dia memasukkan Nabi Muhammad ﷺ dalam sebuah seri buku berjudul The Most Remarkable Thinkers of All Times and Peoples.
He included the Prophet Muhammad صلى الله عليه وسلم in a series of books entitled The Most Remarkable Thinkers of All Times and Peoples.
Dalam seri ini, Tolstoy menulis tentang Islam. Inti dari agama ini adalah bahwa tidak ada sesembahan yang layak disembah selain Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa, bahwa Dia Maha Penyayang dan Maha Adil, dan akan menghakimi setiap orang secara perseorangan, sesuai dengan imannya serta timbangan amal baik dan buruknya, yang berarti kedamaian bagi orang-orang yang benar dan kebinasaan bagi orang-orang yang berbuat jahat… Dia menghendaki agar manusia mencintai-Nya serta saling mencintai satu sama lain. Cinta kepada Tuhan diungkapkan dalam doa, kasih sayang kepada sesama, pertolongan, dan pengampunan.169
In this series, Tolstoy writes about Islam, The essence of this faith came down to the fact that there is no deity worthy of worship except the One True Almighty God, that He is merciful and just, and will judge each person individually, according to his or her faith and the balance of his or her good and bad actions which means peace for the righteous, and damnation for evildoers… He wants people to love Him as well as each other. The love for God is expressed in a prayer, compassion for others, assistance and forgiveness.169
Jika kebutuhan eksistensial terbesar umat manusia adalah mengenali Tuhan yang Esa dan membangun hubungan yang bermakna dengan-Nya, maka hanya keyakinan yang paling murni tentang Tuhan dan keesaan-Nya yang akan menarik mereka. Ketika analis demografi di Pew Research Center meneliti mengapa Islam diproyeksikan menjadi agama dengan pertumbuhan tercepat di dunia,170 mereka menemukan bahwa "lebih menyukai keyakinan Islam/menemukan makna yang lebih dalam dalam Islam" dan "mempelajari Islam/membaca teks-teks keagamaannya" sebenarnya adalah dua motivator utama bagi orang untuk masuk Islam.171 Hal ini seharusnya tidak mengherankan. Ketika manusia memandang dirinya sebagai makhluk yang memiliki tujuan, maka selayaknya bagi mereka bahwa tidak ada yang lebih baik daripada Dia yang menciptakan dan merancang mereka untuk memberi tahu mereka tentang tujuan itu. Bagi orang-orang ini juga berlaku bahwa Zat yang Mahabijaksana dan Maha Penyayang tentu telah menyampaikan tujuan tersebut kepada mereka, dan dari sinilah muncul daya tarik abadi dari model agama "wahyu ilahi", atau model "utusan yang diilhami dari langit" sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Dari titik ini dalam pencarian kuno untuk mengenal Tuhan, kita hanya dihadapkan pada dua pilihan: filsafat-filsafat terbatas yang gagal menjawab pertanyaan paling mendesak manusia tentang apa yang menjadikan hidup bermakna, atau pencarian dipersempit pada "agama-agama Abrahamik" yang sepakat tentang keesaan Tuhan dalam teori tetapi berbeda sesudahnya. Pada akhirnya, penekanan unik Islam pada Keesaan Tuhan dan keagungan-Nyalah yang membedakannya dari Yudaisme tradisional, yang memandang Tuhan sebagai sosok yang bersifat kesukuan dengan keberpihakan pada satu garis keturunan, dan dari Kekristenan arus utama, yang memandang Tuhan sebagai sosok yang reduksionis, yang menerima klaim iman sebagai pengganti amal saleh. Sebagaimana Charles Le Gai Eaton (w. 2010), diplomat Inggris sekaligus ulama Islam, menulis tentang hal ini, Dalam pandangan Muslim, Yudaisme 'menasionalisasi' monoteisme, mengklaimnya hanya untuk satu bangsa, sementara dalam Kristen, pribadi Yesus seakan-akan menutupi Ketuhanan, sebagaimana matahari tertutup oleh bulan; atau juga: Yudaisme menstabilkan monoteisme ini, memberinya rumah dan tentara, tetapi pada saat yang sama merampasnya; Kristen mengunivеrsalkan kebenaran, tetapi mengencerkannya. Islam menutup lingkaran dan memulihkan kemurnian iman Ibrahim, memberikan kepada Musa dan Isa kedudukan yang tertinggi dalam alam semesta-Nya, dan merangkul hakikat monoteisme, yaitu penyembahan tunggal kepada Yang Esa, serta cerminan Keesaan Ilahi dalam keseimbangan pribadi dan sosial, yakni keseimbangan antara segala kekuatan yang berlawanan dan antara berbagai tingkatan pengalaman manusia.
If humanity’s greatest existential need is to identify the one true God and develop a meaningful relationship with Him, then only the purest belief about God and His uniqueness will attract them. When demographics analysts at Pew Research Center investigated why Islam is projected to be the fastest growing religion in the world,170 they found that “preferring the beliefs/ finding more meaning in Islam” and “studying Islam/reading its religious texts” are in fact the two primary motivators for converting to Islam.171 This should not be surprising. When humans see themselves as purposeful creatures, it should follow for them that there is none better than the One who fashioned and designed them to inform them of their purpose. It also follows for these people that a supremely wise, supremely merciful being would have communicated that purpose to them, and hence the undying appeal of the “divine revelation” model of religion, or that of “heavenly inspired messengers” as discussed earlier. From this juncture in the ancient quest to know God, we are left with either limited philosophies that fall short of answering people’s most pressing questions on what makes life meaningful, or the search is narrowed to the “Abrahamic faiths” which agree on the oneness of God in theory but diverge thereafter. Ultimately, it is the unique emphasis of Islam on the Oneness of God and His glory that separates it from traditional Judaism which posits God as tribalist with partiality for a single bloodline, and mainstream Christianity which posits God as reductionist who accepts claims to faith in place of righteous works. As Charles Le Gai Eaton (d. 2010), the British diplomat and Islamic scholar, wrote on this point, In the Muslim view, Judaism ‘nationalized’ monotheism, claiming it for one people alone, while in Christianity the person of Jesus as it were eclipsed the Godhead, just as the sun is eclipsed by the moon; or again: Judaism stabilized this monotheism, giving it a home and an army, but at the same time confiscated it; Christianity universalized the truth, but diluted it. Islam closed the circle and restored the purity of the faith of Abraham, giving to Moses and Jesus positions of pre-eminence in its universe and seizing upon the quintessential nature of monotheism, single-minded worship of the One, and upon the reflection of the Divine Unity in personal and social equilibrium--a balance between all contrary forces and between the different levels of human experience.
Ibnu Taimiyyah (w. 1328) berpendapat bahwa Islam memadukan Hukum Keadilan Musa dengan Hukum Kasih Karunia Kristen, dengan mengambil jalan tengah antara keras-nya Yudaisme dan kasih sayang Yesus; dan ia mengatakan bahwa jika Musa telah memaklumkan Keagungan Tuhan dan Yesus memaklumkan Kebaikan-Nya, maka Muhammad ﷺ memaklumkan Kesempurnaan-Nya.
Ibn Taymiyyah (d. 1328) maintained that Islam combined the Mosaic Law of Justice with the Christian Law of Grace, taking a middle way between the severity of Judaism and the mercy of Jesus; and he said that while Moses had proclaimed God’s Majesty and Jesus His Goodness, Muhammad proclaimed His Perfection.
Dalam konteks yang sama, dikatakan bahwa Isa menyingkapkan apa yang telah disembunyikan Musa, yaitu rahasia-rahasia Rahmat Ilahi dan kekayaan Cinta Ilahi, dan bahwa Islam akhirnya menempatkan segala sesuatu dalam perspektif yang tepat dalam cahaya Kebenaran yang utuh.172
In the same context, it is said that Jesus revealed what Moses had kept hidden, the secrets of the Divine Mercy and the richness of Divine Love, and that Islam finally brought everything into perspective in the light of total Truth.172
Meskipun Tuhan digambarkan dalam Al-Qur'an dengan cara yang mirip dengan cara Ia digambarkan dalam Alkitab dalam banyak hal, perbedaannya sangat signifikan dan berdampak besar. Misalnya, dalam Al-Qur'an tidak ada misteri yang menyelimuti keesaan dan identitas Tuhan, berbeda dengan ketidakjelasan doktrin Trinitas, yang kerumitannya tercermin hingga kini dalam perselisihan mendasar antara denominasi-denominasi Kristen mengenai pribadi dan hakikat Tuhan. Demikian pula, tidak ada pengecualian terhadap kemahakuasaan Tuhan di mana pun dalam Al-Qur'an, sementara Perjanjian Lama menggambarkan Tuhan, misalnya, kalah dalam pergulatan melawan Yakub.173
Though God is described in the Qur’an similarly to how He is described in the Bible in many respects, the differences are significant and consequential. For instance, there is no mystery surrounding God’s oneness and identity in the Qur’an, as opposed to the obscurity of the trinitarian doctrine, with its convoluted nature reflected today in the fundamental disagreements between Christian denominations over the person and nature of God. Likewise, there is no exception to God’s omnipotence anywhere in the Qur’an, while the Old Testament depicts God, for instance, as losing a wrestling bout with Jacob .173
Hanya dalam Islam ditemukan penekanan yang jelas pada Tuhan yang mutlak dalam keesaan dan kesempurnaan-Nya, yang melampaui dalam kekuasaan dan keadilan-Nya, yang disucikan dari menyerupai makhluk-Nya ataupun meninggalkan mereka tanpa bimbingan, serta yang sama penyayang-Nya kepada seluruh umat manusia, dan menyampaikan kepada mereka semua pesan yang sama.
Only in Islam does one find a distinct focus on God who is absolute in His Oneness and perfection, transcendent in His power and justice, glorified above resembling His creation or deserting them without direction, and equally compassionate to humanity at large, addressing them all with the same message.
166 Al-Qur'an 12:108, Terjemahan Saheeh International.
166 The Qur’an 12:108, Saheeh International Translation.
167 ‘Abdullāh ibn ‘Abdul-Raḥmān al-Dārimī, Sunan al-Dārimī (Riyadh: Dār al-Mughnī, 2000), 3:1769 #2741
167 ‘Abdullāh ibn ‘Abdul-Raḥmān al-Dārimī, Sunan al-Dārimī (Riyadh: Dār al- Mughnī, 2000), 3:1769 #2741
168 al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, 2:102 #1390.
168 al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, 2:102 #1390.
169 Piotr Stawinski, "Leo Tolstoy and Islam: Some Remarks on the Theme," The Quarterly Journal of Philosophical Meditations 2, no. 5 (Spring 2010): 18.
169 Piotr Stawinski, “Leo Tolstoy and Islam: Some Remarks on the Theme,” The Quarterly Journal of Philosophical Meditations 2, no. 5 (Spring 2010): 18.
“The Changing Global Religious Landscape,” Pew Research Center, 5 April 2017.
170 “The Changing Global Religious Landscape,” Pew Research Center, April 5th, 2017.
171 Besheer Mohamed dan Elizabeth Podrebarac Sciupac, "The Share of Americans who Leave Islam is Offset by Those who Become Muslim," Pew Research Center, 26 Januari 2018.
171 Besheer Mohamed and Elizabeth Podrebarac Sciupac, “The Share of Americans who Leave Islam is Offset by Those who Become Muslim,” Pew Research Center, January 26th, 2018.
172 Charles L. G. Eaton, Islam and the Destiny of Man (Albany: George Allen & Unwin, 1985), 44.
172 Charles L. G. Eaton, Islam and the Destiny of Man (Albany: George Allen & Unwin, 1985), 44.
173 Lihat: Kejadian 32:22-30.
173 See: Genesis 32:22-30.