5.8 Para Kaisar Terakhir
5.8 The Last Emperors
Ketika suku Quraisy memeluk Islam, mereka khawatir akan terhalang dari jalur perdagangan mereka ke Syam dan Irak, karena wilayah-wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Bizantium dan Sasani, dan keduanya telah menolak seruan untuk memeluk Islam. Jabir bin Samurah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ menenangkan kekhawatiran mereka dengan menyatakan bahwa kedua imperium tersebut akan segera lenyap dari kedua wilayah itu. Beliau bersabda, "Apabila Kisra binasa, maka tidak ada lagi Kisra setelahnya.
When the Quraysh tribe embraced Islam, they feared being blocked from their trade routes to Shām and Iraq, since these territories were under Byzantine and Sassanid rule and both had rejected the call to Islam. Jābir ibn Samurah reports the Prophet صلى الله عليه وسلم addressing this concern by reassuring Quraysh that those empires would soon vanish from both regions. He said, “When Chosroes dies, there will be no Chosroes after him.
Dan ketika Kaisar wafat, tidak akan ada lagi Kaisar sesudahnya. Dan demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, harta benda mereka akan dibelanjakan di jalan Allah.”286 Imam al-Syafi‘i dan al-Khaththābī (w. 988) menjelaskan bahwa maksudnya adalah tidak akan ada lagi Kaisar di Syam Raya, dan tidak akan ada lagi Kisra lain di Irak (Persia Sasanid). Sebenarnya, Kisra terakhir yang berkuasa pada masa hidup Nabi ﷺ adalah Yazdegerd III (w. 651), dan ia memang menjadi raja ke-38 dan terakhir dari Kekaisaran Sasanid. Kaisar terakhir pada masa hidup Nabi ﷺ adalah Heraclius (w. 641), dan Bizantium memang runtuh serta kehilangan Yerusalem, situs paling suci bagi umat Kristen, pada masa pemerintahannya.
And when Caesar dies, there will be no Caesar after him. And I swear by the One in whose hand is Muhammad’s soul, their treasures will be spent in the path of God.”286 Imam al-Shāfi‘ī and al-Khaṭṭ ābī (d. 988) explained that this meant there would never be another Caesar in Greater Syria, nor any other Chosroes in Iraq (Sassanid Persia). Indeed, the final Chosroes who rose to power during the Prophet’s صلى الله عليه وسلم life was Yazdegerd III (d. 651), and he indeed became the 38th and final king of the Sassanid Empire. The final Caesar during the Prophet’s صلى الله عليه وسلم life was Heraclius (d. 641), and Byzantium did in fact collapse and lose Christendom’s holiest site of Jerusalem during his reign.
Setelah tokoh-tokoh tersebut, tidak ada satu pun dari kedua kekaisaran itu yang mempertahankan kehadiran di kedua wilayah tersebut.287
After those individuals, neither empire maintained any presence in those two regions.287
286 al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, 4:203 #3618; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, 4:2237 #2919.
286 al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, 4:203 #3618; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, 4:2237 #2919.
287 Ibn Ḥajar, Fatḥ al-Bārī, 6:626; Muḥammad ibn ʻAbdul-Raḥmān al-Mubārakfūrī, Tuḥfat al-Aḥwadhī bi-Sharḥ Jāmiʻ al-Tirmidhī (Beirut: Dār al-Kutub al-ʻIlmīyah, 1990), 6:383 #221.
287 Ibn Ḥajar, Fatḥ al-Bārī, 6:626; Muḥammad ibn ʻAbdul-Raḥmān al- Mubārakfūrī, Tuḥfat al-Aḥwadhī bi-Sharḥ Jāmiʻ al-Tirmidhī (Beirut: Dār al-Kutub al-ʻIlmīyah, 1990), 6:383 #221.