5.20 Mendahului Penanya
5.20 Preempting The Questioner
Sebagaimana Al-Qur’an menggambarkan Yesus menceritakan kepada orang-orang tentang rahasia yang mereka sembunyikan di kedalaman rumah mereka,310 adalah hal yang lazim bagi Nabi Muhammad ﷺ untuk menyinggung isi hati orang-orang yang berinteraksi dengannya. Sebagai contoh, Wābiṣah ibn Ma‘bad meriwayatkan: Aku datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, “Engkau datang untuk bertanya tentang kebaikan dan dosa?” Aku menjawab, “Ya.” Beliau ﷺ lalu mengepalkan tangannya, menepuk dadaku, dan bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu. Mintalah fatwa kepada hatimu. Mintalah fatwa kepada hatimu. Dosa adalah sesuatu yang membuat jiwa tidak tenang dan bergejolak di dada, meskipun orang-orang terus memberimu nasihat yang berbeda.”311 Demikian pula, ‘Āishah, istri Nabi, meriwayatkan bahwa beliau ﷺ pernah bersabda kepadanya, “Engkau akan memberitahuku, atau Yang Maha Halus, Yang Maha Mengetahui, akan memberitahuku… Apakah engkau mengira bahwa Allah dan Rasul-Nya akan merugikanmu?” Ia menjawab, “Apa yang disembunyikan orang, Allah mengetahuinya... Ya, sungguh.”312 Imam al-Nawawī menjelaskan bahwa seluruh naskah menyandarkan ucapan “Ya, sungguh” kepada ‘Āishah. Dengan kata lain, itu bukan pertanyaan yang dijawab Nabi dengan jawaban “ya”, sehingga seolah-olah ia sedang membenarkan dirinya sendiri atas kenyataan yang baru saja ia nyatakan.313
Just as the Qur’an describes Jesus telling others about the secrets they concealed in the depths of their homes,310 it was common for the Prophet Muhammad صلى الله عليه وسلم to address the inner thoughts of those he interacted with. For instance, Wābiṣah ibn Ma‘bad narrated: I came to the Messenger of Allah صلى الله عليه وسلم and he said, “You came to ask about righteousness and sin?” I said, “Yes.” He صلى الله عليه وسلم closed his hand, tapped my chest, and said, “Consult your heart. Consult your heart. Consult your heart. Sin is what discomforts your soul and wavers in your chest, even if the people continue to advise you otherwise.”311 Similarly, ‘Āishah , the Prophet’s wife, reports that he صلى الله عليه وسلم once told her, “You will either tell me, or the Most Subtle, the Most Acquainted, will inform me… Did you think that Allah and His Messenger would shortchange you?” She responded, “Whatever people conceal, Allah knows... Yes, indeed.”312 Imam al-Nawawī comments that all the manuscripts attribute “Yes, indeed” to ‘Āishah . In other words, it was not an inquiry which the Prophet responded to in the affirmative, so it was as if she was agreeing with herself about the reality she had just attested to.313
310 The Qur’an 3:49.
311 Ibnu Hanbal, Musnad Ahmad, 29:533 #18006; hadits ini berstatus hasan (dapat diterima) menurut an-Nawawi dalam al-Arba'in an-Nawawiyah, #27.
311 Ibn Ḥanbal, Musnad Aḥmad, 29:533 #18006; a ḥasan (acceptable) chain according to al-Nawawī in al-Arba‘īn al-Nawawīyah, #27.
Shahih Muslim, 2:669 #974.
312 Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, 2:669 #974.
313 Yaḥyá ibn Sharaf al-Nawawī, Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, 1972), 7:44.
313 Yaḥyá ibn Sharaf al-Nawawī, Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, 1972), 7:44.