4. Pesan Sang Nabi ﷺ
4. The Prophet’s Message
Pesan moral dan intelektual yang dibawa oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah (teladan kenabian beliau), menjadi bukti kebenarannya. Sebagaimana Plato berargumen dalam triadnya tentang nilai-nilai transendental, kebenaran, keindahan, dan kebaikan tidak dapat dipisahkan. Dalam pengertian itu, menghargai kemurnian dan keindahan yang melekat pada gaya hidup Islam tidak hanya menarik kita kepada pesannya, tetapi juga menegaskan keabsahan nabi terakhir sebagai utusan dari Yang Maha Ilahi. Pesan tersebut juga dapat menjadi saksi bagi kenabian Muhammad صلى الله عليه وسلم melalui keselarasannya dengan pesan para nabi lain dalam pokok-pokok akidah. Perjanjian Lama menyatakan bahwa ajaran seorang nabi itulah yang mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya,165 dan juga memperingatkan bahwa sekalipun seseorang mampu meramalkan masa depan, ia tetaplah nabi palsu jika ia menyeru untuk menyembah tuhan-tuhan lain.
The moral and intellectual greatness of the message brought by the Prophet Muhammad صلى الله عليه وسلم —namely the Qur’an and Sunnah (his prophetic example)—testifies to its truth. As Plato famously argued in his triad of transcendental values, truth, beauty, and goodness are inseparable. In that sense, appreciating the inherent purity and beauty of the Islamic lifestyle not only attracts us to its message, but also confirms the legitimacy of its final prophet as a messenger from the Divine. The message can also vouch for the prophethood of Muhammad صلى الله عليه وسلم by way of its alignment with the message of other prophets on fundamental creedal points. The Old Testament argues that the teachings of a prophet are what reveal his true identity,165 and also warns that even if someone is able to predict the future, they are a still a false prophet if they call to worshipping other gods.
Seseorang juga dapat takjub akan begitu banyaknya yang terdokumentasi tentang dakwah singkat Muhammad ﷺ dari tahun 610 hingga 632 M. Al-Qur'an dan Sunnah tidak dapat dibandingkan dengan Alkitab, misalnya, karena Alkitab tidak hanya berisi ajaran Musa, melainkan merupakan kanon sejarah yang dihimpun, yang perkembangannya memakan waktu berabad-abad. Dilihat dari kualitas isinya dan luasnya cakupan, ajaran yang disampaikan Nabi ﷺ tetap menonjol sebagai pesan dengan kedalaman dan nilai yang luar biasa. Ajaran itu mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya, dengan orang-orang di sekitarnya, bahkan dengan hewan dan benda mati, serta memberikan hikmah yang abadi tentang segala hal yang berkaitan dengan kesejahteraan individu dan masyarakat.
A person can also marvel at the sheer volume of what has been documented of Muhammad’s صلى الله عليه وسلم brief ministry from 610-632 CE. The Qur’an and Sunnah cannot be compared with the Bible, for instance, since the latter does not solely contain the teachings of Moses but rather is an aggregated historical canon whose development spanned centuries. Considering the quality of its substance and breadth of its scope, what the Prophet صلى الله عليه وسلم taught continues to distinguish itself as a message of exceptional depth and value. It defined people’s relationships with their Maker, with those around them, even with animals and inanimate objects, and provided timeless wisdom about everything related to their individual and collective well-being.
Dari sana, seseorang mungkin tergerak untuk mempertimbangkan konsistensi internalnya; keselarasan dari korpus yang komprehensif ini, yang menjadi landasan bagi teologi, pencerahan spiritual, kebajikan pribadi, perilaku antarpribadi, hukum sipil, dan kebijakan luar negeri dengan keterpaduan yang begitu rumit sehingga banyak orang sepanjang sejarah menganggapnya sebagai mukjizat.
From there, one may be drawn to consider its internal consistency; the harmony of such a comprehensive corpus that informs theology, spiritual enlightenment, individual virtue, interpersonal behavior, civil laws, and foreign policies with such intricacy that led many throughout history to find it miraculous.
Mereka memandang aspek ini dari pesan terakhir sebagai sesuatu yang melampaui kecanggihan manusia, dan lebih masuk akal bahwa keseimbangan tersebut hanya dapat dikaitkan dengan sifat Tuhan yang sempurna.
They saw this facet of the final message as beyond human sophistication, and more reasonably a balancing act that could only be attributable to God’s perfect nature.
Akhirnya, kedalaman pesan ini semakin nyata jika dibandingkan dengan doktrin-doktrin agama lain yang surut menghadapi kritik atau sekadar tergerus waktu. Di zaman teknologi kita, yang telah memudahkan penyebaran gagasan secara global dan pemeriksaan fakta, jauh lebih banyak orang yang meninggalkan Kristen dibandingkan Islam di Eropa dan Amerika Utara. Pertumbuhan Islam, di sisi lain, meskipun banyak penentangnya, terus menunjukkan kebenarannya yang melekat serta universalitasnya lintas waktu dan tempat, karena ia layak dijalani oleh orang-orang dengan latar belakang pendidikan, ekonomi, dan budaya yang sangat beragam. Hukum-hukum Islam serta doktrin-doktrin keagamaannya juga terus bertahan, sementara tidak ada masyarakat yang mampu merumuskan sistem yang sebanding, yang selalu relevan, dan yang menawarkan keseimbangan serta kesejahteraan menyeluruh bagi orang-orang dari segala lapisan kehidupan.
Finally, the profundity of the message becomes further evident when contrasted with other religious doctrines that waned in the face of criticism or simply with the passage of time. In our technological age which has facilitated the globalization of ideas and fact-checking, far more people leave Christianity than Islam in Europe and North America. Islam’s growth despite its many detractors, on the other hand, continues to demonstrate its inherent veracity as well as its universality across time and place, being viable for people of very different educational, economic, and cultural backgrounds. The laws of Islam as well as its religious doctrines also continue to endure, while no society has been able to devise a comparable ever-relevant system that offers equilibrium and holistic well-being to people of all walks of life.
Bab ini akan menampilkan sepuluh sorotan dari pesan ini, dengan fokus pada hal-hal yang lebih mudah dihargai oleh orang-orang di abad kedua puluh satu. Dimensi-dimensi ini hendaknya membantu kita menghargai pesan Nabi Terakhir ﷺ secara utuh, karena keseluruhannya membentuk suatu argumen kumulatif dalam membela kenabiannya.
This chapter will showcase ten highlights of this message, focusing on those more easily appreciated by people in the twenty-first century. These dimensions should help us appreciate the message of the Final Prophet صلى الله عليه وسلم in its totality, as they form a cumulative case in defense of his prophethood.
165 Lihat: Ulangan 13:1-18.
165 See: Deuteronomy 13:1-18.