4.7 Larangan Mengonsumsi Minuman Keras
4.7 Prohibiting Alcohol Consumption
Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya (minuman) keras, judi, berhala, dan panah-panah untuk mengundi nasib adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah semua itu agar kamu mendapat keberuntungan.220
O believers! Intoxicants, gambling, idols, and divination arrows are all abominations from Satan’s handiwork. So shun them so you may be successful.220
Penolakan Islam yang lugas dan tegas terhadap konsumsi alkohol mungkin adalah salah satu aspek yang paling mudah untuk dihargai dari pesan Nabi ﷺ. Di satu sisi, kenyataan bahwa hal itu bertentangan dengan norma yang berlaku pada masanya di kalangan kaum pagan, Yahudi, dan Kristen menyanggah anggapan bahwa dakwahnya merupakan kumpulan ajaran yang diserap dari lingkungan sekitarnya. Namun selain bersifat revolusioner dan orisinal, penetapan hukum ini juga sangat bijaksana dalam perumusannya. Nabi Muhammad ﷺ menyampaikan kepada manusia bahwa "apa pun yang memabukkan dalam jumlah banyak, maka walaupun dalam jumlah sedikit pun, itu haram."221
Islam’s straightforward, categorical rejection of alcohol consumption may be one of the easiest facets of the Prophet’s صلى الله عليه وسلم message to appreciate. On one hand, that fact that it was contrary to the prevailing norms at his time among pagans, Jews, and Christians argues against the notion that his ministry was an accumulation of teachings absorbed from his surrounding environment. But in addition to its being revolutionary and original, it was incredibly wise in its framing. The Prophet Muhammad صلى الله عليه وسلم informed people that “whatever will intoxicate in large amounts, then even small amounts of it are unlawful.”221
Orang yang berakal sehat seharusnya menyadari betapa unggulnya nasihat ini dibandingkan anjuran masa kini untuk "minum secara bertanggung jawab", yang bergantung pada pengambilan keputusan oleh orang-orang yang kemampuannya untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab justru telah terganggu.
Sensible people should notice how superior this advice is to current recommendations to “drink responsibly” which rely on the decision-making of those whose ability to make responsible decisions is impaired.
Beberapa masyarakat modern telah mengakui logika yang gagal ini dan berupaya mengakalinya dengan mewajibkan seorang "sopir pengganti" (designated driver) untuk tidak minum sama sekali agar dapat mengantar para peminum pulang ke rumah mereka dengan selamat. Untuk menggambarkan ketidakcukupan langkah-langkah ini, perhatikan bahwa Harvard Alcohol Project telah menormalkan konsep "designated driver" pada tahun 1991.
Some modern societies have acknowledged this failed logic and attempted to maneuver around it by requiring that a “designated driver” abstain from drinking altogether to safely transport the drinkers to their homes. To illustrate the inadequacy of these measures, realize that the Harvard Alcohol Project normalized the “designated driver” concept by 1991
menggunakan jaringan besar yang mencakup kelompok advokasi pemerintah, Hollywood, liga olahraga profesional, perusahaan-perusahaan besar, dan bahkan memiliki iklan layanan masyarakat yang disiapkan oleh perusahaan pembuat bir dan penyulingan sendiri. Ketika semuanya sudah jelas, ternyata kampanye ini salah sasaran. Tiga dekade kemudian, penurunan 50% kecelakaan kendaraan bermotor akibat pengaruh alkohol masih belum tercapai. Lebih dari 10.000 orang di Amerika Serikat tewas pada tahun 2016 akibat kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh pengemudi dalam pengaruh alkohol, yaitu 28% dari seluruh kematian lalu lintas. Dengan adanya tekanan kelompok yang bersifat nonverbal, yang nyata bahkan bagi orang dewasa, ditambah kerepotan untuk mengenali siapa yang secara sukarela tetap tidak minum saat bersosialisasi dengan orang-orang yang sedang minum, harapan semu ini tidak pernah benar-benar berpotensi untuk memberantas masalah tersebut sepenuhnya. Jika kita merujuk pada tuntunan Nabi ﷺ dalam masalah ini, beliau mengajarkan bahwa tidak cukup hanya melarang orang memasuki jalan licin berupa "minum sedikit" melalui kebijakan tanpa toleransi terhadap konsumsi alkohol.
using massive networks that spanned government advocacy groups, Hollywood, professional sports leagues, major corporations, and even had public service announcements prepared by the brewing and distilling companies themselves. When the dust cleared, it turned out that this campaign was focused on the wrong target. Three decades later, a 50% decline in motor vehicle crashes caused by alcohol-impairment has still not been achieved.222 Over 10,000 people in the United States were killed in 2016 by alcohol-impaired driving crashes, 28% of all traffic deaths.223 With nonverbal peer-pressure being a reality even for adults, along with the bother of identifying who will voluntarily remain sober while socializing with those actively drinking, this wishful thinking never had the potential to fully combat the problem. If we turn to the guidance of the Prophet صلى الله عليه وسلم on this issue, he taught that it was not enough to prohibit people from embarking on the slippery slope of “light drinking” through a zero-tolerance policy on alcohol consumption.
Dia ﷺ menambahkan bahwa melindungi orang yang tidak minum dari daya tarik magnetnya hanya mungkin dengan melarang mereka duduk di meja tempat minuman keras diedarkan.224 Namun yang lebih utama, Nabi ﷺ mengajarkan bahwa penyucian rohani dan akhlak merupakan landasan sejati tempat ketidakmabukan dan perbaikan dibangun, dan dengan itulah seseorang terbebas dari kebiasaan buruk ini. Istrinya, ‘Āisyah, berkata, "Wahyu pertama Al-Qur'an tidak lain adalah surah-surah dari mufaṣṣal (surah-surah pendek), yang di dalamnya disebutkan tentang Surga dan Neraka. Kemudian, ketika orang-orang telah cenderung kepada Islam, yang halal dan haram diturunkan. Seandainya yang pertama kali diturunkan adalah 'Jangan minum khamar,' niscaya mereka akan berkata, 'Kami tidak akan pernah meninggalkan khamar.' Dan seandainya 'Jangan berzina' yang diturunkan lebih dahulu, niscaya mereka akan berkata, 'Kami tidak akan pernah meninggalkan zina.'"225
He صلى الله عليه وسلم added that insulating non-drinkers from its magnetic force is only possible through prohibiting them from sitting at a table where wine is circulated.224 But above all, he صلى الله عليه وسلم taught that spiritual and moral refinement were the true bedrock upon which temperance and reform are built, and a person is liberated from this vice. His wife, ‘Āishah , said, The first revelations of the Qur’an were none other than chapters from the mufaṣṣal (shorter chapters), which contain mention of Paradise and Hellfire. Then, once the people became inclined to Islam, the lawful and unlawful were revealed. If the first thing to be revealed was “Do not drink wine,” they would have said, “We will never give up wine.” And if “Do not fornicate” was revealed first, they would have said, “We will never give up fornication.”225
Demikian pula, Alcoholics Anonymous, sebuah program rehabilitasi yang terkenal di seluruh dunia dengan jutaan penerima manfaat hingga saat ini, mensyaratkan keyakinan kepada Kekuatan yang Lebih Tinggi sebagai bagian dari programnya karena efektivitasnya dalam membantu orang pulih dari kecanduan.
Similarly, Alcoholics Anonymous, a world-renowned rehabilitation program with millions of beneficiaries to date, requires believing in a higher power as part of their program due to its efficacy in helping people recover from addiction.
Selain kematian akibat kecelakaan lalu lintas, risiko kesehatan yang berkaitan dengan konsumsi alkohol sangat luas, melibatkan hampir setiap sistem dan organ dalam tubuh manusia. Contoh toksisitasnya yang paling parah adalah kerusakan otak dan gagal hati.226 Mengonsumsi alkohol selama kehamilan merupakan epidemi lain, karena alkohol sangat beracun bagi janin yang sedang berkembang. Sindrom alkohol janin tetap menjadi penyebab utama disabilitas intelektual yang dapat dicegah di Amerika Serikat, bersama berbagai manifestasi klinis lainnya.227 Selain toksisitas langsung alkohol, dampak buruk dari gangguan yang ditimbulkannya terlihat dari hubungan yang telah mapan antara konsumsi alkohol dan penurunan produktivitas kerja, serta peningkatan penularan HIV, kecelakaan fatal, kekerasan, dan penyalahgunaan.228 Mengisyaratkan agresi yang dipicu oleh zat memabukkan, Allah memperingatkan umat manusia dalam Al-Qur'an: {Sesungguhnya setan itu hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)}.229
Aside from traffic deaths, the health risks associated with alcohol consumption are vast, involving virtually every system and organ in the human body. The most severe examples of its toxicity involve brain damage and liver failure.226 Consuming alcohol while pregnant is another epidemic, due to alcohol being so toxic to a developing fetus. Fetal alcohol syndrome remains the leading cause of preventable intellectual disability in the United States along with a variety of other clinical manifestations.227 In addition to alcohol’s direct toxicity, the detrimental consequences of the impairments it causes are found in the established correlation between alcohol consumption and reductions in workplace productivity, along with increases in HIV transmission, lethal accidents, violence, and abuse.228 Alluding to the aggressions triggered by intoxicants, Allah cautions humanity in the Qur’an, Satan only wants to stir between you animosity and hatred through intoxicants and gambling, and to avert you from the remembrance of Allah and from prayer. So will you not desist? 229
Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa Centers for Disease Control memperkirakan 95.000 kematian terjadi setiap tahun di Amerika Serikat saja akibat konsumsi alkohol yang berlebihan.230 The Lancet baru-baru ini menerbitkan sebuah studi yang mengevaluasi beban penyakit yang terkait dengan alkohol, mencakup 195 negara dari tahun 1990-2016. Dalam upaya menentukan jumlah konsumsi alkohol yang dapat meminimalkan efek buruknya sekaligus tetap memperoleh manfaat kecilnya, mereka menyimpulkan bahwa "nol alkohol" adalah satu-satunya jumlah yang tidak membahayakan.231 Dengan kata lain, bahaya yang terkait dengan konsumsi alkohol begitu besar sehingga pada jumlah berapa pun, manfaatnya tidak lebih besar daripada bahayanya. Banyak studi medis memperkuat pesan abadi Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana diuraikan dalam Al-Qur'an, "Mereka bertanya kepadamu [wahai Muhammad] tentang khamar dan judi. Katakanlah, 'Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.'"232
It is therefore no wonder that the Centers for Disease Control estimate that 95,000 deaths occur every year in the United States alone due to excessive alcohol consumption.230 The Lancet recently published a study evaluating the burden of disease linked to alcohol, spanning 195 countries from 1990-2016. In attempting to determine the amount of alcohol consumption that would minimize its harmful effects while still reaping its minor benefits, they concluded that “zero alcohol” was the only nonthreatening amount.231 In other words, the harm associated with alcohol consumption was so great that in no amount was the benefit greater than its harm. Countless medical studies reinforce the timeless message of the Prophet Muhammad ,صلى الله عليه وسلم as outlined in the Qur’an, “They ask you [O Muhammad] about wine and gambling. Say, ‘In them is great sin, and yet some benefit for people. But their sin is greater than their benefit.’”232
Seperti hari ini, para sahabat Nabi ﷺ di masa sebelum Islam sering membanggakan diri bahwa mabuk membuat mereka tidak takut, dan karena itu mereka menjadi orang-orang yang gagah berani dalam pertempuran dan dermawan dalam berderma. Al-Qur'an datang untuk membalikkan cara berpikir yang sempit ini, dengan menjajarkan keuntungan-keuntungan tersebut dengan kerugian-kerugian yang lebih besar yang tidak dapat dipisahkan darinya, seperti kekerasan yang tidak perlu dan pemborosan harta yang vital. Risalah Muhammad ﷺ menjadikan sikap Islam yang tegas terhadap alkohol bersifat berlandaskan nas dan senantiasa relevan, sehingga tidak dapat dilanggar oleh politik yang berubah-ubah atau oleh klaim manfaat yang konon ada. Mungkin hal inilah yang turut menjelaskan mengapa komunitas minoritas, yang sering kali menanggung dampak buruk konsumsi alkohol secara tidak proporsional, kini berbondong-bondong masuk Islam.233
Much like today, the Prophet’s صلى الله عليه وسلم contemporaries would boast before Islam of how becoming drunk rendered them fearless, and consequently people of valor in battle and generosity in philanthropy. The Qur’an came to overturn this myopic thinking, by juxtaposing these advantages with the inevitable greater harms that cannot be separated from them—such as unnecessary violence and wasting of vital finances. Muhammad’s صلى الله عليه وسلم message made Islam’s unique firm stance on alcohol scriptural and ever-relevant, not to be contravened by fluctuating politics or supposed benefits. Perhaps this plays a role in why minority communities, who are often disproportionately harmed by alcohol consumption, are converting to Islam in droves today.233
220 Al-Qur'an 5:90, terjemahan penulis.
220 The Qur’an 5:90, author’s translation.
221 Abū Dāwūd, Sunan Abī Dāwūd, 3:327 #3681.
221 Abū Dāwūd, Sunan Abī Dāwūd, 3:327 #3681.
222 Editorial Staff, "Using a Designated Driver," American Addiction Centers, 12 Desember 2019.
222 Editorial Staff, “Using a Designated Driver,” American Addiction Centers, December 12th, 2019.
223 "Traffic Safety Facts: 2016 Data." National Highway Traffic Safety Administration, Januari 2018.
223 “Traffic Safety Facts: 2016 Data.” National Highway Traffic Safety Administration, January 2018.
224 al-Tirmidhī, Sunan al-Tirmidhī, 4:410 #2801.
224 al-Tirmidhī, Sunan al-Tirmidhī, 4:410 #2801.
225 al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, 6:185 #4993.
225 al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, 6:185 #4993.
226 “Global Status Report on Alcohol and Health 2014.” World Health Organization (WHO), 2014.
226 “Global Status Report on Alcohol and Health 2014.” World Health Organization (WHO), 2014.
227 Leo Sher, Isack Kandel, dan Joav Merrick. Gangguan Kognitif Terkait Alkohol:
227 Leo Sher, Isack Kandel, and Joav Merrick. Alcohol-related Cognitive Disorders:
Research and Clinical Perspectives (New York: Nova Science, 2009), 5.
Research and Clinical Perspectives (New York: Nova Science, 2009), 5.
228 Howard B. Moss HB, "The Impact of Alcohol on Society: A Brief Overview." Social Work in Public Health, 28:3-4 (2013), 175-177.