Kata Pengantar
Foreword
Segala puji bagi Allah. Dengan menyaksikan sendiri gairah Syaikh Mohammad Elshinawy terhadap pokok bahasan buku ini, saya tahu bahwa kekuatan intelektualnya akan berpadu dengan semangat sang penulis untuk menghasilkan sebuah karya agung.
All praise be to Allah. Noticing firsthand the passion Shaykh Mohammad Elshinawy had for the subject of this book, I knew its intellectual vigor would be mixed with the author’s passion to produce a masterpiece.
Tidak ada topik yang lebih membutuhkan perhatian dan dedikasi kita daripada bukti-bukti kenabian. Di zaman yang penuh ketidakpastian, keraguan, dan sinisme, tidak ada yang lebih penting selain membantu orang membangun keyakinan yang teguh pada kebenaran yang paling utama: kenabian Muhammad ﷺ. Keyakinan inilah yang akan membukakan lebar-lebar bagi mereka pintu menuju ketenangan batin dan kebahagiaan di kehidupan ini dan di kehidupan yang akan datang.
There is no subject I can think of that needs our attention and dedication more than the proofs of prophethood. In an age of uncertainty, skepticism, and cynicism, there is nothing more important than helping people build certainty in a most salient truth: the prophethood of Muhammad (blessings and peace be upon him). It is that certainty that will open wide for them the gates to inner peace and happiness in this life and the one to come.
Buku ini mencakup berbagai bukti, mulai dari keniscayaan historis diutusnya Nabi hingga mukjizat terbesarnya, yaitu Al-Qur'an yang tiada tandingannya, tanpa mengabaikan akhlak, pencapaian, risalah, nubuat, dan mukjizat fisiknya ﷺ. Buku ini memiliki integritas akademis yang diperlukan tanpa kekakuan emosionalnya. Buku ini rinci, namun tidak berlebihan.
The book covers a wide array of proofs from the historical necessity of the Prophet’s dispatchment to the greatest of his miracles—the inimitable Qur’an—without neglecting his character, accomplishments, message, prophecies, and physical miracles. It has the necessary academic integrity without its emotional austerity. It is detailed, yet not superfluous.
Apakah Anda lebih mengutamakan pendekatan evidensialis atau naturalis terhadap iman kepada Tuhan, bukti-bukti kenabian seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari iman dalam Islam. Pendekatan probabilistik yang menggunakan penalaran induktif tidak meniadakan tercapainya keyakinan yang pasti melalui pendekatan tersebut. Jika argumennya kuat dan banyak, maka keyakinan yang pasti tetap dapat dicapai. Keyakinan itu kemudian dapat diperkuat lagi oleh pengalaman spiritual dan pencerahan.
Whether you place more importance on the evidentialist or naturalist approach to faith in God, the proofs of prophethood should be an integral part of faith in Islam. A probabilistic approach using inductive reasoning does not preclude the attainment of certainty through it. If the arguments are strong and plentiful, then certainty can still be achieved. It can then be further grounded by spiritual experience and enlightenment.
Selain pentingnya tema ini, saya juga merasa sangat senang menulis kata pengantar untuk buku ini, karena penulisnya, yang sangat saya harapkan, dan saya berharap Allah akan memakainya dalam melayani perjuangan Islam di negeri ini dan di seluruh penjuru dunia.
In addition to the importance of the subject, I also find great pleasure in writing a foreword for this book because of its author of whom I have great expectations, and I hope that Allah will use him in serving the cause of Islam in this land and around the globe.
Semoga shalawat dan salam Tuhan tercurah kepada Dia yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, penutup para nabi dan rasul terbesar, Muhammad ﷺ.
May God’s blessings and peace be on the one He sent as a mercy for all creatures, the seal of prophets and greatest of messengers, Muhammad.
Hatem al-Haj1, MD, PhD Dekan Universitas Mishkah Komite Fatwa Residen, AMJA
Hatem al-Haj1, MD, PhD Dean of Mishkah University Resident Fatwa Committee, AMJA
Buku ini pada mulanya terinspirasi dari sebuah presentasi yang disampaikan oleh Dr. Hatem al-Haj di Edison, New Jersey (AS). Empat tahun pengumpulan bahan dan penulisan kemudian, perjalanan ini mencapai puncaknya dengan kritik yang teliti dan penuh kesempurnaan dari seorang ahli historiografi kelas dunia, yang bersikeras untuk tidak disebutkan namanya, dan yang telah menyempurnakannya melampaui apa yang dapat dibayangkan.
1 It was originally a presentation delivered by Dr. Hatem al-Haj in Edison, New Jersey (USA), that inspired this book. Four years of gathering and writing later, this journey culminated with the meticulous, perfectionist critique of a world class historiographer who insisted upon anonymity and improved it beyond measure.
Hutang budi saya kepada kedua ulama ini tidak akan pernah bisa terbalas, sekaligus saya mengakui dengan penuh syukur kontribusi mulia dari rekan-rekan saya yang lain di Yaqeen Institute dan tempat-tempat lainnya.
My debt to these two scholars can never be repaid, while also acknowledging the gracious contributions of my other colleagues from Yaqeen Institute and elsewhere.