5.2 Tempat Tinggal Abu Lahab
5.2 The Abode of Abu Lahab
Beberapa saat setelah dakwah terbuka pertama Nabi Muhammad ﷺ kepada Islam, pamannya sendiri, Abū Lahab, mencemooh dan menegur beliau. Untuk membela beliau, Allah segera menurunkan, "Binasalah kedua tangan Abū Lahab, dan binasalah dia. Hartanya dan apa yang ia usahakan tidak akan berguna baginya. Kelak ia akan masuk ke dalam api yang bergejolak."271 Sungguh mengherankan bahwa selama sembilan tahun berikutnya dalam hidup Abū Lahab, meskipun ia terus mendengar ayat-ayat ini dibacakan, kesombongannya mencegahnya untuk menjadikan ayat-ayat tersebut sebagai kesempatan untuk mendiskreditkan Al-Qur'an. Seandainya Abū Lahab sekadar masuk Islam, bahkan secara tidak tulus, hal itu akan sangat mempertanyakan kebenaran Wahyu ini. Tentu saja, Dzat yang menurunkannya mengetahui bahwa Abū Lahab tidak akan pernah melakukan hal itu.
In the moments following the Prophet Muhammad’s صلى الله عليه وسلم first public call to Islam, his own uncle, Abū Lahab, scoffed at and chastised him. In his defense, God immediately revealed, “May the hands of Abū Lahab be ruined, and ruined is he. His wealth will not avail him or that which he gained. He will burn in a Fire of [blazing] flame.”271 It is astonishing that for the next nine years of Abū Lahab’s life, despite hearing these verses being recited, his pride prevented him from taking them as an opportunity to discredit the Qur’an. Had Abū Lahab simply converted, even disingenuously, that would have brought into serious question the truth of this Revelation. Of course, He Who revealed this knew Abū Lahab would never do so.
271 Al-Qur'an 111:1-3, Terjemahan Saheeh International.
271 The Qur’an 111:1-3, Saheeh International Translation.