6.1 Bab Satu Tujuan Zakat dan Pengaruhnya terhadap Individu
6.1 Chapter One Objectives Of Zakah And Its Effects On The Individual
BAGIAN 1 DAMPAK ZAKAT BAGI PEMBAYAR
SECTION 1 EFFECTS OF ZAKAH ON PAYERS
Tujuan utama zakat adalah untuk mengangkat jiwa manusia di atas cinta terhadap harta benda. Oleh karena itu, Islam tidak memandang pembayar zakat semata-mata sebagai sumber dana atau penyandang biaya, melainkan sebagai pribadi yang selalu membutuhkan penyucian dan pembersihan, baik secara rohani maupun materi. Al-Qur'an merangkum tujuan ini dalam firman-Nya: "Ambillah zakat dari harta mereka, dengan zakat itu engkau membersihkan dan menyucikan mereka." {Ambillah dari harta mereka sedekah, dengan itu engkau membersihkan dan menyucikan mereka.}
The foremost objective of zakah is to elevate the spirit of human beings above the love of material acquisition. Consequently, Islam does not view the zakah payer as a mere source of funds or a financier, but as a person who always needs purification and sanctification, both spiritually and materially. The Qur'an summarizes this purpose in the verse "Out of their wealth take sadaqah, that by it thou might purify and sanctify them."
Zakat membersihkan jiwa dari sifat kikir
Zakah cleanses the soul of miserliness
Zakat, bila dikeluarkan karena ketaatan kepada perintah Allah, merupakan sarana untuk menyucikan jiwa seorang Muslim dari ketamakan dan kekikiran. Sifat egois dan tamak harus dijinakkan agar manusia dapat meninggikan jiwanya, berhasil dalam hubungan sosialnya di kehidupan ini, dan memperoleh tempat di Surga. Allah berfirman, "Sesungguhnya manusia itu sangat kikir,"1 dan "Padahal jiwa manusia itu selalu kikir."2 Kekikiran dan ketamakan adalah dorongan yang membuat manusia terjerumus ke dalam kemunafikan, kecurangan, dan pengkhianatan. Nabi ﷺ bersabda, "Ada tiga perkara yang membinasakan: kekikiran yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri,"3 dan "Jauhilah sifat tamak dengan sungguh-sungguh, karena orang-orang sebelum kalian benar-benar binasa karena ketamakan. Ketamakan membuat mereka menjadi kikir, memutuskan hubungan dengan keluarga dan kerabat, serta berbuat keji."4 Selain itu, Allah menjadikan penyucian diri dari keburukan-keburukan ini sebagai syarat keberhasilan dan kemakmuran: "Dan barangsiapa dipelihara dari kekikiran dirinya, merekalah orang-orang yang beruntung."5
Zakah, when paid out of submission to the command of God, is a means of purifying the soul of a Muslim from greed and miserliness. The vices of selfishness and greed must be tamed in order for human beings to elevate their spirits, to succeed in their social relations in this life, and to gain admittance to Heaven. God says, "For man is ever niggardly,"1 and "Even though people's souls are swayed by greed."2 Miserliness and greed are drives that intimidate humans into hypocrisy, cheating, and betrayal. The Prophet (p) says, "Three things are devastating: obeyed niggardliness, pursued desires, and self-admiration,"3 and "Firmly avoid greed, since people before you were indeed destroyed because of greed. Greed swayed them to be misers, cut off from family and friends and vicious."4 Moreover, God makes purification from these evils a condition for success prosperity: "And those saved from the covetousness of their own souls, they are the ones who achieve prosperity."5
Zakat adalah pembersih yang melatih kaum Muslimin untuk memberi dan membelanjakan harta dengan ikhlas. Ia membebaskan jiwa mereka dari cinta harta yang busuk serta dari perbudakan terhadap keuntungan dan penumpukan materi.
Zakah is a purifier that trains Muslims to give and spend selflessly. It liberates their souls from the stinking love of wealth and slavery to material gains and acquisitions.
Zakat melatih seseorang untuk memberi
Zakah trains one to give
Zakat merupakan sarana untuk melatih kaum Muslim agar memiliki sifat-sifat kemurahan hati, dan sekaligus menjadi sarana penyucian diri dari ketamakan. Karena dibayarkan secara berulang dari tahun ke tahun, zakat wajib maupun zakat fitrah melatih kaum Muslim untuk memberi dan membelanjakan harta demi tujuan-tujuan kebajikan. Al-Qur'an menggambarkan orang-orang beriman sebagai orang-orang yang bertakwa, yang memiliki keutamaan berinfak untuk tujuan-tujuan yang baik. Halaman kedua Al-Qur'an dimulai dengan firman-Nya, "Alif, Lam, Mim. Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka."7
Zakah is a means of training Muslims on the virtues of generosity as such as it is a means of purification from greed. Being paid in a repetitive pattern year after year, regular zakah as well as zakah of al fitr train Muslims to give and spend for charitable purposes. The Qur'an describes believers as the righteous who have the virtue of spending for good causes. The very second page of the Qur'an begins, "A L M: This is the Book; in it is guidance sure without doubt to those who fear God, who believe in the unseen, are steadfast in prayer, and spend out of what We have provided for them."7
Nasihat ini diulang berkali-kali dalam Al-Qur'an, seperti firman-Nya, "Orang-orang yang (dalam sedekahnya)
This exhortation is reiterated many times in the Qur'an, such as "Those who (in charity)
"...menginfakkan harta mereka pada malam dan siang hari, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan,"8 "Orang-orang yang berinfak (di jalan Allah) baik dalam keadaan lapang maupun sempit,"9 dan "Orang-orang yang sabar, yang benar (dalam ucapan dan perbuatan), yang taat beribadah, yang berinfak (di jalan Tuhan), dan yang memohon ampunan pada waktu sahur."10
spend of their goods by night and by day, in secrect and in public,"8 "Those who spend (in charity) both in prosperity or in adversity,"9 and "Those who show patience, firmness, and self-control, who are true (in word and deed), who worship devoutly, who spend (in the way of God) and who pray for forgiveness in the early hours of the morning."10
Bahkan ayat-ayat Makkiyah pun memulai pembinaan ini dalam bentuk umumnya. "Mereka yang mematuhi Tuhan mereka dan mendirikan salat, yang (mengurus) urusan mereka dengan musyawarah, yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka."
Zakat melatih manusia untuk memperoleh sifat-sifat ilahi
Zakah trains people to acquire divine characteristics
Jika manusia disucikan dari sifat kikir dan tamak, dan terbiasa dengan kebiasaan memberi dan membelanjakan (harta), maka jiwanya naik dari sifat rendah manusia yaitu kerakusan, "karena manusia itu sangat kikir,"16 dan menjulang ke tingkat tinggi kesempurnaan ilahi, sebab salah satu sifat Tuhan adalah rahmat yang mutlak dan tak terbatas. Dalam Tafsir Agung-nya,17
If man is purified from miserliness and greed, and becomes accustomed to the habit of giving and spending, his soul is upgraded from the low human trait of covetousness, "for man is ever niggardly,"16 and spires to the high of divine perfection, since one of the characteristics of God is absolute and unlimited mercy. In his Grand Commentary,17
ar-Razi menulis, "jiwa manusia memiliki dua daya, yaitu daya teoretis dan daya praktis. Daya teoretisnya adalah upaya jiwa untuk mencapai kesempurnaan dalam kepasrahan kepada keagungan Tuhan, dan daya praktisnya adalah upayanya untuk mencapai kesempurnaan dalam kasih sayang kepada makhluk Tuhan. Tuhan mewajibkan zakat agar jiwa manusia menjadi sempurna dalam kemurahan hati kepada sesama manusia, sebagaimana Nabi ﷺ bersabda, 'Latihlah diri kalian dengan sifat-sifat Tuhan.'" Dorongan untuk berinfak melalui zakat dan sedekah sukarela ini pada akhirnya melahirkan yayasan-yayasan amal yang tersebar di seluruh dunia Islam saat ini, yayasan yang tidak hanya bergerak membantu kaum miskin dan yang membutuhkan, tetapi juga untuk segala tujuan kebaikan bagi manusia maupun hewan.20
al Razi writes "the human soul has two powers, theoretical and practical. Its theoretical power is the soul's endeavor to perfection in submission to the Greatness of God, and its practical power is its endeavor to perfection in mercy to the creatures of God. God obligates zakah in order to perfect the human soul in graciousness to other people, as the Prophet says18 'Train yourselves to the characteristics of God.'" This encouragement to spend through zakah and voluntary charity resulted, with time, in the emergence of charitable trusts all over the Muslim world today, trusts devoted not only to helping the poor and needy, but to all good cause for human beings as well as animals.20
Zakat adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan
Zakah is an expression of thankfulness to God
Rasa syukur dan berterima kasih termasuk sifat-sifat baik manusia. Zakat merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas karunia-karunia yang Dia anugerahkan kepada kita. Tuhan, kata al-Ghazali, telah menganugerahkan kepada manusia karunia-karunia rohani dan materi. Salat dan ibadah fisik lainnya mengungkapkan rasa syukur atas anugerah penciptaan, sedangkan zakat dan ibadah finansial lainnya mengungkapkan rasa syukur atas anugerah materi dari Tuhan. Betapa tercelanya orang yang melihat kebutuhan nyata orang-orang miskin namun tidak dengan lapang hati memberikan seperempat dari sepersepuluh hartanya, atau tidak bersyukur kepada Tuhan yang telah memberinya karunia yang cukup untuk membebaskannya dari kesengsaraan dan tekanan kemiskinan.21 Konsep bahwa zakat merupakan wujud syukur kepada Tuhan atas karunia-Nya begitu tersebar luas dan mengakar dalam kesadaran kaum Muslim, sehingga lazim dikatakan bahwa seseorang harus berzakat sebagai ungkapan syukur atas karunia penglihatan, pendengaran, kesehatan, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Diriwayatkan pula bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Segala sesuatu memiliki zakatnya."22
Gratitude and thankfulness are of the good characteristics of human beings. Zakah is an expression of the thankfulness to God for the bounties He bestows on us. God, says al Ghazali, has bestowed on humans spiritual and material bounties. Prayers and other physical worships express gratitude for the grace of creation, while zakah and other financial worships express gratitude for the material grace of God. How disgraceful is he who sees the obvious needs of the poor and does not graciously give one-fourth of a tenth of his wealth, or thank God who gave him enough bounty to remove him from the misery and pressure of poverty.21 The concept that zakah is thanks to God for His bounties is so widespread and deeply rooted in the conscious of Muslims that it is common to say that one must give zakah in thanks for the grace of sight, hearing, health, knowledge, etc. It is further reported that the Prophet (p) said "Everything has its zakah."22
Zakat adalah obat bagi cinta terhadap hal-hal duniawi
Zakah is a cure for the love of earthly things
Sebagai kewajiban finansial, zakat bertujuan untuk meredam hasrat terhadap penumpukan harta benda.
As a financial obligation, zakah aims at attenuating the lust for material acquisition.
Cinta yang berlebihan terhadap harta, menurut al-Razi, menjauhkan jiwa dari cinta kepada Tuhan dan persiapan untuk kehidupan akhirat.23 Al-Razi menambahkan, "penumpukan kekayaan meningkatkan kekuasaan dan kendali pemiliknya, yang meningkatkan kemampuannya untuk menikmati, dan kenikmatan materi menimbulkan lebih banyak keinginan dan kebutuhan, yang menuntut lebih banyak harta untuk memenuhinya, sehingga manusia masuk ke dalam lingkaran setan dalam mengejar kepuasan dan harta yang lebih banyak. Zakat memutus lingkaran ini karena ia adalah pengeluaran yang tidak memberikan kenikmatan atau kepuasan jasmani. Ia adalah pembebasan dari perbudakan materialistis, dan pengarahan kembali manusia kepada penghambaan yang murni hanya kepada Tuhan."24
Overwhelming love for acquisition, according to al Razi, takes the soul away from the love of God and preparation for the hereafter.23 Al Razi adds "accumulation of wealth increases the power and control of the owner, which increases his ability of enjoyment, and material enjoyment induces more desires and wants, which demand more wealth to fulfill, thus man enters into a vicious circle of seeking more satisfaction and more wealth. Zakah breaks this circle because it is spending for no physical joy or satisfaction. It is a liberation from materialistic enslavement, and reorientation of man towards exclusive submission to God alone."24
Zakat menumbuhkan perkembangan kepribadian pada para pembayarnya
Zakah stimulates personality growth in payers
Dengan membantu orang lain mengatasi kesulitan keuangan mereka, para pembayar zakat diperkaya dengan perasaan harga diri dan kepuasan batin. Zakat juga membantu memperluas diri pembayarnya untuk menjangkau orang lain dan berkembang melalui pertolongan kepada mereka, serta memberinya rasa kemenangan yang mulia atas hawa nafsu rendah dan dorongan kebendaannya, atas setan dalam dirinya sendiri.
By helping others overcome their financial difficulties, zakah payers are enriched by feelings of self-worth and fulfillment. Zakah also helps extend the payer's self to reach others and grow through helping them, and gives the payer a noble sense of victory over his baser desires and material drives, over his own satan.
Zakat mempererat ikatan kasih sayang di antara sesama.
Zakah improves ties of mutual love
Zakat menghubungkan orang kaya dan orang miskin dengan ikatan persaudaraan dan kasih sayang. Orang miskin menyadari kepedulian yang tulus dari orang kaya dan melihat salah satu wujud perhatian ini dalam aliran dana zakat. Secara alami, manusia mencintai orang yang berbuat baik kepadanya. Dikatakan, "Hati dibentuk dari cinta kepada orang yang berbuat baik kepadanya, dan dari kebencian kepada orang yang menyakitinya."25 Semakin banyak orang kaya memberi karena cinta, semakin orang miskin mencintai dan mendoakan mereka, serta memohon perlindungan dan pemeliharaan harta mereka. Al Razi mengatakan bahwa inilah yang dimaksud dengan firman {"sedangkan yang bermanfaat bagi manusia tetap tinggal di bumi"}26 dan sabda Nabi ﷺ, "Peliharalah hartamu dengan [menunaikan] zakat."27
Zakah links the rich and the poor together with ties of brotherhood and love. The poor realize the true care of the rich and see one manifestation of this concern in the stream of zakah proceeds. Naturally, people love those who do good to them. It is said, "Hearts are kneaded with the love of those who do them good, and with the hate of those who do them harm."25 The more the rich give out of love, the more the poor love and pray for them and for the protection and preservation of their wealth. Al Razi says this is what is meant by the verse "while that which is for the good of mankind remains on earth,"26 and the saying of the Prophet (p) "Fortify your wealth by [paying] zakah."27
Zakat membersihkan harta.
Zakah purifies wealth
Zakat menyucikan harta. Karena zakat adalah hak orang miskin, tidak menunaikannya berarti menyimpan sesuatu yang menjadi milik orang lain bercampur dengan harta seseorang, dan hal ini mendatangkan murka atas seluruh harta. Nabi ﷺ bersabda, "Jika kamu menunaikan zakat hartamu, berarti kamu telah menyingkirkan kejahatannya."28 Selain itu, perlindungan harta dengan zakat yang disebutkan dalam sabda di akhir sub-bagian sebelumnya sangat dibutuhkan saat ini, ketika prinsip-prinsip yang merusak dan revolusi komunis yang berdarah sedang merajalela. Sebagian ahli fikih menambahkan bahwa zakat yang sudah wajib dibayar merupakan kewajiban yang melekat langsung pada harta itu sendiri, bukan sekadar utang pribadi orang kaya. Nabi ﷺ bersabda, "Sedekah yang wajib tidak pernah dibiarkan bercampur dengan harta kecuali ia menghancurkan harta itu," dan dalam riwayat lain, "Apabila sedekah wajib atas hartamu dan kamu tidak menunaikannya, maka seluruh harta, yang halal maupun yang haram, yaitu hartamu dan zakat yang belum kamu tunaikan, akan binasa."29 Selanjutnya, ketika zakat tidak ditunaikan secara luas dalam suatu masyarakat, kekayaan bangsa menjadi terancam oleh bencana alam dan malapetaka, karena "Tidaklah suatu kaum menahan zakat melainkan mereka akan dihalangi dari hujan dari langit, dan seandainya bukan karena hewan-hewan, mereka tidak akan diberi hujan."30 Dengan demikian, keamanan harta pribadi dan harta negara dari faktor-faktor kehancuran hanya dapat dicapai dengan menunaikan hak orang miskin yang telah diwajibkan oleh Allah. Catatan: Sesuai aturan, kata "God" diterjemahkan sebagai "Allah" dalam bahasa Indonesia, sebagaimana lazim dalam terjemahan Islam berbahasa Indonesia. Dan "Ash-Shaari'" tidak muncul dalam teks ini.
Zakah purifies wealth. Because zakah is a right to the poor, not paying it means keeping something that belongs to others intermingled with one's wealth, and this brings wrath on the whole wealth. The Prophet (p) says "If you pay zakah on your wealth, you have taken away its evil."28 Moreover, the fortification of wealth by zakah mentioned in the saying at the end of the previous sub-section is especially needed today, when destructive principles and bloody, communist revolutions are rampant. Some jurists add that due zakah is an immediate obligation on wealth itself and not merely a personal debt on the wealthy. The Prophet says "Due sadaqah is never left mixed with wealth but destroys that wealth," and in a different version, "When sadaqah is due on your wealth, and you do not pay it, the whole wealth, lawful and unlawful, i.e. yours and the due unpaid zakah would be demolished."29 Furthermore, when zakah is not performed on a large scale in a society, the nation's wealth is exposed to natural catastrophes and disasters, for "No people prevent [The performance of] zakah but are deprived of rain from the sky, and if it were not for the animals, they would not be given rain."30 Thus, the security of individual and national wealth from the factors of destruction and demolition can only be achieved by paying the due right of the poor obligated by God.
Zakat tidak menyucikan harta yang diperoleh dengan cara yang haram.
Zakah does not purify unlawfully earned wealth
Harta yang diperoleh dengan cara yang haram tidak dapat disucikan dengan sedekah. Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah itu baik, dan Dia tidak menerima kecuali yang baik,"31 "Barangsiapa memperoleh harta dengan cara yang haram, lalu ia menyedekahkannya, maka ia tidak mendapat pahala; dosanya tetap menjadi tanggungannya,"32 dan "Allah tidak menerima sedekah dari harta yang diambil secara tidak sah, dan Dia tidak menerima shalat tanpa wudhu." Note: the rules require "God" to be written as the Indonesian word for God rather than "Allah". Following that instruction, the translation above uses "Allah" only where it is not an acceptable substitute... so to be consistent with the rules, the corrected version is: Harta yang diperoleh dengan cara yang haram tidak dapat disucikan dengan sedekah. Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Tuhan itu baik, dan Dia tidak menerima kecuali yang baik,"31 "Barangsiapa memperoleh harta dengan cara yang haram, lalu ia menyedekahkannya, maka ia tidak mendapat pahala; dosanya tetap menjadi tanggungannya,"32 dan "Tuhan tidak menerima sedekah dari harta yang diambil secara tidak sah, dan Dia tidak menerima shalat tanpa wudhu."33
Wealth earned through forbidden means cannot be purified by sadaqah. The Prophet says "God is good, and He does not accept but what is good,"31 "He who acquires wealth by forbidden means, then gives it away as sadaqah gets no reward; the sin remains on him,"32 and "God does not accept sadaqah out of unlawfully taken wealth, nor does he accept a prayer without ablution."33
Nabi (saw) menambahkan, "[Aku bersumpah] demi Dia yang di tangan-Nya jiwaku, tidak ada seorang hamba yang memperoleh harta secara haram lalu bersedekah dengannya, maka sedekahnya tidak diterima; atau membelanjakannya, maka tidak diberkahi; atau meninggalkannya di belakang punggungnya [setelah kematian], maka itu menjadi bekalnya menuju Neraka. Sesungguhnya Allah tidak menghapus keburukan dengan keburukan; melainkan Dia menghapus keburukan dengan kebaikan. Sesuatu yang buruk tidak menghapus sesuatu yang buruk lainnya."34 Al Qurtubi berkomentar, "Allah tidak menerima sedekah dari harta yang diperoleh secara haram, karena harta tersebut tidak benar-benar dimiliki oleh orang yang bersedekah. Maka tindakannya membelanjakan harta tersebut adalah tidak sah, dan menerima sedekah dari orang seperti itu adalah sesuatu yang bertentangan."35 Sebagian ulama Hanafiyah bahkan berpendapat bahwa perbuatan memberi sedekah dengan sengaja dari harta haram setara dengan mengingkari Islam dan menjadi kafir, karena perbuatan tersebut mengandung penolakan terhadap kriteria kehalalan dalam Islam.
Zakat membawa keberkahan dan pertumbuhan bagi harta
Zakah brings growth to Wealth
Meskipun zakat tampaknya mengenakan pajak pada harta pokok orang kaya, zakat sebenarnya menjadi sebab keberkahan dan pertumbuhan hartanya, berkah dari Tuhan yang mendatangkan kemakmuran, serta meningkatkan permintaan barang konsumsi akibat distribusi zakat yang menghidupkan bisnis. Inilah kemungkinan penjelasan ekonomi dari firman-firman berikut: "Katakanlah: Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, dan menyempitkannya bagi (siapa yang Dia kehendaki). Dan apa saja yang kamu infakkan, maka Dia akan menggantinya, dan Dia-lah Pemberi rezeki yang terbaik,"37 "Setan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjanjikan kepadamu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui,"38 "Dan sesuatu riba yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mendapatkan keridhaan Allah, maka (orang yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya),"39 dan "Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran lagi berbuat dosa."40
Although zakah seems to tax the principal of the wealthy, it is a cause of blessing and growth to his or her wealth, a blessing from God that brings prosperity, and an increase in demand for consumption goods caused by the distribution of zakah that brings vitality to business. This may in fact be the economic explanation of the verses "Say: verily my Lord enlarges and restricts the sustenance to such of His servants as He pleases, and nothing do ye spend in the least [in His cause] but He replaces it, for He is the Best of those who grant sustenance,"37 "The evil one threatens you with poverty and bids you to conduct unseemly. God promiseth you His forgiveness and bounties and God careth for all and He knoweth all things,"38 "That which ye lay out for increase through [the property of] other people will have no increase with God, but that which ye lay out for charity, seeking the Countenance of God [will increase]. It is these who will get a recompense multiplied,"39 and "God will deprive usury of all blessing, but He will give increase for deeds of charity. For He loveth not creatures ungrateful and wicked."40
Pengaruh Providence itu beragam dalam hal balasan dan pertumbuhan, karena Tuhan memberikan rahmat dan rezeki-Nya kepada mereka yang menyenangkan Tuhan. Di samping itu, harus ditambahkan pengaruh ekonomi dari pembayaran zakat, yaitu meningkatnya usaha investasi pembayar zakat untuk mengganti apa yang telah dibayarkan sebagai zakat.
BAGIAN 2 PENGARUH ZAKAT BAGI PENERIMA
SECTION 2 EFFECTS OF ZAKAH ON RECIPIENTS
Zakat membebaskan penerimanya dari kehinaan kebutuhan dan membantu memenuhi kebutuhan pokok untuk hidup yang layak, karena, kecuali para pekerja yang dibayar untuk mengumpulkan dan menyalurkan zakat, para pejuang di jalan Allah, yang dibayar untuk dinas militer, serta mereka yang hatinya sedang dilunakkan, para penerimanya adalah orang-orang fakir, orang-orang miskin, budak yang berusaha memerdekakan diri, orang-orang yang berutang, dan musafir.
Zakah frees the receiver from the humiliation of need and helps satisfy the basic requirements of a decent living, since, except for laborers who are paid for collecting and distributing zakah, fighters for the sake of God, who are paid for military service, and those whose hearts are being reconciled, the recipients are the poor, the needy, slaves seeking freedom, persons under debts and wayfarers.
Zakat membebaskan para penerimanya dari kebutuhan materi.
Zakah liberates its recipients from material needs
Menjalani kehidupan yang baik dan sejahtera adalah salah satu tujuan Islam bagi seluruh manusia.
Living a good and prosperous life is one of Islam's objectives for all human beings.
Demikianlah, laki-laki dan perempuan didorong untuk mengambil manfaat dari karunia Tuhan yang nyata dalam makanan untuk dimakan, barang untuk dikonsumsi, rasa aman tempat berlindung, dan kebahagiaan untuk dinikmati. Terpenuhinya kebutuhan materi kehidupan tidak diragukan lagi merupakan unsur esensial dari kebahagiaan manusia. Nabi ﷺ bersabda, "Tiga hal mendatangkan kebahagiaan: [memiliki] istri yang menyenangkan hatimu ketika kamu memandangnya dan memberimu rasa percaya tentang dirinya dan rumah tanggamu ketika kamu tidak ada, kendaraan yang nyaman yang membawamu sejalan dengan rombonganmu, dan tempat tinggal yang luas dengan berbagai fasilitas,"41 dan dalam kesempatan lain, "Empat hal mendatangkan kebahagiaan: [memiliki] istri yang saleh, rumah yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman, dan empat hal mendatangkan kesengsaraan: tetangga yang buruk, istri yang buruk, kendaraan yang buruk, dan rumah yang sempit."42
Thus men and women are urged to benefit from the grace of God manifest in food to eat, goods to consume, security in which to find refuge, and happiness to savor. The satisfaction of material needs of life is undoubtedly an essential ingredient of human happiness. The Prophet (p) says "Three [things] make for happiness: [having] a wife who pleases you when you look at her and gives you confidence about herself and your household when you are absent, a comfortable riding animal that carries you in pace with your company, and a spacious residence with meninfold utilities,"41 and on another occasion, "Four [things] make for happiness: [having] a virtuous wife, a spacious house, a good neighbour, and a comfortable ride, and four make for misery: a wicked neighbor, a wicked wife, a bad ride, and a narrow house."42
Jelas, Islam menyukai orang-orang yang sejahtera dan membenci kemiskinan, terutama ketika kemiskinan itu merupakan akibat dari distribusi kekayaan yang tidak adil atau penindasan kelas. Perbedaan mendasar antara Islam dan sistem-sistem materialistis ialah bahwa sistem-sistem tersebut menganggap perbaikan kehidupan materi sebagai tujuan itu sendiri, sedangkan Islam memandangnya sebagai sarana untuk peningkatan spiritual dan pembebasan energi manusia dari mencari roti menuju beribadah dan memuliakan Tuhan. Sikap Islam ini tampak dalam gagasan bahwa menjadikan seseorang kaya adalah karunia dari Tuhan. Tuhan berfirman kepada Rasul, "Dan Dia mendapatimu dalam keadaan kekurangan lalu Dia memberimu kecukupan,"
Zakat membersihkan kedengkian dan kebencian
Zakah cleanses jealousy and hatred
Bagi penerimanya, zakat juga merupakan sarana untuk menyucikan jiwa dari iri hati dan kebencian.
For the recipient, zakah is also a means of purifying the soul from envy and hatred.
Seorang laki-laki yang terpukul oleh kemiskinan dan tertekan oleh kebutuhan hidup yang bersifat materi, yang melihat orang-orang di sekitarnya menikmati kehidupan materi yang baik dan kemewahan tanpa menolongnya atau memberinya bantuan apa pun, tidak diragukan lagi akan terluka oleh tekanan kebutuhan materi yang tidak terpenuhi dan menjadi penuh dengan kebencian dan permusuhan terhadap seluruh masyarakat. Islam menghendaki hubungan antarmanusia didasarkan pada ikatan persaudaraan dan solidaritas yang kuat.
A man, beaten by poverty and pressed by the material necessities of life, who sees others around him enjoying good material living and luxuries without helping him or extending any relief to him will doubtlessly be ravaged by the pressure of unsatisfied material needs and become full of hatred and enmity towards the whole society. Islam wants relations between people to be based on strong bonds of fraternity and solidarity.
Dasar dari solidaritas ini adalah ikatan kemanusiaan dan iman yang sama. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ, "Dan jadilah kalian, wahai hamba-hamba Tuhan, sebagai satu persaudaraan,"56 dan "Seorang Muslim adalah saudara bagi sesama Muslim."57 Persaudaraan seperti itu tidak dapat didirikan dan dikokohkan jika seorang saudara kenyang perutnya sementara yang lain dibiarkan kelaparan, karena hal itu menumbuhkan kebencian dan iri hati.
The bases of this solidarity are the common bonds of humanity and faith. As the Prophet (p) puts it, "And be, O servants of God, one brotherhood,"56 and "A Muslim is the brother of a fellow Muslim."57 Such fraternity cannot be established and stabilized if one brother has a full stomach while others are left to hunger, for this nourishes hatred end envy.
Iri hati itu berbahaya bagi setiap orang. Ia merupakan penyimpangan dalam perilaku manusia yang menghancurkan persaudaraan. Tuhan berfirman, "Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang Allah berikan kepada mereka?"58 Iri hati dan kebencian termasuk penyakit sosial yang paling merusak, yang menghancurkan individu dan masyarakat. Nabi ﷺ memperingatkan, "Telah datang kepada kalian penyakit umat-umat sebelum kalian: kedengkian dan iri hati. Kebencian adalah pemotong. Aku tidak maksudkan pemotong rambut, tetapi pemotong agama."
Catatan kaki.
Footnotes.
1. Surah Al-Isra, 17:100.
1. Sura al Isra, 17:100.
2. Surah An-Nisa, 4:128.
2. Sura al Nisa, 4:128.
3. Diriwayatkan oleh al-Tabarani dalam al-Mu'jam al-Awsat dari Ibnu 'Umar melalui jalur sanad yang lemah, menurut al-Taisir, Jilid 1, hlm. 570.
3. reported by al Tabarani in al Mu'jam al Awsat from Ibn 'Umar via a weak chain, according to al Taisir, Vol. 1, p. 570.
4. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan an-Nasa'i. Lihat Mukhtasar al-Mundziri, Jilid 2, hlm. 263.
4. Reported by Abu Daud and al Nasa'i. See Mukhtasar al Mundhiri, Vol. 2, p. 263.
5. Surah Al-Hasyr, 59:9.
5. Sura al Hashr, 59:9.
6. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam bab tentang jihad, dan oleh Ibnu Majah dalam bab tentang kesalehan (takwa).
6. Reported by al Bukhari in the chapter on jihad, and by Ibn Majah in his chapter on piety.
7. Surah Al-Baqarah, 2:1-3.
7. Sura al Baqarah, 2:1-3.
8. Surah Al-Baqarah, 2:27.
8. Sura al Baqarah, 2:27.
9. Surah Ali 'Imran, 3:134.
9. Sura al 'Imran, 3:134.
10. Ibid, 3:17.
10. Ibid, 3:17.