Mencela Para Sahabat Nabi
Disparaging the Companions of the Prophet
Nabi ﷺ bersabda, "Allah Yang Mahatinggi berfirman: Barangsiapa memusuhi seorang wali-Ku, Aku nyatakan perang terhadapnya." "Janganlah kalian mencela para sahabatku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya ia tidak akan mencapai pahala segenggam dari salah seorang mereka, bahkan tidak pula setengahnya."1
The Prophet (pbuh) said, "Allah most high says: he who is hostile to a friend (Waliyy) of Mine, I declare war against" "Do not revile my companions, for by Him in Whose Hand is my soul, were one of you to spend gold equal to mount Uhud, you would not attain the reward of the handful of one of them or even half of it.”1
(Karena apa yang mereka infakkan lebih banyak memberi manfaat bagi Islam)
(Because what they spent benefited Islam more)
"Allah! Allah! (Ingatlah Allah) mengenai para sahabatku. "Jangan jadikan mereka sasaran" (untuk cacian atau tuduhanmu) setelah aku. Barangsiapa mencintai mereka, ia mencintaiku; dan barangsiapa membenci mereka, ia membenciku; dan barangsiapa menyakiti mereka, ia menyakitiku, dan dengan demikian menyakiti Allah; dan barangsiapa menyakiti Allah, maka Allah hampir menyiksanya."ﷺ2
"Allah! Allah! (Keep the thought of Allah) concerning my companions. "Do not take them as a target" (for your obscenity or charges) after me, He who loves them, loves me but he who hate them, hates Me, and he who offends them, offends me and in turn offends Allah and he who offends Allah, Allah almost takes him”2
"Tanda iman adalah cinta kepada kaum Anshar, dan tanda kemunafikan adalah kebencian terhadap kaum Anshar."3
"The sign of faith is love of the helpers (Ansar), and the sign of hypocrisy is hatred of the helpers.”3
Hal ini karena mereka adalah orang-orang beriman pertama yang berjihad dengan gigih melawan musuh-musuh Islam pada masa hidup Nabi ﷺ. Demikian pula, mencintai Ali (semoga Allah meridainya) adalah bagian dari iman, dan membencinya adalah kemunafikan. Keutamaan para sahabat Nabi ﷺ dapat dikenali dengan mempelajari biografi mereka serta jejak mereka pada masa hidup Nabi ﷺ dan sesudahnya. Keutamaan ini tampak pada keimanan mereka yang tulus, perjuangan mereka melawan orang-orang kafir, penyebaran keimanan, penegakan syiar-syiar Islam, ditinggikannya kalimat Allah dan Rasul-Nya, serta pengajaran kepada orang lain tentang ibadah yang wajib dan sunnah. Seandainya bukan karena mereka, kita tidak akan menerima apa pun mengenai agama. Oleh karena itu, siapa pun yang mencela mereka berada di luar batas Islam.
This is because they were the first believers who fought the enemies of Islam fiercely at the lifetime of the Prophet (pbuh). Likewise, the love of Ali (may Allah be pleased with him) is of faith and the hatred of him is hypocrisy" The excellence of the Prophet's companions can be recognized by studying their biography and their traces during the Prophet's lifetime and thereafter. This excellence is represented in their sincere faith, fighting against the disbelievers, disseminating the belief, declaring the Islamic rites, raising high the word of Allah and His Messenger and teaching others the obligatory and Sunna worshiping. Were not they, we would not receive anything concerning the religion. Hence, whoever disparages them is beyond the pale of Islam.
Celaan semacam itu tentu lahir dari keyakinan bahwa mereka adalah orang-orang jahat, sehingga mendustakan firman Allah dan Rasul-Nya ketika memuji mereka dan menunjukkan keutamaan-keutamaan mereka. Mereka juga adalah perantara antara sumber dan tujuan ilmu agama. Meragukan perantara pasti berdampak pada sumbernya.
Such disparaging is undoubtedly out of the belief that they were wicked people and thus denying the sayings of Allah and His Messenger when praising them and indicating their virtues. They are also the intermediaries between the source and the target of sacred knowledge. Doubting the intermediary necessarily affects the source.
Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah telah memilih aku dan memilihkan untukku para sahabatku. Di antara para sahabatku, ada para menteri, penolong, dan kerabat melalui pernikahan bagiku. Oleh karena itu, siapa pun yang mencela mereka akan mendapat laknat Allah, malaikat-Nya, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima amal mereka pada Hari Kiamat."4
The Prophet (pbuh) said, "Allah has selected me and picked out my companions. From among my Companions, I have ministers, helpers, and relatives by marriage. Thereby, whoever disparages them entails the curse of Allah, His angels and all the people. Allah will not accept their deeds on the Day of Judgment.”4
Anas bin Malik (semoga Allah meridhainya) meriwayatkan, suatu ketika para Sahabat Nabi berkata, "Laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia atas siapa pun yang mencela para sahabatku."
Anas Ibn Malik (may Allah be pleased with him) related, once the Prophetic Companions said, "The curse of Allah the angels and the whole people is upon whoever reviles my companions.” 5
"Sesungguhnya Allah telah memilih aku dan memilihkan untukku para sahabat. Dia juga menganugerahkan kepadaku para teman, saudara, dan kerabat karena pernikahan. Akan datang sesudah mereka suatu generasi yang akan mencela dan merendahkan mereka. Oleh karena itu, janganlah kalian bergaul dengan mereka dalam hal makanan, minuman, pernikahan, shalat jenazah atas mereka, atau shalat bersama mereka." ﷺ 1
"Allah has selected me and picked out my companions. He also granted me friends, brothers and relatives by marriage. There will be another generation thereafter who will revile and disparage them. Therefore, you should not interact with them in food, drink marriage, prayer over them or prayer with them.” 1
Ibnu Mas'ud (semoga Allah meridainya) meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Tahanlah lidahmu setiap kali engkau mendengar penyebutan para Sahabatku, bintang-bintang, dan takdir."2
Ibn Mas'ud (may Allah be pleased with him) related that the Prophet (pbuh) said, "Hold your tongue whenever you hear the mentioning of my Companions, stars and destiny.”2
Para ulama berpendapat bahwa menahan lisan merupakan tanda kepasrahan yang sempurna kepada Allah.
Scholars argued that, holding one's tongue is a sign of complete submission to Allah.
Wajib bagi seorang Muslim untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Di antara bentuk cinta kepada Nabi ﷺ adalah mencintai segala yang beliau ﷺ diutus dengannya, mencintai orang-orang yang mengikuti beliau ﷺ, yang mengamalkan sunnah dan petunjuknya ﷺ, keluarga beliau ﷺ, para sahabat, istri-istri, keturunan, dan hamba-hamba beliau ﷺ, serta mencintai siapa pun yang mencintai mereka dan membenci siapa pun yang membenci mereka.
It is obligatory for a Muslim to love Allah and his Messenger. Of the Prophet's love is to love all what He was sent with, those who take after him, those who apply his tradition and guidance, household, companions, wives, progeny, servants, and to love whoever loves them and hate whoever hates them.
Abu Ayyub As-Sakhtiyyani (semoga Allah meridainya) berkata, "Barangsiapa mencintai Abu Bakr, ia menegakkan menara agama lebih tinggi; barangsiapa mencintai 'Umar, ia menjelaskan jalan; barangsiapa mencintai 'Utsman, ia diterangi cahaya Allah; barangsiapa mencintai 'Ali, ia berpegang pada prinsip yang paling jelas; dan barangsiapa berkata, 'Para sahabat Nabi ﷺ itu baik dan benar,' ia terbebas dari kemunafikan."
Abu Ayyub As-Sakhtiyyani (may Allah be pleased with him) said, whoever loves Abu Bakr raises the minaret of the religion higher, whoever loves 'Umar clarifies the way, whoever loves 'Uthman, is enlightened by Allah's light, whoever loves Ali adheres to the clearest principle and whoever says, the Prophet's companions are good and right is free from hypocrisy.
Adapun keutamaan para sahabat Nabi, jumlahnya tak terhitung. Sahabat yang terbaik adalah sepuluh orang yang dijanjikan Nabi ﷺ akan masuk surga. Empat yang terbaik di antara mereka adalah Abu Bakr, 'Umar, 'Utsman, dan 'Ali (semoga Allah meridhai mereka semua). Siapa pun yang meragukan mereka, ia adalah seorang munafik.
As for the virtues of the Prophetic companions, they are countless. The best of the companions are the ten whom the Prophet promised to enter paradise. The best four of them are Abu Bakr, 'Umar, 'Uthman and' Ali (may Allah be pleased with them all). Whoever doubts them, is a hypocrite.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-'Irbaadh bin Saariyah, Nabi ﷺ bersabda, "Wajib atas kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah padanya dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Jauhilah hal-hal yang baru (dalam urusan agama), karena setiap hal yang baru adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan itu di neraka."
In the hadith narrated by AI-'Irbad Ibn Sariyyah, the Prophet said, "You must follow my deeds (Sunna) and that of the rightly guided caliphs. Hold it and stick fast to it. Avoid novelties (in religious matters), for every novelty is an innovation and every innovation is an error and every error is in hell.” 3
Khulafaur Rasyidin adalah: Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman dan Ali. Yang pertama disebutkan dalam Al-Qur'an beberapa kali.
The Rightly-Guided Caliphs are: Abu Bakr, 'Umar, 'Uthman and , Ali. The former was mentioned in the Qur'an several times.
"Hendaklah orang-orang yang memiliki keutamaan dan kelapangan rezeki di antara kalian tidak bersumpah untuk tidak lagi memberi bantuan kepada kaum kerabat, orang-orang miskin, dan orang-orang yang telah berhijrah di jalan Allah." (An-Nur: 22)
"Let not those among you who are endued with grace and amplitude of means resolve by oath against helping their kinsmen, those in want, and those who have left their homes in Allah's cause" (An-Nur: 22)
{Dan ia adalah yang kedua dari keduanya ketika keduanya berada di dalam gua.} (At-Taubah: 40)
{ Being the second of the two, they two were in the care.} (At- Tawbah: 40)
{Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya (serta mendukungnya).} (Az-Zumar: 33)
{And he who brings the truth and who confirms (and supports) it.} (Az-Zummar: 33)
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
1 Reported by AI-Bukhari and Muslim.
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.
2 Reported by At- Tirmidhi.
3. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
3 3. Repoted by AI-Bukhari and Muslim.
Diriwayatkan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Majma' Al-Zawa'id.
4 Reported by Ibn Hajar AI-Haithami in Majma' Al-Zawa'id.
5 Diriwayatkan oleh Ibnu Hajar Al-Haitsami dalam Majma' Al-Zawa'id.
5 Reported by Ibn Hajar AI-Haithami in Majma' Al-Zawa'id.
.
.
1 Asy-Syawkani menisbatkannya kepada Aqily dalam Durr As-Sahabah dan mengatakan bahwa ini adalah hadits yang lemah.
1 Ash-Shawkani attributed it to Aqily in Durr As-Sahabah and said it is a weak hadith.
As-Suyuti menisbatkannya kepada At-Tabarani dalam Jami' Al-Adhkar.
2 As-Suyuti attributed it to At- Tabarani in Jami' Al-Adhkar.
3 Diriwayatkan oleh Abu Dawud.
3 Reported by Abu Dawud.