Kesalahan Memakan Harta Anak Yatim
Wrong Consuming an Orphan's Property
Allah, Yang Maha Tinggi, berfirman, {Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka hanya menelan api ke dalam perutnya, dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).} (An-Nisa': 10)
Allah, the Most High, says, {Those who unjustly eat up the property of orphans eat up fire into their own bodies: they will soon be enduring a blazing fire.} (Al-Nisa': 10)
Al-Qur'an juga menyatakan, {Janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga ia mencapai usia dewasa yang kuat.} (Al-An'am: 152)
The Qur'an also states, {Come not nigh to the orphan's property except to improve it, until he attains the age of full strength.} (Al-Imran: 152)
Nabi ﷺ bersabda, "Ketika aku diangkat ke atas dalam Mi'raj, aku melihat beberapa orang yang menganga mulutnya di bawah paksaan orang lain. Kemudian datang orang lain yang memberi mereka batu-batu api yang menembus tubuh mereka dan keluar dari dubur mereka. Aku bertanya-tanya: 'Siapa mereka itu, Gabriel?' Ia menjawab, 'Mereka adalah orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, mereka menelan api ke dalam tubuh mereka.'"1
The Prophet (pbuh) said, "When I was taken up in Ascent (Mi'raj) I saw some men gapping their jaws under the coercion of other men. Then came another men who fed them stones of fire that penetrated their bodies and came out from their anus. I wondered: 'Who are they, Gabriel?' He replied, 'They are those who unjustly eat up the property of orphans eat up a fire intotheir bodies.”1
Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah Yang Maha Tinggi membangkitkan sebagian orang dari kubur mereka dengan api yang menyala keluar dari tubuh mereka dan membakar wajah mereka." Nabi ﷺ ditanya: "Siapakah mereka, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Allah Yang Maha Perkasa berfirman, {Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu hanya menelan api ke dalam perutnya, dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).} (An-Nisa': 10)"2
It was related that the Messenger of Allah (pbuh) said, "Allah, Most High resurrected some people from their graves with fire flaming out from their bodies and burning their faces." The Prophet was asked: 'Who are they, Messenger of Allah?" He said,' Allah, the Almighty says, {Those who unjustly will eat up the property of orphans eat up a fire into their own bodies: they will soon be enduring a blazing fire.} (AI-Nisa': 10)2
As-Sadiy, semoga Allah meridainya, berkata, "Pada Hari Kiamat, orang yang memakan harta anak yatim akan dibangkitkan dengan api yang keluar dari mulut, telinga, hidung, dan matanya. Oleh karena itu, ia akan mudah dikenali." (Isma'il Ibn AbdelRahman As-Sadiy dituduh mengikuti aliran Syi'ah.)
As-Sadiy, may Allah be pleased with him, said, "On the Day of Judgement, the one who appropriated an orphan's property will be resurrected with the flames of fire coming out from his mouth, ears, nose and eyes. Therefore, he will be well-identified." (Isma'il Ibn AbdelRahman As-Sadiy was accused of following the Shi'ah sect.)
Para ulama berpendapat bahwa tidak ada masalah jika seorang wali yang miskin dari anak yatim memakan sebagian harta anak yang diasuhnya tanpa melampaui batas yang diperbolehkan, sebanyak yang ia gunakan untuk mengurus dan memperbaiki urusan usahanya.
Scholars said that there is no harm if a poor guardian of an orphan consumes some of his charge's property without exceeding what is permissible as much as he disposes and improves his business affairs.
Apa yang melebihi batas yang diperbolehkan adalah sepenuhnya haram (Suht)? Allah Yang Maha Kuasa berfirman, {Barangsiapa menjadi wali (dari anak yatim), maka hendaklah ia makan harta itu menurut yang patut. Apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) untuk mereka. Cukuplah Allah sebagai Pengawas.} (An-Nisa': 6)
What is in excess of the permissible is absolutely unlawful (Suht)? Allah, the Almighty says, {If the guardian is well-off, let him claim no remuneration, but if he is poor, let him have for himself what is just, reasonable. When ye release their property then, take witnesses in their presence: But all-sufficient is Allah in taking account.} (An-Nisa': 6)
Pemakaian harta anak yatim secara wajar dapat ditafsirkan sebagai: meminjam dengan niat mengembalikan, memenuhi kebutuhan pribadinya tanpa berlebihan, mengambil upah atas pengelolaan atau pengembangan usaha anak yatim, atau berniat mengembalikan apa yang diambilnya karena kebutuhan, jika ia kelak menjadi berkecukupan. Pandangan-pandangan yang berbeda ini disebutkan oleh Ibnu al-Jawziy dalam Tafsir-nya (tafsir/penjelasan Al-Qur'an).
Reasonable consuming of an orphan's property may be interpreted as: Intending the loan, fulfilling his own needs without excess, taking the wage of disposing or improving the orphan's business or intending to return what he takes out of need, if he becomes prosperous. These different points of views are mentioned by Ibn AI-Jawziy in his Tafsir (exegesis)
"Aku dan orang yang mengasuh anak yatim akan masuk surga bersama seperti ini," lalu beliau mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan tanpa memberi jarak di antara keduanya (sebagai ilustrasi).ﷺ 1
"I and one who takes care of an orphan, will enter paradise together like this" and he raised his forefinger and middle finger jointly leaving no space betWeen them (by way of illustration)." 1
"Aku dan orang yang mengurus anak yatim, baik kerabatnya maupun orang asing, akan seperti dua ini di surga;" dan perawi mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya untuk memberi gambaran tentang hal ini.” 2
"I and one who takes care of an orphan, whether related to him or a stranger, will be like these two in paradise;" and the narrator raised his forefinger and middle finger to illustrate this.” 2
Perwalian atas anak yatim berarti mengurus urusannya: makanan, pakaian, dan memperbaiki hartanya jika ia memilikinya. Namun, jika ia miskin, dianjurkan untuk merawatnya demi Allah. Dalam hadits yang disebutkan di atas, terdapat isyarat bahwa wali anak yatim tidak harus kerabatnya, sebagaimana Nabi ﷺ bersabda dalam hadits: "terkait dengannya atau orang asing". Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa menerima seorang anak yatim dari kalangan kaum Muslimin untuk diberi makan dan minum hingga Allah menjadikannya berkecukupan, maka Allah akan mewajibkan surga baginya kecuali jika ia melakukan dosa yang tidak terampuni." 3
The guardianship of an orphan means to dispose his affairs: food, clothing and to improve his property if he has any. However, if he is poor, it is recommended to take care of him for the sake of Allah. In the aforementioned hadith, there is a reference that the orphan mayor may not be a relative as the Prophet says in the hadith: “related to him or a stranger” The Prophet (pbuh) said, "Whoever receives an orphan from amongst the Muslims to feed and give him drink until Allah makes him prosperous, Allah will render the Paradise binding to him unless he commits an unforgivable sin.” 3
Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa mengusap kepala anak yatim karena Allah, maka ia akan mendapat pahala pada setiap helai rambut yang diusapnya. Dan barangsiapa memiliki anak yatim lalu memperlakukannya dengan baik, maka aku dan dia akan berada di Surga seperti ini." (Kemudian beliau menggabungkan dua jarinya.) 4
The Messenger of Allah (pbuh) said, "Whoever wipes over an orphan's head for the sake of Allah, he will be rewarded for every hair he touched good deeds. Whoever has an orphan and treats him or her kindly, I and he will be in the Paradise like that (Then he combined his two fingers).” 4
Seseorang pernah meminta nasihat kepada Abu Ad-Darda'. Maka ia menasihatinya dengan berkata, "Sayangilah anak yatim, dekatkanlah ia kepadamu, dan berilah ia makan dari apa yang kamu makan. Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ, ketika seorang laki-laki bertanya kepada beliau tentang kerasnya hatinya, beliau bersabda, 'Jika kamu ingin melembutkan hatimu, maka dekatkanlah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah ia makan dari apa yang kamu makan. Hal-hal ini pasti akan melembutkan hatimu dan memampukanmu untuk melakukan apa yang kamu butuhkan.'" 5
Someone asked Abu Ad-Darda' an advice. Thus he advised him saying, "Show mercy to the orphan, bring him nearer to you and feed him of what you eat. I heard Allah's Messenger (pbuh), when a man asked him about the harshness of his heart, saying, "If you want to soften your heart, then you should bring the orphan nearer, wipe over his head and feed him of what you eat. These surely will soften your heart and enable you to do what you need.” 5
Salah seorang Muslim generasi awal menceritakan, "Dahulu aku terbiasa melakukan dosa dan meminum khamar. Kemudian, pada suatu hari aku menerima seorang anak yatim yang miskin. Aku berbuat baik kepadanya, memberinya makan, memandikannya, dan memakaikannya pakaian. Aku memperlakukannya dengan penuh kasih sayang sebagaimana seseorang memperlakukan anaknya sendiri, bahkan lebih. Setelah itu, aku tidur dan bermimpi bahwa hari itu adalah Hari Kiamat, dan aku dipanggil untuk dihisab. Lalu, aku hendak dimasukkan ke dalam Neraka karena dosa-dosaku. Aku diseret oleh malaikat-malaikat azab menuju api. Ketika aku sedang diseret ke dalam api, anak yatim itu menghalangiku dan berkata, 'Wahai malaikat-malaikat Tuhanku, lepaskanlah dia, agar ia dapat memberi syafaat untuknya di hadapan Allah, karena ia telah memperlakukanku dengan baik dan memuliakanku.' Namun para malaikat berkata, 'Kami tidak diperintahkan demikian.' Kemudian datanglah panggilan dari Allah, 'Lepaskanlah dia. Aku telah mengampuninya karena syafaat anak yatim itu dan perlakuan baik yang ia lakukan terhadapnya.' Lalu aku bangun dan bertaubat kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Setelah itu, aku terus berusaha sebaik mungkin untuk menyayangi anak-anak yatim."
One of the early Muslims recounted, "I was at first used to committing sins and drinking wine. Then, one day I received a poor orphan. I was kind to him, fed him, gave him a bath and clothed him. I treated him as tenderly as a man does with his own son and more. Afterwards, I went to sleep I dreamt that it was the day of Judgement and I was called for reckoning. Then, I was to go to Hell for my sins. I was dragged by the angels of punishment to the Fire. Meanwhile, when I was being dragged to the Fire, the orphan blocked me and said, 'O angels of my Lord, let him go. So as to intercede for him before Allah since he treated me kindly and honored me.' But the angels said; 'We were not commanded to do so.' Then came the call of Allah, "Let him go. I forgave him because of the orphan's intercession and the kind treatment he did with him. Then, I got up and repented to Allah the High Exalted. Later on, I kept on doing my best to show mercy to orphans.
Nabi ﷺ bersabda, "Sebaik-baik rumah adalah rumah yang di dalamnya terdapat seorang anak yatim yang diperlakukan dengan baik, dan seburuk-buruk rumah adalah rumah yang di dalamnya anak yatim diperlakukan dengan buruk. Orang yang paling dicintai oleh Allah Yang Maha Kuasa adalah orang yang memberikan kebaikan kepada anak yatim atau janda."1
The Prophet (pbuh) said, "The best of the houses is that which contains an orphan who is treated kindly and the worst of the houses is that which mistreats him. The most beloved one to Allah the Almighty is the one who offers a favor to an orphan or a widow.”1
Allah mewahyukan kepada Dawud (pbuh): "Wahai Dawud! Jadilah ayah yang penuh kasih sayang bagi anak yatim, dan suami yang lembut bagi janda. Catatlah dalam perhitunganmu bahwa semakin banyak engkau berbuat, semakin banyak pula engkau menuai."
"Allah revealed to Dawud (pbuh): "0 Dawud! Be a loving father to the orphan, and a kind husband to the widow. Put into your account that the more you do the more you reap 2
Artinya, apa pun yang kamu lakukan, kamu akan menemukan akibatnya kelak. Misalnya, ketika kamu meninggal dan meninggalkan anak atau janda, maka mereka akan diperlakukan dengan cara yang sama seperti kamu memperlakukan orang lain.
This means that whatever you do, you will find its consequences thereafter. For example, when you die and leave a child or a widow, thy will be treated in the same manner you treated others.
Dalam munajatnya, Dawud berkata, "Ya Allah! Apa balasan bagi siapa pun yang mengurus anak yatim atau janda karena Engkau?" Allah menjawab, "Ia akan berada di bawah naungan-Ku pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Ku." Yakni, naungan 'Arsy pada Hari Kiamat. Berikut ini adalah kisah lain yang menyoroti keutamaan memperlakukan anak yatim dan janda dengan lembut. Dahulu ada seseorang dari sekte 'Alawiyyin. Ia tinggal di Balkh (sebuah wilayah Bizantium) dan memiliki seorang istri serta beberapa putri. Mereka hidup dalam kemewahan dan kemakmuran. Kemudian sang suami meninggal dunia. Istrinya yang menjadi janda dan putri-putrinya menjadi sangat miskin sehingga mereka pindah ke kota lain untuk menghindari rasa malu karena musuh-musuh mereka bersukacita atas kemalangannya. Setelah memasuki kota itu, ia bersama putri-putrinya berlindung di sebuah masjid yang tidak terpakai. Lalu ia keluar untuk mencarikan sesuatu untuk mereka makan. Ia melewati dua orang, seorang Muslim dan seorang Majusi.
In his soliloquy, Dawud says, "O Allah! What is the recompense of whomever takes care of an orphan or a widow for Your Sake?" Allah answered, "He will be under the Shade of Mine when there will be no shade except Mine." i.e., the shade of the Throne on the Day of Judgement." The following is another account that highlights the excellence of treating the orphan and the widow kindly. Once there was someone who belonged to the 'Alowiyyin sect. He lived in Balkh (a Byzantine region) and had a wife and several daughters. They were living in luxury and prosperity. Then the husband died. His widow and daughters become so poor that they moved to another town to flee from the ghost of noticing their enemies rejoice at her misfortune. Having entered the town she resorted to a deserted mosque with her daughters. Then, she went out to bring them something to eat. She passed by two people, a Muslim and a magian.
Dia memulai dengan bertanya kepada seorang Muslim dan menjelaskan kepadanya bagaimana dia sangat menderita padahal dia adalah seorang wanita terhormat dari sekte 'Alawiyyin. Namun dia meminta agar ia menunjukkan bukti. Dia berkata bahwa dia adalah orang asing.
She started by asking the Muslim and explained to him how she suffered a lot while she was an honored woman from the 'Alawyyeen sect. But he asked her to show evidence. She said she was stranger.
Namun, dia tidak memperhatikannya. Kemudian, dia pergi dengan perasaan sedih dan kembali menjelaskan kasusnya kepada seorang magian, dan bagaimana dia memiliki empat orang putri yang yatim dan membutuhkan. Dia menceritakan kisahnya kepada seorang Syekh Muslim.
But, he did not pay attention to her. Then, she left feeling sad and again explained her case to magian and how she had four daughters who were orphans and in need. She recounted her story to a Muslim Sheikh.
Orang Majusi itu mengutus para wanitanya untuk membawa pulang wanita tersebut beserta anak-anak perempuannya. Ia memberi mereka makan dan pakaian dengan baik. Mereka tinggal bersamanya dalam kemewahan dan kehormatan. Pada tengah malam, seorang Muslim yang telah menolak wanita itu bermimpi bahwa hari itu adalah Hari Kiamat. Sebuah panji dikibarkan di atas kepala Nabi ﷺ. Ada sebuah istana dari zamrud hijau yang jendelanya terbuat dari mutiara dan korundum, dan juga memiliki kubah-kubah dari mutiara dan karang. Ia kemudian bertanya kepada Rasulullah ﷺ: "Istana siapakah itu?" "Untuk seorang Muslim yang beriman kepada Allah, Yang Maha Esa." "Wahai Rasulullah ﷺ, aku adalah seorang Muslim," kata laki-laki itu. Namun Nabi ﷺ memintanya untuk menunjukkan bukti bahwa ia seorang Muslim.
The magian sent his ladies to bring her and daughters home. He fed them and clothed them well. They stayed with him in luxury and honor. At midnight, the Muslim who turned the woman away dreamt that it was the Day of Judgement. A banner was risen over the Prophet's head. There was a palace of green emerald whose windows were of pearls and corundum and also had domes of pearls and corals. He then asked the Messenger of Allah: "Whose palace is it?" For a Muslim who believes in Allah, the One.' O Allah's Messenger I am a Muslim, the man said. But the prophet asked him to show the evidence that he was a Muslim.
Pria itu kebingungan. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda, "Ketika wanita 'Alawiyya bertanya kepadamu, engkau memintanya untuk menunjukkan bukti bahwa dia adalah seorang 'Alawiy. Maka, tunjukkan kepadaku bukti bahwa engkau adalah seorang Muslim." Lalu pria itu berdiri dengan sedih karena telah menolak wanita tersebut. Ia mulai mencarinya di kota hingga akhirnya menemukannya di rumah seorang Majusi. Ia bertanya kepada si Majusi tentang wanita itu dan putri-putrinya, tetapi si Majusi menolak dan berkata bahwa banyak berkah telah dilimpahkan kepadanya karena mereka.
The man was perplexed. Accordingly, the prophet said "When the 'Alawiyya woman asked you, you asked her to show an evidence that she was Alawiy. Thus, show me evidence that you are Muslim. Then, the man got up sadly for repelling the woman. He started to search for her in the town until he found her in the Magian's house. He asked him about the woman and her daughters, but the Magian refused and said many blessing were showered upon him because of them.
Orang itu tetap bersikeras untuk mengambilnya dan bahkan menawarkan seribu dinar kepada orang Majusi itu, namun ia kembali menolak.
The man persisted to take them and even offered the Magian a thousand dinars but he refused again.
Orang Muslim itu berkata, "Tetapi aku harus mengambilnya." Lalu orang Majusi itu berkata, "Apa yang kamu inginkan adalah milikku, dan istana yang kamu lihat dalam mimpimu diciptakan untukku. Maukah kamu menunjukkanku agar aku memeluk Islam?" Demi Allah, aku belum tidur kemarin sebelum aku dan keluargaku memeluk Islam di tangan wanita itu. Aku juga mengalami mimpi yang sama. Nabi ﷺ bertanya kepadaku, "Apakah wanita 'Alawiy dan putri-putrinya berada di rumahmu?" Aku menjawab, "Ya, wahai Rasulullah." Beliau kemudian bersabda, "Istana itu untukmu dan keluargamu, dan kalian semua akan masuk surga. Engkau diciptakan sebagai seorang Muslim sejak awal penciptaan." Lalu orang Muslim itu pergi dengan sedih.
The Muslim said but I should take them. Then, the Magian said, what you want is mine and the palace which you saw in your dream was created for me. May you guide me to embrace Islam? By Allah, I did not sleep yesterday before my family and I embraced Islam at the hands of the woman. I had also the same dream. The Prophet asked me, "were the 'Alawiy woman and her daughters in your house?" I said 'yes', Messenger Of Allah? He, then, said, the palace is for you and your family and all of you will enter Paradise. You were created a Muslim from the beginning of the creation. Then, the Muslim went away sadly.
Lihatlah! Betapa Allah memberkahi mereka yang memperlakukan janda dan anak yatim dengan penuh kelembutan di dunia ini.
Behold! How Allah blesses those who treat widows and orphans tenderly in this world.
"Barangsiapa yang berusaha keras demi kepentingan janda-janda tua dan orang-orang miskin, maka ia seperti seorang Mujahid (pejuang) di jalan Allah." Sang perawi berpendapat bahwa beliau ﷺ menambahkan, "dan seperti orang yang berdiri shalat dan tidak pernah lelah, dan seperti orang yang berpuasa dan tidak pernah berbuka."1
"He who works hard an behalf of old women and the indigent, is like a Mujahid (a warrior) in the cause of Allah and the narrator thinks, he (pbuh) added, "and like the person standing in prayer and who never tires, and like one who observes the fast and does not break it.”1
Diriwayatkan oleh Muslim.
1Reported by Muslim.
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Abu Bazrah, namun sanadnya lemah.
2 Reported by Ibn Hibban on the authority of Abu Bazrah but it has a weak trans mission.
.
.
1 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
1 Reported by Al-Bukhari.
Diriwayatkan oleh Muslim.
2 Reported by Muslim.
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.
3 Reported by At- Tirmidhi.
4 Diriwayatkan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Majma' Al-Zawa'id.
4 Reported by Ibn Hajar AI-Haithami Majma' AI-Zawa'id.
5 Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi.
5 Reported by AI-Baihiqi.
.
.
1 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah.
1 Reported by Ibn Majah.
2 Diriwayatkan oleh Ibnu Hajar Al-Haitsami dalam Majma' Az-Zawa'id.
2 Reported by Ibn Hajar Al-Haithami in Majma' AI-Zawa'id.
.
.
1 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari
1 Reported by Al-Bukhari