Menunjukkan Ketidakhormatan kepada Orang Tua
Showing Disrespect To One's Parents
Allah Yang Maha Tinggi berfirman, {Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia, dan agar kamu berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya, sebagaimana keduanya telah mendidik aku waktu kecil."} (Al-Isra: 23-24)
Allah, the Most High, says, {Thy Lord hath decreed that ye worship none but Him, and that ye be kind to parents. Whether one or both of them attain old age in thy life, say not to them a word of contempt, nor repel them but address them in terms of honor. And, out of kindness, lower to them the wing of humility, and say: "My Lord! Bestow on them Mercy even as they cherished me in childhood.} (Al-Isra: 23-24)
Oleh karena itu, hendaklah engkau melayani mereka sebagaimana mereka dahulu melayanimu. Namun, pelayananmu tidak akan sebanding dengan pelayanan mereka, sebab mereka telah menderita banyak hal dalam membesarkanmu, dengan harapan agar engkau dapat hidup panjang umur. Sebaliknya, ketika engkau memikul beban mereka, engkau justru berharap agar mereka segera mati.
Therefore, you should serve them as they did with you. But your service is not equal to theirs as they suffered a lot in bringing you up, hoping that you might live long. On the other hand, when you shoulder their burdens you hope that they will die soon.
Allah, Yang Maha Tinggi, berfirman, {Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.} (Luqman: 14)
Allah, the Most High, says, {Show gratitude to Me and to thy parents: To Me is thy final goal.} (Luqman: 14)
Perhatikanlah bagaimana Allah telah menyandingkan rasa syukur kepada-Nya dengan rasa syukur kepada kedua orang tua. Ibnu 'Abbas (semoga Allah meridhainya) berkata, "Ada tiga ayat yang diturunkan dengan disandingkan dengan tiga ayat lainnya. Ketiganya tidak diterima jika dipisahkan."
Behold, how Allah has associated gratitude to Him with the gratitude to the parents Ibn 'Abbas (may Allah be pleased with him), said, "There are three verses (ayat) which have been revealed associated with three others. They are not accepted separately.
a) Allah Yang Maha Tinggi berfirman, {Taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan berhati-hatilah (terhadap kejahatan) jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (risalah) dengan jelas.} (Al-Ma'idah: 92)
a) Allah, the Most High, says, {Obey Allah and Obey the Messenger. And beware (of evil) if ye do turn back, know ye that it is our Messenger's duty to proclaim (the message in the clearest manner.} (Al-Ma'idah: 92)
Dengan demikian, barangsiapa hanya menaati Allah, maka ketaatannya tidak akan diterima.
Thus, whoever only obeys Allah will have his obedience not accepted.
b) {Dan dirikanlah shalat, dan tunaikanlah zakat.} (Al-Baqarah: 43)
b) {And be steadfast in prayer: Give Zakat.} (AI-Baqarah: 43)
Oleh karena itu, siapa pun yang melaksanakan salat namun tidak menunaikan zakat, maka salatnya tidak akan diterima. c) {Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu; hanya kepada-Kulah kembalimu.} (Luqman: 14)
Hence, whoever performed prayers and does not pay Zakat will have his prayers not accepted c) {Show gratitude to Me and to thy parents: to Me is thy final goal.} (Luqman: 14)
Barang siapa bersyukur kepada Allah tetapi mengabaikan kedua orang tuanya, maka rasa syukurnya tidak akan diterima.
Whoever shows gratitude to Allah and neglects his parents will not have his gratitude accepted.
Nabi ﷺ bersabda, "Keridaan Allah terletak pada keridaan orang tua, dan murka-Nya terletak pada murka mereka."1
The Prophet (pbuh) said, "Allah's satisfaction is the parent's and His Wrath is theirs.”1
Seorang laki-laki datang dan meminta izin untuk berjihad (berperang di jalan Allah). Nabi ﷺ bertanya kepadanya: "Apakah orang tuamu masih hidup?" Laki-laki itu menjawab, "Ya, Tuanku." Beliau bersabda, "Kalau begitu, berjihadlah dengan berkhidmat kepada orang tuamu, karena itu sama baiknya dengan jihad."1
"A man came and sought permission for Jihad (fighting in the way of Allah). The prophet (pbuh) asked him: '”Are your parents living? The man said" yes, Sir.' He said, 'Then carry on Jihad in service to your parents as this is as good as Jihad.”1
Lihatlah, bagaimana Allah telah mengutamakan berbakti dan memuliakan orang tua di atas jihad! Nabi ﷺ bersabda, "Maukah kalian kuberitahu tentang dosa-dosa besar yang paling buruk? Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua." Sekali lagi Allah menghubungkan durhaka kepada orang tua dengan menyembah selain-Nya.
Behold, how Allah has preferred obeying and honoring the parents to Jihad! The Prophet (pbuh) said, "Shall I not tell you of the worst major sins? Worshipping others with Allah and showing disrespect to parents." Again Allah associates showing disrespect to parents with worshipping others besides Him.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya, dan orang yang kecanduan minuman keras tidak akan masuk surga."2
It was related that the Messenger of Allah (pbuh) said, "Whoever shows disrespect to his parents, he who reminds recipients of his charity to them and he who addicts to wine will not enter Paradise.”2
Dalam riwayat lain Nabi ﷺ bersabda, "Seandainya Allah mengetahui sesuatu yang lebih kecil daripada ucapan 'uf' (kata yang menunjukkan kejengkelan) dalam hal tidak menghormati orang tua, niscaya Dia akan melarangnya. Biarlah anak yang durhaka berbuat apa pun yang ia lakukan, ia tidak akan masuk surga, dan biarlah anak yang berbakti berbuat apa pun yang ia inginkan, ia tidak akan masuk neraka."3
In another tradition the Prophet (pbuh) said, "Had Allah known something concerning showing disrespect to one's parents little than Uf (a word of contempt) He would have forbidden it. Let the rebellious son do whatever he does, he will not enter Paradise, and let the obedient son do whatever he wants, he will not enter the Hell-Fire.”3
Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah melaknat orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya." 4
The Messenger of Allah (pbuh) said, "May Allah curse he who shows disrespect to his parents.” 4
"Semoga Allah melaknat orang yang mencaci-maki ayahnya; semoga Allah melaknat orang yang mencaci-maki ibunya." 5
"May Allah curse he who reviles his father; may Allah curse he who reviles his mother.” 5
Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah menangguhkan dosa-dosa apa pun yang Dia kehendaki hingga hari kiamat, kecuali durhaka kepada kedua orang tua; dosa itu akan disegerakan balasannya bagi pelakunya.”6
It was related that the Messenger of Allah (pbuh) said, “Allah respites whatever He wants of the sins until the day of Judgment save showing disrespect to one's parents, it will be hastened to its doer.”6
yaitu hukuman duniawi sebelum Hari Kiamat. Ka'b Al-Ahbar, semoga Allah meridainya, berkata, "Allah mempercepat kematian siapa pun yang berlaku tidak hormat kepada orang tuanya sebagai bentuk siksaan baginya. Sebaliknya, Allah memperpanjang usia seseorang jika ia berbakti kepada orang tuanya sebagai berkah baginya." Memuliakan orang tua juga mengharuskan menanggung kebutuhan hidup mereka ketika mereka membutuhkan. Seorang laki-laki datang dan berkata kepada Nabi ﷺ, "Wahai Rasulullah, ayahku meminta hartaku." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Engkau dan apa yang engkau miliki adalah milik ayahmu."7
i.e. the worldly punishment before the Day of Judgment Ka'b Al-Ahbar, may Allah be pleased with him, said, "Allah hastens the death of anyone who shows disrespect to his parents so as torture him. On the other hand, Allah increases one's life span if he is kind to his parents to bless him." Treating one's parents with honour also requires sustaining them with the living costs when they are needy. A man came and said to the Prophet (pbuh), "0 Messenger of Allah, my father asks for my property.” Then the. Prophet (pbuh) said, "Both you and what you possess are your father's.”7
Ketika Ka'b Al-Ahbar ditanya tentang makna durhaka kepada orang tua, ia berkata, "Yaitu ketika ayah atau ibunya bersumpah dan ia tidak memenuhi sumpah tersebut. Ketika mereka memerintahkannya melakukan sesuatu tetapi ia tidak menaati. Ketika mereka meminta sesuatu darinya dan ia menolak. Ketika mereka mempercayakan sesuatu kepadanya tetapi ia menipu mereka."
When Ka'b Al-Ahbar was asked about the meaning of showing disrespect to one's parents, he said, "When one's father or mother swore an oath and he or she did not fulfill it. When they ordered him to do something but he did not obey. When they ask him for some thing and he refused. When they entrust him for something but deceives them.
Ibnu 'Abbas ditanya tentang Ashab Al-'Araf (orang-orang di A'raf), lalu beliau berkata: "Adapun al-A'raf, ia adalah sebuah gunung di antara Neraka dan Surga. Dinamakan demikian karena ia menghadap ke Neraka dan Surga. Ia juga ditumbuhi pepohonan, buah-buahan, sungai-sungai, dan mata air. Adapun orang-orang yang menempatinya, mereka adalah orang-orang yang keluar untuk berperang di jalan Allah tanpa izin orang tua mereka, lalu mereka terbunuh. Mati di jalan Allah melindungi mereka dari api Neraka. Namun, durhaka kepada orang tua menghalangi mereka dari Surga. Maka mereka akan berada di A'raf hingga Allah memutuskan perkara mereka."
Ibn 'Abbas was asked about Ashab Al- 'Araf (men of the Heights) and he said; "As for the Heights, it is a mountain between Fire and Paradise. It is so-called because it outlooks Fire and Paradise. It is also covered by trees, fruits, rivers and wells. As for the men who seized thereon, they are those who went out to fight in the cause of Allah without their parents' permission and then are killed. Death in the cause of Allah protects them from the Hell-Fire. But disobedience to their parents deprived them of Paradise. Thus, they will be on the Heights until Allah judges them.
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ, "Siapakah yang paling berhak mendapatkan baktiku setelah Allah?" Nabi ﷺ menjawab, "Ibumu." Laki-laki itu bertanya lagi, "Lalu siapa berikutnya?" Nabi ﷺ menjawab, "Ibumu." Laki-laki itu bertanya lagi, "Kemudian siapa berikutnya?" Nabi ﷺ menjawab, "Ibumu." Laki-laki itu bertanya sekali lagi, "Lalu siapa berikutnya?" Nabi ﷺ bersabda, "Ayahmu, kemudian kerabat terdekat."
It was related that a man asked the Prophet (pbuh), "Who deserves my service most after Allah?" The Prophet said, "Your mother." The man asked again, "And who is next?" The Prophet said, "Your mother." The man asked further, "Who is next?" The Prophet replied, "Your mother.” The man asked once more, "And who is next?" The Prophet (pbuh) said, "Your father and then the closer kins.” 1
Dengan demikian, Nabi ﷺ menekankan bahwa ibulah yang sangat layak mendapatkan perhatian besar, karena itu beliau menyebutkannya tiga kali. Sungguh, ibulah yang menanggung banyak beban dalam kehamilan, melahirkan, dan menyusui, serta perawatan yang terus-menerus kepada anak siang dan malam.
Thus, the Prophet (pbuh) emphasizes that the mother is the one who deserves much concern and therefore he mentioned her three times. It is the mother indeed who bears a lot in pregnancy, giving birth, and suckling and constant care to the child night and day.
Suatu ketika Ibnu 'Umar melihat seorang pria sedang menggendong ibunya di atas pundaknya sambil melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah. Ia bertanya kepadanya, "Apakah menurutmu aku sudah membalas jasanya? Tidak, bahkan tidak dengan satu jeritan dari persalinannya."
Once Ibn 'Umar saw a man bearing his mother upon his shoulder and making circumambulation around the Ka'ba. The map ' asked him, "Do you think that I requite her? No, not even with a cry from childbirth.
"Tetapi, baik sekali. Allah akan memberimu balasan yang besar atas amalan yang kecil."2
But, well done. Allah will give you in return for a little deed a great reward.”2
Abu Hurairah (semoga Allah meridhainya) meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Ada empat golongan orang yang tidak akan masuk surga sebagaimana yang telah Allah tetapkan: peminum khamar, pemakan riba, orang yang memakan harta anak yatim tanpa alasan yang dibenarkan, dan orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya." 3
Abu Hurairah (may Allah be pleased with him) related that the Prophet (pbuh) said, "There are four people who will not enter Paradise as Allah decreed: a drunkard, a usurer, he who appropriates the orphan's property without a legal cause and he who shows disrespect to one's parents.” 3
Rasulullah ﷺ bersabda, "Surga itu berada di bawah telapak kaki para ibu."4
The Messenger of Allah (pbuh) said, "Paradise lies beneath the feet of mothers.”4
Seorang laki-laki datang kepada Abu Ad-Darda' dan berkata, "Wahai Abu Ad-Darda', aku telah menikahi seorang wanita, tetapi ibuku memerintahkanku untuk menceraikannya." Lalu Abu Ad-Darda' berkata, "Orang tua adalah pintu tengah surga. Engkau boleh menyia-nyiakannya atau menjaganya."5
A man came to Abu Ad-Darda' and said, "O Abu Ad-Darda', I have married a woman but my mother ordered me to divorce her." Then Abu Ad-Darda' said, "Parents is the middle gate of Paradise. You may either miss or preserve it.”5
Rasulullah ﷺ bersabda, "Tiga doa pasti dikabulkan: doa orang yang dizalimi, doa musafir, dan doa orang tua terhadap anak-anak mereka."
The Messenger of Allah (pbuh) said, "Three supplications are surely acceptable: the supplication of the oppressed, the traveler and the parents against their children.” 6
"Bibi (saudara perempuan ibu) diperlakukan seperti ibu, yaitu dengan perlakuan yang terhormat."
“An aunt is treated as a mother i. e., honorable treatment.” 1
Wahb Ibn Munabbih berkata, "Dalam lembaran-lembaran yang ditulis oleh Allah untuk Musa terdapat tulisan berikut, 'Wahai Musa! Hormatilah kedua orang tuamu. Barang siapa menghormati kedua orang tuanya, Aku akan memperpanjang umurnya dan menganugerahinya keturunan yang bersyukur. Tetapi barang siapa berlaku tidak hormat kepada kedua orang tuanya, Aku akan memperpendek umurnya dan menganugerahinya keturunan yang tidak bersyukur.'"2
Wahb Ibn Munabbih said, "In the tablets written by Allah to Musa is the following, 'O Musa! Respect your parents. Whoever respects his parents I will extend his life span and grant him a grateful progeny. But, whoever shows disrespect to his parents I will shorten his life span and grant him an ungrateful progeny.”2
Abu Bakr Ibn Abu Mariam juga berkata, "Aku membaca dalam Taurat bahwa orang yang memukul ayahnya akan dibunuh." Demikian pula, Wahb berkata, "Aku membaca dalam Taurat bahwa orang yang menampar ayahnya harus dirajam sampai mati." 'Amr Ibn Murrah Al-Juhanni berkata, "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya, 'Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku melaksanakan shalat wajib, berpuasa di bulan Ramadan, menunaikan zakat dari hartaku, dan berhaji jika aku mampu, apa pahala bagiku?' Rasulullah ﷺ bersabda, 'Barang siapa melakukan hal ini, ia akan bersama para nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada, selama ia tidak durhaka kepada kedua orang tuanya.'"3
Abu Bakr Ibn Abu Mariam also said, "I read in the Torah that he who hits his father will be killed." Similarly, Wahb said, "I read in the Torah that he who slaps his father should be stoned until death." `Amr Ibn Murrah Al-Juhanni said, "A man came to the Messenger of Allah and asked, 'OMessenger of Allah, what do you say if/pray obligatory duties, fast during Ramadan, give due Zakat on my Y1-'ealth, and perform Hajj if I am able to do so, what is my reward?' The Messenger of Allah (pbuh) said, 'He who does this, he will be with the prophets, truthful people and the martyrs unless he disrespects his parents.”3
Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Semoga Allah melaknat orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya." Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Pada malam Isra' aku melihat sekelompok orang di Neraka yang digantung pada batang-batang api. Aku bertanya, 'Siapakah mereka, wahai Gabriel?' Ia menjawab, 'Mereka adalah orang-orang yang mencaci kedua orang tuanya di dunia.'" Bishr berkata, "Orang yang dekat dengan ibunya dan mendengarkan tuturnya lebih baik daripada orang yang berperang dengan pedangnya di jalan Allah. Memandang ibunya melebihi segala sesuatu." Suatu ketika seorang laki-laki dan seorang perempuan datang menghadap Nabi ﷺ dengan berselisih tentang anak mereka. Laki-laki itu berkata, "Wahai Rasulullah, dia adalah anakku yang tercipta dari tulang sulbiku." Sementara perempuan itu berkata, "Wahai Rasulullah, ia mengandungnya dengan ringan dan melahirkannya dengan susah payah, dan menyusuinya selama dua tahun penuh." Lalu Nabi ﷺ memutuskan perkara itu untuk sang ibu.4
It was related that the Messenger of Allah (pbuh) said, "May Allah curse he who shows disrespect to his parents." It was narrated. Also that the Messenger of Allah (pbuh) said, "In the night of /sra' (Night Journey) / saw groups of people in the Hell-Fire hanged on trunks of fire. / asked, "Who are they, Gabriel?" He said, "They are those who revile their parents in this world.” Bishr said, "Whoever is intimated by his mother and listens to her speech is better than the one who fights with his sword in the cause of Allah. Gazing at her surpasses every thing. Once a man and a woman presented before the Prophet (pbuh) arguing about their child. The man said, "O Messenger of Allah, he is my child who was created from my loins (backbone)." On the other hand, the woman said, "O Messenger of Allah he bore him lightly and proceeded it out of lust. But I bore him in travail, delivered him in travail and suckled him during two full years." Thereupon, the Prophet judged for the mother.”4
Pada masa hidup Nabi, ada seorang pemuda bernama Alqamah. Ia sangat taat beribadah sehingga ia berusaha keras dalam melaksanakan banyak salat, berpuasa, dan menginfakkan hartanya untuk sedekah. Ia menderita penyakit yang mematikan, dan istrinya memberitahukan kepada Nabi ﷺ bahwa suaminya sedang sekarat. Maka Nabi ﷺ mengutus `Ammar, Suhaib, dan Bilal untuk menuntun orang yang sekarat itu mengucapkan kalimat syahadat. Ketika mereka tiba di sana, mereka mendapati dia sedang sekarat. Maka mereka mulai menuntunnya mengucapkan "Tiada tuhan selain Allah," tetapi ia tidak mampu mengulanginya.
In the Prophet's lifetime, there was a young man called Alqamah. He was so devout that he exerted great efforts in performing many prayers, fasting and spending money in charity. He had a fatal disease that his wife informed the Prophet (pbuh) that her husband was dying. Thereby, the Prophet (pbuh) sent `Ammar, Suhaib and Bilal to instruct the dying to say the testification of Faith. When they arrived there, they found him dying. Therefore, they began to instruct him to say there is no god but Allah, but he could not repeat it.
Mereka kembali kepada Nabi ﷺ untuk meminta nasihat. Lalu Nabi ﷺ bertanya, "Apakah dia masih memiliki orang tua yang hidup?" Mereka menjawab, "Dia memiliki seorang ibu yang sudah lanjut usia." Maka Nabi ﷺ meminta mereka membawa ibunya jika ia mampu berjalan. Jika tidak, beliau sendiri yang akan datang ke sana. Ketika mendengar pesan Nabi ﷺ, sang ibu berkata, "Aku korbankan dia dengan jiwaku. Aku akan pergi menemuinya." Lalu ia pergi menemui Nabi ﷺ dengan bertumpu pada tongkat. Setelah mengucapkan salam, Nabi ﷺ bersabda, "Wahai ibu Alqamah, katakanlah yang sebenarnya, dan jika engkau berdusta, Allah akan menyingkapkan kebenaran itu kepadaku. Bagaimana keadaan Alqamah?" Ia menjawab, "Dia banyak melaksanakan shalat, berpuasa, dan bersedekah dengan hartanya." Kemudian Nabi ﷺ bertanya, "Bagaimana dengan dirimu?" Ia menjawab, "Wahai Rasulullah! Aku marah kepadanya." Nabi ﷺ bertanya, "Mengapa?" Ia menjawab, "Karena dia lebih mengutamakan istrinya daripada aku, dan dia juga durhaka kepadaku." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Kemarahan ibu Alqamah menahan lidah Alqamah sehingga tidak mampu mengucapkan syahadat." Setelah itu Nabi ﷺ bersabda, "Wahai Bilal, pergilah dan kumpulkan seikat kayu bakar." Wanita itu berkata, "Mengapa, wahai Rasulullah?" Nabi ﷺ menjawab, "Untuk membakarnya di hadapanmu." Ia berkata, "Wahai Rasulullah, dia anakku! Aku tidak sanggup melihatnya dibakar di hadapanku." Lalu Nabi ﷺ bersabda, "Siksa Allah lebih berat dan lebih kekal, wahai ibu Alqamah. Maka jika engkau ingin Allah mengampuninya, maafkanlah dia. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, shalat, puasa, dan sedekah yang dilakukannya tidak akan bermanfaat selama engkau masih marah kepadanya." Kemudian ia berkata, "Wahai Rasulullah, semoga Allah Yang Maha Perkasa, para malaikat-Nya, dan seluruh kaum Muslimin yang hadir menjadi saksi bahwa aku memaafkan anakku, Alqamah." Setelah itu Nabi ﷺ bersabda, "Pergilah kepadanya, wahai Bilal, untuk melihat apakah dia mampu mengucapkan syahadat atau tidak. Mungkin ibunya memaafkannya karena malu." Ketika Bilal mendekati rumah Alqamah, ia mendengar Alqamah mengucapkan, "Tidak ada Tuhan selain Allah." Lalu Nabi ﷺ memerintahkan mereka untuk menyiapkan jenazahnya, memandikannya, dan mengafaninya. Kemudian, beliau menshalatkannya dan menyaksikan pemakamannya.
They returned to the Prophet (pbuh) to consult him. Then, the Prophet (pbuh) said, "Did he have living parents?" They said, "He had an aged mother." Accordingly, the Prophet asked them to bring her if she was able to walk. Otherwise he himself will go there. When being informed by the Prophet's message, the mother said, "I sacrifice him with my soul. I will go to him." She then went to him leaning on a staff. After greeting, the Prophet (pbuh) said; "O mother of Alqamah, tell me the truth and if you lie Allah will reveal me the truth. How was Alqamah?" She said, "He performed much prayers, fasting and spending money in charity." Then, the Prophet (pbuh) asked, "What about you?" She said, "O Messenger of Allah! I am angry with him." The Prophet asked, "Why?" She said, "Because he prefers his wife to me and also disobeys me." Then, the Prophet (pbuh) said, "The anger of Alqamah's other holds Alqamah's tongue to utter the testification of Faith." Afterwards, the Prophet said, O Bilal, go and gather a pile of wood." The woman said, "Why, Messenger of Allah?" The Prophet said, “To bum him before your eyes." She said, "O Messenger of Allah, he is my son! I cannot endure that he be burnt before my eyes." Then, the Prophet said, "But Allah's torture is more severe and lasting, mother of `Alqamah. So if you like him to be forgiven by Allah, you forgive him. By Whom in Whose hands my soul is, what he performed of prayers, fasting and charity is of no avail so long as you are angry with him." Then, she said, "O Messenger of Allah, may Allah the Almighty, his angels and all Muslims who are present witness that I forgive my son, Alqamah." Thereupon, the Prophet said, "Go to him, Bilal to see whether he can utter the testification of Faith or not? She might forgive him out of shyness." Approaching Alqamah's house, Bilal heard him saying, "There is no god but Allah" Then, the Prophet (pbuh) ordered them to prepare the funeral, washing and shroud. Then, he prayed over him and witnessed the funeral.
Kemudian, Nabi ﷺ berdiri di hadapan kubur si mayit dan bersabda, "Wahai kaum Muhajirin, wahai kaum Anshar, barang siapa yang lebih mengutamakan istrinya daripada ibunya, maka ia mendapatkan laknat Allah, para malaikat-Nya, dan seluruh manusia."
Then, the Prophet stood in front of the deceased grave and said, "O Muhajirin (Emigrants) O Ansar (Helpers), he who prefers his wife to his mother entails the curse of Allah, His angels and the whole people.
Allah tidak pernah menerima amalnya atau alasannya kecuali ia bertobat, memperlakukan ibunya dengan baik, dan meminta keridaannya. Hal ini karena keridaan Allah bergantung pada keridaan ibu, dan murka-Nya ada pada murka ibu.1
Allah never accepts his deeds or a reason unless he makes repentance, treats his mother well and asks her consent. This is because Allah's consent is conditioned on the mother's and His wrath is hers.”1
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.
1 Reported by At- Tirmidhi.
.
.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
1 Reported by A1-Bukhari and Muslim.
Diriwayatkan oleh Ad-Darimi, Ahmad, An-Nisa'i, dan Ibnu Hibban.
2 Reported by Ad-Darimi, Ahmad, An-Nisa'i and Ibn Hibban.
Diriwayatkan oleh Ad-Dailami.
3 Reported by Ad-Dailami.
4 Diriwayatkan oleh Al-Hakim.
4 Reported by AI-Hakim.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa'i.
5 Reported by Imam Ahmad and An-Nisa'i.
6 Diriwayatkan oleh Al-Hakim.
6 Reported by AI-Hakim.
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad.
7 Reported by Ibn Majah and Ahmad.
.
.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
1 Reported by AI-Bukhari.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
2 Reported by AI-Bukhari.
Diriwayatkan oleh Al-Hakim.
3 Reported by AI-Hakim.
Ia memiliki banyak referensi.
4 It has numerous references.
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ahmad, dan Al-Hakim.
5 Reported by Ibn Majah, Ahmad and AI-Hakim.
6 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah.
6 Reported by At- Tirmidhi, Abu Dawud and Ibn Majah.
.
.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Abu Dawud.