Meratapi dengan Suara Keras atas Orang yang Telah Meninggal atau Ketika Tertimpa Musibah
Loudly Lamenting For The Dead Or When Afflicted With An Adversity
Dalam Sahih Muslim, Ibnu Mas'ud (semoga Allah meridhainya) meriwayatkan, "Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang menampar pipinya, merobek sakunya, atau menyerukan seruan-seruan jahiliyah, maka ia bukan termasuk golongan kami.” 1
In Sahih Muslim, Ibn Mas'ud (may Allah be pleased with him) reported, "The Prophet (pbuh) said that, “He who slaps his cheeks, rips his pockets, or calls out the cries of the pre-Islamic period of ignorance is not of us.” 1
Abu Musa Al-Ash'ari (semoga Allah meridhainya) meriwayatkan, "Rasulullah ﷺ berlepas diri dari perempuan yang meratap dengan suara keras, perempuan yang mencukur atau mencabut rambutnya ketika tertimpa musibah, dan perempuan yang merobek-robek pakaiannya."2
Abu Musa AI-Ash'ari (may Allah be pleased with him) reported that, "The Messenger of Allah (pbuh) cleared himself from the woman who loudly lament, the one who shaves or plucks out her hair when being afflicted with an adversity, and the one who rips off her clothes.” 2
Semua jenis ini dilarang menurut kesepakatan para ulama. Demikian pula dilarang mengurai rambut, menampar pipi, mencakar wajah, meratap, dan menjerit-jerit dengan suara keras.
All these types are prohibited according to the consensus of the scholars. It is also prohibited to dishevel one's hair, slap the cheeks, scratch the face and to wail and burst into loud lamenting.
Ummu 'Athiyyah (semoga Allah meridhainya) berkata, "Di antara hal-hal yang kami bai'at kepada Rasulullah ﷺ adalah untuk tidak meratap dengan suara keras."
Umm 'Attiyyah (may Allah be pleased with her) said, "Among things upon which we gave the Messenger of Allah (pbuh) the oath of allegiance was to refrain from loud lamenting.” 3
Abu Hurairah (semoga Allah meridhainya) berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Dua perbuatan pada manusia yang merupakan kekafiran adalah mencela keturunan orang lain dan meratapi orang yang telah meninggal."" 4
Abu Hurairah (may Allah be pleased with him) said, "The Messenger of Allah (peace and blessing be upon him} said, "Two qualities in people are unbelief attacking another's ancestry, and wailing over the dead.” 4
Dari Abu Sa'id Al-Khudri (semoga Allah meridhainya), ia berkata, "Rasulullah ﷺ telah melaknat wanita yang meratap dengan suara keras atas orang yang meninggal, dan orang yang mendengarkannya."5
On the authority of Abu Sa'id Al-Khudri (may Allah be pleased with him) who said, "The Messenger of Allah (peace and blessings be upon him) has cursed the woman who loudly wails for the dead and whoever listens to her.”5
Dari Abu Burdah, ia berkata: "Suatu ketika Abu Musa Al-Asy'ari sakit dan akibatnya ia pingsan di pangkuan seorang wanita dari keluarganya. Wanita itu kemudian menjerit keras dan ia tidak dapat menghentikannya. Ketika ia sadar, ia berkata: 'Aku berlepas diri dari apa yang Rasulullah ﷺ berlepas diri darinya, yaitu wanita yang meratap dengan keras, wanita yang mencukur atau mencabut rambutnya ketika ditimpa musibah, dan wanita yang merobek pakaiannya.'" 6
On the authority of Abu Burda who said, "Once Abu Musa Al-Ash'ari was sick and consequently he fell unconscious in the lap of a woman from his family. She, in turn, cried loudly and he could not stop her. When he became conscious, he said, "I cleared myself from what the Messenger of Allah (pbuh) cleared himself i.e., the woman who loudly laments, the one who shaves or plucks out her hair when being afflicted with an adversity and the one who rips her clothes.” 6
Dari An-Nu'man bin Basyir (semoga Allah meridhainya), ia berkata, "Suatu ketika Abdullah bin Rawahah pingsan. Maka saudara perempuannya mulai meratap sambil berkata, 'Wahai fulan.' Ketika ia sadar, ia berkata, 'Tidaklah engkau mengucapkan sesuatu, kecuali dikatakan kepadaku: apakah engkau memang begitu?'" 1
On the authority of An-Nu'man Ibn Bashir (may Allah be pleased with him) who said, "Once' Abdullah Ibn Rawaha fell unconscious. Consequently, his sister started wailing over him saying, 'O so and so.' When he became conscious, he said, 'You never said something, unless it was said to me are you so and so.” 1
Diriwayatkan pula dalam kedua kitab Sahih, bahwa "Rasulullah ﷺ bersabda, "Di dalam kuburnya, mayit disiksa karena ratapan yang dilakukan atasnya?"
It is also reported in the two Sahihs that, "The Messenger of Allah (pbuh) said, "In his grave, the dead is tortured with what he was lamenting over?” 2
Dari Abu Musa (semoga Allah meridhainya), ia berkata, "Tidak ada seseorang yang meninggal lalu keluarganya meratapinya dengan berkata, 'Wahai junjungan kami, wahai penolong kami, atau wahai fulan,' melainkan dua malaikat ditugaskan untuk menyiksanya sambil berkata, 'Bukankah engkau dahulu begini dan begitu?'"3
On the authority of Abu Musa (may Allah be pleased with him) who said, "Never has a person died and his people wail upon him saying, 'O our master, O our sustainer, or the so and so, and two angels not be entrusted with his torture saying, weren't you so and so?”3
Nabi ﷺ bersabda, "Jika seorang wanita yang meratap dengan suara keras atas orang yang meninggal tidak bertaubat sebelum ajalnya tiba, maka ia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat dengan mengenakan pakaian dari ter dan baju besi dari kudis."4
The Prophet (pbuh) said, "If the woman who loudly laments the dead does not repent before the time of her death, she will be raised on the Day of Judgment wearing a garment from a tar and a coat of mail from scabies.”4
Nabi ﷺ juga bersabda, "Aku dilarang mengeluarkan dua suara yang bodoh: yang pertama ketika mendapat nikmat, yaitu hiburan, permainan, dan seruling setan; dan yang kedua ketika tertimpa musibah, yaitu mencakar wajah, merobek saku, dan meratap." 5
The Prophet (pbuh) also said, "It is forbidden for me to make two foolish sounds, the one when being granted with a blessing; amusement, playing and the flute of Satan, and the other when being afflicted with an adversity; scratching one's face, ripping one's pockets and crying.” 5
Al-Hasan berkata, "Ada dua suara yang terkutuk: suara ketika mendapat nikmat dan suara ketika tertimpa musibah."
AI-Hasan said, "Two sounds are cursed, the sound when being granted with a blessing and the sound when being afflicted with an adversity.” 6
Rasulullah ﷺ juga bersabda, "Orang-orang yang meratap dengan suara keras akan dijadikan dua barisan di Neraka dan akan menggonggong kepada penghuni neraka seperti anjing menggonggong."
The Messenger of Allah (peace and blessing be upon him) also said, "The people who loudly wail will be made into two rows in the Hell-Fire and will bark at the people of the fire as dogs do.” 7
Al-Awza'i berkata, suatu ketika 'Umar bin Al-Khaththab mendengar beberapa orang menangis. Maka ia pun masuk menemui mereka bersama orang-orang lain, lalu mulai memukuli mereka hingga sampai kepada seorang wanita yang meratap. Ia juga memukulnya sedemikian rupa sehingga kerudungnya (Hijab) jatuh. Ia berkomentar, "Pukul dia! Dia meratap dan tidak ada kehormatan bagi orang-orang seperti itu. Dia tidak menangis karena terkena musibah kalian, melainkan ia menumpahkan air mata untuk mengambil harta kalian. Hal ini hanya membahayakan orang-orang mati kalian di kubur mereka dan orang-orang yang masih hidup di rumah mereka. Ia juga melarang untuk berkomitmen pada kesabaran, yang merupakan perintah Allah, dan mendorong keputusasaan, yang diharamkan Allah." Meratap dengan suara keras berarti meninggikan suara dengan ratapan dan menyebut-nyebut kebaikan orang yang meninggal. Ada pula yang mengatakan bahwa itu berarti menangisi orang yang meninggal dengan menyebut-nyebut kebaikannya.
AI-Awza'i said, once 'Umar Thn AI-Khattab heard some people weeping, consequently, he entered upon them along with others and started beating them until he reached the woman who was wailing. He also beat her to such an extent that her veil (Hijab) fell down. He commented saying, 'Beat her! She is wailing and there is no sanctity for such people. She does not weep out of being affected with your adversity, rather she sheds tears to take your money. This only harms your dead in their graves and the ones who are still alive in their homes. She also prohibits committing to patience which is the command of Allah and encourages despair which Allah forbids." Loudly lamenting means to raise one's voice with wailing and mentioning the good traits of the dead. It is also said that it means that to weep over the dead by mentioning his good traits.
Para ulama mengatakan bahwa tidak diperbolehkan mengeraskan suara ketika menangis. Adapun menangisi orang yang meninggal tanpa meratap atau meraung-raung dengan keras, hal itu tidak dilarang. Dalam Sahih Al-Bukhari dan Muslim, Ibnu 'Umar (semoga Allah meridainya) meriwayatkan bahwa, "Rasulullah ﷺ"
The scholars said it is not allowed to raise your voice when weeping. As for weeping over the dead without wailing or loud lamenting, it is not forbidden. In Sahih of Al-Bukhari and Muslim, Ibn 'Umar (may Allah be pleased with him) reported that, "The Messenger of Allah (peace and blessing be upon him)
Mengunjungi Sa'd Ibn 'Ubadah bersama 'Abdul-Rahman Ibn 'Awf, Sa'd Ibn Abi Waqas dan 'Abdullah Ibn Mus'ud (semoga Allah meridhai mereka semua).
visited Sa'd Ibn 'Ubadah along with `Abdul-Rahman Ibn 'Awf, Sa'd Ibn Abi Waqas and 'Abdullah Ibn Mus'ud (may Allah be pleased with them all).
Kemudian Rasulullah ﷺ menangis. Ketika melihat Rasulullah ﷺ dalam keadaan demikian, orang-orang pun ikut menangis. Nabi ﷺ bersabda, "Tidakkah kalian mendengar?! Sesungguhnya Allah tidak menyiksa manusia karena tetesan air mata atau kesedihan hati."
Thereupon the Messenger of Allah (pbuh) wept. Upon seeing the Messenger of Allah (pbuh) in this state, the people also wept. The Prophet said, "Don't you hear?! Allah does not torment the people because of the tears of the eye or the grief of the heart.
Bahkan, Dia menyiksa atau memberi rahmat-Nya kepada manusia karena balasan dari "ini", dan beliau menunjuk ke lidahnya."
Rather, He torments or bestows His mercy upon the people because of the returns of "this" and he pointed to his tongue.” 1
Dalam dua kitab Sahih, juga diriwayatkan dari Usamah bin Zaid: "Putra dari putri Rasulullah ﷺ datang kepada Rasulullah ﷺ ketika ia sedang sekarat. Lalu mata Rasulullah ﷺ basah oleh air mata. Sa'd berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah ini?' Nabi ﷺ bersabda, 'Ini adalah rahmat yang Allah ciptakan dalam hati hamba-hamba-Nya, dan Allah hanya akan menyayangi orang-orang yang penyayang di antara hamba-hamba-Nya.'" 2
In the two Sahihs, it is also reported on the authority of Usarnah Ibn Zayd that "The son of the daughter of the Messenger of Allah (pbuh) came to Messenger when he was dying. Thereupon, the eyes of the Messenger of Allah (pbuh) were soaked with tears. Sa'd said, “O Messenger of Allah what is this?' The Prophet said, "This is a mercy which is created by Allah within the hearts of His servants and Allah will only shower His mercy upon the merciful ones (amongst His servants)” 2
Dalam Sahih Al-Bukhari, diriwayatkan dari Anas (semoga Allah meridhainya) bahwa, "Rasulullah ﷺ masuk menemui putranya, Ibrahim, ketika ia sedang sekarat. Maka mata Nabi ﷺ mulai mengeluarkan air mata. 'Abdurrahman bin 'Awf berkata kepadanya, 'Engkau juga, wahai Rasulullah!' Nabi ﷺ menjawab, 'Wahai Ibnu Awf, ini adalah rahmat,' lalu beliau mengulanginya dua kali dan bersabda, 'Mata menangis, hati berduka, tetapi kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Allah. Dan atas kematianmu, wahai Ibrahim, kami sungguh bersedih.'"3
In Sahih AI-Bukhari, it is reported on the authority of Anas (may Allah be pleased with him) that, "The Messenger of Allah (pbuh) entered upon his son, Ibrahim, while he was dying. Thereupon the eyes of the Prophet (pbuh) started to shed tears. 'Abdul-Rahman Ibn 'Awf said to him, 'You too, O Messenger of Allah!' The Prophet commented, 'O Ibn Awf, it is a mercy' and repeated it twice and said, 'The eyes shed tears, the heart is grieved, but we do not say anything except what pleases Allah and for your death we are very sad, O Ibrahim.”3
Adapun hadis sahih yang menyatakan, "Orang yang meninggal akan disiksa karena tangisan keluarganya atas dirinya."
As for the Sahih hadith which states, "The dead will be tortured with the weeping of his family over him.” 4
Itu tidak boleh diambil secara harfiah; para ulama menafsirkannya secara berbeda-beda. Makna yang paling jelas, wallahu a'lam, adalah bahwa tangisan tersebut mungkin disebabkan oleh alasan lain, misalnya karena orang yang meninggal itu telah berpesan kepada keluarganya untuk melakukannya sebelum ia wafat.
It is not to be taken literally, it is interpreted differently by various scholars. The most evident meaning is, but Allah knows best, that the weeping may be for some other reasons such as the deceased person may have advised his family to do so prior to his death.
Para pengikut Syafi'i berkata, "Menangisi orang yang telah meninggal diperbolehkan baik sebelum maupun sesudah kematiannya. Namun, lebih utama jika dilakukan sebelum kematian, sesuai dengan hadis yang menyatakan, 'Biarkanlah mereka (menangis), tetapi ketika jiwanya benar-benar dicabut, jangan biarkan siapa pun (menangis).'" Syafi'i dan para pengikutnya menyatakan bahwa menangis setelah kematian hanya makruh, tetapi tidak haram. Mereka menafsirkan hadis sebelumnya sebagai berikut, "Makruh membiarkan mereka menangis (setelah kematian)." Wanita yang meratap dengan keras atas orang yang meninggal akan disiksa dengan cara demikian karena dengan perbuatannya itu ia memerintahkan orang-orang untuk berputus asa dan tidak sabar, dan hal ini bertentangan dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah Yang Maha Kuasa berfirman, {Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu mengatakan orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un."} (Al-Baqarah: 153-156)
The followers of Shafi'i said, "The weeping over the dead is allowed before and after his death. But it is preferable for it to be done before the death according to the hadith which states, "Let them (weep), but when his soul is really taken, do not allow anyone (to weep)." Shafi'i and his followers stated that weeping after the death is only reprehensible but it is not forbidden. They interpreted the previous hadith as follows, "It is reprehensible to let them weep (after the death)." The woman who loudly laments the dead will be tormented in such way because she, in so doing, orders the people to be despondent and impatient and this is in contradiction to what Allah and his Messenger has ordered. Allah the Almighty has said, {O ye who believe! Seek help with patient perseverance and prayer: for God is with those who patiently persevere and say not of those who are slain in the way of Allah: "They are dead" Nay, they are living, though ye perceive (it) not. Be sure We shall test you with some thing of fear and hunger, some loss in good, lives and the fruits (of your toil), but give glad tidings to those who patiently persevere, who say, when afflicted with calamity: To Allah we belong, and to Him is Our return.} (AI-Baqarah: 153-156)
'Ata' meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas bahwa ia berkata, "Ini berarti bahwa Allah akan menolong orang-orang seperti itu dan tidak akan pernah mengecewakan mereka. Allah Yang Mahakuasa berfirman, {Sungguh Kami pasti akan menguji kalian.} yakni, Allah akan memperlakukan orang-orang seperti itu sama seperti Dia memperlakukan orang-orang yang ditimpa musibah. Hal itu karena Allah mengetahui akibat dan konsekuensi dari segala sesuatu, dan Dia tidak membutuhkan orang-orang yang ditimpa musibah untuk mengetahui hasilnya, tetapi Dia memperlakukan mereka dengan cara demikian."
'Ata' reported Ibn' Abbas to have said, "This means that Allah will support such people and will never disappoint them. Allah the Almighty said, {Be sure we shall test you.} i.e., Allah will treat such kind of people the same way He treated the afflicted people. That is because Allah knows the returns and consequences of all things and He is in no need for the afflicted to know the result but He just deals with them in such way.
Maka, siapa yang bersabar, ia akan diberi pahala atas kesabarannya, dan siapa yang tidak sabar, ia akan kehilangan pahala tersebut. Kemudian Allah berfirman, {dengan sedikit rasa takut dan kelaparan.} Ibnu 'Abbas berkata, {rasa takut} berarti takut dari musuh, dan {kelaparan} berarti paceklik dan kekeringan. 4 {Sebagian kekurangan harta benda} p, berarti kehilangan dan berkurangnya harta serta matinya hewan ternak. {Jiwa} berarti hilangnya nyawa karena kematian, pembunuhan, penyakit, dan usia tua. {Dan buah-buahan} berarti berkurangnya kebutuhan manusia dan buah-buahan menjadi tidak sempurna. Kemudian Allah Yang Mahakuasa menutup ayat ini dengan memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, untuk menunjukkan bahwa siapa pun yang ditimpa musibah-musibah ini lalu bersabar, maka Allah menjanjikan pahala baginya. Allah Yang Mahakuasa berfirman, "Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." Kemudian Allah menggambarkan mereka dengan firman-Nya, {yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah} yakni mereka ditimpa hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya. Ditimpa oleh sesuatu yang baik bukanlah musibah. {Mereka berkata, sesungguhnya kami adalah milik Allah.} Yakni, kami adalah hamba Allah dan Dia dapat mengatur kami dengan apa pun yang Dia kehendaki. {Dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali.} Ini terjadi melalui kematian. Kembali kepada Allah berarti bahwa Dia adalah satu-satunya Penguasa. Itu karena sebagian orang memerintah di dunia ini, tetapi begitu mereka kehilangan kekuasaan itu, mereka menyadari bahwa seluruh urusan berada di tangan Allah, Yang Mahakuasa.
So, whoever is patient, he will be rewarded for his patience and whoever is impatient, will be deprived of such reward then Allah said,{ with something of fear and hunger.} Ibn 'Abbas said, {fear}means fear from the enemy and hunger means famine and drought. 4 Some loss in goods p, means loss and decrease in property and death of animals. {Lives} means loss of lives through death, killing, disease and old age. {And the fruit} means decrease in needs of people and the fruits will be imperfect. Then Allah the Almighty ended the Ayah with giving good news to those who are patient to indicate that whoever was afflicted with these calamities and was patient, he is promised by Allah to be rewarded, Allah the Almighty said, "But give glad tidings to those who patiently persevere." Then Allah described them saying, {who say when afflicted with calamity.} i.e., they were afflicted with what previously mentioned. To be afflicted with good thing is not affliction. { They say, to Allah we belong.} i.e., we are the servants of Allah and He can dispose with us with whatever He will. {And to Him is our return.} This will be through death. The return to Allah means that He will be the only Sovereign. That is because some people govern in this world, but as soon as they are deprived of it, they know the whole matter will be in the Hands of Allah, the Almighty.
Dari 'Aisyah (semoga Allah meridhainya), beliau berkata: "Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah, betapapun kecilnya, melainkan ia akan diberi pahala karenanya, bahkan sampai duri yang menusuknya.'" 1
On the authority of `Aishah (may Allah be pleased with her) who said, "The Messenger of Allah (pbuh) said, "Whatever the calamity a believer is afflicted with, he will be compensated for it, even the sting of the thorn.” 1
Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa tertimpa musibah, hendaklah ia mengingat musibah kematianku, karena itu adalah musibah yang paling besar."
The Messenger of Allah (pbuh) said, "Whoever is afflicted with a calamity, let him remember the calamity of my death for it is the greatest of all.” 2
Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketika anak seseorang meninggal dunia, Allah Yang Maha Agung berfirman kepada para malaikat, 'Apakah kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?' Mereka menjawab, 'Ya.' Allah berfirman, 'Apakah kalian telah mengambil buah hatinya?' Mereka menjawab, 'Ya.' Allah berfirman, 'Apa yang dikatakan hamba-Ku?' Mereka berkata, 'Dia memuji-Mu dan mengucapkan istirja' (inna lillahi wa inna ilaihi raji'un) serta mengharap pahala dari-Mu.' Allah berfirman, 'Bangunkanlah untuk hamba-Ku sebuah rumah di Surga dan namailah rumah itu Baitul Hamd (Rumah Pujian).'" 1
The Messenger of Allah (pbuh) said, "The son of a person died and Allah the Almighty said to the angels, 'Did you take the soul of the son of my servant.'They will reply, 'Yes.' Allah will say, 'Did you take the fruit of his heart.' They will reply, 'Yes.’ Allah will say, 'What did my servant say.' They will say, 'He praised You and sought the reward from You.' Allah will say 'Build a house for my servant in Paradise and call it the house of praise.” 1
Rasulullah ﷺ juga bersabda, "Allah Yang Maha Perkasa berfirman dalam sebuah hadits Qudsi, 'Balasan bagi hamba-Ku yang beriman, jika Aku mengambil nyawa sahabat karibnya di dunia ini lalu ia bersabar dan mengharapkan pahala dari-Ku, maka tidak ada balasannya selain Surga.'" 2
The Messenger of Allah (pbuh) also said, "The Almighty Allah said in a hadith Qudsi, "The reward of my believing servant, if I take the soul of his bosom friend in this world and he was patient and sought the reward from Me, will be nothing except Paradise.” 2
Nabi ﷺ juga bersabda, "Di antara hal-hal yang mendatangkan kebahagiaan bagi anak Adam adalah ridha terhadap apa yang telah ditakdirkan Allah untuknya, dan di antara hal-hal yang mendatangkan kesengsaraan baginya adalah tidak ridha terhadap karunia Allah." 3
The Prophet (pbuh) also said, "Among those things which bring happiness to the son of Adam is to be satisfied with what Allah has destined for him,' and among things which bring him wretchedness is to be dissatisfied with Allah's blessing.” 3
Dari 'Umar bin Al-Khattab, ia berkata, "Ketika malaikat maut (alaihis salam)
On the authority of 'Umar Ibn AI-Khattab who said, "When the angel of death (peace be upon him)
ruh orang-orang beriman, ia akan berdiri di depan pintu rumahnya. Akan ada di antara keluarganya orang yang menampar wajahnya, orang yang mengurai rambutnya, dan orang yang meratap serta meraung-raung dengan ratapan keras.
takes the soul of the believers, he will stand at the door of his house. There will be among his family the one who slaps her face, the one who dispersed her hair and the one who wails and bursts in loud lamenting.
Kemudian malaikat maut akan berkata, "Mengapa kalian menampakkan kecemasan dan ketakutan kalian? Demi Allah, aku tidak mengurangi umur seorang pun di antara kalian, tidak pula mengurangi rezeki seorang pun di antara kalian, dan aku tidak menzalimi seorang pun di antara kalian. Jika kalian mengeluh dan cemas, ketahuilah bahwa aku hanya diperintahkan untuk melakukannya. Dan jika itu terjadi pada orang mati kalian, demi Allah, dia tidak punya pilihan selain berserah diri. Dan jika itu terjadi pada Tuhan kalian, demi Allah, kalian telah mengingkari-Nya. Sungguh, aku akan kembali kepada kalian berkali-kali hingga aku mengambil kalian semua." Rasulullah ﷺ bersabda, "Demi Dia yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya mereka melihat tempatnya dan mendengar perkataannya, niscaya mereka akan terheran-heran dan menangisi diri mereka sendiri."
Thereupon the angel of death will say, "For what you display your anxiety and fear? By Allah, I did not decrease the span of life of anyone of you, nor decrease the provision of anyone of you, nor did I oppress anyone of you. So, if you complain and anxiety was upon me be sure that, I only was ordered to do so. And if they were upon your dead, by Allah he has nothing to do but to surrender. And if they were upon your Lord, by Allah you disbelieved in him. Surely I will return to you many times until I took you all. The Messenger of Allah (pbuh) commented, "By whom in whose hands my soul is, if they saw his place and heard his words, they would be surprised and would weep upon themselves."
Penghiburan
Consolation
Dari 'Abdullah bin Mas'ud (semoga Allah meridhainya), ia berkata: "Nabi ﷺ bersabda: 'Barangsiapa menghibur orang yang tertimpa musibah, ia akan mendapat pahala yang sama.'" 4
On the authority of' Abdullah Ibn Mas'ud (may Allah be pleased with him) that he said, "The Prophet (pbuh) said, "Whoever offers the consolation to the afflicted person, he will be rewarded with the same.” 4
Dari Abu Barzah (semoga Allah meridhainya), ia berkata, "Nabi ﷺ berkata kepada Fatimah (semoga Allah meridhainya), "Barangsiapa menghibur orang yang ditinggal mati anaknya, ia akan dikenakan Burd (sejenis pakaian tertentu) di Surga."" 5
On the authority of Abu Barzah (may Allah be pleased with him) who said, "The Prophet (pbuh) said to Fatimah (may Allah be pleased with her), "Whoever offers consolation to the person who is bereaved of his/her child, he will be clothed with Burd (certain kind of garment) in Paradise.” 5
Dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash (semoga Allah meridhai keduanya), ia berkata: "Rasulullah ﷺ berkata kepada putrinya, Fatimah (semoga Allah meridhainya), 'Untuk alasan apa engkau keluar dari rumahmu, wahai Fatimah?' Ia menjawab, 'Aku pergi ke penghuni rumah ini, memohon kepada Allah agar melimpahkan rahmat-Nya kepada orang-orang mereka yang telah meninggal, dan aku memberikan penghiburan kepada mereka.'" 1
On the authority of 'Abdullah Ibn Amr Ibn AI-As (may Allah be pleased with both of them) who said, "The Messenger of Allah (pbuh) said to his daughter Fatimah (may Allah be pleased with her), "For what reason did you go out from your house. 0 Fatimah?" she said, "I went to the people of this house and asked Allah to shower his mercy upon their dead and I offered them consolation.” 1
Dari Amr bin Hizam, ia berkata, "Nabi ﷺ bersabda, 'Tidaklah seorang mukmin menghibur saudaranya yang sedang tertimpa musibah, melainkan Allah akan memakaikan kepadanya pakaian kemuliaan pada Hari Kiamat.'"2
On the authority of Amr Ibn Hizam who said, "The Prophet (pbuh) said, "Never does a believer offer his afflicted brother consolation and Allah cloth him out of his Honour on the Day of Judgment.”2
Takziah adalah menguatkan kesabaran dan menyebutkan kepada keluarga almarhum hal-hal yang dapat meringankan kesedihan mereka dan memperingan musibah mereka. Dianjurkan agar takziah itu mencakup amar makruf dan nahi mungkar. Takziah juga termasuk dalam firman Allah, {Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran!} (Al-Ma'idah: 2)
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
1 Reported by A1-Bukhari.
2 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
2 Reported by AJ-Bukhari and Muslim.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
3 Reported by A1-Bukhari.
Diriwayatkan oleh Muslim.
4 Reported by Muslim.
5 Diriwayatkan oleh Abu Dawud 6 Diriwayatkan oleh An-Nasa'i.
5 Reported by Abu Dawud 6 Reported by An-Nasa'i.
.
.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
1 Reported by AJ-Bukhari.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
2 Reported by AI-Bukhari and Muslim.
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.
3 Reported by At-Tirmidhi.
Diriwayatkan oleh Muslim.
4 Reported by Muslim.
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.
5 Reported by At- Tirmidhi.
6 Diriwayatkan oleh Ibnu Hajar Al-Haitsami dalam Majma' Al-Zawa'id.
6 Reported by Ibn Hajar Al-Haithami in Majma' Al-Zawa'id.
Diriwayatkan oleh Ibnu Hajar Al-Haitsami dalam Majma' Al-Zawa'id.
7 Reported by Ibn Hajar Al-Haithami in Majma' Al-Zawa'id.
.
.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
1 Reported by AI-Bukhari.
2 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
2 Reported by AI-Bukhari.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
3 Reported by AI-Bukhari.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.