1.3 Saling Menasihati (Tawāṣī) kepada Kebenaran adalah Bagian dari Menyampaikan Dakwah
1.3 Admonition Of Each Other (tawaasi) To The Truth Is Part Of Conveying The Da’wah
Al-Qur'an dan Sunnah juga telah mengungkapkan gagasan dakwah dengan istilah-istilah: saling menasihati dalam kebenaran (tawaashi); menyampaikan kabar gembira (tabsyir) dan memberi peringatan (indzar); menjelaskan kebenaran, memberi nasihat (nashihah), dan mengingatkan manusia; berdebat dengan Ahlul Kitab dengan cara yang terbaik; berjihad di jalan Allah; serta upaya menegakkan agama. Dan masih banyak contoh lainnya.
The Qur’an and Sunnah have also expressed the idea of da’wah with the terms; recommending one another to the truth (tawaasi); sending to give good tidings (tabsheer) and to warn (indhar); to clarify the truth, advising (naseeha) and reminding the people, and debating with the people of the Book with the best manner, and performing Jihaad in the path of Allah , and the work to make the deen prevail. And there are many more examples.
Dia berfirman, "Demi masa. Sungguh, manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran." [TMQ 103:1-3]. Dia berfirman, "Dan Kami tidak mengutus kamu (wahai Muhammad ﷺ) melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." [TMQ 34:28] Dia juga berfirman, "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka." [TMQ 14:4]. Dia berfirman, "Sesungguhnya (Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam (manusia dan jin)." [TMQ 81:27]. Dia berfirman, "Dan sesungguhnya (Al-Qur'an) ini benar-benar merupakan peringatan bagimu (wahai Muhammad ﷺ)
He said, “By Al-’Asr (the time). Verily! Man is in loss, except those who believe and do good deeds, and recommend one another to the truth, and recommend one another to sabr (patience).” [TMQ 103:1-3]. He said, “And We have not sent you (O Muhammad ) except as a giver of glad tidings and a warner to all mankind, but most of men know not.” [TMQ 34:28] He also said, “And We sent not a Messenger except with the language of his people, in order that he might make (the Message) clear for them.” [TMQ 14:4]. He said, “Verily, this (the Qur’an) is but a Reminder to (all) the worlds (mankind and jinn)’” [TMQ 81:27]. He said, “And verily, this (the Qur’an) is indeed a Reminder for you (O Muhammad )
dan kaummu, dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban (tentangnya).” [TMQ 43:44]. Dia berfirman, “… dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” [TMQ 16:125]. Dia berfirman, “Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi Fitnah (kekafiran, yaitu menyembah selain Allah) dan agama (ibadah) itu seluruhnya hanya untuk Allah semata.” [TMQ 8:39]. Dia berfirman, “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (Muhammad ﷺ) dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama (jalan hidup), meskipun orang-orang musyrik membenci(nya).” [TMQ 61:9] Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya agama itu adalah nasihat.” Beliau ditanya, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para imam kaum Muslimin, dan orang-orang awam.” [Muttafaq ‘alaih]. Sulaiman bin Buraidah meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata, “Apabila Rasulullah ﷺ mengangkat seseorang sebagai pemimpin pasukan atau ekspedisi peperangan, beliau akan menasihatinya agar bertakwa kepada Allah (dalam urusan pribadinya) dan berbuat baik kepada kaum Muslimin yang bersamanya. Beliau bersabda, ‘Berperanglah dengan menyebut nama Allah dan di jalan Allah. Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah. Apabila kalian bertemu musuh kalian dari kalangan musyrikin, ajaklah mereka kepada tiga pilihan.
and your people, and you will be questioned (about it).” [TMQ 43:44]. He said, “… and argue with them in a way that is better.” [TMQ 16:125]. He said, “And fight them until there is no more Fitnah (disbelief ie worshipping others beside Allah) and the deen (worship) will all be for Allah alone.” [TMQ 8:39]. He said, “He it is Who has sent His Messenger (Muhammad ) with the guidance and the religion of truth to make it prevail over all (other) Deens (ways of life) even though the mushrikeen hate (it).” [TMQ 61:9] The Rasool of Allah said, “Verily, the deen is advice.” He was asked, “To whom O Rasool of Allah ?” He said: “For Allah, His Book, Messenger, imaams of the Muslims and the masses” [agreed upon]. Sulayman b. Buraydah reported on the authority of his father who said, “When the Rasool of Allah appointed anyone as leader of an army or raiding expedition he would exhort him to fear Allah (in his private matter) and to be good to the Muslims who were with him. He would say, ‘Fight in the name of Allah and in the cause of Allah. Fight against those who do not believe in Allah. When you meet your enemy from the Mushrikeen, invite them to three courses of action.
"Jika mereka menyambut salah satu dari (ajakan) itu, terimalah dari mereka dan tahanlah diri dari menyakiti mereka. Ajaklah mereka (menerima) Islam; jika mereka menyambut seruanmu, terimalah dari mereka dan hentikanlah peperangan melawan mereka ...’” [Diriwayatkan oleh Muslim]. Telah diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda, “Semoga Allah memancarkan cahaya pada wajah seorang hamba yang mendengar perkataanku, lalu ia menghafalnya, memahaminya, dan menyampaikannya. Sebab, bisa jadi seseorang membawa fiqh (ilmu) namun bukan seorang faqih (orang yang berilmu). Bisa juga seseorang membawa fiqh kepada orang yang lebih faqih darinya.” [Diriwayatkan oleh Tirmidzi] Dengan cara ini, ayat-ayat dan hadits-hadits semuanya menguatkan persoalan yang sama, sehingga setiap ayat atau hadits membawa di dalamnya dakwah. Dakwah mencakup setiap orang, dan seluruh kaum Muslimin wajib mengamalkannya sesuai kemampuan masing-masing.
If they respond to any one of them, accept it from them and restrain yourself from doing them any harm. Invite them to (accept) Islam; if they respond to you, accept it from them and desist from fighting against them ...’” [Reported by Muslim]. It has been narrated from the Rasool of Allah that he said, “May Allah illuminate the face of a servant who heard my statement, so he memorised, understood and conveyed it. For it may occur somebody carries Fiqh (knowledge) without being a faqeeh (knowledgeable). It may also occur that somebody carries Fiqh to somebody who is of greater Fiqh than him.” [Reported by Tirmizi] In this manner the ayaat and ahadeeth have all corroborated the same issue such that each ayah or hadeeth carries the da’wah within it. The da’wah includes everyone, and all the Muslims should undertake it according to ability.
Jika kita sampai pada ayat-ayat yang hanya berkaitan dengan amar ma'ruf dan nahi munkar, bukan ayat-ayat dakwah lainnya, sebagai contoh, kita akan melihat bahwa ayat-ayat tersebut memberitahukan kita bahwa pilar agung dalam Islam ini harus melibatkan seluruh kaum Muslimin. Mengenai Nabi ﷺ yang menjadi teladan dan panutan kita, Allah berfirman: "… dia menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari yang munkar; dia menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk …" [TMQ 7:157].
If we come to the verses which only relate to enjoining the ma’roof and forbidding the munkar and not other verses of da’wah, by way of example, we will see that these verses have informed us that this great pillar in Islam must include all the Muslims. The verse, in respect to the Prophet who is our example and model, says; “… he commands them with the Ma’roof and forbids them from the Munkar; he allows for them as lawful the tayyibaat (ie all good and lawful things) and forbids to them as unlawful the khabaa’ith (all evil and unlawful things)…” [TMQ 7:157].
Ini menjelaskan kesempurnaan risalah-Nya. Dialah orang yang melalui lisannya Allah memerintahkan setiap kebaikan dan melarang setiap keburukan, menghalalkan setiap yang tayyib (baik) dan mengharamkan setiap yang khabits (buruk).
This clarifies the completion of His Message. He is the one on whose tongue Allah ordered every good and forbade every evil, allowed every tayyeb (lawful thing) and prohibited every khabeeth (unlawful thing).
Berkaitan dengan Ummah, ayat-ayat menyatakan, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; kamu menyuruh kepada yang ma‘ruf dan mencegah dari yang munkar, dan kamu beriman kepada Allah...” [TMQ 3:110] Ummah di sini mencakup seluruh kaum Muslimin, baik sebagai individu, kelompok, maupun orang-orang yang memegang kekuasaan, sehingga mereka memikul tanggung jawab untuk menyuruh kepada setiap yang ma‘ruf dan mencegah setiap yang munkar.
In relation to the Ummah the verses say, “You are the best of peoples ever raised up for mankind; you enjoin the ma’roof and forbid the munkar, and you believe in Allah...” [TMQ 3:110] The Ummah here includes all Muslims, as individuals, groups and people of authority such that they undertake the enjoining of every ma’roof and forbidding of every munkar.
Dalam kaitannya dengan individu, ayat-ayat menyatakan: "Orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah awliya (penolong, sahabat, pelindung) bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar..." [TMQ 9:71] Al-Qurtubi berkata: "Allah menjadikan amar ma'ruf dan nahi munkar sebagai pembeda antara orang-orang beriman dan munafiqin (orang-orang munafik). Dengan demikian, hal itu menunjukkan bahwa deskripsi yang paling khusus bagi orang-orang beriman adalah: menyuruh yang ma'ruf dan mencegah yang munkar, dan yang paling utama di antaranya adalah dakwah kepada Islam." [Tafsir al-Qurtubi 4/47] Dalam kaitannya dengan kelompok dan partai, ayat-ayat menjelaskan jenis aktivitas mereka, sebagaimana firman-Nya: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan (Islam), menyuruh (berbuat) yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung." [TMQ 3:104] Dalam kaitannya dengan penguasa, ayat berfirman: "(Yaitu para penguasa Muslim) yang jika Kami berikan kekuasaan di muka bumi, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh (berbuat) yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." [TMQ 22:41] Al-Qur'an telah menjelaskan bahwa dakwah harus kepada Islam: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan (Islam)..." [TMQ 3:104]; "Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, padahal ia diseru kepada Islam?" [TMQ 61:7] "Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus." [TMQ 23:73] Al-Qur'an juga telah menjelaskan bahwa dakwah harus kepada Allah: "Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah..." [TMQ 41:33]; "Katakanlah (wahai Muhammad): 'Inilah jalanku; aku menyeru kepada Allah dengan landasan ilmu yang yakin, aku dan orang-orang yang mengikutiku.'" [TMQ 12:108] Al-Qur'an menjelaskan bahwa dakwah harus kepada berhukum dengan apa yang telah diturunkan Allah: "Dan apabila mereka diajak kepada (hukum) Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka berpaling." [TMQ 24:48] []; "Sesungguhnya ucapan orang-orang mukmin, apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya untuk memutuskan perkara di antara mereka, hanyalah mengatakan: 'Kami mendengar dan kami taat.'" []; "…Mereka diajak kepada Kitab Allah untuk menyelesaikan perselisihan di antara mereka, kemudian sebagian dari mereka berpaling, sedang mereka memang selalu membelakangi (kebenaran)." [] Amar ma'ruf dan nahi munkar adalah fardhu kifayah (kewajiban yang gugur jika sebagian telah melaksanakannya), dan sebagian orang diwajibkan secara khusus. Orang yang melaksanakannya akan mendapat pahala, dan orang yang meninggalkannya tidak akan dimaafkan sampai kewajiban itu terlaksana, karena Allah menjadikan "keselamatan" sebagai akibat dari melaksanakan kewajiban tersebut dan "siksa" sebagai akibat dari meninggalkannya. Allah berfirman, "Maka ketika mereka melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat, dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksa yang keras, karena mereka berbuat fasik." [] Karena iman adalah ma'ruf yang paling utama dan dasar dari setiap ma'ruf, maka kufur sebaliknya adalah munkar yang paling utama dan dasar dari setiap munkar. Karena amal-amal ketaatan adalah ma'ruf-ma'ruf yang bersumber dari ma'ruf yang paling utama, maka sebaliknya amal-amal kemaksiatan adalah munkar-munkar yang bersumber dari munkar yang paling utama. Karena berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan adalah pokok dari amal-amal ketaatan, yang dengannya iman dan amal-amal ketaatan terjaga, dan melalui-nya dakwah dilaksanakan serta agama disebarkan; maka sebaliknya berhukum dengan selain apa yang telah Allah turunkan adalah pokok dari amal-amal kemaksiatan, dan itu merupakan mengikuti hawa nafsu, keinginan, dan kesesatan.
Oleh karena itu, wajib bagi umat untuk bersatu dalam menegakkan kewajiban ini. Hendaklah setiap Muslim yang peduli terhadap urusan agamanya mengetahui bahwa ketika ia membaca suatu ayat atau hadits, bukan dirinya saja yang dimaksud dengannya, melainkan ia merupakan seruan untuk seluruh umat. Bahkan jika seruan itu ditujukan kepada Rasulullah ﷺ, maka itu adalah seruan kepada umat melalui beliau selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya. Ketika Allah memerintahkan seorang Muslim tentang keimanan, maka itu adalah perintah baginya dan bagi yang lainnya; perintah tentang ibadah adalah perintah baginya dan bagi yang lainnya; dan perintah untuk berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan juga merupakan perintah baginya dan bagi yang lainnya.
Accordingly, it is obligatory on the Ummah to unite on establishing this obligation. Let the Muslim who is concerned about the matters of his deen know that when he reads an ayah or hadeeth, he is not the only one intended with it, but it is a speech to all. Even if the speech is directed towards the Messenger , it is an address to the Ummah through him as long as there is no evidence of specification.When Allah orders a Muslim regarding Imaan, it is an order for him and others, and the order regarding worship is an order for him and others, and the order to rule by what Allah has revealed is an order for him and others as well.