4.7 Mencari Nusrah (Dukungan Materi)
4.7 Seeking The Nusrah (material Support)
Mari kita tinjau sejenak satu kaidah penting dari kaidah-kaidah metode ini, yaitu mencari Nusrah. Mari kita kaji kembali dengan perlahan agar dapat menyimpulkan apa yang perlu kita ikuti, terutama karena ada orang-orang yang berusaha menegakkan Negara Islam, tetapi sama sekali tidak memberi perhatian pada Nusrah. Mereka memperlakukannya seolah-olah itu perkara sampingan yang tidak punya bobot, atau seolah-olah sanadnya lemah sehingga tidak perlu diambil. Mereka tidak berhenti sampai di situ, tetapi melanjutkan dengan menyerang kaidah ini dan orang-orang yang melaksanakannya, padahal seluruh biografi Nabi ﷺ membahas perkara ini, dengan hanya sedikit perbedaan kecil dalam rinciannya yang tidak perlu disebutkan. Para penulis Sirah tidak berafiliasi dengan satu pun kelompok yang kita kenal saat ini, namun mereka tetap membahas perkara ini. Al-Qur'an sendiri telah menyebutkan orang-orang yang “memberikan pertolongan” [QS. 8:72], dan menamai mereka “Anshar (Penolong)” [QS. 9:100]. Ini adalah sifat pujian dan gambaran dari aspek yang paling menonjol yang menjadi ciri mereka.
Let us consider for a while an important rule from the rules of the method, that is, the seeking of the Nusrah. Let us slowly re-examine it so as to deduce what we need to follow, especially since there are people who are working to establish the Islamic State, but do not give the Nusrah the slightest attention. They do this as if it is a periphiral matter, which carries no weight, or as if its isnad (chain of narration) is weak, and so should not be taken. They did not stop here, but went on to attack this rule and those who engaged in it, even though all the biographies of the Prophet addressed this subject, with only a few minor differences in the details, which are not worth mentioning. The authors of the Sirah were not affiliated to any of the groups we know today, but despite this they discussed this subject. The Qur’an itself has mentioned those who; “gave help” [TMQ 8:72], and called them the, “Ansaar (Helpers)” [TMQ 9:100]. It is a description of praise and a description of the most prominent aspect by which they were characterised.
Siapa pun yang meneliti Sirah akan melihat bahwa Rasulullah ﷺ mencari nusrah dari para pemuka kabilah yang memiliki kekuasaan. Beliau melakukannya meskipun mendapat tanggapan yang buruk dari satu kabilah ke kabilah lain. Beliau bersikeras mencari nusrah, mengulanginya berkali-kali, dan tidak berhenti mencarinya. Dalam kitab Thabaqat-nya, Ibnu Sa'd menyebutkan tidak kurang dari lima belas kabilah (yang didatangi Rasulullah ﷺ). Keteguhan ini, jika menunjukkan sesuatu, menunjukkan dengan jelas bahwa mencari nusrah adalah perintah dari Allah (SWT) kepada Nabi ﷺ untuk dilaksanakan.
The one who examines the Sirah will see the Messenger sought the Nusrah from the chiefs who possessed power. He did this despite the ugly response from one tribe to another. He insisted on seeking the Nusrah and repeated this many times, and did not cease in seeking it. In his Tabaqaat, Ibn Sa’d mentioned no less than fifteen tribes (that the Messenger visited). This persistence, if it indicates anything, it indicates in a clear manner that seeking the Nusrah was an order from Allah to the Prophet to do.
Fakta bahwa Al-Qur'an menyebut mereka yang menyambut itu sebagai "Anshar" merupakan bukti lain. Al-Qur'an memuji mereka di lebih dari satu tempat, dan Allah (SWT) menerima taubat mereka dengan ampunan. Kedudukan mereka langsung mengikuti kedudukan kaum "Muhajirin" (orang-orang yang berhijrah).
The fact that the Qur’an called those people who responded as, “Ansaar” is another evidence. The Qur’an praised them in more than one place, and Allah turned to them with forgiveness. Their status follows directly that of the, “Muhajiroon” (emigrants).
Ungkapan dalam teks mengenai mencari nusrah menunjukkan bahwa mencari nusrah adalah hukum syar'i. Oleh karena itu Rasulullah ﷺ biasa berkata: "Wahai kabilah fulan. Aku adalah Rasul Allah yang diutus kepada kalian. Dia memerintahkan agar kalian beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya . . . dan agar kalian beriman kepadaku, membenarkan aku, dan menolongku hingga aku menjelaskan kepada kalian apa yang Allah (SWT) utus aku dengannya." [Sirah Ibnu Hisyam]. Ini adalah perintah dari Allah (SWT) dan Rasul-Nya ﷺ, dan kita mengetahui bahwa perintah itu adalah hukum syar'i, yang untuk melaksanakannya harus diterapkan cara-cara yang sesuai. Ia bukan semata-mata sebuah gaya (yang dapat diganti).
The wording contained in the text regarding the seeking of Nusrah indicates seeking Nusrah is a Shar’ee rule. That is why the Messenger used to say; “O so and so tribe. I am the Rasool of Allah sent to you. He orders that you worship Allah and not associte partners with Him . . . and that you believe in me, and put your trust in me, and support me until I clarify to you what Allah has sent me with.” [Sirah of Ibn Hisham]. Here is a command from Allah and His Messenger and we know the command is a Shar’ee rule, for which the appropriate styles should be adopted in order to implement it. It is not, by itself, a mere style (that can be substituted).
Selain itu, pembicaraan yang terjadi antara Rasulullah ﷺ dengan orang-orang yang beliau mintai nusrah (pertolongan), serta pembicaraan antara beliau dengan mereka yang memberikan bai'ah (janji setia) pada pertemuan kedua di 'Aqabah; semua ini menunjukkan dengan jelas bahwa Rasulullah ﷺ menargetkan dari tindakan ini - yang beliau bersikeras untuk melaksanakannya - untuk menegakkan deen ini, dan menegakkan entitas yang melindungi, menerapkan dan menyebarkan deen tersebut. Jadi bagaimana mungkin kita mengabaikannya, padahal melalui kaidah ini wajah dakwah berubah, dan membawanya ke sebuah dar (negeri) yang menerapkan dan menyebarkannya. Untuk kepentingan siapakah pengabaian ini dilakukan?
Furthermore, the discussions that took place between the Messenger and those from whom he sought the Nusrah, as well as the discussions between himself and those who gave him the bai’ah (pledge) in the second meeting in ‘Aqabah; all these indicate clearly that the Messenger targeted from this action - which he insisted on pursuing - to establish this deen, and establish the entity which protects, applies and spreads the deen. So how can we neglect it, when through this rule the face of the da’wah changed, and carried it to a dar (homeland) that applies and spreads it. For whose interest is this neglect made?
Orang-orang kafir memahami bahwa di balik perjanjian ini terdapat ikrar dan kemenangan agama ini. Oleh karena itu, kita melihat suku Banu 'Aamir b. Sa'sa'ah memahami bahwa urusan ini berkaitan dengan kekuasaan. Lihatlah kaum kafir Makkah yang menjadi murka ketika mendengar tentang bai'at 'Aqabah yang kedua. Mereka berkata, "Wahai kaum Khazraj! Telah sampai kabar kepada kami bahwa kalian datang kepada sahabat kami dan kalian membawanya dari tengah-tengah kami serta memberikan bai'at untuk memerangi kami." Kita melihat setan berteriak sekeras-kerasnya setelah bai'at 'Aqabah yang kedua terjadi, dengan berkata, "Wahai kaum Akhasyib, apakah kalian ingin Muhammad ﷺ dan kaum Sabiin berkumpul untuk memerangi kalian?" Pada bai'at al-'Aqabah yang kedua, al-Barra berkata, "Kami memberikan baiat kami, wahai Rasulullah ﷺ, demi Allah, kami adalah orang-orang yang ahli perang dan pemilik senjata." Abu al-Haytham b. Tayhan berkata, "Wahai Rasulullah ﷺ, kami memiliki ikatan dengan orang-orang lain (maksudnya orang-orang Yahudi), dan jika kami memutuskannya, mungkin ketika kami telah melakukan itu lalu Allah memberi kemenangan kepadamu, engkau akan kembali kepada kaummu dan meninggalkan kami?" As'ad b. Zurarah berkata, "Membawanya hari ini (dari Makkah) adalah tantangan bagi seluruh bangsa Arab, pembantaian terhadap para pembesar kalian, dan pedang-pedang yang akan menggigit kalian." Dan perkataan al-'Abbas b. 'Ubadah, "Jika kalian menghendaki, kami siap berbalik melawan penduduk Mina dengan pedang-pedang kami." Rasulullah ﷺ menanggapi Abul-Haytham dengan berkata:
- The Kuffar understood that behind this work was a pledge and triumph of this deen. Hence we see the tribe of Banu ‘Aamir b. Sa’sa’ah understood the matter to be related to power. Look at the Kuffar of Makkah becoming enraged when they heard about the second pledge of ‘Aqabah. They said; “O people of Khazraj! The news has reached us that you have come to our companion, and you are taking him from amongst us, and giving him the pledge to fight against us.” We see the Shaytan screaming at the top of his voice after the second bai’ah of ‘Aqabah had taken place, by saying; “O people of Akhashib. Would you like that Muhammad and the sabians gather on your fight.” During the second pledge of al-’Aqabah al-Barra said; “We give our allegiance, O Rasool of Allah, by Allah we are men of war and people of arms.” And Abu al-Haytham b. Tayhan said: “O Rasool of Allah, we have ties with other men (meaning the Jews) and if we sever them, perhaps when we have done that and Allah will have given you victory, you will return to your people and leave us?” As’ad b. Zurarah said: “Taking him today (from Makkah) is a challenge to all the arabs, slaughter of your notables, and the swords biting you.” And the words of al-’Abbas b. ‘Ubadah: “If you liked, we are ready to turn against the people of Mina with our swords.” The Messenger of Allah in response to Abul-Haytham said:
“Tidak, darah tetaplah darah, dan darah hanya dibayar dengan darah. Aku adalah bagian dari kalian dan kalian adalah bagian dariku. Aku akan memerangi orang-orang yang kalian perangi, dan berdamai dengan orang-orang yang kalian ajak berdamai.” Lihatlah ‘Aisyah, dan apa yang ia katakan tentang Rasulullah ﷺ, bahwa beliau ﷺ merasa puas karena Allah (SWT) memberinya pertolongan dan suatu kaum yang memiliki perang, senjata, dan dukungan.
“No, blood is blood, and blood is paid for only by blood. I am of you and you are of me. I will fight against those whom you fight, and make peace with whom you make peace.” See ‘Aisha, and what she said about the Messenger , that he found himself content that Allah granted him support and a people of war, weapons and support.
Perhatikan Ibnu Hisyam yang menyebutkan tentang Rasulullah ﷺ, berkaitan dengan permasalahan mencari Nusrah: "Ketika Allah ﷻ hendak menguatkan Nabi-Nya dan menolong agama-Nya, Dia membawanya (yakni Nabi ﷺ) kepada kaum dari kalangan Anshar ini." Ungkapan-ungkapan ini memberikan petunjuk yang jelas tentang pentingnya kaidah ini, dan mencegah pemaknaannya dialihkan untuk menunjukkan bahwa jika seseorang diajak masuk Islam lalu ia menyambutnya, maka ia telah menolong agama. Ungkapan-ungkapan seperti bai'ah, izhaar ud deen (memenangkan agama); Nasr (pertolongan), perang; bahwa para pembesar akan dibunuh; pedang-pedang akan memakan mereka; bahwa hal ini akan menentang seluruh bangsa Arab; bahwa mereka harus melindunginya sebagaimana mereka melindungi wanita dan anak-anak mereka; semua ungkapan ini membuat kita memahami cara Rasulullah ﷺ mencari Nusrah; bahwa beliau mencarinya untuk tujuan perlindungan, bahkan jika hal itu melibatkan penggunaan kekuatan untuk menyampaikan agama; dan beliau mencarinya untuk mendirikan Negara yang akan melindungi agama dan para pengikutnya, serta menerapkan hukum-hukumnya dan menyampaikan risalahnya kepada dunia.
Observe Ibn Hisham speak about the Messenger , regarding the subject of seeking Nusrah: “When Allah wanted to strengthen His Prophet and support His deen, He led him (ie the prophet) to this folk from the Ansaar.” These expressions provide clear indication on the importance of this rule, and prevent turning their meaning to indicate that if one is invited to Islam and he responds, then he has supported the deen. Expressions such as bai’ah, izhaar ud deen (granting victory to the deen); Nasr (support), war; that the notables will be killed; swords will bite them; that this will go against all the arabs; that they should protect him as they protect their women and children; all of these expressions make us understand the manner in which the Messenger sought the Nusrah; that he sought it for the purpose of protection, even if this entailed the use of force to convey the deen; and he sought it to establish the State which will protect the deen and its followers, as well as apply its rules and convey its message to the world.
Dalam konteks ini, seseorang memperhatikan bahwa Rasulullah ﷺ melakukan hal-hal berikut:
In this context one notices the Messenger did the following things:
Dia mencari perlindungan dan pertolongan untuk melindungi individu serta melindungi dakwah. Hal ini dicari bahkan dari kalangan kaum Musyrik (orang-orang yang menyekutukan Allah), sebagaimana terjadi pada pamannya yang melindunginya dan mendukungnya, yakni melindunginya dari segala bahaya yang menimpanya. Demikian pula terjadi ketika Mut'im bin 'Adi menolong Nabi ﷺ ketika beliau kembali dari Thaif. Perlindungan ini tidak boleh digunakan untuk menekan Muslim yang sedang ditolong agar berkompromi dalam agamanya. Rasulullah ﷺ berkata kepada pamannya ketika pamannya meminta beliau untuk memperlambat dakwahnya: "Demi Allah, wahai paman! Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau aku binasa dalam membelanya." [Sirah Ibnu Hisyam] - Rasulullah ﷺ biasa menghubungi para pemimpin dengan harapan mereka akan memeluk iman, dengan harapan orang-orang di belakang mereka juga akan beriman. Beliau melakukan hal ini agar dakwah lebih mudah tersebar dan lebih diterima. Hal ini juga sangat berkontribusi dalam terciptanya basis massa (qaa'idah sha'biyyah).
- He sought the protection and help to protect individuals and protect the da’wah. This is sought even from the Mushriks (polytheists) as happened with his uncle who protected him and supported him, ie protected him from any harm coming to him. Just as it happened also when Mut’im b. ‘Addi helped the Prophet when he returned from Taa’if. This protection cannot be used to put pressure on the Muslim who is being helped to compromise his deen. The Messenger told his uncle when he asked him to slow down his da’wah; “By Allah, O uncle! If they had placed the sun in my right hand and the moon on my left, that I should leave this matter, I would not leave it until Allah makes it victorious or I die in its defence.” [Sirah of Ibn Hisham] - The Messenger used to contact the leaders wishing that they would profess Imaan, in the hope that those behind them would also profess Imaan. He did this in order to make the da’wah easier to spread and make it more acceptable. This also contributes greatly in the creation of the popular base (qaa’idah sha’biyyah).
- Rasulullah ﷺ mencari nusrah (pertolongan) dan perlindungan dari orang-orang yang memiliki kekuatan, dan beliau mensyaratkan agar mereka terlebih dahulu memeluk Islam, sebagaimana yang terjadi pada Baiat Aqabah yang kedua.
- The Messenger sought Nusrah and protection from the people of power and he stipulated that they embrace Islam first, as happened at the second pledge of al-’Aqabah.
Nusrah dicari dari orang-orang yang memiliki kekuatan. Kenyataan pada masa Rasulullah ﷺ adalah bahwa ia dicari dari para pemimpin yang, selain memiliki kepemimpinan, juga memiliki kekuatan di tengah masyarakat. Pemimpin pada masa itu juga sekaligus penguasa; ia juga pemimpin militer, dan ia adalah orang yang sama yang pendapatnya akan dirujuk oleh masyarakat.
The Nusrah was sought from the people of power. The reality at the time of the Messenger was that it would be sought from the leaders who, in addition to having leadership, had popular power. The leader at that time was also the ruler; he was also the military leader, and he was the same person to whose opinion the people would return.
Dewasa ini, penguasa memegang kekuasaan dengan paksaan dan ia telah kehilangan popularitas. Popularitas yang tampak kebanyakan tidak benar. Di sini kita wajib melakukan apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ, sehingga kita harus menghubungi orang-orang yang berpengaruh di tengah masyarakat untuk membukakan pintu bagi mereka yang ada di belakang mereka, serta mengamankan basis massa. Kita harus mencari nusrah dari orang-orang yang memiliki kekuatan, seperti para perwira militer, agar dapat meraih kekuasaan.
As for today the ruler posseses the power by force and he has lost the popularity. The popularity one may see is mostly not true. Here we are obliged to do what the Messenger did, so we must contact those people who are influential in society to open the door for those who are behind them, and to secure the popular base. We must seek the Nusrah from the people of power, like the army officers, in order to reach the power.
Ketika bahaya terhadap anggota kelompok semakin meningkat, tidak ada salahnya meminta bantuan kepada teman dan kerabat mereka, dengan syarat hal itu tidak memberikan tekanan atau membahayakan iman orang yang dibantu. Dengan cara ini, kita telah melakukan apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ, dengan mempertimbangkan kenyataan yang kita hadapi.
When the harm to the group members intensifies, there is nothing wrong in seeking the help from their friends and relatives, on condition that this does not put pressure or compromise the Imaan of the individual who is helped. In this manner we would have done what the Messenger undertook, taking into account the reality in which we live.
Ini adalah metode yang diikuti oleh Rasulullah ﷺ, dan ini adalah metode yang wajib kita ikuti dengan meneladani perbuatan Rasulullah ﷺ. Dengan melakukan hal ini, kita akan mencapai hal-hal berikut:
This is the method that the Messenger followed, and this is the method we are obliged to follow, emulating the actions of the Messenger . By doing this we will bring about the following:
1- Pemuda-pemuda yang dipersiapkan dengan baik, sehingga Islam ditegakkan di tangan mereka.
1- Shabab who are well prepared, so Islam is established at their hands.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ telah mempersiapkan kaum Muhajirin yang memikul tanggung jawab membawa dakwah di Makkah dan mendirikan Negara bersama Rasulullah ﷺ, serta memimpin umat setelah beliau.
Just as the Messenger prepared the Muhajireen who took up the responsibility of carrying the da’wah in Makkah and establishing the State with the Messenger , and leading the Ummah after him.
2- Opini publik terhadap gagasan ini, yang bersumber dari kesadaran umum, yaitu membangun basis massa yang tidak menerima apa pun selain Islam sebagai sistem pemerintahan dan memeluknya ketika ia didirikan, sebagaimana yang terjadi pada penduduk Madinah ketika mereka menginginkan Islam dan siap untuk melindunginya.
2- The public opinion for the idea, which emanates from the general awareness, ie generating the popular base which does not accept anything other than Islam as a system of ruling and embraces it when it is established, just as the way it happened with the people of Madinah when they came to want Islam and were ready to protect it.
3- Orang-orang yang memiliki kekuasaan dan perlindungan, melalui merekalah kita meraih kekuasaan.
3- The people of power and protection, via whom we seize the power.
Ketika persiapan-persiapan ini dilakukan, maka kita akan telah menegakkan perkara ini di atas jalan yang sama dengan yang ditempuh oleh Rasulullah ﷺ. Allah SWT telah menjanjikan kemenangan kepada orang-orang beriman, yaitu mereka yang berpegang teguh pada Syariat-Nya, sebagaimana firman-Nya: “Dan adalah kewajiban Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.” [QS. Ar-Rum: 47].
When these matters are prepared, then we would have established the matter on the same path which the Messenger followed. Allah has promised the believers, those who adhere to His Shar’a, with victory, where He said; “(As for) the believers it was incumbant on Us to help (them).” [TMQ 30:47].
Dia berfirman: "Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Kuat, Maha Perkasa." [QS. Al-Hajj: 40]. Dia berfirman: "Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan Dia pasti akan meneguhkan bagi mereka agama mereka yang telah Dia ridai untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku." [TMQ 24:55]
He said; “Verily, Allah will help those who help His (cause). Truly, Allah is All-Strong, All-Mighty.” [TMQ 22:40]. He said; “Allah has promised those among you who believe, and work righteous deeds, that of a certainty He will cause them to accede to power on earth, as He granted it to those before them; that He will establish in authority their deen which He has chosen for them, and that He will change (their state) after the fear in which they lived, to one of security and peace: they will worship Me (alone) and not ascribe powers to any beside Me.’ [TMQ 24:55]