3. Kewajiban Adanya Sekelompok Orang yang Mengemban Dakwah
3. The Obligation Of The Presence Of A Group That Carries The Da’wah
Sesungguhnya, memerintahkan yang ma'ruf dan melarang yang munkar, yang berkaitan dengan kelompok, didefinisikan setelah mendefinisikan pekerjaan yang dituntut oleh Syari'at dari kelompok. Di sini kita tidak akan membahas kelompok-kelompok yang didirikan untuk menegakkan sebagian hukum syariat, seperti lembaga-lembaga amal yang didirikan untuk membantu kaum Muslimin yang miskin, atau lembaga-lembaga pembinaan dan nasihat, atau lembaga-lembaga pembangunan masjid, lembaga-lembaga pengajaran Al-Qur'an Al-Karim, dan sebagainya. Namun pembahasan kita berkaitan dengan keberadaan kelompok yang memikul tanggung jawab untuk menegakkan seluruh agama (deen). Yaitu melalui pendirian Khilafah, yang perannya adalah menegakkan Islam dalam kehidupan kaum Muslimin. Perhatiannya adalah mewujudkan seluruh ma'ruf yang telah diperintahkan oleh Syari' dan menghapus seluruh munkar yang telah dilarang oleh Syari'. Perannya dalam kehidupan diambil dalam bentuk menerapkan Islam secara menyeluruh di dalam Negara dan menyebarkannya ke seluruh dunia.
Indeed, enjoining the ma’roof and forbidding the munkar, relating to groups is defined after defining the work demanded by the Shar’a from the group. Here we will not be talking about groups which are established to establish partial Shar’a rules, such as the charity associations which are founded to help the poor Muslims, or the associations for guidance and admonition, or associations for building mosques, associations for teaching the Qur’an al-Kareem etc. Rather our discussion deals with the existence of groups which shoulder the responsibility of establishing the whole deen. That is via the establishment of the Khilafah, whose role is to establish Islam in the life of the Muslims. Its concern will be to bring into existence all the ma’roofaat that the Shar’a has ordered and remove all the munkaraat that the Shar’a has forbidden. It takes its role in life, in terms of applying Islam completely inside the State and carrying it to the world.
Negara Islam memiliki tugas-tugas besar yang telah dipercayakan kepadanya oleh syariat, yang terwujud dengan adanya Negara tersebut, dan lenyap dari kehidupan serta menyusut seiring dengan ketiadaan Negara itu. Dengan demikian, pentingnya kelompok yang ingin bekerja untuk mendirikan Negara Islam berasal dari pentingnya apa yang ingin dicapainya. Ketika pada masa kita tidak ada kelompok yang bekerja untuk mengembalikan cara hidup Islam melalui pendirian Negara Islam, itu berarti kaum Muslimin telah mengabaikan seluruh kewajiban yang dipercayakan Allah (SWT) kepada Negara Islam, yang jumlahnya banyak, dan akibatnya tidak ada dosa yang lebih besar daripada meninggalkan kewajiban ini.
The Islamic State has great tasks the Shar’a has entrusted it with, which are realised with the State’s existence and disappear from life and dwindle away with the State’s absence. Thus, the importance of the group that wishes to work to establish the Islamic State comes from the importance of what it wants to achieve. When there is no group in our time working to resume the Islamic way of life via the establishment of the Islamic State, that means that the Muslims have neglected all the obligations entrusted by Allah to the Islamic State, which are many, and consequently there is no sin greater than leaving this obligation.
Kaum Muslimin yang tidak berupaya untuk mengembalikan kehidupan Islami akan berdosa ketika seorang pezina melakukan zina; seorang pencuri mencuri; seorang penguasa menzalimi rakyat; perempuan keluar ke jalan-jalan dalam keadaan setengah telanjang; kerusakan semakin meningkat; jihad terhenti; orang-orang kafir menguasai kaum Muslimin; kemungkaran menyebar luas dan kema'rufan menjadi terbatas. Hal ini terjadi karena semua perkara tersebut menyebar ketika kaum Muslimin mengabaikan kewajiban (fardh) yang Allah bebankan kepada mereka, yaitu kewajiban berupaya menegakkan Khilafah yang lurus yang diridhai Allah . Khilafah itu pada gilirannya akan menempatkan segala perkara pada tempatnya, menegakkan Syariah dalam kehidupan kaum Muslimin, dan menanamkan Iman di dalam jiwa mereka, sehingga menumbuhkan buah-buah taqwa dan ihsan.
The Muslims who do not work to resume the Islamic way of life, will be sinful when a fornicator commits zina; a thief steals; a ruler oppresses the people; women go out into the streets half-naked; the corruption increases; Jihaad stops; the Kuffar control the Muslims; munkar becomes widespread and the ma’roof becomes limited. This is because all these matters spread when the Muslims neglected the fard Allah obliged on them, which is the fard of working to establish the righteous Khilafah with which Allah is pleased. In its turn, it puts matters in their correct place, establishes the Shar’a in the life of the Muslims and plants the Imaan in their souls and thus cultivates the fruits of taqwa and ihsan.
Oleh karena itu, kerja kolektif ini merupakan kewajiban syar'i, yang dengan itu perubahan keadaan yang memburuk dan perbaikannya bergantung. Kewajiban ini akan menyelamatkan Ummah dari jurang kehinaan yang telah ia capai dan mengembalikannya kepada kejayaan dan kekuatannya yang dahulu, di mana ia akan menempati posisi tertinggi di antara bangsa-bangsa, sebagai Ummah yang mendapat petunjuk dan memberi petunjuk.
Hence this collective work is a Shar’ee obligation, on which the change of the deteriorated situation and its correction depends. This obligation will rescue the Ummah from the low depths to which she has reached and return her to her former glory and power, where she would assume the highest position amongst the nations, as a guided and guiding Ummah.
Pahala apa yang didapat seorang Muslim hari ini yang lebih besar daripada usaha kolektif yang mengarah pada penyelamatan kaum Muslimin dari keadaan mereka saat ini? Karena Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantaraanmu lebih baik bagimu daripada unta merah (yang paling berharga)." [Diriwayatkan oleh al-Bukhari]. Apa yang lebih berpahala daripada usaha memperbaiki keadaan seluruh kaum Muslimin dan menyelamatkan mereka dari kehancuran, dan dengan tindakan ini membuka pintu-pintu dari segala arah sehingga manusia dapat masuk ke dalam agama Allah ﷻ secara berbondong-bondong? Ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang amalan yang setara dengan jihad di jalan Allah ﷻ, beliau menjawab: "'Tidak, aku tidak mendapatkan sesuatu yang setara dengannya.' Kemudian beliau ﷺ bertanya kepadanya: 'Ketika seorang mujahid keluar untuk berjihad, mampukah engkau masuk ke masjidmu, melakukan qiyam dan tidak merasa lelah? Dan berpuasa tanpa berbuka?' Orang itu berkata: 'Siapa yang sanggup melakukan itu?'" [Diriwayatkan oleh Bukhari]. Bukankah Rasulullah ﷺ bersabda: "Jihad yang paling utama adalah perkataan yang benar di hadapan penguasa yang zalim." Bukankah Rasulullah ﷺ juga bersabda: "Pemimpin para syuhada adalah Hamzah, dan seseorang yang berdiri di hadapan penguasa zalim untuk memerintahkan yang ma'ruf dan melarang yang munkar lalu ia terbunuh." [Diriwayatkan oleh al-Hakim]. Apakah boleh bagi seorang Muslim, sementara ia mengetahui keadaan kaum Muslimin hari ini, membiarkan mereka binasa? Apakah ia kemudian akan menjadi:
What reward is there that a Muslim gets today that is greater than the collective work which leads to saving the Muslims from the situation they are in today. For the Messenger has said; “That Allah should guide a man through you is better for you than having the red (best) camels.” [Reported by al-Bukhari]. What is more rewardable than the work to rectify the situation of all the Muslims and save them from destruction, and by this action open the gates from all sides so that people may enter the deen of Allah in crowds. When the Messenger said to the one who asked if there was any action that was equal to Jihaad in the path of Allah ; “‘No, I do not find anything equal to it.’ Then he asked him; ‘When the Mujaahid goes out to Jihaad are you able to enter your mosque, do qiyaam and not become tired? And fast and not have iftaar (not break the fast)?’ The man said; ‘Who can do that?’” [Reported by Bukhari]. Did not the Messenger say; “The best Jihaad is the word of truth spoken to a tyrant ruler.” Did the Messenger not say; “The master of martyrs is Hamzah, and a man who stood up to a tyrant ruler to enjoin (the ma’roof) and forbid (the munkar) and got killed.” [Reported by al-Haakim]. Is it allowed for the Muslim, while knowing the situation of Muslims today, to leave them to perish? Will he then be:
"…seperti tubuh yang jika satu bagiannya merasa sakit, maka seluruh tubuh memanggilnya dengan tidak bisa tidur dan demam." [HR. Muslim]. Apakah ia akan menjadi: "…seperti bangunan yang sebagian bagiannya saling menguatkan." [HR. Muslim]. Maka sebelum seorang Muslim mendapatkan pahala yang besar atau dosa yang nyata. Inilah keadaan fardhu dalam Islam.
“…like the body which if one part aches then the rest of the body calls out to it in sleeplessness and fever.”? [Reported by Muslim]. Will he be: “…like the building where one part strengthens another.”? [Reported by Muslim]. So before the Muslim lays either a great reward or a manifest sin. This is the condition of the fard in Islam.
Hal ini sama seperti kewajiban-kewajiban lainnya: orang yang melaksanakannya akan mendapat pahala, dan orang yang meninggalkannya akan mendapat siksa.
It is like the rest of the obligations, the one who does it is rewarded and the one who leaves it is punished.
Kami mengingatkan kembali bahwa yang kami maksud bukanlah dakwah kepada aksi-aksi kolektif parsial, yang hanya menegakkan sebagian atau satu-dua bagian dari Islam. Yang kami maksud adalah kerja kolektif yang bertujuan menegakkan Islam secara keseluruhan melalui cara kerja untuk menegakkan Khilafah.
We do remind again that we are not talking about the da’wah to partial collective actions, which establish a part or two from Islam. Rather we mean the collective work that aims at the establishment of Islam as a whole via the way of working to establish the Khilafah.