5.2 Sebagian Muslim Mengatakan bahwa Ibadah (Ibadah Ritual) Itulah yang Diwajibkan, Bukan Usaha Menegakkan Negara Islam
5.2 Some Muslims Say That Ibaadah (ritual Worship) Is What Is Required And Not The Work To Establish The Islamic State
Mereka juga mengatakan bahwa Rasul ﷺ menyeru manusia kepada ibadah kepada Allah (SWT) dan tidak menyeru manusia kepada pendirian Negara Islam; atau bahwa persoalan pokoknya adalah ibadah kepada Allah (SWT) dan bukan Negara Islam; atau bahwa mendirikan Negara Islam itu tidak penting, yang penting adalah beribadah kepada Allah (SWT). Inilah pandangan mereka; atau yang serupa dengan itu.
They also say that the Messenger called people to the worship of Allah and did not call people to the establishment of an Islamic State; or that the central issue is the worship of Allah and not the Islamic State; or that it is not important to establish an Islamic State, but it is important to worship Allah . These are their views; or something of the same nature.
Untuk menjawab keberatan ini, kita harus mendefinisikan hakikat ibadah dan bagaimana ibadah itu tercapai.
To respond to this objection we must define the reality of ibaadah and how it is acheived.
Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Maka, ibadah adalah tujuan yang karenanya Allah menciptakan manusia. Makna "Laa Ilaaha illallah" adalah: tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah , dan segala sesuatu selain-Nya adalah batil, harus ditolak, dan manusia wajib bersaksi atas hal ini. "Muhammad rasoolullah" berarti bahwa ibadah dan ketaatan harus sesuai dengan apa yang hanya dibawa oleh Muhammad ﷺ, Rasul Allah, dan manusia wajib bersaksi atas hal ini.
Allah created mankind to worship Him. Thus, ibaadah is the objective for which Allah created the human beings. The meaning of, “Laa Ilaaha illallah” is the following: there is none to be worshipped except Allah , and anything other than this is false and must be rejected and man must testify to this. “Muhammad rasoolullah”, means that the worship and obedience should be according to what only Muhammad , the Rasool of Allah, has brought and man must testify to this.
Dengan demikian, ibadah hanya untuk Allah (SWT) dan tidak dapat terlaksana kecuali sebagaimana disyariatkan oleh Allah (SWT), yaitu apa yang dibawa hanya oleh Rasul Allah ﷺ, dan ini adalah prinsip yang harus diwujudkan dalam setiap perbuatan dan ucapan dalam kehidupan kita.
Thus, ‘ibaadah (worship) is only for Allah and it cannot take place, except as legislated by Allah of what was brought only by the Rasool of Allah, and this is an origin that must be realised in every action or statement in our life.
Maka dari itu, ketika seorang Muslim melakukan suatu tindakan dalam kehidupan ini untuk memenuhi kebutuhan pribadinya atau mencapai suatu nilai yang ada dalam realitas kehidupan, ia bergerak semata-mata didorong oleh motif untuk memuaskan kebutuhan dan naluri-nalurinya, yang dapat terpenuhi melalui lebih dari satu cara.
Hence when the Muslim undertakes an action in this life to achieve a need for himself or a value which is in the reality of life, he moves solely for the motive of satisfying his needs and instincts, which can be satisfied in more than one way.
Memenuhi hal ini dengan cara yang syar'i, membatasi diri padanya, dan mengaitkannya dengan keimanan kepada Allah (SWT), menjadikan amalan seorang Muslim sebagai ibadah.
Satisfying this in the Shar’ee way, and restricting oneself to it, and linking that with the belief in Allah , makes the action of the Muslim a worship.
Karena di balik setiap perbuatan terdapat pemenuhan suatu keinginan atau kebutuhan, dan kebutuhan manusia berkaitan dengan banyak bidang, maka wajar jika perbuatan manusia mencakup seluruh aspek kehidupan.
Since behind every action there is the satisfaction of a desire or need, and mans needs are related to many areas, it is natural that the actions of man will cover all aspects of life.
Dengan demikian, ‘ibadah adalah hendaknya manusia mengarahkan perbuatannya sesuai dengan perintah dan larangan Allah , dan hal ini harus dilakukan berdasarkan keimanan kepada Allah semata; inilah yang menyebabkan ‘ibadah bersifat menyeluruh, mencakup seluruh perbuatan manusia.
Thus, ‘ibaadah is that man should direct his actions according to the orders and prohibitions of Allah , and this must be done based on the belief in Allah only; this leads to the comprehensiveness of ibaadah which encompasses all of man’s actions.
Ketika seseorang mengatakan kepada seorang Muslim "beribadahlah kepada Allah", itu tidak berarti ia hanya memerintahkannya untuk shalat, membayar zakat, menunaikan haji, atau melakukan hal-hal yang oleh para fuqaha dimasukkan ke dalam kategori ibadah (‘ibadaat).
When you say to a Muslim “worship Allah”, it does not mean that you are only instructing him to pray, pay zakah, make hajj or undertake things the fuqaha (jurists) have placed under the category of ‘ibadaat (worships).
Artinya, ia hendaknya menaati Allah dalam segala hal yang Dia perintahkan, dan menjauhi segala hal yang Dia larang.
It means that he should obey Allah in everything He has commanded and refrain from everything He has forbidden.
Dengan demikian, iman kepada Allah adalah dasar dari segala amal. Ibadah dilakukan untuk mengarahkan seluruh amal atas dasar keimanan kepada Allah .
Thus, the Imaan in Allah is the origin of actions. The worship is for the sake of directing all the actions on the basis of belief in Allah .
Oleh karena itu, seluruh dīn adalah ‘ibādah, dan ‘ibādah berarti penghambaan diri (ketundukan).
Therefore, the whole deen is ‘ibaadah, and ‘ibaadah means submission.
Makna berserah diri kepada Allah (SWT) adalah beribadah kepada-Nya dan merendahkan diri terhadap perintah Allah, Yang Maha Mengetahui dan Maha Waspada, serta kita berserah diri kepada-Nya dengan penuh kerelaan dan ketundukan.
The meaning of submitting ourselves to Allah is to worship Him and humble ourselves to the order of Allah, the All-Knowing and All-Aware, and we submit ourselves to Him with contentment and submission.
Itulah sebabnya, di antara bagian dari ibadah dan ketaatan kepada-Nya adalah menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah yang munkar, berjihad di jalan-Nya melawan orang-orang kafir dan munafik, menegakkan agama Allah dalam kehidupan kaum Muslimin, menyebarkan dakwah di antara seluruh manusia, dan melindungi kaum Muslimin; sebagaimana hal itu juga termasuk dalam shalat, zakat, dan qiyamul lail (shalat malam).
That is why part of worshipping and obeying Him is, enjoining the ma’roof and forbidding the munkar, and engaging in Jihaad in His path against the people of kufr and nifaaq (hypocracy), establishing Allah’s deen in the life of the Muslims, spreading the da’wah between all people and protecting the Muslims; just as it is also in the prayer, Zakah and qiyaam (nightly devotional prayers).
Beribadah kepada Allah ﷻ mencakup seluruh perbuatan manusia yang dilakukan seorang Muslim sesuai dengan kenyataan hidup yang dijalaninya. Jika kenyataannya adalah bahwa seorang Muslim tidak shalat, maka menyerunya untuk shalat merupakan seruan kepada ibadah, dan mengajaknya berpuasa merupakan ajakan kepada ibadah, serta mengajaknya untuk berjual beli sesuai dengan Syariat Islam merupakan ajakan untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Karena iman kepada Allah ﷻ adalah asal dari setiap ibadah, maka seruan kepada shalat atau puasa harus didahului dengan membangkitkan iman dalam diri orang yang didakwahi, dan menjadikan iman ini sebagai pendorong komitmen serta pengendali perbuatan.
Worshipping of Allah includes all actions of man, which the Muslim undertakes according to the reality in which he lives. If the reality is that the Muslim does not pray then calling him to pray is a call to worship, and inviting him to fast is an invitation to worship, and inviting him to buy and sell according to the Islamic Shar’a is an invitation to worship Allah . Since Imaan in Allah is the origin of every worship, then calling people to prayer or fasting must be preceded by provoking the Imaan in the person who is given da’wah, and making this Imaan the impetus for commitment and the controller of actions.
Demikian pula halnya dengan menyerukan penegakan Islam dan berhukum dengan apa yang telah diturunkan Allah , yang merupakan bagian dari perintah Allah dan wajib ditaati. Hal itu dijalankan oleh orang yang beriman kepada Allah . Seruan kepada perintah-perintah ini harus didahului dengan seruan untuk beriman kepada Allah . Dengan demikian, terwujudlah ibadah kepada Allah dalam perkara ini.
Likewise for calling people to the establishment of Islam and ruling by what Allah has revealed, which are from the orders of Allah and they must be obeyed. They are undertaken by the one who believes in Allah . The invitation to these orders must be preceded by the invitation to believe in Allah . This is what will realise the worship of Allah in this matter.
Karena kaum Muslimin saat ini hidup di bawah sistem kufur yang hukum-hukumnya tidak bersumber dari Allah (SWT), dan seorang Muslim tidak dapat menjalani cara hidup Islami di bawahnya, maka seruan untuk menegakkan agama (ad-din) merupakan ibadah kepada Allah (SWT), yang karenanya perhatian harus diarahkan kepadanya dan upaya harus dicurahkan untuk itu.
Since the Muslims today live under kufr systems whose rules are not derived from Allah , and the Muslim cannot live an Islamic way of life under them; then the call to establish the deen represents worshipping of Allah , to which attention should be drawn and efforts spent.
Dengan demikian, kita wajib menghubungkan seruan kita kepada ibadah kepada Allah (SWT) dengan problem-problem zaman ini, yang semuanya tercermin dalam seruan untuk kembali menjalankan cara hidup Islam. Dengan begitu, ibadah kepada Allah (SWT) akan tercapai dengan cara yang paling sempurna. Oleh karena itu, seruan untuk mendirikan Negara Islam adalah seruan untuk mendirikan dien yang merupakan ‘ibadah, dan merupakan seruan kepada ‘ibadah. Hal ini karena ia merupakan perintah dari Allah (SWT) yang kita imani; seorang Muslim yang mengabaikannya berarti lalai dalam ibadah kepada Allah (SWT).
Thus, we are obliged to link our call to Allah’s worship with the problems of this age, which are all reflected in the call to resume the Islamic way of life. Then the worship of Allah will be achieved in the most complete manner. Therefore, the call for the establishment of the Islamic State is a call for the establishment of the deen which is ‘ibaadah, and is a call for ‘ibaadah. This is because it is an order from Allah in whom we believe; the Muslim who ignores this is complacent in the worship of Allah .
Oleh karena itu, cara penyajian masalah ini oleh orang-orang tersebut adalah keliru, karena seolah-olah mengisyaratkan bahwa upaya menegakkan Khilafah bertentangan dengan ibadah. Berpegang pada pendapat seperti itu berarti menyerang sebagian Al-Qur'an dengan sebagian lainnya, dan hal ini telah dilarang bagi kaum Muslimin.
Therefore, the manner in which this issue has been presented by those people is wrong, because it seems to imply that working to establish the Khilafah contradicts with ‘ibaadah. Holding such an opinion is an attack on part of the Qur’an by another part, which the Muslims have been forbidden from doing.