11.1 Kewaspadaan Terhadap Penyimpangan atau Kompromi
11.1 Alertness To Deviation Or Compromise
Dengan demikian, ketika kelompok ini berdiri di atas Fikrah ideologis dan turun ke dalam realitas, angin akan berhembus kepadanya dan berusaha mencabutnya dari akarnya. Perlakuan rezim terhadap kelompok ini akan berbeda dengan perlakuannya terhadap gerakan-gerakan lain. Hal ini karena gerakan-gerakan lain mengajukan pemikiran-pemikiran parsial, yang sama sekali tidak membahayakan rezim. Bahkan, pemikiran-pemikiran itu bisa mengisi celah dan kekurangan yang diciptakan oleh rezim itu sendiri.
Thus, when the group is established on the ideological Fikrah and comes to the reality, the winds will blow upon it and try to pull it out from its roots. The regimes treatment of this group will be different to their treatment of other movements. This is because the other movements put forward partial thoughts, which do not harm the regimes at all. Rather they may fill the gaps and deficiencies created by the regimes themselves.
Namun, dakwah radikal yang berlandaskan Fikrah ideologis menangani persoalan dari akarnya, dan tidak menerima solusi tambal sulam atau mengikuti keadaan yang ada. Dakwah ini juga tidak menerima solusi setengah-setengah, ataupun upaya memperbaiki masalah-masalah yang diciptakan oleh rezim-rezim. Dakwah yang menghendaki perubahan total tidak akan ditinggalkan. Dakwah ini pun tidak akan mau mengurusi perkara-perkara cabang sementara membiarkan landasan yang menjadi dasar perkara-perkara cabang tersebut. Wajar bila kelompok atau partai seperti ini akan dihadapi dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Semakin kuat kelompok itu berpegang pada perubahan radikal, semakin memusuhinya pula para rezim, dan semakin besar pula konfrontasi yang terjadi.
However, the radical da’wah based on the ideological Fikrah deals with matters from their basis, and not by accepting patchwork solutions or going along with the situation. Neither does it accept half solutions or reform problems created by the regimes. It will not accept to leave the da’wah that is for complete change. Nor will it accept to deal with peripheral matters whilst leaving the basis on which these peripheral matters are founded. It is natural that a group or party such as this would be confronted in an unprecedented manner. The more the group adhered to the radical change the more the regimes will be hostile towards it and the greater the confrontation will be.
Beratnya konfrontasi dapat tercermin pada pengemban dakwah sehingga ia tidak sanggup menanggungnya. Maka ia akan memberikan tekanan kepada kelompoknya agar meringankan kekuatan seruan. Ia mungkin merasa berat bagi dirinya, dan tekadnya dapat melemah ketika ia mendapati dirinya ditolak oleh masyarakat dan ditinggal sendirian. Ia bisa membisikkan kepada dirinya sendiri dan berusaha berhenti terlibat dalam dakwah ketika kepentingan duniawinya berbenturan dengan situasi-situasi baru yang muncul dari bekerja bersama kelompok. Maka ia mungkin mulai memberikan tekanan kepada kelompoknya dan menyerukan mereka untuk berpaling dari menuntut perubahan menuju menuntut reformasi. Jika kelompok menanggapi tuntutannya, ia akan tetap bersama kelompok. Dalam hal ini ia berhasil bekerja untuk agamanya dan dunianya, dan menyenangkan Allah ﷻ dan Sang Raja; atau setidaknya menurut klaimnya. Jika kelompok menolak tekanannya dan bersikeras pada kerjanya yang radikal dan mendasar, ia akan berpaling darinya. Di sini kelompok akan menghadapi dua bahaya: bahaya internal dari para Syabab-nya yang tekadnya telah melemah menghadapi pukulan-pukulan berat, dan bahaya eksternal dari rezim-rezim yang tidak menoleransi orang-orang yang memiliki pandangan radikal seperti itu.
The severity of the confrontation may be reflected on the da’wah carrier such that he will not be able to bear it. So he will put pressure on his group so that it lightens the force of the call. He may find it difficult for himself, and his resolve may weaken when he finds himself rejected by the people and left alone. He might whisper to himself and try to cease from engaging in the da’wah when his worldly interests clash with the new situations that arise from working with the group. So he may begin to apply pressure on his group and call them to turn away from demanding change towards demanding reform. If the group responded to the requests, he would remain with the group. In this case he has managed to work for his deen and the dunya, and please both Allah and the King; or at least according to his claim. If the group rejected his pressure and insisted on its radical and fundamental work, he will turn away from it. Here the group will face two dangers; an internal danger from its Shabab whose determination has weakened before the heavy blows, and an external danger from the regimes that do not tolerate people of such radical views.
Pertarungan tawar-menawar akan dimulai antara kelompok dan rezim-rezim. Tawaran-tawaran akan mulai dicurahkan kepada kelompok tersebut. Kebijakan wortel dan tongkat akan mulai diterapkan. Sudah diketahui secara luas bahwa tawar-menawar berlangsung dalam urusan perdagangan; ketika kelompok itu masuk ke dalam proses tawar-menawar, maka hal itu telah menjadi perdagangan, dengan terjadinya penjualan tanggung jawab dan penghinaan terhadap bangsa-bangsa. Jika tidak, ia akan dibakar oleh api rezim dan dihanguskan oleh nyalanya.
The battle of bargaining would start between the group and the regimes. Offers would start to be heaped on the group. The policy of the carrot and stick will start to be enacted. It is well known that bargaining takes place in the matters of trading; when the group enters into the bargaining (process) it has become a trade, with the selling of responsibilities and humiliation of nations taking place. Otherwise it will be burnt by the fire of the regime and seared by its flames.
Oleh karena itu, fikrah ideologis yang benar memerlukan suatu kelompok atau partai ideologis yang pimpinan dan anggotanya sangat memperhatikan Syari'ah sehingga ia menjadi tuan (yang utama). Mereka juga peduli terhadap kejelasan, kemurnian, kesabaran, pengorbanan, sikap mementingkan orang lain, dan pengendalian diri. Mereka bebas dari godaan untuk meraih keuntungan pribadi, agar tidak menyimpang dan tekad mereka tidak melemah. Agar kelompok ini berjalan dengan pasti, melindungi pekerjaannya, dan terbebas dari perubahan atau dari orang-orang yang mempermainkan kelompok ini, maka ia harus mengaitkan setiap gagasan atau hukum Syar'i secara erat dengan 'Aqidah Islam. Bahkan jika terjadi benturan antara kepentingan pribadi para pengemban dakwah dengan keteguhan dan kesabaran dalam mengemban dakwah demi tercapainya tujuan-tujuannya, maka yang didahulukan adalah kepentingan dakwah. Keterkaitan ini kemudian menjadi benteng yang kokoh terhadap bisikan Syaithan dan bisikan nafsu (jiwa) yang menyeru kepada kejahatan.
Therefore, the correct ideological Fikrah requires an ideological group or party whose leadership and members are concerned about the Shar’a such that it is the master. They are also concerned for the clarity, purity, patience, sacrifice, altruism, and self-denial. They are devoid of any temptation for their own fortunes, so that they don’t become deviated and their determination is not weakened. In order that the group proceeds in a assured manner that protects its work and makes it free from change, or people playing games with the group, it must link every idea or Shar’ee rule tightly to the Islamic ‘Aqeedah. Even if there is a clash between the individual selfish benefits of the da’wah carriers, and the steadfastness and patience on carrying the da’wah, to achieve its goals, then the preference is for the interest of the da’wah. This linkage would then be an insurmountable barrier against the whispers of Shaytan and the whispers of the nafs (soul) that call towards evil.
Agar bahtera partai tidak tenggelam ke dalam lumpur kenyataan yang mengerikan, partai harus memiliki prinsip-prinsip pengatur yang menetapkan pemikiran dan cara berpikirnya. Prinsip-prinsip itu akan mengikat kelompok pada apa yang telah mereka simpulkan. Tidak diperbolehkan menyimpang dari prinsip-prinsip ini kapan pun, dengan dalih penafsiran atau pembenaran.
In order that the party’s ship is saved from sinking into the mire that is the awful reality, it must have regulating principles that define the thoughts and way of thinking. That will bind the group to what it has deduced. It is not allowed to deviate from these principles any time, under the pretext of interpretation or justification.
Dengan demikian, arah yang baik, keteladanan yang baik, dan pemahaman yang baik akan membersihkan kelompok beserta orang-orang yang bekerja di dalamnya dari setiap cacat atau noda yang mungkin pernah menimpa mereka, membersihkan jiwa mereka, dan menguatkan iman mereka.
Thus, good direction, good emulation and good understanding will lead to purifying the group and those working within it from any defects or blemishes that may have touched them, and it will purify their souls and strengthen their Imaan.
Di jalan ini tidak ada yang mampu bertahan menghadapi kesulitannya kecuali orang-orang beriman yang memiliki tekad yang kuat. Ujian yang telah dialami oleh mereka yang menjalankan tugas ini akan menyucikan mereka, sebagaimana api menyucikan emas.
On this path none can remain steadfast on its hardship except the believers who are of firm resolve. The trials that those undertaking the work have sustained, will purify them, like the fire purifies gold.
Jika kelompok itu kehilangan prinsip-prinsip pengatur, maka kelompok tersebut akan mengalami penarikan diri (dari pekerjaan), perubahan, mundur, dan ketidakkonsistenan.
If the group lost its regulating principles, then the group will suffer from withdrawal (from the work), alteration, retreat and inconsistency.
Ketidakjelasan dalam metode dan tujuan, serta kurangnya kristalisasi, akan membuat kelompok itu mengubah hal-hal ketika pekerjaan terasa sulit, atau akan membuatnya membenarkan dan menjelaskan hal-hal tersebut ketika kelompok diminta untuk memberikan bukti.
Ambiguity in the method and objective, and a lack of crystallisation will drive the group to alter things when it finds the work difficult, or it will lead it to justify things or explain things away when the group is asked to provide evidence.
Ketika kelompok itu mau berkompromi dan menerima kebenaran hanya sebagian, bukan seluruhnya, serta meninggalkan pendekatan radikal dan kerja yang mendasar, ia kehilangan satu-satunya kekuatan yang dimilikinya. Ia tidak akan lagi menjadi kelompok yang unik, dan tidak akan menarik perhatian orang kepada karakternya yang khas dan berbeda. Ia akan gagal dalam perjuangan intelektual, dan kemenangan akan jatuh kepada musuhnya, meskipun ia terus menyerukan Islam dan mengajukan Islam sebagai solusi. Hal ini karena pendekatannya telah menyimpang, demi keuntungan sistem. Dengan melakukan hal itu, ia justru akan menjadi penghalang di hadapan perubahan, alih-alih menjadi kebalikannya. Inilah yang telah Allah ﷻ peringatkan kepada kita ketika Dia berfirman kepada Rasul-Nya ﷺ dan umatnya setelahnya: “Dan berhati-hatilah terhadap mereka, jangan sampai mereka memalingkanmu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” [QS. Al-Ma'idah: 49]. Begitu pula apa yang dikatakan Sayyidina 'Umar ﵁ kepada hakimnya, Syuraih: “Janganlah seorang pun membuatmu berpaling darinya.” Senjata paling tajam yang dimiliki kelompok ini adalah fikrahnya. Jika ia mampu menjaganya dan menjauhkannya dari wilayah kompromi, tetap teguh di atasnya dalam keadaan apa pun, dan mengikuti jejak Rasulullah ﷺ, maka setelah beberapa waktu ia akan mampu menyiapkan apa yang telah Rasulullah ﷺ siapkan, yaitu sebuah kelompok beriman dan umat yang menerima pemerintahan dengan apa yang telah Allah ﷻ turunkan. Setelah itu tersiapkan, ia akan mampu membalikkan keseimbangan demi kepentingan dakwah, dan mendirikan Negara.
When the group yields to compromise and accepts the truth in parts, not completely, and abandons the radical approach and fundamental work, it loses the only strength it possessed. It will not be a unique group, or draw the attention of people to its unique and distinct character. It would have failed in the intellectual struggle, and the victory will be for its enemy, even if it kept on calling for Islam and proposing Islam as the solution. This is because its approach has become distorted; to the benefit of the system. By doing this, it would have become an obstacle in the face of change, instead of being the opposite. This is what Allah has warned us of when He said to His Messenger and his Ummah after him; “And beware of them lest they deviate you from any of that (teaching) which Allah has sent down to you.” [TMQ 5:49]. Also what Sayyiduna’Umar said to his judge Shurayh: “Let no man distract you from it.” The sharpest weapon that the group possesses is its Fikrah. If it is able to preserve it and keep it away from the sphere of compromise, remain steadfast on it in spite of the circumstances, and follow the footsteps of the Messenger , it will manage to prepare, after some time, what the Messenger prepared; that is a believing group and the Ummah to accept the rule by what Allah has revealed. After preparing that it would be able to reverse the balance in favour of the da’wah, and to establish the State.
Pemikiran Islam merupakan karunia bagi orang-orang dakwah yang benar, yang menuntut mereka untuk menghadapi tekanan-tekanan dengan pemikiran Islam yang selaras dengan ide dasar yang asli. Tidak layak bagi kelompok untuk menghadapi tekanan-tekanan dengan mentalitas, "Ambil dan tuntut", "ajukan apa yang sesuai dengan kenyataan", "ajukan hanya sebagian tuntutan", "penerimaan terhadap solusi setengah jadi". Kelompok ini didirikan untuk mengubah pemikiran-pemikiran seperti itu, bukan untuk bekerja dengan menggunakannya.
The thoughts of Islamare an endowment to the people of the true da’wah that demands of them to confront the pressures with the thoughts of Islam that are in harmony with the original fundamental idea. It is not fitting for the group to face the pressures with the mentality of, ‘Take and demand’, ‘propose what suits the reality’, ‘propose only some of the demand’, ‘acceptance of half solutions’. The group was established to change such thoughts, and not to work by using them.
Ini adalah pola pikir Barat yang telah menyerbu pikiran kita. Pola ini sangat berbeda dengan hakikat Islam, yang menolak semua ini dan berupaya mencabutnya, serta berupaya memusatkan Islam dan metodenya dalam berpikir. Maka siapa pun yang ingin menciptakan perubahan dan berjuang untuknya, harus memulai dari dirinya sendiri terlebih dahulu.
This is the mode of thinking of the west with which they invaded our minds. This radically differs from the nature of Islam, which rejects all of this and works to uproot it, and works to concentrate Islam and its method in thinking. So the one who wants to create change and works for it, must start with himself first.
Setelah memaparkan apa yang harus menjadi ciri kelompok ini dalam hal menekankan kemurnian dan kejelasan Fikrah serta memeliharanya, kami menyajikan dua dari gagasan yang diajukan oleh Barat kafir. Keduanya adalah gagasan yang telah diadopsi oleh rezim-rezim loyal, dan digunakan untuk menekan kaum Muslim.
After presenting what the group must be characterised with, in respect of insisting on the purity and clarity of the Fikrah and maintaining it, we present two of the thoughts proposed by the Kaafir West. They are ideas that the loyal regimes have committed to, and use to push the Muslims.
Sayangnya, sebagian kelompok yang mengatasnamakan perjuangan Islam, dan para penulis Muslim yang selalu mengedepankan pemikiran Barat, dengan cepat menyambut gagasan-gagasan ini. Dua gagasan tersebut adalah sebagai berikut. Yang pertama adalah gagasan bahwa demokrasi berasal dari Islam dan bahwa demokrasi itu sendiri adalah syura. Seorang penulis menyebutnya:
Unfortunately some groups that are working for Islam, and the Muslim writers who always promote the western thoughts have seized these ideas quickly. These two ideas are the following. The first is the idea that Democracy is from Islam and that it is Shura itself. One writer called it:
‘shurocrasy’, melalui penyatuan kata-kata dan pemalsuan intelektual. Gagasan kedua adalah turut serta dalam pemerintahan kufur, yang telah dianjurkan oleh sebagian kaum Muslimin dan gerakan-gerakan tertentu. Agar kita dapat melanjutkan kajian ini sesuai dengan prinsip-prinsip yang disebutkan di awal pembahasan ini, kita akan meneliti realitas tempat Demokrasi diterapkan, hakikat Demokrasi, dan apakah ada suatu realitas dalam syariat yang menyerupai hakikat Demokrasi, sehingga dapat dijadikan dasar untuk membenarkan penerimaannya.
‘shurocrasy’, through the reconciliation of words and intellectual falsification. The second idea is participating in kufr rule, which has been advocated by some Muslims and movements. In order that we proceed in this study according to the principles mentioned in the beginning of this discussion, we will study the reality in which Democracy is applied, the reality of Democracy, and whether there is a reality in the Shar’a that resembles the reality of Democracy, so as to validate its acceptance.