2.6 Islam Tidak Dapat Ditegakkan Tanpa Penegakan Negara Islam
2.6 Islam Cannot Be Established Without The Establishment Of The Islamic State
Sungguh aneh bahwa kita mendapati orang-orang yang bekerja untuk menegakkan Islam tanpa memusatkan usaha mereka untuk menegakkan Negara Islam.
How strange it is that we find people working to establish Islam without focusing their efforts to establish the Islamic State.
Yang lebih mengherankan lagi, ada di antara kaum Muslimin yang memandang Negara Islam dan upaya untuk mendirikannya kembali sekadar sebagai hukum syar'i biasa, yang tidak didahulukan atau diutamakan atas hal-hal lainnya.
More surprising still is that one finds amongst Muslims those who look upon the Islamic State and the work to re-establish it as an ordinary Shar’ee rule, which is not given preference or precedence over anything else.
Yang lebih mengherankan, di kalangan kaum Muslimin ada sebagian yang berupaya menerapkan hukum-hukum Syar'i melalui rezim-rezim yang ada, dengan mengorbankan upaya mendirikan Negara Islam, yang akan menjalankan amanah yang telah dipercayakan Syariat kepadanya, yaitu menegakkan hukum-hukum Islam.
Even more surprising is that you will find amongst the Muslims those who are working to apply the Shar’ee rules through the existing regimes, at the expense of working to establish the Islamic State, which will undertake what the Shar’a has entrusted it with, of establishing the rules of Islam.
Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa kewajiban kolektif yang paling penting dan tidak dapat ditinggalkan adalah upaya menegakkan Negara Islam, yang memerintah dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah (SWT). Upaya ini saat ini sedang dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin. Namun, kelompok ini belum mencukupi, karena Negara tersebut belum juga tegak. Akibatnya, kewajiban kolektif ini telah menyerupai kewajiban individual sebagaimana disebutkan sebelumnya, yakni setiap Muslim kini wajib berupaya sesuai kemampuannya untuk menegakkan Negara Islam.
Thus, we are able to conclude that the most important and indispensable obligation from amongst the collective obligations is the work to establish the Islamic State, which rules by what Allah has revealed. This work is being undertaken today by a section of the Muslims. However, this section has not met the sufficiency, because the State has still not been established. As a result, this collective obligation has become similar to the individual obligation as mentioned previously, ie every Muslim is now required to work according to his ability to establish the Islamic state.
Oleh karena itu, teladan yang paling tepat dan benar terhadap Rasul Allah ﷺ adalah bahwa seorang Muslim hendaknya mempelajari kewajiban-kewajiban individu yang telah ditetapkan oleh Allah. Ia juga hendaknya mempelajari perbuatan-perbuatan individu yang diharamkan oleh Allah. Kemudian hendaknya ia memperhatikan kewajiban-kewajiban kolektif yang telah Allah perintahkan untuk ditegakkan, sehingga ia melaksanakannya atau ikut serta dalam pelaksanaannya, sesuai dengan kemampuannya. Setelah dikaji, Allah telah menuntun kita kepada kewajiban kolektif yang paling penting, yaitu upaya menegakkan Negara Islam, yang merupakan cara untuk menegakkan sebagian besar hukum Islam, baik yang bersifat individu maupun kolektif.
Consequently, the most precise and correct emulation of the Rasool of Allah is that the Muslim should study the individual obligations ordained by Allah . He should also study the individual forbidden actions that have been prohibited by Allah . Then he should look to the collective obligations that Allah has commanded to be established, so that he undertakes them or participates in their performance, according to his ability. After study, Allah has guided us to the most important collective duty, which is the work to establish the Islamic State, which is the method to establish the majority of the Islamic rules, whether individual or collective.
Dengan cara ini, seorang Muslim telah mempersiapkan dirinya untuk Hari Perhitungan, ketika ia akan ditanya tentang apa yang telah ia perbuat. Hal itu karena ia telah melaksanakan kewajiban-kewajiban individual dan menjauhi perbuatan-perbuatan haram yang bersifat individual. Ia juga telah melaksanakan kewajiban kolektif yang paling utama, yang dengan tegaknya kewajiban itu dosa dari banyaknya kewajiban terkait gugur darinya. Dengan demikian, seorang Muslim akan berpegang teguh pada kebenaran dari segala sisi. Maka ia telah melaksanakan hal-hal yang akan menegakkan Islam dalam dirinya sebagai individu. Ia juga telah melaksanakan hal-hal yang akan menegakkan Islam di tengah masyarakat. Jika ada hal lain yang belum ia laksanakan, maka itu termasuk beberapa kewajiban kolektif. Adapun pelaksanaan kewajiban-kewajiban seperti itu bersifat pribadi, bukan kolektif, misalnya mendoakan orang yang bersin dan melaksanakan shalat jenazah.
In this way, the Muslim would have prepared himself for the Day of Reckoning, when he will be asked about what he has done. This is because he undertook the individual obligations, and refrained from the individual forbidden acts. He also undertook the foremost collective duty, through whose establishment the sin of all the related obligations are removed from him, which are many. In this manner the Muslim will have held on to the truth from all sides. Thus, he has undertaken that which will establish Islam in himself as an individual. He has also undertaken that which will establish Islam in society. If anything else had not been undertaken yet, they would be a few of the collective obligations. The nature of undertaking such obligations will be personal and not collective, such as making du’a for the one who sneezes and performing the funeral prayer.