2. Pentingnya Iman dalam Menyampaikan Dakwah dan Prioritas terhadap Kewajiban
2. The Importance Of Imaan In Conveying The Da’wah And The Priorities Regarding The Obligations
Islam terdiri dari ma'ruf yang Allah (SWT) perintahkan untuk ditegakkan, dan munkar yang Dia (SWT) perintahkan untuk dijauhi dan dihilangkan.
Islam consists of ma’roofat which Allah has ordered to establish, and munkaraat which He ordered to abstain from and remove.
Kepala dan ma'ruf yang paling tinggi adalah keimanan kepada Allah ﷻ serta rukun-rukun akidah Islam lainnya.
The head and the highest ma’roof is the belief in Allah and the rest of the pillars of the Islamic ‘Aqeedah.
Pangkal dari segala kemungkaran (jamak dari munkar) dan bentuknya yang paling jahat adalah kekufuran dalam segala wujudnya. Allah (SWT) memerintahkan agar seseorang menjauhinya, mencegah manusia darinya, dan memperingatkan agar tidak terjerumus ke dalam jeratnya.
The head of the munkaraat (pl. of munkar) and its most evil manifestation is kufr in all its forms. Allah ordered that one avoid it, deter people from it and warn of falling into its snare.
Kemudian setelah Iman datang taqwa dari golongan ma'ruf. Taqwa terwujud dengan menaati Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ. Taqwa adalah buah dari Iman, ia menyempurnakannya, dan termasuk dari syarat-syaratnya. Bertakwa kepada Allah ﷻ berarti menghindari murka-Nya. Hal itu tidak mungkin terlaksana kecuali dengan berpegang teguh pada syariat Allah ﷻ. Keteguhan dalam berpegang ini terkait dengan Iman. Maka setiap kali Iman seorang Muslim menguat, keteguhannya dalam ketaatan pun menguat. Dan keteguhan itu melemah ketika Iman melemah.
Then after Imaan comes taqwa from the catagories of ma’roof. It is realised by obeying Allah and His Messenger . It is the fruit of Imaan, it completes it and it is from its requisites. Fearing Allah means to avoid His anger. This cannot take place except by adhering to the Law of Allah . This adherence is linked to Imaan. So whenever the Imaan of a Muslim becomes strong, his adherence to obedience becomes strong. This adherence becomes weak when the Imaan becomes weak.
Dengan demikian, seorang Muslim diperintahkan untuk beriman dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ, dan ia dilarang dari kekufuran dalam segala bentuknya, serta dari perbuatan maksiat dalam segala bentuknya.
Thus, the Muslim is ordered to have Imaan and obey Allah and His Messenger , and he is forbidden from kufr in all its forms, and from acts of disobedience in all its forms.
Iman dan takwa seorang Muslim serta penjauhannya dari kekufuran dan dosa tidak akan bertahan dan tidak akan menyebar kecuali jika ia menyampaikannya dan menyeru manusia kepadanya, serta mendirikan entitas yang melindungi kaum Muslimin, akidah mereka, dan takwa mereka, serta mencegah mereka terjerumus dalam jerat kekufuran dan kemaksiatan. Inilah yang ditunjukkan oleh kenyataan dan tindakan Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ tidak hanya memerintahkan para sahabat yang bersama beliau untuk memiliki iman dan takwa saja. Sebaliknya, beliau bekerja bersama mereka untuk menciptakan lingkungan bagi iman dan takwa, dengan mendirikan entitas ... 2 Pentingnya Iman dalam menyampaikan dakwah dan prioritas-prioritas terkait kewajiban yang akan membuat seluruh masyarakat melaju ke arah yang sama dengan arah perkembangan iman dan takwa individu. Inilah yang beliau ﷺ capai ketika mendirikan Negara Islam di Madinah al-Munawwarah.
The Imaan and taqwa of a Muslim and his abstention from kufr and sins will not remain and will not spread unless he conveys it and calls people to it, establishes the entity that protects the Muslims, their ‘Aqeedah and their taqwa and prevents them from falling into the traps of kufr and disobedience. This is what the reality and the actions of the Messenger have shown. The Messenger did not order those with him to have Imaan and taqwa only. Rather, he used to work with them to establish an environment for Imaan and taqwa, by establishing the entity 2 The importance of Imaan in conveying the da’wah and the priorities regarding the obligations which will make the whole society proceed in the same direction in which the Imaan and taqwa of the individual proceeds. This is what he achieved when he established the Islamic State in Madinah al- Munawwarah.
Dengan demikian, ma'ruf-ma'ruf (bentuk jamak dari ma'ruf) yang wajib kita tegakkan harus disampaikan kepada manusia, manusia harus diajak kepadanya, dan kita harus mendirikan institusi yang akan melindunginya. Kemungkaran-kemungkaran yang wajib dijauhi harus diperangi, diburu, dan dijauhkan, pelakunya harus dimintai pertanggungjawaban, serta institusi yang menyebabkan adanya kemungkaran-kemungkaran tersebut atau melindunginya harus dihapuskan.
Thus, the ma’roofaat (pl. of ma’roof) that we are obliged to bring about must be conveyed to the people, and the people must be invited to them and we must establish the entity that will protect them. The munkaraat that one must stay away from must be fought, chased, alienated and whoever committed them must be accounted and the entity that causes the presence of such munkaraat or protects them must be removed.
Oleh karena itu, kaum Muslimin wajib memerintahkan yang ma'ruf dan melarang yang munkar. Sebelum memerintahkan yang ma'ruf, mereka sendiri harus mengamalkannya, dan sebelum melarang yang munkar, mereka sendiri harus menjauhinya.
Therefore, the Muslims are obliged to enjoin the ma’roof and forbid the munkar. Before ordering the ma’roof, they themselves must abide by it, and before forbidding the munkar they themselves must refrain from it.