2.1 Aspek Pertama: Menaati Ma'ruf dan Menjauhi Munkar
2.1 The First Aspect: Abiding By The Ma’roof And Abstaining From The Munkar
Seorang Muslim wajib memiliki iman kepada Allah (SWT), kepada para rasul-Nya, dan seluruh 'Aqidah Islam; yaitu keyakinan kepada Allah (SWT), para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, Hari Akhir, dan al-qadhaa wal-qadar, bahwa baik dan buruk itu berasal dari Allah (SWT), serta meyakini segala sesuatu yang datang dalam Kitab dan Sunnah dengan keyakinan yang pasti.
The Muslim is required to have Imaan in Allah , His messengers and the whole of the Islamic ‘Aqeedah; ie the belief in Allah , His angels, Books, Messengers, in the Last Day and al-qadhaa wal-qadar, that both good and bad are from Allah , and believe in whatever has come in the Kitaab and Sunnah in a decisive manner.
Dengan demikian, iman adalah fardhu 'ain (kewajiban perorangan) bagi setiap Muslim. Ia wajib meyakininya secara umum dan harus memiliki dasarnya.
Thus, Imaan is fard ‘ayni (a personal obligation) on every Muslim. He is required to believe in it generally and he must have its foundation.
Dengan demikian, ia wajib meyakini adanya Allah ﷻ, Pencipta segala sesuatu, dan bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dialah Yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan dari-Nya dihilangkan segala kekurangan, serta bahwa apa pun yang ada di alam semesta, dan apa pun yang menjadi tegaknya kehidupan serta yang dibutuhkan manusia, berasal dari Allah Al-Qadeer. Tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat luput dari-Nya; tidak ada sesuatu pun yang dapat menentang Kehendak dan Ilmu-Nya. Dialah ﷻ satu-satunya yang benar-benar berhak disembah, hanya kepada-Nya tempat berlindung, hanya kepada-Nya penyerahan diri, dan hanya dengan keridhaan-Nya ketenangan diperoleh. Ketika seorang Muslim memiliki landasan ini, maka ia telah memperoleh keimanan kepada Allah ﷻ. Ia juga wajib meyakini bahwa Muhammad ﷺ adalah Rasul Allah, yang datang membawa agama Islam sebagai wahyu dari Allah ﷻ, bukan melalui kejeniusan atau kecerdasannya, dan bahwa beliau ﷺ terjaga dari kesalahan dalam apa yang beliau sampaikan dari Tuhannya.
Thus, he is required to believe in the existence of Allah , the Creator of everything and that there is none like Him. The One who has the attributes of perfection and from Whom any deficiency is removed, and that whatever is in the universe, and whatever life is established upon, and needed by man is from Allah al-Qadeer. Nothing on the earth or in the sky can escape Him; nothing can go against His Will and Knowledge. He is the only One to be truly worshipped, in Whom alone is the seeking of refuge, to Whom alone is the submission, and with His Pleasure alone comes tranquillity. When the Muslim possesses this foundation then he has obtained the Imaan in Allah . He is also required to believe that Muhammad is the Rasool of Allah, who has come with the deen of Islam as a revelation from Allah and not through his genius or intelligence, and that he is infallible in what he conveyed from his Lord.
Dia harus beriman kepada rasul-rasul Allah lainnya dan kitab-kitab-Nya secara umum, kepada para malaikat, Hari Akhir, serta al-qadha dan al-qadar.
He should believe in the rest of the Messengers of Allah and His Books in a general manner, in the angels, the Last Day and in al-qadhaa walqadar.
Ini adalah pokok-pokok keimanan. Siapa pun yang mengakuinya menjadi seorang mukmin, sekalipun ia belum mengetahui sebagian perinciannya, tentu dengan syarat ia tidak melakukan atau meyakini sesuatu yang membatalkan keimanannya. Keimanan ini dapat bertambah dan berkurang, dan karena itu diperlukan keteguhan dalam berpegang teguh kepadanya serta menjaga perilaku yang lurus.
These are the foundations of Imaan, whoever acknowledged them becomes a believer, even if he has missed some of the details - of course this is as long as he does not undertake or believe in anything that violates his Imaan. This Imaan, however increases and decreases, consequently this requires strong adherence and maintaining an upright behaviour.
Demikianlah, keimanan kepada Allah ﷻ menjadi semakin kuat dan berpengaruh dalam kehidupan, ketika seorang mukmin merenungkan lebih dalam tanda-tanda kekuasaan Allah ﷻ yang ada di alam semesta dan ayat-ayat yang telah diwahyukan-Nya. Maka semakin seorang Muslim memikirkan penciptaan Allah ﷻ, ketelitian susunannya, kekuasaan Penciptanya, serta hikmah dan ilmu-Nya, semakin bertambah pula imannya dan semakin besar pengagungannya kepada Pencipta Yang Maha Perkasa ini.
Thus, the belief in Allah strengthens and becomes more potent in the realm of life, when the believer contemplates more about the universal signs and the revealed verses of Allah . So the more a Muslim thinks about the creation of Allah and the precision of its composition and the power of its Creator, His wisdom and knowledge, the more his Imaan strengthens and his sanctification to this Mighty Creator increases.
Semakin seseorang merenungkan nikmat-nikmat yang telah Allah ﷻ anugerahkan kepadanya, dan semakin ia berusaha menghitungnya serta mengarahkan pandangannya kepada hal-hal yang selama ini ia lalai, semakin dekat pula ia kepada Ilah yang Mulia ini, dengan memuji-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan taat kepada-Nya. Semakin seorang Muslim memikirkan kekurangan pada segala sesuatu selain Sang Pencipta, serta kebutuhan dan kelemahannya sendiri, semakin ia bergegas untuk beribadah, taat, dan tunduk kepada Sang Pencipta saja.
The more that man contemplates the bounties that Allah has bestowed upon him, and the more he tries to count them and draw his perception to what he was heedless of, the nearer he draws to this Noble Ilaah, praising Him, thanking Him and obeying Him. The more the Muslim thinks about the deficiency in everything other than the Creator and about his need and weakness, the more he hastens towards worshipping, obeying and submitting to this Creator only.
Demikian pula keimanan kepada Rasul Allah ﷺ bertambah dan berkurang.
Likewise the belief in the Rasool of Allah increases and decreases.
Demikian pula, semakin bertambah pengetahuan seorang Muslim tentang Al-Qur'an, semakin bertambah pula keyakinannya bahwa Al-Qur'an ini tidak berasal dari siapa pun selain Allah ﷻ, dan karenanya keyakinannya bahwa Muhammad ﷺ adalah Rasulullah juga bertambah. Begitu pula, ketika ia merenungkan Sirah Rasulullah ﷺ, kehidupan beliau, penderitaan yang beliau alami di Jalan Allah ﷻ, serta kedudukan beliau, semakin besar pula kecintaannya kepada Rasulullah ﷺ, dan semakin kuat pula keterikatannya dengan pribadi Nabi yang agung ini.
So the more the Muslim’s knowledge of the Qur’an increases, the more his conviction that this Qur’an is not from anyone other than Allah increases, and hence his conviction that Muhammad is the Messenger of Allah also increases. Similarly, as he contemplates the Sirah of the Rasool of Allah , his life, the suffering he underwent in the Path of Allah and his position, the greater his love for the Rasool of Allah , and his attachment to the personality of this great Prophet increases.
Akibatnya, usahanya untuk taat kepadanya dan memikul kepedulian yang sama seperti yang dipikul oleh Rasul Allah ﷺ sepanjang hidupnya juga bertambah.
Consequently his endeavour to obey him and carry the same concern the Rasool of Allah carried thoughout his life also increases.
Demikian pula halnya dengan iman kepada Hari Akhir. Ketika seorang Muslim merenungkan lebih dalam keadaan Hari Kiamat, yang membuat anak-anak beruban, setiap ibu yang menyusui lalai dari susuannya, setiap wanita hamil menggugurkan kandungannya, dan manusia tampak seperti orang mabuk karena ketakutan atas apa yang sedang terjadi; pemandangan yang tak tampak ini, yang telah Allah beritahukan kepadanya, membuatnya gentar, dan akibatnya ia ingin menghindari kengerian hari itu sehingga ia mencari sarana keselamatan pada hari tersebut. Semakin seorang mukmin merenungkan ayat-ayat dan hadits-hadits yang berbicara tentang Jannah dan apa yang telah Allah siapkan bagi orang-orang beriman berupa kenyamanan yang abadi dan kebahagiaan yang kekal, maka semakin kecil kesenangan dunia di matanya dan semakin besar kerinduannya kepada Surga yang luhur itu. Demikian pula, semakin seorang mukmin merenungkan ayat-ayat dan hadits-hadits mengenai Neraka dan apa yang telah Allah siapkan bagi orang-orang kafir dan pendosa berupa siksa yang pedih dan api yang kekal, maka semakin besar rasa takutnya terhadap siksaan tersebut. Karena itu, rasa takut terhadap hukuman dan penderitaan dunia menjadi kecil di matanya, sehingga ia mulai menghindari sebab-sebab yang menjerumuskan seseorang ke dalam Neraka, meskipun hal itu bisa membawanya ke penjara para zalim (penindas) dan membuat punggungnya dipukul dengan cambuk mereka. Dengan demikian, ketika hati terikat kuat pada iman, maka anggota tubuhnya merespons kepada Allah dengan ketaatan yang penuh kesadaran dan komitmen yang kuat. Semakin Akhirat menjadi nyata di mata seorang mukmin, semakin dunia tampak tidak berarti baginya. Ketika iman menjadi semakin kuat, maka keteguhan dalam berpegang teguh pun ikut menguat, dan hal itu menopang sang mukmin untuk tetap teguh dalam ucapan dan perbuatannya, betapa pun berat cobaan dan kesulitan yang ia hadapi.
The same holds for the belief in the Last Day.When the Muslim thinks more about the conditions of the Day of Judgement, which makes children grey headed, every nursing mother forget her nursing, every pregnant one drop her burden, and the people look as if they are drunk from the fear of what is taking place; this unseen scene which Allah has informed him about terrifies him, and as a consequence he wants to avoid the terror of that day and thus seeks the means of safety on that day. The more the believer contemplates the ayaat and ahadith which talk about Jannah and what Allah has prepared for the believers in terms of the lasting comfort and eternal happiness, then the smaller the delight of the dunya becomes in his eyes and his yearning for that sublime Paradise increases. Also, the more the believer ponders over the ayaat and ahadith regarding the Hellfire and what Allah has prepared for the disbelievers and sinners of painful torment and the eternal fire, the greater becomes his fear of this punishment. Hence fear of life’s punishments and pains diminishes in his eyes, so he starts to avoid the reasons which lead one to enter the Hellfire, even if that led him to the prisons of the zaalimeen (oppressors) and exposed his back to be beaten by theis whips. Thus, when the heart ties itself around Imaan, then the organs of his body respond to Allah in aware obedience and strong commitment. The more the Aakhira becomes prominent in the eyes of the believer, the more the dunya seems immaterial to him. When the Imaan becomes stronger, the adherence consequently becomes stronger, and supports the believer to stay firm in his speech and action, whatever the hardships and difficulties he faces.
Iman (keyakinan) kepada Allah perlu disertai dengan penolakan (kufur) terhadap segala sesuatu yang disekutukan dengan-Nya, dalam bentuk dan rupa apa pun, baik berupa berhala maupun pemikiran. Al-Qur'an menghadapi para penyembah berhala dan para pengusung paham-paham ini.
Imaan (belief) in Allah needs to be accompanied by rejection (kufr) of all other rivals, whatever forms and images they may take, whether they are idols or thoughts. The Qur’an confronted the idol worshippers, and the carriers of these concepts:
“Ibrahim berkata: ‘Apakah kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?’ Padahal Allah-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat” [TMQ 37:95-96]; Dia berfirman: “Maka apakah kalian telah memikirkan Al-Lat dan Al-‘Uzza, dan Manat, yang ketiga itu?
“He said: ‘Do you worship that which you (yourselves) carve?’ And Allah has created you and what you make” [TMQ 37:95-96]; He said; “Have you then considered al-Laat and al-’Uzza, and Manaat, the other third?
Apakah untuk-Nya anak perempuan, dan untuk kamu anak laki-laki? Itu sungguh pembagian yang sangat tidak adil!" [QS. 53:19-22]; dan Dia berfirman: "Dan mereka berkata: 'Tidak ada kehidupan selain kehidupan dunia ini. Kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain ad-Dahr (waktu).' Dan mereka tidak memiliki pengetahuan tentang hal itu, mereka hanya menduga-duga. Dan apabila ayat-ayat Kami yang jelas dibacakan kepada mereka, maka argumen mereka tidak lain hanya mereka katakan: 'Bawalah kembali nenek moyang kami (yang telah mati) jika kamu orang-orang yang benar!' Katakanlah: 'Allah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian Dia akan mengumpulkan kamu pada Hari Kiamat, yang tidak ada keraguan padanya. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.'" [QS. 45:24-26] Maka keimanan kepada selain Allah adalah batil. Ia harus ditinggalkan dan ditolak. Sebagaimana iman memerlukan pemikiran dan perenungan, demikian pula kufur juga memerlukan pemikiran dan perenungan. Ayat-ayat sebelumnya mendorong akal manusia untuk berpikir, dan meminta mereka merenungkan hakikat keyakinan orang-orang kafir agar mereka memperoleh keyakinan bahwa semua itu batil, dan agar mereka benar-benar menolak Thaghut. Dia berfirman: "Barangsiapa ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kokoh yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." [QS. 2:256]. Sebagaimana pemikiran dan perenungan merupakan sarana untuk beriman kepada Allah , demikian pula ia menjadi sarana untuk menolak Thaghut. Keduanya diwajibkan atas seorang Muslim agar ia dapat berpegang pada tali yang kokoh dan memperoleh petunjuk yang benar.
Is it for you the males and for Him females? That indeed is a division most Unfair!” [TMQ 53:19-22]; and He said; “And they say: ‘There is nothing but our life of this world, we die and we live and nothing destroys us except ad-Dahr (time).’ And they have no knowledge of it, they only conjecture. And when Our Clear Verses are recited to them, their argument is no other than that they say: ‘Bring back our (dead) fathers, if you are truthful!’ Say (to them): ‘Allah gives you life, then causes you to die, then He will assemble you on the Day of Resurrection, about which there is no doubt. But most of mankind know not.’” [TMQ 45:24-26] So the Imaan (belief) in other than Allah is false. It must be discarded and rejected. Just as Imaan requires thought and contemplation, likewise Kufr as well requires thought and contemplation. The previous ayaat motivate the minds of men to think, and ask them to contemplate the reality of the beliefs of the Kuffar so that they gain certainty that these are all false, and so that they can truly reject the Taghut. He said; “Whoever disbelieves in Taghut and believes in Allah, then he has grasped the most trustworthy handhold that will never break. And Allah is All-Hearer, All- Knower.” [TMQ 2:256]. Just as thought and contemplation is a means to believe in Allah , likewise it is also a means to reject Taghut. Both are required from the Muslim so that he can grasp the firm handle and obtain the correct guidance.
Iman ini, yang wajib dimiliki setiap Muslim, membuatnya berkomitmen padanya.
This Imaan, required from every Muslim, makes him committed to it.
Barangsiapa beriman kepada Allah dan menolak segala yang batil, ia akan mendapati dirinya condong kepada Ilaah (Tuhan) yang agung ini, Sang Pencipta, al-Qadeer (Yang Maha Kuasa). Dengan demikian, ia mencintai-Nya, takut kepada-Nya, mengharapkan Rahmat-Nya, dan beribadah kepada-Nya. T h e i m p o r t a n c e o f I m a a n i n c o n v e y i n g t h e d a ’ w a h u 4 1
Whosoever believes in Allah and discards all that is false, will find himself leaning towards this great Ilaah (God), the Creator, al-Qadeer (the All-Able). Thus, he loves Him, fears Him, desires His Mercy, worships T h e i m p o r t a n c e o f I m a a n i n c o n v e y i n g t h e d a ’ w a h u 4 1
Dia dan mengikuti perintah-perintah-Nya. Hal ini menumbuhkan pada diri seorang Muslim kecintaan terhadap apa yang dicintai Allah , dan kebencian terhadap apa yang dibenci Allah . Seorang Muslim dalam hidupnya kemudian akan kembali kepada Allah untuk bersyukur atas apa yang Dia karuniakan kepadanya, dan atas nikmat yang Dia limpahkan kepadanya. Mengapa ia tidak melakukannya, setelah menyadari bahwa dirinya lemah dan tidak mampu, serta membutuhkan Dzat yang mengatur urusannya? Seandainya bukan karena Allah , ia tidak akan mendapat petunjuk, ia tidak akan berada di atas jalan yang benar, dan urusannya tidak akan menjadi baik. Dengan demikian, dengan mengikuti perintah Allah ia menjalani hidup yang baik, dan dengan berpaling dari zikir kepada Allah ia menjalani hidup yang sengsara dan celaka, serta kehilangan dunia dan akhirat. Maka, iman pasti mendorong kepada ketaatan dan takwa. Hal ini membuat setiap Muslim menghadap kepada Sang Pencipta untuk beribadah dan taat kepada-Nya, menjauhi segala sesuatu yang membuat-Nya murka, dan membuatnya bersemangat untuk melakukan apa pun yang akan mendatangkan keridhaan-Nya. Lalu, apa yang mendatangkan keridhaan Allah dan apa yang membuat-Nya murka? Sesungguhnya yang mendatangkan keridhaan Allah adalah ketaatan kepada-Nya, yang diwujudkan melalui berbagai ma'ruf (kebaikan) yang ditetapkan oleh Asy-Syari' (Pembuat Syariat) bagi kaum Muslimin dan yang Dia perintahkan untuk mereka laksanakan. Yang membuat Allah murka adalah kemaksiatan, yang diwujudkan melalui berbagai munkar (kemungkaran) yang juga ditetapkan oleh Asy-Syari', dan Dia perintahkan mereka untuk menjauhinya.
Him and follows His orders. This generates in the Muslim the love of what Allah lives, and the hatred of what Allah hates. The Muslim in his life would then turn to Allah to thank Him for what He bestowed upon him, and the grace that He brought upon him. Why would he not do so, having realised that he is weak and incapable, in need of the One who manages his affairs? If it was not for Allah , he would not have been guided, he would not have upon the right path, and his affairs would not have been good. Thus, by following the order of Allah he lives a good life, and by turning away from the zikr of Allah he lives a miserable and wretched life, and he loses this world and the Hereafter. Thus, Imaan inevitably drives towards compliance and taqwa. This makes every Muslim turn to the Creator to worship Him and obey Him, abstain from anything which angers Him, and makes him eager to do whatever will please Him. So what pleases Allah and what angers Him? Indeed, what pleases Allah is the obedience to Him, which is through the many ma’roofaat the Legislator determined for the Muslims and ordered them to comply with. What angers Allah is disobedience, which is through the many munkaraat the Legislator also determined, and ordered them to abstain from.