7.1 Pentingnya Aqidah
7.1 The Importance Of The ‘aqeedah
Karena Akidah Islam merupakan motivasi bagi kerja kelompok atau partai, dan menegakkan hukum dengan apa yang telah diturunkan Allah (SWT) merupakan tujuannya, maka wajib bahwa budaya yang telah diadopsi oleh kelompok tersebut diambil dengan cara yang mengaitkannya secara kuat dengan Akidah.
Since the Islamic ‘Aqeedah is the incentive for the work of the group or party, and since establishing the ruling by what Allah has revealed is the objective, then it is obligatory that the culture, which has been adopted by the group, is taken in a way that firmly links it to the ‘Aqeedah.
Tujuannya adalah menumbuhkan rasa tanggung jawab, kepedulian, kesungguhan, semangat yang menyala-nyala, kegigihan, dan kesiapan untuk berkorban di kalangan mereka yang sedang bekerja. Hal ini juga akan memungkinkan seorang Muslim untuk menanggung kesulitan dan rintangan di jalan ini. Hal ini membuat pengemban dakwah tidak menunggu orang lain berterima kasih kepadanya. Sebaliknya, ia takut kepada Tuhannya dan kepada Hari ketika wajah-wajah muram karena kecemasan. Ia menerima beratnya pekerjaan di dunia dan terhalang dari kesenangan dan kenikmatan dunia, semata-mata untuk meraih keridaan Tuhannya dan menikmati kebahagiaan serta kenikmatan akhirat. Tujuan menjadikan 'Aqidah sebagai dasar pembentukan budaya adalah untuk menggunakan 'Aqidah sebagai landasan dalam memulai perubahan pada manusia, bukan kebencian terhadap kezaliman yang menimpa mereka, pembebasan dari kebodohan, atau perbaikan keadaan. Justru yang mendorong seorang Muslim untuk berdakwah dan membuat Muslim lainnya menerimanya adalah pemikiran keimanan, dan inilah cara yang asli dalam Islam.
The purpose is to create a sense of responsibility, concern, seriousness, blazing passion, zeal and readiness to sacrifice, amongst those who are working. It will also enable the Muslim to bear the hardships and difficulties of the path. It will make the da’wah carrier not wait for the people to thank him. Rather he would fear his Lord , and a Day when faces shall frown from worry. He will accept the hardship of the worldly work and being deprived of the joys and pleasures of the dunya, just to attain the good pleasure of his Lord, and to enjoy the bliss and happiness of the Aakhirah. The purpose of making the adoption of the ‘Aqeedah the basis of the culture is to use the ‘Aqeedah as the basis of initiating change in the people, and not the hatred of the injustice that falls upon them, the liberation from ignorance or the improvement of the circumstances. Rather what pushes the Muslim to do the da’wah and makes the other Muslims accept it is the thoughts of the Imaan, and this is the original way in Islam.
Selain itu, pemikiran-pemikiran Iman (yang dijadikan dasar bagi budaya perubahan) beserta budayanya harus disampaikan dengan cara yang bertujuan untuk mencapai tujuan tersebut.
Moreover, the thoughts of Imaan (that are taken as the basis for the culture of change) together with the culture, must be given in a manner that aims towards achieving the objective.
Akidah harus disampaikan dengan cara yang membantu terwujudnya tujuan ini.
The ‘Aqeedah must be given in manner that aids the realisation of this objective.
Hukum-hukum syar'i yang diadopsi harus disampaikan dengan cara yang menunjukkan tujuan diberikannya hukum-hukum tersebut.
The adopted Shar’ee rules must be given in a manner that shows the aim of giving them.
Kajian tentang hakikat (realitas) harus disampaikan dengan cara yang juga mendukung terwujudnya tujuan tersebut.
The study of the reality must be given in a manner that serves the realisation of the aim as well.
Singkatnya, budaya partai harus dikaitkan dengan 'Aqidah Islam. Budaya itu harus didukung oleh dalil-dalil Syar'i, dan disampaikan dari sudut pandang yang mencapai tujuan Syar'i. Inilah perwujudan penghambaan kepada Allah (SWT) secara praktis, melalui penegakan Negara Islam, yaitu perwujudan kedaulatan Allah (SWT). Para Shabab kelompok harus dibina di atas pemahaman ini.
In short, the party culture must be linked with the Islamic ‘Aqeedah. It must be supported by the Shar’ee evidences, and given from the angle that achieves the Shar’ee aim. This is the realisation of the servitude to Allah practically, via the establishment of the Islamic State, ie the realisation of the sovereignty of Allah . The Shabab of the group must be raised on this understanding.
Karena akidah Islam ibarat kepala bagi tubuh dan hati bagi anggota tubuh; karena ia adalah fondasi seluruh perkara dan segala sesuatu bergantung padanya, maka ketika diajarkan, ia seharusnya mencapai hal-hal berikut.
Since the Islamic ‘Aqeedah is like the head to the body, and the heart to the organs; since it is the foundation of the whole matter, and everything depends upon it, then when it is given it should achieve the following.
- Hal ini harus mengarah pada menjadikan Allah satu-satunya sesembahan dan sumber syariat. Tidak ada seorang pun selain Dia yang memiliki hak ini. Dia adalah satu-satunya Rabb (Tuhan Pemelihara). Dia adalah satu-satunya Khaaliq (Pencipta). Dia Maha Mengetahui, Maha Waspada, dan Pembuat Syariat, satu-satunya yang mengatur segala urusan. Karena manusia, menurut fitrahnya, merasa lemah, terbatas, membutuhkan, dan bergantung, maka ia akan kembali kepada Ilah (sesembahan) ini untuk membimbingnya ke jalan yang benar dan mengeluarkannya dari kegelapan menuju cahaya. Allah telah mengutus seorang Rasul dari kalangan hamba-hamba-Nya dan memilihnya ﷺ untuk menyampaikan risalah, dengan risalah itu Dia memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan-jalan keselamatan. Dia telah memerintahkan kita untuk mengikuti apa yang disampaikan oleh beliau ﷺ dari Tuhannya. Beliau ﷺ adalah ma'sum (terjaga dari kesalahan). Allah menurunkan Al-Qur'an kepadanya ﷺ sebagai risalah bagi seluruh umat manusia, sebagai petunjuk, cahaya, rahmat, peringatan, dan obat bagi apa yang ada di dalam hati.
- It must lead to making Allah the sole object of worship and source of legislation. No one else has this right except Him. He is the only Rabb (Lord). He is the only Khaaliq (Creator). He is the All-Knowing, All- Aware and the Legislator, the only One who manages the affairs. Since man, by his very nature feels weak, limited, needy and dependent, then he will refer to this Ilah (deity) to guide him to the correct path and bring him out from the depths of darkness into the light. Allah has sent a Messenger from amongst His servants and has chosen him to convey the Message, with which He guides those who follow His Good Pleasure in the paths of peace. He has ordered us to follow what he has conveyed to us from His Lord. He is ma’sum (infallible). Allah revealed the Qur’an to him, as a Message to the whole of mankind. As guidance, light, mercy, admonition and healing for what is in the hearts.
Dia menjanjikan mereka Kenikmatan yang kekal jika mereka beriman dan taat, dan Dia memperingatkan mereka dengan Jahannam jika mereka mengingkari. Demikianlah, manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah semata, sesuai dengan Risalah yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ.
He promised them the everlasting Bliss if they believed and obeyed and he warned them with Jahannam if they rejected. Thus, man has been created to worship Allah alone, according to the Message brought by the Messenger of Allah .
Hendaknya menjadi jelas bagi kaum Muslimin bahwa Islam mengikat manusia dengan iman terhadap apa yang ada sebelum kehidupan ini, yaitu keyakinan kepada Allah , Sang Pencipta dan Pengatur segala urusan. Islam juga mengikatnya dengan iman terhadap apa yang ada setelah kehidupan ini, yaitu keyakinan kepada ba'ath (kebangkitan), nushoor (pengumpulan), hisaab (perhitungan amal), thawaab (pahala), dan 'iqaab (siksa).
- It should be clear to the Muslims that Islam ties the human being to Imaan in what came before this life, which is the belief in Allah the Creator and Manager of affairs. It also ties him to the Imaan in what comes after life, which is the belief in the ba’ath (resurrection), nushoor (gathering), hisaab (reckoning), thawaab (reward) and ‘iqaab (punishment).
Hal ini harus disampaikan dengan cara yang menunjukkan hubungan ini. Orang yang memutus hubungan ini dan memisahkannya, ucapannya tidak akan berlandaskan pada dalil yang jelas atau otoritas yang sahih. Sebaliknya, itu akan menjadi ucapan kekufuran.
This should be given in a manner that shows this relationship. The one who severes this relationship and separates it, his words will not be based on a clear proof or authority. Rather they will be words of kufr.
Hal ini harus disampaikan dengan cara yang mengarah pada kebangkitan Ummah dan mendorongnya untuk mengemban Islam sebagai risalah kepada dunia.
- It must be given in a manner that leads to reviving the Ummah and driving her to carry Islam as a Message to the world.
Kaum Muslim harus memahami kebenarannya dalam menghadapi pemikiran kufur kontemporer. Hal ini dicapai dengan menjelaskan kebatilan pemikiran-pemikiran yang ada saat ini yang berasal dari kapitalisme, nasionalisme, atau patriotisme.
- Muslims should understand its correctness in confronting the contemporary kufr thoughts. This is achieved by clarifying the falsity of the current thoughts coming from Capitalism, nationalism or patriotism.
Hal ini dilakukan dengan membangun perbandingan intelektual antara Islam dan pemikiran-pemikiran tersebut, untuk mencapai dua hasil: pertama, membantah pemikiran-pemikiran lain beserta segala sesuatu yang dibangun di atasnya; kedua, menjelaskan bahwa Islam adalah satu-satunya kebenaran yang layak bagi seluruh dunia (karena sifat universal dari 'Aqidah dan sistemnya), kemudian menegakkan Negara tempat Islam akan diwujudkan. Kelompok ini bekerja di bidang ini untuk menghapuskan slogan-slogan, propaganda yang mencolok, dan papan reklame, serta klaim-klaim palsu yang ditanamkan di benak kaum Muslim oleh para penjajah kafir. Misalnya slogan-slogan seperti: 'kebebasan berpikir dan berbudaya', 'Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar, dan berikanlah kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan', 'Tanah airku akan selalu berada di pihak yang benar', 'Tolonglah saudaramu, baik ia zalim maupun dizalimi' (menurut konsep-konsep pra-Islam).
This is done by establishing an intellectual comparison between Islam and these thoughts, to arrive at a twofold result: firstly the refutation of the other thoughts and everything built upon them, and secondly clarifying that Islam is the only truth that is suitable for the whole world (due to the universal nature of its ‘Aqeedah and system) and then establishing the State in which Islam will be represented. The group works in this field to eliminate the slogans, flashy propaganda and billboards and the false claims placed in the minds of the Muslims by the kaafir colonialists. For example slogans such as: ‘freedom of thought and culture’, ‘Give to Caeser what belongs to Caeser and give to God what belongs to God’, ‘My homeland shall always be on the truth’, ‘Help your brother whether he is oppresser or oppressed’ (according to the pre-islamic concepts).
Pengaruh pemikiran Barat harus dihilangkan dari benak kaum Muslimin dan dari kehidupan mereka. Hal ini dilakukan dengan membantah pemikiran-pemikiran yang didasarkan pada gagasan-gagasan seperti 'mengembangkan Syariah', 'memodernisasi Syariah', 'fleksibilitas Syariah dalam memenuhi kebutuhan zaman' (menurut konsep Barat), dan 'pemisahan agama dari kehidupan', 'tidak ada politik dalam agama', 'tidak ditolak bahwa hukum berubah sesuai perubahan waktu dan tempat'. Selain menghapus semua slogan ini, kelompok tersebut berupaya menanamkan pemikiran-pemikiran alternatif, yang dibangun di atas dan bersumber dari 'Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah' ﷺ. Diketahui dalam syariat bahwa makna dari kalimat 'Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah' ﷺ tidak akan murni pada diri seseorang sebagai ilmu dan amal, hingga setiap pemikiran atau keyakinan selainnya disingkirkan. Allah ﷻ berfirman: "Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang teguh pada tali yang kokoh yang tidak akan putus." [TMQ 2:256]. Allah ﷻ menyebutkan pengingkaran terhadap Thaghut terlebih dahulu, agar tidak ada noda syirik atau kufur yang menyentuh benak, lalu keimanan datang setelahnya, murni di dalam benak, yaitu keadaan orang yang berpegang pada tali yang kokoh itu. Dia ﷻ berfirman: "Maka ketahuilah (wahai Muhammad ﷺ) bahwa tidak ada tuhan selain Allah." [TMQ 47:19].
The effect of the western thought must be removed from the minds of the Muslims and from their life. This is done by refuting the thoughts based on ideas such as ‘developing the Sharee’ah’, ‘modernising the Sharee’ah’, ‘flexibility of the Sharee’ah in meeting the needs of the age’ (according to the western concept), and ‘separation of deen from life’, ‘there is no politics in the deen’, ‘It is not rejected that rules change according to the change of the time and place.’ In addition to eliminating all of these slogans, the group works to implant the alternative thoughts, which are built upon and emanate from ‘There is no god but Allah and Muhammad is the Messenger of Allah.’ It is known in the Shar’a that the meaning of the words, ‘There is no god but Allah and Muhammad is the Messenger of Allah’, will not be pure in a person as knowledge and action, until every thought or belief other than it is discarded. He says; “Whosoever disbelieves in Taghut and believes in Allah, then he has grasped the most trustworthy handhold that will never break.” [TMQ 2:256]. Allah mentioned the disbelief in Taghut first, so that no shirk or kufr stain can touch the mind, and Imaan comes after that, pure in the mind, which is the situation of someone who holds onto the trustworthy handhold. He said; “So know (O Muhammad ) that there is no god but Allah.” [TMQ 47:19].
Jadi "tiada tuhan" berarti, setelah mempelajari dan merenungkan, seseorang memperoleh pengetahuan bahwa tidak ada tuhan yang ada sebagai tuhan sehingga layak disembah. Dan firman-Nya:
So ‘there is no god’ means, after study and thought, one acquires the knowledge that there is no god existing as a god who consequently deserves worship. And His saying:
‘lā ilāha illallāh’ menegaskan ketuhanan Allah . Ia meniadakan ketuhanan bagi selain-Nya, dan menetapkan ketuhanan itu hanya untuk Allah . Ini adalah bentuk penegasan yang paling kuat dalam bahasa Arab, dan ia memberikan makna pembatasan.
‘but Allah’ affirms the deity of Allah . It negates the deity to anyone else, and establishes it for Allah . This is the strongest type of affirmation in the Arabic language and it gives the meaning of restriction.
Dengan demikian, tidak pula pemikiran sosialisme, nasionalisme, atau patriotisme yang akan menyelamatkan kita, dan hal itu pun tidak benar. Bahkan semuanya rusak dan keliru. Pemikiran-pemikiran tersebut mendatangkan kesengsaraan bagi manusia dan tidak mampu menjamin kebahagiaannya. Tidak ada petunjuk, cahaya, maupun penyembuh selain din dan Syari'at Allah (SWT).
Thus, neither the thought of socialism, nationalism or patriotism will save us, nor is it correct. Rather they are corrupt and false. They cause misery for man and cannot ensure his happiness. There can be no guidance, light or healing other than the deen and Shar’a of Allah .
Kelompok tersebut kemudian melanjutkan dengan membina pribadi-pribadi anggotanya dan membentuk kepribadian Islam mereka, yaitu dengan memberi mereka kriteria Islam yang benar serta menanamkan dalam diri mereka cinta untuk berpegang teguh pada Syariat dan benci terhadap segala hal yang bertentangan dengannya, serta cinta untuk merujuk kepadanya dalam mengambil keputusan dan benci untuk merujuk kepada selainnya. Akibatnya, pemahaman mereka terhadap berbagai perkara dikendalikan oleh kriteria dan pemikiran Syariat, dan kecenderungan mereka mengikuti Islam sebagaimana ia menetapkan. Dengan demikian, mereka menyukai apa yang disukai Islam dan membenci apa yang dibenci Islam.
The group proceeds to build its individuals and form their Islamic personality, by giving them the correct Islamic criteria and filling them with the love to adhere to the Shar’a and hatred of whatever contradicts it, and the love to refer to it for judgement and the hatred of referring to anything other than it. As a result, their understanding of things becomes governed by the criteria and thoughts of the Shar’a, and their inclinations follow Islam, the way it decides. Thus they like what Islam likes and hate what Islam hates.
Kelompok ini kemudian memusatkan budaya ini di kalangan Shabab-nya melalui halaqah-halaqah yang terpusat, yang tujuannya adalah mempersiapkan Shabab untuk kepemimpinan dan melaksanakan kerja dakwah setelah mengamalkannya dalam kenyataan, agar mereka dapat meyakinkan masyarakat untuk menerimanya. Kelompok ini memahami realitas dengan menggunakan akal, dan menjelaskan kepada Shabab proses intelektual yang melaluinya kelompok ini sampai pada definisinya tentang akal.
The group proceeds to concentrate this culture in its Shabab via concentrated circles, whose purpose is to prepare the Shabab for leadership and undertake the work of the da’wah after carrying it in reality in order to convince the people of adopting it. The group would understand the reality using the mind, and explain to the Shabab the intellectual process through which it arrived at its definition of the mind.
Ini akan menjadi panduan bagi mereka dalam menyikapi realitas, dan dalam mencapai seperangkat definisi intelektual yang merupakan penjelasan tentang realitas dan merupakan manaat (objek/ruang lingkup) yang padanya berlaku hukum-hukum syar'i. Ketika kelompok ini mendefinisikan akal, naluri, kebutuhan jasmani (organik), kebangkitan, masyarakat, serta budaya dan peradaban, ia mendefinisikannya karena kelompok itu perlu memahami realitasnya, dan karena banyak hukum syar'i berkaitan dengan hal-hal tersebut.
This would serve as a guide for them regarding how to deal with reality, and how to arrive at a set of intellectual definitions that are explanations of reality and are the Manaat to which the shar’ai rules apply. When the group defines the mind, instincts, organic needs, revival, society, and culture and civilisation, it defines them because the group needs to understand their reality, and because many Shar’ee rules are related to these things.
Kelompok kemudian melanjutkan dengan menggali hukum-hukum syar'i melalui dalil-dalil syar'i. Kelompok akan menyimpulkan hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan atau memberikan solusi bagi realitas. Hal ini mengharuskan kelompok untuk menguasai seluruh disiplin ilmu yang memungkinkannya memahami nash-nash syar'i, dan melalui itu mereka akan sampai pada pemahaman tentang hukum-hukum Allah سبحانه وتعالى yang diperlukan oleh kelompok. Kelompok harus melaksanakan metode istidlal (penarikan kesimpulan hukum) secara terbuka agar dapat dilihat oleh para Shabab dan kaum Muslimin, sehingga hal itu mengajarkan mereka tentang metode tersebut dan membentuk di dalam benak mereka metode Islam yang benar dalam memahami syariat dan menggali hukum-hukumnya.
The group proceeds to derive the Shar’ee rules via the Shar’ee evidences. It will deduce those things that relate to the problem or provide solutions for the reality. This requires that the group adopt all the disciplines that will enable it to understand the Shar’ee texts, and through which they would reach an understanding of the rules of Allah that were necessary for the group. The group must conduct the method of istidlaal (deduction) openly for the Shabab and Muslim to see, so that it teaches them about it and builds the correct Islamic method of understanding the Shar’a and deducing its rules in their minds.
Kelompok harus berusaha, ketika menyampaikan budaya yang diadopsi ini kepada para Shabab, untuk tetap berpegang pada aspek praktis, yang merupakan tujuannya. Sebab budaya ini bukan untuk tujuan pengetahuan, menambah informasi, atau membuat para shabab mencapai tingkat akademis yang kokoh. Sebaliknya, budaya ini ada untuk melahirkan perjuangan intelektual dan politik, dan untuk disampaikan sebagai kepemimpinan intelektual di tengah Ummah guna mendirikan sebuah entitas yang mewakilinya.
The group must strive, when giving this adopted culture to its Shabab, to adhere to the practical aspect, which is the aim. For this culture is not for the purpose of knowledge, increasing information or to make the shabab attain a solid academic level. Rather, it is there to generate an intellectual and political struggle, and to be conveyed as an intellectual leadership in the Ummah to establish an entity that represents her.
Kelompok tersebut harus berusaha merepresentasikan budaya ini secara praktis dan tepat. Kelompok tidak boleh mengatakan satu hal namun melakukan hal yang lain. Sangat besar kemurkaan Allah (SWT) jika kelompok mengajarkan kebenaran lalu bertindak bertentangan dengannya.
The group must endeavour to represent this culture in a practical and precise manner. It should not say one thing and do another. It would anger Allah greatly if the group taught the truth and then acted contrary to it.
Sesungguhnya kelompok ini harus mengadopsi budaya tersebut, membina para Shabab-nya di atasnya, sehingga budaya itu tertanam kokoh dalam benak mereka.
Indeed, the group must adopt this culture and build its Shabab and establish them upon it, such that it becomes consolidated in their minds.
Selanjutnya, kelompok itu menyampaikan pemikiran-pemikiran mendasar Islam kepada Ummah dengan cara yang menghasilkan ra'i 'aamm (opini umum) terhadap fikrah (gagasan), yang bersumber dari wa'i 'aamm (kesadaran umum) tentangnya. Dengan demikian, kelompok itu menyampaikan pemikiran-pemikiran 'Aqeedah dan hukum-hukum Shar'ee yang pokok kepada Ummah, dengan cara yang mempersatukan Ummah pada satu tujuan, yaitu tegaknya kedaulatan Shari'ah Allah (SWT). Dengan cara ini, Ummah akan memperoleh orientasi yang benar, dan hal itu dianggap sebagai awal kembalinya kepribadian Ummah yang telah lama hilang darinya.
Thereafter, the group takes the fundamental thoughts of Islam and gives them to the Ummah in a manner that produces the ra’i ‘aamm (public opinion) for the fikrah (idea), which emanates from the wa’i ‘aamm (general awareness) about it. Thus, it takes the thoughts of the ‘Aqeedah and principle Shar’ee rules to the Ummah, in a manner that unites the Ummah on one objective, which is the sovereignty of the Sharee’ah of Allah . In this manner the Ummah will acquire the correct orientation, and that is considered the beginning of the return of her personality, which she had lost a long time ago.
Pemikiran-pemikiran mendasar ini dan kaidah-kaidah Syar'i ini adalah pemikiran yang mengarahkan untuk menetapkan hukum dan ibadah hanya kepada Allah ﷻ, serta menetapkan hak untuk diteladani hanya kepada Rasulullah ﷺ. Dasar-dasar ini membuat manusia rindu kepada Surga dan takut kepada Neraka, serta membuat manusia memahami bahwa upaya menegakkan Negara Islam merupakan salah satu kewajiban terpenting dalam Islam, karena banyak perkara fardhu bergantung padanya. Dasar-dasar ini membuat umat memahami bahwa mereka adalah satu umat dengan mengecualikan semua bangsa lain, dan tidak ada ras maupun sistem pemerintahan yang memisahkan mereka. Kaum Muslimin adalah satu persaudaraan, dan tidak ada ikatan kebangsaan atau patriotik yang akan memisahkan mereka. Mengabaikan Syari'at Allah itulah yang menyebabkan kehinaan dan kenistaan kaum Muslimin. Kaum Muslimin harus berpegang teguh pada Syari'at Tuhan mereka; mereka tidak boleh melakukan suatu perbuatan kecuali setelah mengetahui dalil atasnya.
These fundamental thoughts, and principle Shar’ee rules are thoughts that lead to assigning the legislation and worship to Allah alone, and assigning the right to be emulated to the Messenger alone. These fundamentals make the people yearn for the Paradise and fear the Fire, and make the people understand that the work to establish the Islamic State is one of the most important obligations in Islam, owing to the fact that many fara’id depend on it. They make the Ummah understand that they are one Ummah to the exclusion of all other people, and neither race nor regime separates them. The Muslims are one brotherhood and no nationalistic or patriotic bond shall separate them. Neglect of Allah’s Shar’a is what has caused the Muslims’ humiliation and disgrace. The Muslims must adhere to the Shar’a of their Lord; they should not do an action except after knowing the evidence for it.
Pemikiran-pemikiran seperti ini menyiapkan lahan subur tempat tumbuh dan berbuahnya hukum-hukum Islam.
Such thoughts prepare the fertile ground on which the rules of Islam will grow and bear fruit.
Segala yang telah kami sebutkan harus tercakup dalam budaya kelompok ini. Perhatian kami adalah mengembangkan cara yang benar—yang telah diperintahkan oleh Syariat—untuk menguraikan budaya, serta landasan yang menjadi dasar diadopsinya budaya tersebut.
Everything we have mentioned must be included in the culture of this group. Our concern is to develop the sound way—which has been ordered by the Shar’a—to outline the culture, and the basis upon which the culture is adopted.
Kelompok ini akan memiliki kumpulan besar pemikiran, pendapat, dan hukum-hukum Syar'i yang diperlukan agar kelompok dapat terjun ke dalam perjuangan intelektual dan pergolakan politik, serta untuk menumbuhkan budaya yang terpadu pada mereka yang akan memikul tanggung jawab dakwah. Pemikiran-pemikiran ini juga diperlukan untuk membentuk opini publik di tengah Ummah, sehingga Ummah akan menerima fikrah (ide) yang menjadi landasan berdirinya kelompok ini.
The group will have the great mass of thoughts, opinions and Shar’ee rules, that are necessary for the group to plunge into the intellectual struggle and political strife, and to generate the concentrated culture in those who will bear the responsibility of the da’wah. These thoughts are also necessary to produce the public opinion in the Ummah. That will make her accept the fikrah (idea) upon which the group is established.
Ini adalah kerangka yang harus dipegang teguh oleh kelompok tersebut. Jika kelompok ini berhasil merumuskannya, maka kelompok itu tidak akan dirugikan apabila setelahnya ia keliru dalam sebagian kaidah-kaidah cabang, atau berbeda pendapat dengan kelompok lain atau mereka berbeda pendapat dengannya. Hal ini merupakan perkara yang tak terelakkan dan tidak dapat dihindari.
This is the framework to which the group must adhere. If the group succeeded in outlining it, then the group would not be harmed if afterwards it made a mistake in some of the peripheral rules, or it disagreed with other groups or they disagreed with her. This is an inevitable and unavoidable matter.
Ini adalah budaya yang dibutuhkan kelompok ini untuk mencapai tujuannya, yaitu menegakkan kedaulatan Syari'at Allah (SWT) dan menyebarkan dakwah ke seluruh dunia. Sesungguhnya Allah (SWT) adalah Dzat yang memberikan keberhasilan.
This is the culture that the group requires to acheive its goal, which is making the sovereignty for the Shar’a of Allah and spreading the da’wah to the rest of the world. Indeed, Allah is the one who grants the success.