11. Berpegang pada Ideologi sebagai Pemikiran dan Metode
11. Adhering To The Ideology As A Thought And Method
Ketika kaum Kafir Barat berhasil memaksakan cara hidup mereka sebagai jalan yang harus diikuti oleh manusia, kaum Muslim hidup dalam kondisi intelektual, sosial, ekonomi, dan politik yang tidak membuat siapa pun iri. Kaum Muslim hidup menurut pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan 'Aqidah mereka. Akibatnya, mereka kehilangan orientasi yang benar dan kepribadian mereka ketika mereka berusaha mendamaikan pemikiran mereka, yang bersumber dari 'Aqidah mereka, dengan pemikiran Barat tentang kehidupan, yang bersumber dari pemikiran asing yang tidak diterima oleh Ummat. Kebatilan ini merasuki benak mereka karena kebodohan mereka dan ketidakmampuan mereka untuk memahami persoalan dari landasannya. Mereka mendamaikan hal-hal yang tidak dapat didamaikan, antara Islam dan apa yang bertentangan dengannya. Mereka menjadikan manfaat yang dirasakan sebagai tujuan Syari'ah. Mereka puas menerima tafsir apa pun dan membenarkan rekayasa apa pun. Akibatnya, kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat menjadi penuh dengan pertentangan. Kekuatan-kekuatan politik berupaya keras untuk memusatkan pemikiran-pemikiran asing ini dengan mengorbankan pemikiran asli kaum Muslim.
When the Kaafir West managed to impose its way of life as the way that people should follow, the Muslims lived through intellectual, social, economic and political conditions that were the envy of none. The Muslims lived according to thoughts that contradicted their ‘Aqeedah. Hence, they lost the correct orientation and their personality when they tried to reconcile their thoughts, that emanate from their ‘Aqeedah, with the western thoughts about life, which emanate from a foreign thought that the Ummah did not accept. This falsehood penetrated their minds owing to their ignorance, and inability to take matters from their foundations. They reconciled the irreconcilable, between Islam and that which contradicted it. They made perceived benefit the goal of the Sharee’ah. They were content to accept any interpretation and justify any fabrication. Owing to this, the economic and social life of the people became full of contradictions. The political forces were intent on concentrating these foreign thoughts at the expense of the original thought of the Muslims.
Di bawah naungan keadaan yang sangat buruk inilah kelompok-kelompok dan partai-partai Islam mulai bermunculan, untuk menghadapi gelombang pemikiran dan konsep yang keliru, emosi yang menyimpang, serta keadaan politik yang dibentuk oleh orang asing.
It was in the shade of this very bad situation that Islamic groups and parties started to emerge, in order to face these hordes of erroneous thoughts and concepts, deviant emotions, and political circumstances shaped by the foreigner.
Partai atau kelompok itu seharusnya memiliki penawar atau salep penyembuh. Mereka seharusnya menarik garis lurus yang harus diikuti oleh manusia di bawah bimbingannya, bersama garis bengkok yang apinya akan membakar manusia. Mereka seharusnya berkata kepada manusia: "Dan sesungguhnya inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya." [QS. Al-An'am: 153] Partai atau kelompok itu seharusnya memiliki sifat-sifat yang memungkinkannya mencapai tujuan. Sifat-sifat tersebut adalah kejernihan pemikiran, kemauan untuk mencapai tujuan, mempersiapkan kumpulan orang yang sadar, mempersiapkan Ummat, dan kepatuhan terhadap aturan metode.
The party or group was supposed to have the antidote or the healing balm. They were supposed to draw out the straight line that the people should follow under its guidance, alongside the crooked line whose fire will burn the people. They were supposed to say to the people; “And Verily, this is my Straight path, so follow it, and follow not (other) paths, for they will separate you away from His Path.” [TMQ 6:153] The group or party was supposed to have qualities that would enable it to achieve the aim. These qualitites are the clarity of thought, the will to achieve the aim, preparing an aware collection of people, preparing the Ummah and adherence to the rules of the method.
Dari segi gagasan, ia seharusnya menempati posisi tertinggi dalam kelompok. Menurut pandangan kelompok, gagasan itu adalah kebenaran, yang harus dituju oleh semua orang, dan ia adalah petunjuk yang menerangi jalan bagi umat manusia. Ia adalah rahmat yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Ia adalah cahaya yang mengeluarkan umat manusia dari kegelapan hawa nafsu. Ia adalah gagasan yang sesuai dengan manusia, selaras dengan fitrahnya, meyakinkan akalnya, dan memberikan ketenangan bagi hatinya. Ia adalah gagasan yang memberi kebahagiaan dalam hidup dan menumbuhkan harapan. Ia memiliki kedalaman dan kelengkapan yang membuatnya mampu menjawab seluruh pertanyaan manusia tentang kehidupan yang ia jalani, serta menghubungkannya dengan tepat dengan apa yang ada sebelum kehidupan dan apa yang akan datang setelahnya. Ia menghubungkannya dengan benar kepada Penciptanya, sehingga ia memahami tujuannya dan membawanya kepada kebahagiaan hingga akhir.
In terms of the idea, it is supposed to assume the highest position in the group. In the view of the group, the idea is the truth, which all the people should turn to, and it is the guidance that lights the path for mankind. It is the gifted mercy from Allah to His servants. It is the light that takes mankind out of the darkness of desire. It is the one that fits man, agrees with his natural disposition, convinces his mind and gives his heart tranquillity. It is the one that gives happiness to life and creates hope. It has the depth and comprehensiveness that makes it capable of answering all of man’s questions about the life that he lives, and links him properly with what is before life and what is to come after it. It links him correctly with his Creator, such that he understands his objective and brings him happiness until the end.
Kelompok atau golongan yang meyakini gagasan ini juga berpendapat bahwa ketika gagasan itu tidak berlaku, kemungkaran dan kebatilan akan menyebar dengan bebas; hawa nafsu akan diikuti, kezaliman akan terjadi, dan kegelapan akan merebak. Kehidupan yang sempit dan sulit akan membuat masyarakat tidak bisa tidur nyenyak, sehingga kalian tidak akan pernah melihat mereka merasa puas. Fitrah mereka pun tidak akan tenang, dan pikiran mereka tidak akan berada dalam keadaan merenung.
The group or party that believes in this idea, also believes that when it is not prevalent, that munkar and falsehood will spread freely; whims will be followed, oppression will occur, and darkness will spread. A narrow difficult life will leave the people sleepless, so you will never see them contented. Neither will their nature be at ease or their minds in a state of contemplation.
Masalah utama yang harus diperhatikan oleh kelompok adalah mencapai Fikrah (gagasan), yang akan menjadi ruh dan alasan keberadaannya.
The foremost issue that the group must be concerned with is to arrive at the Fikrah (idea), which will form its spirit and reason for its existence.
Ia akan menjaganya, memelihara kemurniannya, dan menyingkirkan apa pun yang bukan berasal darinya. Ia tidak akan membiarkannya bercampur dengan pemikiran asing, dan ia tidak akan menentukan sikapnya terhadap seruan-seruan dan gagasan-gagasan lain yang diajukan atas dasar yang asing. Mungkin kemurnian gagasan ini menuntut kejelasan wawasan bagi kelompok tersebut. Kejelasan wawasan itu akan diperoleh dengan memahami hukum syar'i melalui istinbath yang benar, dan hukum tersebut harus berlandaskan Aqidah Islam.
It will look after it, preserve its purity, and remove anything that is not from it. It will not allow it to be mixed with foreign thoughts and it will not decide its position regarding other calls and ideas proposed on a foreign basis. Perhaps the purity of the idea requires clarity of vision for the group. The clarity of vision will be by understanding the Shar’ee rule via a correct deduction, and the rule should be based on the Islamic ‘Aqeedah.
Ketika gagasan itu kehilangan kejernihan, kemurnian, kristalisasi, dan kekhasannya, ia akan kehilangan karakter istimewanya, dan tidak lagi menjadi cahaya, petunjuk, atau rahmat yang dianugerahkan. Ia akan kehilangan alasan keberadaannya dan menjadi seperti gerakan-gerakan lain: kalah di hadapan realitas, yang justru memengaruhinya alih-alih ia memengaruhi realitas, dan yang membentuknya alih-alih ia membentuk realitas menjadi sebagaimana seharusnya.
When the idea loses its clarity, purity, crystallisation and distinctness, it would have lost its special character, and it will no longer be the light, guidance or the gifted mercy. It would have lost its reason for existence and become like the other movements; defeated in the face of the reality, which could affect it instead of it affecting the reality, and reshaping it instead of it reshaping the reality into what it should be.
Semakin gagasan itu terbentuk dengan kokoh dalam benak para pengikutnya, semakin kokoh pula cara penyampaiannya secara praktis. Kejelasan tujuan berasal dari kejelasan gagasan. Metode untuk mencapai tujuan tersebut terdiri dari aturan-aturan Syariat yang teratur, sebagaimana halnya aturan-aturan syar'i lainnya.
The more the idea is crystalised in the minds of its people, the more the method of delivering it practically is crystalised. The clarity of the objective comes from the clarity of the idea. The method for achieving the objective consists of regulated Sharee’ah rules, like any other Shar’ee rules.
Kelompok atau partai ideologis berpegang pada ideologinya dalam setiap keadaan. Hal itu karena fikrah ideologis mencegah orang yang meyakininya dan menyerukannya untuk mengambil apa pun dari sumber lain kecuali jika fikrah tersebut menyetujuinya. Karena merupakan gagasan yang mendasar, ia dimulai dengan mengkaji perkara-perkara dari dasarnya, dan ia memberikan jawaban yang tegas tentang makna keberadaan manusia di alam semesta ini. Setiap pemikiran cabang diambil dari pemikiran fundamental ini dan memancar darinya. Dengan demikian, pemikiran manusia tentang kehidupan, konsep-konsepnya tentang segala sesuatu, dan penilaiannya terhadap perbuatan akan semuanya sejenis dengan pemikiran fundamental tersebut.
The ideological group or party adheres to the ideology in every situation. That is because the ideological Fikrah prevents the one who has conviction in it and calls for it from taking anything from any other source unless the Fikrah approved it. Since it is a fundamental idea, it begins with the study of matters from their basis and it gives a distinct answer to the meaning of man’s existence in this universe. Every peripheral thought is taken from this fundamental thought and emanates from it. Then man’s thoughts about life, concepts about things and judgement on actions will all be of the same type as the fundamental thought.
Struktur Islam itu lengkap dan tidak ada yang kurang, bahkan satu batu bata pun. Segala sesuatu di dalamnya selaras dengan segala sesuatu yang lain karena semuanya berasal dari satu landasan intelektual yang konstan, yang sejalan dengan norma-norma kehidupan dan tabiat penciptaan.
The structure of Islam is complete and has nothing missing even if it is a single brick. Everything in it is in complete harmony with everyting else because it emanates from one constant intellectual basis that agrees with the norms of life and nature of creation.
Maka barangsiapa beriman kepada Islam, halal dan haram menjadi tolok ukur bagi perbuatannya dan pandangannya terhadap segala sesuatu, bukan manfaat.
So whosoever believes in Islam, the halaal and haraam become the criteria of his actions and his viewpoint towards things, and not benefit.
Hal ini karena konsep manfaat selaras dengan gagasan bahwa manusialah yang membuat hukum, dan bukan Allah . Kebahagiaan bagi seorang Muslim adalah ketika ia meraih keridhaan Allah , dan bukan sebanyak-banyaknya kenikmatan. Hidupnya menjadi kehidupan penghambaan kepada Allah dan penyerahan diri pada perintah-Nya, dan bukan kehidupan yang berlandaskan gagasan kebebasan, yang akan membuatnya bebas dari segala batasan. Siapa pun yang menerima landasan, harus menerima apa pun yang berasal darinya. Siapa pun yang hendak melakukan perubahan, harus dimulai dari landasannya dan memperhatikan keselarasan antara pemikiran-pemikiran cabang dengan landasan tersebut. Inilah fikrah ideologis dan da’wah ideologis yang darinya kelompok ini harus memulai. Oleh karena itu, tidak dapat diterima jika kaum Muslimin, sistem-sistem atau kelompok-kelompok mereka mencampuradukkan Islam dengan hal lain. Demikian pula, tidak dapat diterima dari rezim-rezim saat ini untuk menjadikan Islam sebagai salah satu sumber perundang-undangan bersama sumber-sumber non-syar'i lainnya, seperti adat istiadat, atau menjadikan Islam sebagai sumber utama di antara yang lain. Selain itu, tidak dapat diterima bahwa kelompok-kelompok Islam mengambil campuran berbagai hal, seperti mendasarkan diri pada Islam sekaligus pada pemikiran-pemikiran Barat yang asing bagi Islam. Hal ini tidak lain adalah kekalahan, yang tidak diterima oleh Allah dan hamba-hamba-Nya yang beriman.
This is because the concept of benefit is in harmony with the idea that man is the one who legislates and not Allah . Happiness for the Muslim is when he attains the Good pleasure of Allah , and not the greatest amount of enjoyment. His life becomes one of servitude to Allah and surrender to His command, and not a life based on the idea of freedoms, which would make him free from any constraints. Whoever accepts the basis must accept whatever originates from it. Whoever wishes to change, must start with the basis and observe the harmony between the peripheral thoughts and the basis. This is the ideological Fikrah and ideological da’wah from which the group must start. Hence it is not acceptable that the Muslims, their systems or groups mix Islam with something else. Likewise, it is not acceptable from the current regimes to make Islam one of the sources of legislation, along with other non-Shar’ee sources, such as customs, or to make Islam the main source amongst others. In addition it is not acceptable that Islamic groups take a mixture of things, like being established on Islam as well as other western thoughts that are foreign to Islam. This is nothing short of defeat, which Allah and His believing servants do not accept.
Itulah sebabnya semua kelompok Islam yang akidahnya dibangun di atas dasar 'Laa ilaaha illallah Muhammadur rasuulullah' - tidak ada yang berhak disembah atau ditaati selain Allah (SWT) - tidak diperbolehkan pergi ke timur maupun barat untuk mengambil aturan-aturan mereka tentang kehidupan. Seseorang harus memastikan bahwa setiap pemikiran bersumber dari akidah, diambil dari sumber-sumber syar'i yang autentik, dan disimpulkan dari dalil-dalil terperinci mereka.
That is why all the Islamic groups whose ‘Aqeedah is established on the basis of ‘Laa ilaah illallah muhammadur rasoolullah’ - there is none worthy of worship or obedience except Allah - are not allowed to go to the east or west to adopt their rules about life. One must ensure that every thought emanates from the ‘Aqeedah, and that it is taken from the authentic Shar’ee sources, and deduced from their detailed evidences.
Bagaimana mungkin ‘Laa ilaaha illallaah Muhammadur rasuulullaah’ selaras dengan pernyataan bahwa sosialisme berasal dari Islam, padahal sosialisme berdiri di atas gagasan bahwa ‘tidak ada tuhan, dan kehidupan hanyalah materi’? Bagaimana mungkin selaras dengan pernyataan bahwa demokrasi berasal dari Islam, padahal demokrasi berdiri di atas gagasan ‘pemisahan agama dari kehidupan’? Atau pandangan bahwa nasionalisme dan patriotisme berasal dari Islam, padahal keduanya didasarkan pada fanatisme kesukuan, yang oleh Islam telah ditunjukkan sebagai perbuatan yang tercela?
How can ‘Laa ilaah illallah muhammadur rasoolullah’ be in harmony with the statement that socialism is from Islam, even though it is established on the idea that ‘there is no god, and life is just matter’? How can it be in harmony with the statement that Democracy is from Islam, even though it is established on the idea of ‘separation of religion from life’ or the view that nationalism and patriotism are from Islam even though they are based on tribalism, which Islam has shown to be despicable?
Bagaimana "Laa ilaah illallah muhammadur rasoolullah", yang berarti hukum (tasyri') hanya milik Allah , dapat selaras dengan pandangan bahwa kita harus turut serta bersama orang lain, atau orang lain harus turut serta bersama kita, dalam pembuatan hukum?
How can ‘Laa ilaah illallah muhammadur rasoolullah’, which means legislation is only for Allah , be in harmony with the view that we should participate with others, or others should participate with us, in legislation?
Bagaimana mungkin ‘Laa ilaaha illallah muhammadur rasuulullah’, yang berdiri di atas kerendahan hati, ketundukan, dan ibadah kepada Tuhan semesta alam, dapat selaras dengan gagasan kebebasan yang ada dalam sistem-sistem Barat, padahal gagasan itu menjadikan manusia berdaulat atas segala sesuatu? Ia tidak tunduk kepada Tuhan kecuali sejauh hal itu sesuai dengan hawa nafsu, keinginan, dan kepentingannya.
How can ‘Laa ilaah illallah muhammadur rasoolullah’, which is established on humility, subservience and worship to the Lord of the worlds, be in harmony with the idea of freedom that is present in the western systems, when it makes man the sovereign in everything? He does not submit to a God, except according to how much this agrees with his whims, desires and benefit.
Sesungguhnya menjaga ‘Aqidah Islam berarti menjaga segala hal yang bersumber darinya. Jika tidak, maka karakter kelompok akan hilang dalam cengkeraman kompromi, yang tidak diridhai oleh Allah (SWT) dan hamba-hamba-Nya.
Indeed, guarding the Islamic ‘Aqeedah means guarding whatever emanates from it. Otherwise, the character of the group would be lost in the grip of reconciliation, which Allah and His servants do not approve of.
Untuk menjaga gagasan itu dari segi kejernihan, kemurnian, kekhasan, dan kristalisasinya, ia harus dijauhkan dari pengaruh realitas dan dari tunduk kepada keadaan-keadaannya, serta ditempatkan jauh dari segala rekayasa, perubahan, dan tawar-menawar.
In order to preserve the idea in terms of clarity, purity, distinctness and crystallisation, it must be removed from the effect of the reality, and from surrendering to its circumstances, and it should be placed far away from any fabrication, alteration and bargaining.
Sebagaimana seorang pengemban dakwah ingin mengubah masyarakat sesuai dengan visinya, masyarakat memiliki konsep dan pemikiran yang keliru, kondisi politik, serta tatanan sosialnya sendiri. Hal ini memberi tekanan kepada pengemban dakwah dan kelompok yang bekerja bersamanya untuk melakukan perubahan.
Just as the da’wah carrier wishes to change the society according to his vision, society has its own erroneous concepts and thoughts, political conditions and social order. This puts pressure on the da’wah carrier and on the group that he works with for change.