9.5 Negara Islam berada dalam keadaan jihad yang terus-menerus
9.5 The Islamic State is in a continuous state of Jihad
Negara Islam berada dalam keadaan jihad yang terus-menerus. Umat Islam memahami bahwa perang antara dirinya dan bangsa-bangsa serta negara-negara lain dapat terjadi kapan saja. Oleh karena itu, fasilitas perangnya, baik yang bersifat industri maupun militer, harus berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada fasilitas bangsa-bangsa lain. Perubahan dalam kemampuan industri dan militernya harus diwujudkan secara berkelanjutan. Selain itu, negara harus berada dalam kondisi keuangan yang terus berkembang dan dalam keadaan siaga yang konstan.
The Islamic State is in a continous state of Jihad. The Islamic Ummah understands that war between her and other peoples and nations is possible at any time. Therefore, her war installations, whether industrial or the military must be at a level higher than the instillations of the other nations. The changes in its industrial and military capabilities should be realised continuously. Beside that, it should be in progressing financial position and in a constant state of readiness.
Negara Islam adalah negara yang didasarkan pada akidah Islam dan menerapkan hukum-hukum Islam. Hukum-hukum Islam mewajibkan Negara Islam untuk menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia sebagai kewajiban pokoknya setelah menerapkan Islam di dalam negeri. Negara ini memikul tanggung jawab atas seluruh dunia, dan menjadi kewajibannya untuk menyampaikan risalah serta menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia. Hal ini karena risalah Islam bersifat universal dan ditujukan kepada seluruh umat manusia. Allah (SWT) berfirman: "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta." [QS. Saba: 28] Dan Dia (SWT) juga berfirman;
The Islamic State is the State that is based on the Islamic ‘aqeedah and implements the rules of Islam. The rules of Islam oblige the Islamic State to carry the Islamic Message to the whole world as her fundamental duty after implementing Islam internally. It has responsibility over the whole world, and it is its responsibility to carry the message and to convey it all over the world. This is because the Message of Islam is universal, and it is addressed to all humankind. Allah (swt) says; “And We have not sent you but as a carrier to good tidings and a warner to all mankind.” [TMQ Saba: 28] And He (swt) also says:
Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. [TMQ Al-Anbiya: 107]
“We have not sent you but as a mercy for all creatures.” [TMQ Al-Anbiya: 107]
Dan Allah (SWT) juga berfirman:
And Allah (swt) also says:
Katakanlah: "Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua." ﷺ [TMQ Al-A’raf: 158]
“Say: O men I am sent to you all as the Messenger of Allah.” [TMQ Al-A’raf: 158]
Rasulullah ﷺ bersabda: "Setiap rasul diutus kepada kaumnya sendiri, dan aku diutus kepada seluruh umat manusia." Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir bin 'Abdullah. Oleh karena itu, Negara Islam harus memikul dakwah dan menyampaikannya kepada seluruh umat manusia. Islam menjadikan jihad sebagai sarana menyampaikan dakwah, dan menjadikan kekafiran sebagai alasan memerangi orang-orang kafir dan kaum musyrik. Allah ﷻ berfirman: "Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, dan tidak beragama dengan agama yang benar, yaitu orang-orang yang diberi Kitab (Yahudi dan Nasrani), sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sambil tunduk." [TMQ At-Tauba: 29]
The Messenger of Allah (pbuh) said: “Every Messenger was sent to his own people, and I have been sent to all mankind”, Al-Bukhari and Muslim narrate this on the authority of Jabir bin ‘Abdullah. Therefore the Islamic State must carry the Message and convey it to all mankind. Islam has made Jihad the method of carrying the Message, and made disbelief as being the reason for which the disbelievers and the Mushriks are fought. Allah (swt) says; “Fight those who believe not in Allah and the Last Day, nor hold that forbidden which has been forbidden by Allah and His Messenger, nor acknowledge the Deen of truth, from among the people of the Book, until they pay the jizyah with willing submission, and feel themselves subdued.” [TMQ At-Tauba: 29]
Dan Dia (swt) juga berfirman:
And He (swt) also says:
{"Wahai Nabi! Berjihadlah melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka."} [TMQ At-Tauba: 73]
“O Prophet! Strive hard against the disbelievers and the hypocrites and be firm against them.” [TMQ At-Tauba: 73]
Dia (swt) juga berfirman; "Maka perangilah para wali setan." [TMQ An-Nisa: 76]
He (swt) also says; “So fight against the friends of Satan.” [TMQ An-Nisa: 76]
Dia (SWT) berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang ada di dekatmu." [TMQ At-Tauba: 123]
He (swt) says; “O you who believe! Fight the unbelievers who are near to you.” [TMQ At-Tauba: 123]
Dan Dia (SWT) berfirman; "Dan perangilah orang-orang musyrik." [TMQ At-Tauba: 36]
And He (swt) says; “And fight the Mushrikeen.” [TMQ At-Tauba: 36]
Islam telah menetapkan jihad sebagai kewajiban berdasarkan nash-nash Al-Qur'an yang mulia dan hadits-hadits. Allah (SWT) berfirman: "Diwajibkan atas kamu berperang." [QS Al-Baqarah: 216] Dia (SWT) juga berfirman: "Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu." [TMQ At-Tauba: 41]
Islam has decreed Jihad as being compulsory by the texts of the Holy Qur’an and the Ahadith. Allah (swt) says; “Fighting has been prescribed upon you.” [TMQ Al-Baqarah: 216] He (swt) also says; “Go you forth, (whether equipped) lightly or heavily, and strive and struggle, with your goods and your persons.” [TMQ At-Tauba: 41]
Dan Dia (SWT) juga berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang berada di dekat kalian." [TMQ At- Tauba: 123]
He (swt) also says; “O you who believe! Fight the disbelievers who are near to you.” [TMQ At- Tauba: 123]
Dan Dia (swt) juga berfirman: "Jika kalian tidak berangkat perang, niscaya Dia akan mengazab kalian dengan azab yang pedih." [TMQ At- Tauba: 39]
He (swt) also says; “Unless you go forth, He will punish you with a grievous penalty.” [TMQ At- Tauba: 39]
Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Berjihadlah melawan kaum musyrikin dengan harta, tangan, dan lisan kalian." [Narrated by Abu Dawood]
Anas reported that the Messenger of Allah (pbuh) said; “Perform Jihad against the Mushrikeen with your wealth, hands and tongues.” [Narrated by Abu Dawood]
Oleh karena itu, Negara Islam akan senantiasa berada dalam keadaan jihad yang terus-menerus, sebab tugasnya di muka bumi adalah menyampaikan risalah kepada dunia secara terus-menerus; hal ini mengharuskan adanya jihad hingga Islam menang atas seluruh dunia. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan ‘tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah’, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukannya, mereka akan melindungi darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan hak Islam. Dan perhitungan mereka ada pada Allah.” Abu Dawud meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “‘Dan jihad itu berlangsung terus sejak Allah mengutusku hingga orang terakhir dari umatku memerangi Dajjal;’ dan beliau ﷺ bersabda ‘kezaliman orang zalim maupun keadilan penguasa yang adil tidak akan menghapuskannya.’” Hal ini juga disebutkan dalam firman Allah (SWT)
Therefore, the Islamic State will always remain in a state of constant Jihad, for its duty, on earth, is to constantly carry the Message to the world; this necessitates Jihad until Islam prevails over the whole world. Al- Bukhari and Muslim narrated on the authority of ‘Abdullah bin ‘Umar that the Messenger of Allah (pbuh) said; “I have been ordered to fight people until they utter ‘there is no God but Allah, and Muhammad is the Messenger of Allah’, establish the prayer and offer the Zakat. If they do so they would protect from me their blood and wealth, except for the right of Islam. And their account is with Allah.” Abu Dawood narrated on the authority of Anas bin Malik He said; The Messenger of Allah (pbuh) said; “‘And the Jihad is continuous from the moment Allah has sent me till the last person of my Ummah fights against the Dajjal;’ and He (pbuh) said ‘neither the oppression of the oppressor, nor the justice of the just (ruler) will abolish it.’” It also came in the saying of Allah (swt)
"Dan perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah." [TMQ Al-Baqarah: 193]
“And fight against them until there remains no Fitna.” [TMQ Al-Baqarah: 193]
Dia (swt) juga berfirman: “Dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya.” [TMQ At-Tauba: 36]
He (swt) also said; “And fight the Pagans altogether as they fight you altogether.” [TMQ At-Tauba: 36]
Rasulullah ﷺ menghabiskan hidupnya, setelah beliau mendirikan Negara di Madinah, dalam keadaan senantiasa berjihad. Bahkan ketika beliau ﷺ sakit dan mendekati wafatnya, beliau mendesak para sahabatnya agar tidak menunda pasukan Usamah yang telah beliau persiapkan dan lengkapi sebelum beliau jatuh sakit, untuk memerangi Romawi. Namun perlu dijelaskan bahwa jihad dan peperangan tidak dilakukan sebelum orang-orang kafir diberitahu tentang Risalah Islam, dan sebelum mereka diajak untuk memeluk Islam. Jika mereka menolak, mereka diminta untuk tunduk kepada otoritas Negara Islam dan membayar jizyah kepada Negara. Jika mereka menolak untuk memeluk Islam, menolak membayar jizyah, dan menolak tunduk kepada otoritas Negara Islam, maka mereka akan diperangi. Diriwayatkan dalam Hadis Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya, yang berkata: "Setiap kali Rasulullah ﷺ mengangkat seorang amir untuk memimpin pasukan atau ekspedisi, beliau memerintahkannya untuk bertakwa kepada Allah dan berbuat baik kepada orang-orang yang bersamanya; kemudian beliau ﷺ bersabda: 'Berperanglah dengan nama Allah! Perangilah siapa saja yang kafir kepada Allah! Berperanglah, tetapi jangan berbuat curang, jangan berkhianat, jangan memutilasi, dan jangan membunuh anak yang baru lahir. Jika kamu bertemu dengan musuhmu dari kalangan musyrikin, serulah mereka pada tiga perkara, dan mana pun dari perkara tersebut yang mereka terima, terimalah dari mereka dan jangan perangi mereka. Serulah mereka kepada Islam; jika mereka menerimanya, terimalah dari mereka dan tahanlah diri dari memerangi mereka...'" Beliau ﷺ melanjutkan: "Jika mereka menolak, mintalah mereka membayar jizyah; jika mereka menerimanya, ambillah dari mereka dan tahanlah diri dari memerangi mereka. Jika mereka menolak, mohonlah pertolongan Allah dan perangilah mereka." [Diriwayatkan oleh Muslim] Oleh karena itu, seruan kepada Islam harus didahulukan sebelum peperangan, dan seruan untuk tunduk kepada Negara Islam dan membayar jizyah juga harus didahulukan sebelum peperangan, sehingga peperangan menjadi pilihan ketiga dan terakhir.
The Messenger of Allah (pbuh) spent his life, once He had established the State in Madinah, in a constant state of Jihad. Even when He (pbuh) was ill and nearing his death He urged his companions not to delay the army of Usama which He had prepared and equipped before He fell ill to raid the Romans. It must be made clear, however, that Jihad and fighting would not take place until the disbelievers are informed about the Islamic Message, and until they are invited to embrace Islam. If they refused, they would be asked to submit to the authority of the Islamic State and to pay the jizyah to the State. If they refused to embrace Islam and refused to pay the jizyah and refused to submit to the authority of the Islamic State, then they would be fought. It was reported in the Hadith of Sulayman ibn Burayda on the authority of his father who said; “Whenever the Messenger of Allah (pbuh) appointed an Ameer to head an army or an expedition, He would command Him to fear Allah and be good to those who are with him; then He (pbuh) would say; ‘Raid in the Name of Allah! Fight whoever disbelieved in Allah! Raid but do not abuse, do not betray, do not maim or mutilate and do not kill any newborn. If you encounter your enemies, the mushriks, call them to observe three qualities or dispositions, and whichever of these they accept then accept it from them, and do not fight them. Call them to Islam, and if they accepted it, do accept this from them and refrain from fighting them...’ He (pbuh) went on; ‘If they refused, ask them to pay the jizyah, and if they accepted this, then take it from them and refrain from fighting them, and if they refused, seek the help of Allah and fight them.’” [Narrated by Muslim] Therefore, the call to Islam should precede the fight, and the call to the submitting to the Islamic State and the paying of the jizyah should also precede the fight, thus the fight would come as the third and final option.
Oleh karena itu, Negara Islam harus senantiasa berada dalam keadaan Jihad. Umat Islam menyadari sepenuhnya bahwa Allah (SWT) telah mempercayakan kepadanya tugas menyampaikan Risalah kepada dunia, dan berperang melawan orang-orang kafir karena kekafiran mereka, serta terus berperang hingga mereka menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad ﷺ adalah utusan Allah, atau hingga mereka membayar jizyah dengan tunduk. Umat juga menyadari bahwa kekafiran dan orang-orang kafir adalah musuh Islam dan umat Islam, bahwa mereka menyimpan kebencian dan permusuhan terhadap Islam dan umat Islam, dan bahwa mereka akan memerangi kaum Muslimin jika diberi kesempatan. Kesadaran ini membuat umat memahami bahwa perang antara dirinya dan negara-negara kafir dapat terjadi kapan saja.
Therefore, the Islamic State should be in a constant state of Jihad. The Islamic Ummah realises only too well that Allah (swt) has entrusted her with conveying the Message to the world, and with fighting against the disbelievers for their disbelief, and for continuing that fight until they declare that there is no god but Allah and that Muhammad (pbuh) is the Messenger of Allah, or until they pay the jizyah with submission. The Ummah also realises that disbelief and the disbelievers are enemies of Islam and of the Islamic Ummah, and that they carry hatred and animosity towards Islam and the Islamic Ummah, and that they would fight the Muslims if given the opportunity. This would make the Ummah realise that war between her and the disbelieving nations is possible at any moment.
Hal ini karena pengembanan dakwah, dan permusuhan orang-orang kafir terhadap Islam dan umat Islam, menjadikan pecahnya perang tidak terhindarkan. Hal ini karena negara Islam akan berada dalam keadaan jihad yang terus-menerus, dan umat Islam memahami bahwa perang antara dirinya dan bangsa-bangsa serta negara-negara lain dapat terjadi kapan saja. Oleh karena itu, negara dan umat harus senantiasa siaga, dan menjadikan keadaan perang sebagai cara hidup mereka. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ, para sahabatnya, dan para Khulafa' yang datang setelah beliau. Hal ini menjadikan perlu bahwa seluruh instalasi dan industri negara, baik yang bersifat militer maupun lainnya, senantiasa berada dalam keadaan yang lebih baik daripada milik bangsa-bangsa lain dan negara-negara adidaya. Jumlah perguruan tinggi akademik harus diperbanyak untuk mendidik ribuan insinyur, penemu, teknisi, dan industrialis. Kemajuan dan perkembangan harus terus-menerus berlangsung, agar persiapan pasukannya menjadi kuat dan disegani, untuk menggentarkan musuh Allah serta musuh-musuh yang diketahui maupun yang potensial, sebagaimana diperintahkan oleh Allah (SWT):
This is because the carrying of the Da’wah, and the enmity of the kuffar to Islam and the Islamic Ummah makes the outbreak of war inevitable. This is because the Islamic state would be in a state of continuous Jihad, and the Islamic Ummah understands the war between her and other peoples and nations is possible at any moment. Thus, the State and the Ummah must be on alert at all times, and make the state of war their way of life. This is what the Messenger of Allah (pbuh), his companions and the Khulafaa’ who came after Him did. This makes it necessary that all of the State’s installations and industries, be they military or otherwise, should at all times be in a better state than those of other nations and superpowers. The number of academic colleges should multiply in order to educate thousands of engineers, inventors, technicians and industrialists. Advancement and progress must be constant, so that the preparation of its task force becomes formidable, to intimidate the enemy of Allah and its known and potential enemies, as commanded by Allah (swt):
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan kuda-kuda perang yang ditambatkan, untuk menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian, dan orang-orang lain selain mereka yang kalian tidak mengetahuinya, sedangkan Allah mengetahuinya." [TMQ Al-Anfal: 60]
“Make ready, against them, your strength to the utmost of your power, including steeds of war, to strike terror into (the hearts of) the enemies of Allah and your enemies, and others besides, whom you may not know, but whom Allah does know.” [TMQ Al-Anfal: 60]
Hal ini menuntut Ummah untuk hidup dengan ekonomi perang, dan untuk memiliki kondisi keuangan yang terus membaik guna menyediakan dana bagi upaya perang, yang membutuhkan teknologi peperangan terbaru bagi sebuah Negara yang bertujuan menjadi Negara terdepan di dunia.
This requires from the Ummah to live with an economy of war, and to have an ever improving financial situation in order to provide the funds for the war effort which requires the latest technology in warfare for a State that aims at being the leading State in the world.