12.1 Wahyu (Revelation)
12.1 Wahy (Revelation)
Malaikat Jibril (as) menurunkan Al-Qur'an kepada Nabi ﷺ. Malaikat itu datang untuk pertama kalinya ketika Muhammad ﷺ berada di Gua Hira dan menurunkan kepadanya ﷺ Surah Al-Alaq. Pada masa-masa awal turunnya wahyu, Nabi ﷺ biasa menggerakkan bibirnya ﷺ dengan cepat agar dapat mengejar kata-kata untuk menghafalnya, sementara Jibril (as) membacakannya. Maka, Allah (SWT) menurunkan firman-Nya:
Angel Jibreel (as) revealed the Qur‟an unto the Prophet (saw). The angel came for the first time when Muhammad (saw) was in the cave of Hira and revealed to him (saw) Surah Al-Alaq. During the early periods of the revelation, Prophet (saw) used to move his (saw) lips quickly in order to catch up to the words to memorise it, while Jibreel (as) used to recite it. Thereupon, Allah (swt) revealed:
"Janganlah engkau gerakkan lidahmu (mengulang-ulang kata-kata wahyu) karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya Kami yang bertanggung jawab mengumpulkannya (di dalam dadamu) dan membacakannya. Maka apabila Kami telah membacakannya, ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya Kamilah yang bertanggung jawab menjelaskannya."
“Move not your tongue (repeating the words of revelation) for behold it is for Us to gather it (in your heart) and to cause it to be read (as it ought to be read). Thus, when We recite it follow through its wording (with all your mind) and then behold it will be for Us to make its meaning clear.” (TMQ Al-Qiyamah: 16-19)
Baik Muhammad (saw) maupun Jibril (as) tidak mengatur waktu turunnya wahyu. Suatu ketika Muhammad ﷺ bertanya kepada Jibril (as), "Mengapa engkau tidak datang lebih sering?"
Neither Muhammad (saw) nor Jibreel (as) used to control the timing of the revelation. Muhammad (saw) once asked Jibreel (as) why is it that you do not visit more often?
Ayat berikut diturunkan sebagai jawaban atas pertanyaan ini.
The following Ayah was revealed in response to this question.
"Dan tidaklah kami turun kecuali dengan perintah Rabbmu. Milik-Nyalah apa yang ada di hadapan kami, apa yang ada di belakang kami, dan apa yang ada di antara keduanya. Dan Rabbmu sekali-kali tidak pernah lupa."
“We do not descend but by the command of your Rabb. To him belongs what is before us, what is behind us, and what is between. And your Rabb never forgets” (TMQ Maryam: 64)
Jibril (as) biasa datang setiap tahun dengan tujuan mendengarkan Al-Qur'an dari Muhammad ﷺ dan memeriksa hafalannya. Pada tahun ketika Muhammad ﷺ wafat, Jibril (as) datang kepada Muhammad ﷺ dua kali untuk mendengarkan bacaannya ﷺ.
Jibreel (as) used to come every year for the purpose of listening to the Qur‟an from Muhammad (saw) and checking the memorisation. In the year in which Muhammad (saw) passed away, Jibreel (as) went to Muhammad (saw) twice to listen to his (saw) recitation.
12.1.1 Bentuk-Bentuk Wahyu
12.1.1 Forms of Wahy
Meskipun kata Wahy (wahyu) digunakan secara kebahasaan dengan berbagai makna dalam Al-Qur'an, secara istilah ia bermakna:
Although the word Wahy (revelation) was used linguistically in various meanings in the Qur‟an, as a term it means:
A. Ajaran-ajaran Allah (SWT) yang diwahyukan melalui perantara kepada salah seorang Rasul-Nya.
A. Allah‟s (swt) teachings revealed through a medium to one of His Messengers.
Kata *Wahy* dapat bermakna firman Allah (SWT), atau bermakna proses penyampaiannya kepada para Nabi, atau malaikat yang biasa membawa Pesan dari Allah (SWT) kepada para Nabi.
The Wahy could mean the speech of Allah (swt) or could mean the process of relaying it to the Prophets, or the angel who used to carry the Message from Allah (swt) to the Prophets.
Mereka yang mengaku sebagai Rasul harus memberikan bukti bahwa mereka benar-benar telah menerima wahyu. Bukti ini disebut Mu'jizah atau mukjizat. Mukjizat adalah perubahan nyata terhadap satu atau lebih hukum alam atau hukum semesta. Karena perubahan semacam itu hanya dapat terjadi dengan Kehendak Allah (SWT), maka apabila seseorang dianugerahi kemampuan semacam itu, ia hanya dapat memilikinya dengan Kehendak Allah (SWT). Hal ini membuktikan bahwa apa pun yang ia miliki berasal dari Allah (SWT). Mengenai hal ini, Allah (SWT) berfirman:
Those who claim to be Messengers must provide proof that they have actually received the revelation. This proof is called Mu‟jizah or miracle. Miracle is the actual altering of one or more of the natural or universal laws. Since any such altering can only be achieved by the Will of Allah (swt), if a person is imbued with any such ability then such a person could only have done so by the Will of Allah (swt). This would prove that whatever he has was sent by Allah (swt). Regarding this issue, Allah (swt) says:
"Tidak layak bagi manusia bahwa Allah berbicara kepada-Nya kecuali melalui wahyu, atau dari balik tabir, atau dengan mengutus malaikat yang menyampaikan wahyu, lalu menyampaikan dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki." (TMQ Asy-Syura: 51)
“It is not fitting for a human that Allah would speak to Him by revelation or behind a veil or by sending of the angel of revelation to reveal, with Allah‟s permission, what Allah wills.” (TMQ Ash-Shura: 51)
Ayat tersebut menyebutkan tiga bentuk wahyu:
The Ayah mentions the three forms of revelation:
Berbicara dengan seorang Nabi dari balik tabir. Hal ini terjadi pada Musa (as)
12.1.2 Perbedaan antara Wahyu Al-Qur'an dan Sunnah
12.1.2 Differences between the Revelation of Qur‟an and Sunnah
Meskipun wahyu memiliki berbagai bentuk, Al-Qur'an diturunkan secara langsung melalui malaikat wahyu, Jibril (as). Al-Qur'an tidak pernah diturunkan kepada Nabi ﷺ melalui mimpi atau cara lainnya. Adapun Sunnah, dapat diwahyukan kepada Nabi ﷺ melalui salah satu dari bentuk-bentuk wahyu yang telah disebutkan. Tidak perlu dikatakan lagi bahwa semua bentuk wahyu memiliki kedudukan yang sama. Nabi ﷺ bersabda:
Although the Wahy has different forms, the Qur‟an was revealed directly through the angel of revelation, Jibreel (as). It was never revealed to the Prophet (saw) by a dream or any other means. The Sunnah, however, can be revealed to the Prophet (saw) through any of the aforementioned forms of al-Wahy. Needless to say, all forms of Wahy have the same validity. The Prophet (saw) said:
"Salah seorang dari kalian yang bersandar di atas dipannya berkata: „Ini adalah Kitabullah (Al-Qur'an), apa yang ada di dalamnya yang halal akan kami halalkan, dan apa yang ada di dalamnya yang haram akan kami haramkan.‟ Padahal barang siapa menyampaikan kepadaku sebuah hadits lalu ia berdusta di dalamnya, maka ia telah berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya ﷺ."
“One of you who while reclining says, „this is the book of Allah (Qur‟an), what is in it from that is halal, we‟ll use as halal, and what is in it from the Haram, we‟ll take as Haram‟. But whoever delivers from me a Hadith and he lies in it, he has told a lie on Allah and His Messenger.” 43
Al-Qur'an dan Sunnah adalah dua sarana yang dipilih Allah (SWT) untuk menurunkan Islam. Wahyu tersebut terbagi menjadi dua jenis:
The Qur‟an and Sunnah are the only two ways by which Allah (swt) has chosen to reveal Islam. The revelation can be of two kinds:
A. Dengan lafaz dan maknanya B. Dengan makna saja Al-Qur'an diturunkan dengan lafaz dan maknanya. Sebagai contoh, lafaz "Maliki yaumid-din" dalam Surat Al-Fatihah diturunkan oleh Allah (SWT) dengan lafaz dan maknanya. Nabi ﷺ tidak menambah atau mengurangi sedikit pun dari Al-Qur'an. Sebaliknya, Sunnah diturunkan dengan maknanya, dan Nabi ﷺ mengungkapkannya dengan kata-kata beliau sendiri.
A. By the word and meaning B. By meaning alone The Qur‟an was revealed with the words and its meanings. For example, the words “Maliki youm middiin” in Surah al Fatihah are revealed by Allah (swt) with the words and its meaning. The Prophet (saw) did not insert or delete any part of the Qur‟an. On the other hand, the Sunnah is revealed by the meaning and the Prophet (saw) expressed it in his (saw) own words.